Tuesday, February 18, 2020

Pulihkan Indonesia dari Hutan ke Dapur


Aneka buah-buahan hutan yang hanya ditemui di daerah dengan wilayah hutan yang terjaga / Claudia Liberani


Beberapa bulan belakangan saya asik mengumpulkan resep masakan tradisional beberapa komunitas adat di daerah saya, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Aktivitas yang akhirnya mempengaruhi pola konsumsi saya secara pribadi. Termasuk mengubah pandangan saya tentang sebuah produk pangan.


Perjalanan demi perjalanan dari satu komunitas ke komunitas lain bermuara di tempat yang sama, yaitu hutan sebagai dapur alami. Hutan adalah sumber pangan. Bahkan komunitas adat Iban di Sungai Utik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu memiliki supermarket mewah berupa hutan adat di desa mereka. 


Komunitas ini memiliki hutan adat seluas 9.452,5 hektar. Dari total jumlah luasan ini, sekitar 6.000 hektar merupakan kawasan lindung. Selebihnya merupakan hutan yang dikelola secara swadaya, dengan zonasi yang telah ditentukan. Tak semua wilayah hutan adat dapat dikelola, ada kawasan yang benar-benar dilindungi. Tahun 2019, komunitas Dayak Iban Sungai Utik mendapat penghargaan Equator Prize dari PBB karena berhasil menjaga wilayah dari perambahan dan ekspansi industri.


Dari hutan adat inilah kebutuhan pangan terpenuhi. Ada beragam jenis tumbuhan yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat adat Iban sehari-hari, baik sebagai sayuran maupun obat-obatan. Ada rebung bambu sebagai sumber serat, pakis sumber karbohidrat kompleks dan minyak dasar. Ada daun sengkubak sebagai vetsin alami, atau daun kededai sebagai sayuran penambah air susu ibu (ASI) bagi perempuan menyusui. 

Saat musim buah raya tiba, buah-buahan di hutan juga mulai ranum. Tak hanya jadi makanan bagi satwa liar di hutan, tapi juga jadi camilan yang menyegarkan bagi masyarakat desa. Misalnya mangga liar yang jadi sumber vitamin dan mineral, atau berry hutan dengan rasa asam manis yang buat ketagihan.

Ikan Pansuh yang  Aduhai


Memasak ikan pansuh dengan metode masak yang sederhana / Instagram @nerinaelli

Pangan lebih dari sekadar nutrisi, karena ia adalah bagian dari budaya dan tradisi. Resep makanan menggambarkan sejarah dan identitas kelompok etnis. Salah satu menu makanan yang saya suka dari komunitas ini  adalah ikan pansuh, yaitu ikan yang dimasak di dalam bambu. Biasanya ikan yang dipansuh adalah ikan jelawat. Salah satu ikan air tawar berkualitas super.

Menu ini selalu saya rekomendasikan saat ada yang bertanya makanan tradisional apa yang harus dicoba saat berkunjung ke Sungai Utik. Menikmatinya tak hanya membuat perut kenyang tapi juga membuat kita merasa sangat dekat dengan kehidupan komunitas Iban.

Ikannya segar, baru ditangkap dari sungai desa yang jernih. Diolah sederhana saja, hanya dibalur garam, dicampur daun sengkubak dan irisan bunga kecombrang. Aromanya menguar ke udara begitu ikan dikeluarkan dari bambu, daging ikan yang manis terasa gurih dengan bumbu yang sederhana. Ikan pansuh tak hanya meyajikan rasa nikmat, ada sisi geopolitik juga sejarah peradaban yang terungkap.

Ikan pansuh menggambarkan keterikatan masyarakat Iban di Sungai Utik dengan hutan adat yang mereka jaga turun temurun. Bahan-bahan yang digunakan didapat dari alam, diolah sesuai dengan pengetahuan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Manfaatnya apa? tentu saja ikan merupakan sumber protein yang tinggi. Mengonsumsi ikan hasil tangkapan di desa ini tak perlu membuatmu takut dengan bahaya zat kimia.

Ikan jelawat hanyalah satu dari banyaknya ikan bercitarasa tinggi yang bisa ditemui di Sungai Utik. Selain ikan jelawat ada ikan mahseer alias ikan semah yang nikmatnya mendunia itu. Bahan pangan dengan kualitas wahid seperti ini hanya ditemui di wilayah yang memiliki tutupan hutan tinggi. Orang-orang di Sungai Utik sangat beruntung memilikinya.

Hutan Sumber Pangan

Jambu dan aneka berry hutan yang jadi camilan ketika musim buah tiba / Claudia Liberani

Pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat tentu tak hanya bersumber dari hutan, masyarakat adat Sungai Utik juga menerapkan praktek pertanian berbasis ekologi dalam sistem pertanian tradisional. Kanekaragaman hayati yang tinggi di hutan sangat berpengaruh terhadap varietas pangan yang mereka tanam.

