Wednesday, September 11, 2019

Dua Hari yang Mencerahkan di Narasi Content Creator Workshop Pontianak

Narasi Content Creator Workshop

Ada yang tetap cerah dan berwarna-warni meski kabut asap di Pontianak membuat langit jadi pucat.
Belum habis rasa senang saya setelah melakukan perjalanan ke pedalaman lintas utara Kapuas Hulu, saya kembali mendapat pengalaman seru bersama orang-orang yang menginspirasi. Kali ini saya terpilih menjadi satu dari 25 peserta content creator workshop yang diadakan Narasi di Pontianak.

Pontianak jadi kota ke-9 yang didatangi Narasi dan kabarnya menjadi kota yang antusiasnya cukup tinggi. Terbukti dari jumlah pengirim karya yang menyentuh angka 330 orang, berada di urutan kedua setelah Surabaya. Dari 330 orang yang mengirimkan karya, 25 orang dipilih untuk mengikuti workshop selama dua hari di Hotel Mercure, Pontianak.

Saya senang banget dong! apalagi pematerinya wagilaseh semua. Jadi teringat waktu saya subbmit karya, di bawah pohon tengkawang yang teduh karena di sanalah spot yang bisa terkoneksi dengan internet. Maklum saya sedang melakukan tugas lapangan waktu itu. 

Workshop dihadiri oleh teman-teman dari beragam latar belakang pekerjaan dengan aktivitas karya yang luar biasa dan tidak tertebak. Ada seorang guru matematika yang jadi youtuber misalnya, atau seorang teller yang dikenal sebagai blogger, dari mereka saya semakin memahami bahwa pekerjaan tidak selalu menggambarkan identitas diri. Kamu bisa saja bolak-balik ruang sidang sebagai advokat bertampang galak tapi jadi penulis manis di balik layar, kan? hehe.

The New Wave of Creative Journalism 

credit to: Narasi 

Setelah workshop dibuka dengan pengenalan Narasi tv oleh kak Amanda, jurnalis senior, Imam Wahyudi menjadi pembicara pertama yang berbagi ilmu pada peserta. Beliau banyak memberikan pengetahuan agar peserta bisa menerapkan nilai-nilai jurnalisme dalam karyanya. 

Ada sembilan nilai jurnalisme, yaitu:
  • Pencarian kebenaran
  • Disiplin verifikasi
  • Independen
  • Loyalitas kepada warga negara
  • Memantau kekuasaan
  • Forum saling kritik dan menemukan kompromi
  • Menyampaikan hal penting secara menarik dan relevan
  • Komprehensif dan profesional
  • Mendengarkan hati nurani
"Konten baik itu  mutlak, konten bagus relatif, dan viral hanyalah bonus." - Imam Wahyudi
Dia berpesan agar content creator bertanggung jawab pada konten yang dibuatnya. Karena kita tidak bisa membendung dampak dari sebuah karya di era digital ini.

Content Creator for Social Change

credit to: Narasi 

Materi dari om Imam semakin diperkuat oleh pasangan peneliti dan dosen, Rara Sekar dan Ben Laksana dari Arkademy Project. Mereka mengajak peserta untuk tidak sekadar berkarya, tapi juga menghargai karya dan manusia itu sendiri. 

Di awal materi mereka melemparkan pertanyaan, apa tiga hal yang mendorongmu berkarya? Sebuah pertanyaan reflektif yang tepat untuk menyiapkan diri menerima ilmu dari mereka.  Rara dan Ben menyampaikan materi seputar fotografi kritis. 

Fotografi merupakan pengetahuan berbentuk visual yang sifatnya tidak netral karena medium fotografi tidak mampu merepresentasikan kebenaran secara menyeluruh. Makanya kita harus kritis terhadap sebuah karya. Bagaimana agar bisa kritis? kita harus mengubah asumsi menjadi sebuah pertanyaan.
"Seorang content creator merupakan educator bagi para penikmat karyanya." - Rara dan Ben
Tidak kalah penting adalah tanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan karena content creator berperan pula sebagai educator. Menurut Rara dan Ben, ada tiga hal yang harus dimiliki seorang content creator sekaligus educator, yaitu:
  • Reflektif dan kritis
  • Empati dan keberpihakan
  • Kreativitas
Kadang keberpihakan jadi point penting yang sering dilupakan oleh pembuat karya. Untuk teman-teman, mulai sekarang yuk semakin tegas perlihatkan keberpihakan kita pada siapa. Jangan kayak bunglon. Heeee.

