Saturday, January 26, 2019

Cheran, Potret Masyarakat Adat yang Berdaulat dan Bahagia Tanpa Negara

source: itsgoingdown.org

Ketika berbicara tentang Cheran, kamu bebas menyusun imajinasimu seliar mungkin, karena perjuangan masyarakat di sana untuk mempertahankan hutan dari penebang bersenjata dan mengusir polisi serta politisi sangat heroik. 

Di tengah kontestasi politik yang memuakkan dan perasaan nyaris putus asa terhadap para negarawan, saya menemukan sebuah film dokumenter menarik. Judulnya Cherán, tierra para soñar (Cheran, Tanah Mimpi). Film dokumenter tentang Cheran, sebuah kota kecil di negara bagian Michoacan, Meksiko yang mandiri dan berdaulat.


Cheran ditinggali oleh masyarakat adat Purepecha. Ketika saya menyebut masyarakat adat jangan membayangkan masyarakat yang primitif ya. Kota kecil ini merupakan kota otonom yang tidak tergantung  pada peraturan negara, masyarakat Purepecha memiliki instrumen hukum sendiri dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka jalankan. Ketika tingkat kejahatan terorganisir di Meksiko sangat masif, Cheran dengan sistem pemerintahannya berhasil membuktikan bahwa kemandirian masyarakat adat dan pilihan untuk menjadi otonom bisa menghapuskan tindak kejahatan terorganisir.

Tapi kedaulatan masyarakat Purepecha di Cheran tidak didapat begitu saja. Mereka harus berjuang keras melawan kartel, para penebang bersenjata hingga mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka. Para penebang berasal dari luar komunitas adat mereka.

Film dokumenter berdurasi kurang dari 60 menit ini berisi obrolan bersama beberapa tokoh pergerakan di Cheran yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka melawan penebang liar bersenjata dan mengusir aparat pemerintah serta politisi hingga proses pemerintahan tradisional dijalankan. Film ini diproduksi oleh televisi lokal dengan foto-foto dari Juan Jose Estrada Serafin yang bisa memperlihatkan dengan jelas bagaimana kekacauan terlewati dan kebangkitan terjadi. 

Film dibuka dengan rekaman para Ronda Comunitaria yang sedang bertugas memeriksa mobil. Ronda Coumunitaria merupakan sebuah milisi yang mengganti peran aparat untuk menjaga pos pemeriksaan bersenjata di 3 jalan utama menuju pemukiman. Isinya tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan, semua orang yang terpanggil untuk menjaga kota.

Lalu dimunculkan narasi dari seorang tokoh perempuan yang menjadi narasumber, dia mengungkapkan bahwa kedamaian tidak bisa didapatkan dengan jalan perdamaian. Hanya orang-orang yang tinggal di daerah aman dan tidak sengsara yang percaya bahwa perubahan bisa terjadi dengan jalan damai. Pernyataan yang menunjukkan bahwa kedamaian yang tercipta di Cheran tidak didapat dengan mudah dan manis. Mereka harus berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya; mengangkat senjata.

Tahun 2011 mereka melakukan perlawanan terhadap penebang liar yang mengancam kedamaian di kota,. Perlawanan ini dipimpin oleh kelompok perempuan, perlawanan yang menyebabkan suasana kota jadi mencekam. Semua orang turun ke jalan, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Mereka membawa senjata untuk melawan. Selama tiga bulan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar karena akses informasi diputuskan oleh aparat.


Tapi mereka tetap memilih bersatu, tidak ada yang mau meninggalkan kota. Di tengah kemelut itu mereka mencoba membentuk dewan masyarakat, organisasi ini setiap hari mendapat dukungan dari semua pihak lalu mereka secara bersama-sama sepakat untuk mengusir politisi dari kota dan memilih untuk menerapkan pemerintahan tradisional seperti yang nenek moyang mereka ajarkan.

Cheran tidak memiliki pemimpin, mereka hanya memiliki dewan komunitas yang dipilih dari anggota masyarakat. Mulanya ada enam komunitas, sekarang menjadi delapan. Pemilihan dilakukan bersama, dengan cara yang ditentukan bersama. Dewan komunitas tidak harus memiliki latar belakang pendidikan dan karir yang bagus, karena mereka yang tidak sekolah tapi memahami keadaan di Cheran pun memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Jauh berbeda saat mereka memiliki partai politik.

Setelah menentukan dewan komunitas mereka pun mulai mengeluarkan aparat pemerintah dari kota karena selama ini pemerintah tidak pernah membantu mereka meski mereka sudah berkali-kali melapor dan meminta bantuan. Mereka memblokade jalan dan mengusir politisi karena partai politik hanya membuat mereka terpecah-pecah bahkan tidak akur dalam keluarga. 

Menonton film ini memberikan banyak energi positif untuk saya, semangat juang dari masyarakat adat di Cheran sangat luar biasa. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan secara langsung, baik dari kalangan muda maupun tua, saya dapat menangkap banyak pesan dan tentu saja ilmu dari pengalaman mereka. Bagaimana rakyat tidak bisa dikalahkan ketika bersatu.