Hutan jadi rumah bagi penyerbuk yang membantu tanaman-tanaman pertanian bereproduksi, hutan pula yang menentukan kualitas dan kuantitas air, termasuk membantu mengendalikan hama. Hutan dan sistem pertanian sebenarnya saling terhubung, itu yang terlihat di Sungai Utik. Menjaga hutan sama dengan menjaga ketahanan pangan.

Bayangkan saja jika tahun 2050 ada sembilan milyar manusia yang tinggal di bumi. Sementara alih-fungsi kawasan hutan terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Kebutuhan minyak nabati membuat konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit semakin tinggi. Sedikit demi sedikit jumlah hutan berkurang, yang artinya sumber pangan juga semakin terbatas.

Tinggal di Kapuas Hulu juga membuat saya menyadari satu hal, komunitas yang tinggal di sekitar hutan yang masih terjaga memiliki kualitas makanan yang jauh lebih baik. Ini berdampak pada capaian gizi, berdasarkan data Evaluasi Capaian Program Gizi Kabupaten Kapuas Hulu tahun 2019 daerah yang masih memiliki hutan tak memiliki masalah serius dalam kasus stunting. 

Keberadaan sayuran liar, umbut-umbutan dan sumber protein alternatif seperti siput atau ulat pohon yang ditemui di hutan tak bisa diremehkan dalam pemenuhan nutrisi harian. Mau tidak mau, kita harus mengakui masyarakat tradisional justru lebih sehat ketimbang masyarakat perkotaan.

Pulihkan Rimba Terakhir Pulihkan Indonesia

Bumbu masakan sederhana yang umumnya didapatkan di hutan/Claudia Liberani

Awal tahun 2018 kita dikejutkan dengan tingginya presentase balita penderita stunting di Indonesia. Padahal, Indonesia digadang-gadang akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia beberapa dekade mendatang. Kalau kita masih dihadapkan pada masalah pemenuhan pangan, mungkinkah hal ini tercapai?

Menurut Human Develompment Index (HDI) 2017, kualitas hidup manusia Indonesia saat ini menduduki peringkat 113 dari 188 negara. HDI mencakup indeks mengenai harapan hidup, buta huruf dan melek huruf, juga gross national income (pendapatan nasional perkapita).

Saat membicarakan kualitas hidup manusia, kita bicara tentang pangan sebagai fondasi pokok yang menopangnya. Gerakan memulihkan Indonesia bisa dilakukan lewat memulihkan ketahanan pangan. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, kita tak bisa hanya memperluas lahan untuk memenuhi pangan dan mengabaikan hutan.



Hutan dan produksi pangan harusnya beriringan. Tanaman tumbuh dengan sehat ketika berada di dekat hutan. Dari Sungai Utik, saya belajar bahwa memulihkan Indonesia bisa dilakukan dari dapur. Tapi tanpa hutan, tak akan ada bahan pangan di dapur.

Di tengah dilema yang kita hadapi, bagaimana memenuhi kebutuhan pangan tanpa mempercepat kerusakan hutan dan perubahan iklim, kita mungkin bisa mulai dengan mengubah pola konsumsi kita. Kembali ke makanan lokal yang dikelola secara adil dan lestari. Melirik kembali apa yang telah disediakan oleh hutan, rimba terakhir yang kita miliki.

Karena untuk bertahan hidup kita membutuhkan makanan yang sehat, udara yang segar dan air yang bersih, bukan gadget mahal atau sepatu baru. Dan semua itu disediakan oleh hutan. Seperti yang selalu WALHI gaungkan "pulihkan Indonesia", pulihkan hutan kita. 

3 comments:

  1. Aku sejak kecil tinggal di hutan dan makanan kami tak jauh berasal dari hutan dan sungai. Sekarang, kita menuai dengan kuatnya imun sehingga tak mudah sakit. Justru, makanan yg skrg itu bnyak engga sehatnya dan wajar klo bnyak penyakit aneh datang. Makasih claude, ak pengen banget bsa rasain masakan makanan dr hutan. Udh lama bgt ga makannya lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo main ke Kapuas Hulu. Ntar aku ajak Isa cobain masakan yang bahannya dipetik langsung dari hutan hehe. Hutan itu berpengaruh pada pola diet orang-orang di sekitarnya lho. Makanya kakek nenek kita dulu sehat-sehat, mereka masih punya dapur alami yang menyediakan pangan kualitas super..

      Delete
  2. Makanan dari hutan yang sehat dan kaya akan gizi memang sudah terbukti ya, kak. Banyak orang yang tinggal di wilayah dekat hutan yang sehat dan jarang sakit. Beda dengan orang di perkotaan yang jarang konsumsi sayur. Penyakitnya macam-macam. Semestinya hutan itu sudah harus dijaga biar ga punah

    ReplyDelete