Being Authenthic, Being You

credit to: Narasi 
Pemateri selanjutnya adalah Gupta Sitorus, seorang brand specialist yang mengajari peserta workshop untuk menjadi pembuat karya yang menghasilkan karya otentik dan memiliki ciri khas.
"Brand adalah reputasi yang ada di kepala konsumen." - Gupta Sitorus
Materi ini tidak kalah pentingnya karena kita sudah hidup di masa di mana semua orang melakukan cut, copy, and paste. Semua karya terlihat sama, nyaris hambar dan membosankan. Agar karya kami tidak begitu, maka Gupta mengajari peserta untuk membentuk personal brand dengan cara menjawab tiga pertanyaan, yaitu:


  • Siapa target kontenmu?
  • Apa yang membuatnya menarik?
  • Apa yang membuatnya berbeda ?
Kelas dari Gupta Sitorus jadi kelas terakhir yang kami terima di workshop hari pertama. Sebelumnya kami telah dibagi ke dalam kelompok dan om Imam memberi kami tugas untuk membuat karya kolaborasi yang akan ditampilkan di hari kedua.


credit to: Narasi 


Creating Good Content through Collaboration and Community

credit to: Narasi
Hari kedua tidak kalah serunya. Pagi-pagi kami sudah dibuat semangat dengan kehadiran Najwa Shihab. Dia berkeliling ruangan menyalami peserta satu per satu. Ya ampun, mbak Nana, udah ngadain acara sekeren ini, eh sekarang malah dia juga yang nyalamin peserta satu per satu hahaha.

Mbak Nana sharing tentang pengalamannya membangun Narasi. Startup ini bertabur anak-anak muda kreatif yang tidak pernah lelah belajar. Semangat belajar inilah yang juga selalu dirawat oleh mbak Nana. Di posisinya yang sekarang, dia mengaku tak pernah bosan untuk mempelajari hal baru. Karena pengetahuan selalu berkembang.
"Konten yang menarik adalah konten yang orisinil dan berbeda." - Najwa Shihab
Pokoknya kalau kamu mau berkarya, kamu harus mengonsumsi lebih banyak karya orang terlebih dahulu. Jadi wajar saja konten-konten Narasi selalu segar.  Mbak Nana juga membagi tips bagaimana cara mencari ide yang orisinil. Jawabannya adalah perbanyak membaca dan berimajinasi. 

Kalau sudah dapat kontennya, gimana cara menyampaikannya pada target audiens kita? kalau mbak Nana sih menyarankan untuk menggunakan hype yang sedang terjadi dan gunakan pendekatan yang relate dengan keseharian audiens. 

Journey of a Story

Pemateri terakhir dari workshop ini adalah Agustinus Wibowo, dan saya tidak bisa kalem. Bagaimana tidak, dia adalah penulis yang karya-karyanya saya ikuti. Mulai dari Selimut Debu, Garis Batas, hingga Titik Nol. 

Melalui tulisan-tulisan Agustinus Wibowo, ungkapan dari Mason Cooley yang berbunyi "Membaca memberikan kita sebuah tempat untuk pergi ketika kita tidak bisa pergi ke mana-mana" jadi benar adanya. Senang sekali bisa diajari menulis secara langsung oleh orang yang karyanya berpengaruh terhadap diri saya. 
"Jalan-jalan bukan lagi tentang tempat, tapi keluar dari zona nyaman. Perjalanan membantu kita melihat sesuatu secara subjektif." - Agustinus Wibowo
Saya sering kagum dengan penulis yang mampu menyampaikan fakta yang enak dibaca. Dan beruntungnya, Agustinus Wibowo memberikan tips agar kami bisa menulis fakta dengan cara yang asik, yaitu menulis nonfiksi kreatif. Di mana fakta digabungkan dengan cerita. 

Tapi sebelumnya kita harus membuat peta memori yang terdiri dari lokasi, kejadian, pengamatan, dan perasaan. Setelah itu barulah membangun kerangka tulisan berdasarkan topik dan premis. Singkatnya materi yang diberikan sangat penting sebagai input bagi perkembangan menulis saya.  


credit to: Narasi

Terima Kasih Narasi

Untuk melengkapi catatan panjang ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada tim Narasi yang sudah membuat acara sekeren ini. Terima kasih atas kesempatan belajarnya, atas kesabarannya selama acara. Terima kasih untuk merchandisenya yang ucul-ucul hahaha. Dari acara ini saya jadi kenal lebih banyak teman-teman content creator yang menginspirasi dengan karyanya masing-masing. Selamat menginjak 2 tahun juga btw. Tetap mencerahkan, tetap bertabur anak muda. 

Dan untuk teman-teman peserta Narasi Content Creator Workshop 2019, kalian balak! Semoga selalu gembira dalam berkarya. Seperti yang mbak Nana bilang, manfaatkan kesempatan ini untuk berkolaborasi. Semoga kita bisa kerjasama dan menghasilkan konten positif yang mampu mengangkat lokalitas kita. Senang bisa bertemu kalian. Kini saatnya saya kembali ke pedalaman Kapuas Hulu, bertemu dengan beragam jenis serangga di tengah hutan heee. Akan banyak catatan yang saya bagikan di sini. Semangat selalu dalam karya hidup kita ya, teman-teman!



This entry was posted in

6 comments:

  1. Wah keren banget ya. Pastinya pengalaman ini akan di share ke teman-teman Kapuas Hulu. Panjang umur perjuangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berharap ada yang mau menerima letupan kegembiraan dan luapan pengetahuan ini di sana. Hahaha. Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Replies
    1. Asik. Siap-siap menerima luapan isi kepala ini ya. Sampai berjumpa di meja kopi 😁

      Delete
  3. Pengalaman seru dan bahagia bisa bertemu para creator muda Kalbar....salute!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahagia sekali bisa dipertemukan. Terima kasih untuk inspirasinya ya, pak hehe

      Delete