Cheran, kota bahagia tanpa negara / Tirto.id


Hehe bagian inilah yang sulit; bersatu. Cheran bisa karena mereka merupakan komunitas adat, ada nilai-nilai warisan leluhur yang masih dipegang teguh. Bahwa manusia dan lingkungn adalah kesatuan, jadi ketika ada orang yang ingin merusak hutan maka mereka sepakat untuk melawan dan menyingkirkannya. Sebenarnya Indonesia juga memiliki komunitas-komunitas adat yang seperti ini, tapi kondisinya jelas berbeda.

Masyarakat di Cheran paham betul dengan masalah yang mereka hadapi, kesadaran harus timbul dari akar rumput. Mereka juga memahami dengan baik bagaimana ekonomi bekerja, sistem pemerintahan saat itu dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka pilih. Memang, sebaik-baiknya senjata adalah pengetahuan itu sendiri. Karena dari pengetahuan timbul kesadaran lalu kesadaran itulah yang membuat laki-laki dan perempuan - tua dan muda di Cheran turun ke jalan membawa senjata untuk melawan perusak hutan dan pihak-pihak yang melanggar hak mereka.

Seperti yang narasumber ungkapkan, pemerintah menggunakan berbagai cara untuk menggusur masyarakat adat dari tanah mereka dan budaya mereka sendiri. Di Indonesia kita bisa perhatikan bagaimana negara mengeluarkan istrumen hukum dan kebijakan yang represif. Perlahan-lahan komunitas adat kehilangan tanahnya, sedikit demi sedikit identitas mereka dilucuti dan diberi label hingga dampak buruknya adalah masyarakat adat jadi malu mengakui identitasnya. 

Saya sepakat dengan pernyataan dari salah satu narasumber bahwa perempuan pribumi  rentan menjadi sasaran dari target penghapusan nilai-nilai budaya di lingkungan masyarakat adat. Ketika si ibu tidak lagi peduli pada nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh oleh komunitasnya maka anak-anaknya tidak akan mengenali budaya itu lagi.

Masyarakat di Cheran tahu bahwa perempuan pribumi membangun fondasi budaya masyarakat karena para ibulah yang menunjukkan cara hidup dan berpikir pada anak-anak. Perempuan memiliki peran besar dalam komunitas mereka, termasuk dalam pemberontakan di tahun 2011. Kalau perempuan pribumi tidak ada maka tidak ada lagi yang menyebarkan budaya pada anak, ini penting di komunitas Cheran karena budaya mereka sangat berkaitan dengan alam. Menjaga budaya berarti menjaga alam, ketika budaya hilang maka alam pun hilang, dan sebaliknya.


Kesadaran akan nilai budaya seperti ini yang patut dimiliki oleh anggota masyarakat adat. Tapi kenyataannya di Indonesia masih sedikit orang-orang yang mampu menyadari nilai budaya mana yang bersifat membangun atau tidak. Keadaan inilah yang menyebabkan adanya komunitas-komunitas tertentu yang bangga dengan nilai-nilai budaya yang destruktif. 

Karena itu, memimpikan kedaulatan masyarakat adat layaknya di Cheran bisa terjadi di negara kita masih jadi tantangan berat menurut saya. Masih jauh dan sulit. Tapi mengetahui ada tempat seperti Cheran di belahan dunia yang luas ini, rasanya bahagia. Memberikan berlipat-lipat semangat bagi saya pribadi agar tekun dengan karya-karya dan pelayanan yang saya lakukan karena saya juga berasal dari komunitas adat.

Tapi sejujurnya saya merasa bahwa masalah yang dialami masyarakat Cheran adalah masalah yang sedang dihadapi negara kita. Oleh sebab itu, untuk kamu yang sedang putus asa atau sedang membara melihat situasi politik dan ekonomi kita saat ini, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. untuk mengunduh film bisa klik di sini ya.

Di bagian akhir film saya sempat termenung beberapa saat ketika membaca tulisan di dinding yang artinya kurang lebih "Kami bukan dari golongan kiri atau kanan". Satu kalimat yang layak direnungkan ketika kita sudah gerah dengan keadaan yang semakin hari semakin menekan kita dan kita menginginkan perubahan. 


Oh iya di bawah ini ada beberapa artikel tambahan untuk memperkaya informasi tentang Cheran, kalau kamu memiliki referensi dan informasi lain jangan sungkan membaginya di kolom komentar ya.


Artikel berbahasa Inggris dari BBC
Artikel berbahasa Inggris dari NBC News
Artikel berbahasa Indonesia dari Tirto
Artikel berbahasa Inggris dari the Guardian

2 comments:

  1. Masyarakat adat tanpa wilayah adat, apa jadinya ya? Mirisny, It yg terjadi di kita.

    ReplyDelete
  2. Masih bisa di perdebatkan terkait wilayah adat....hehehehe...antara devacto dan dejure...

    ReplyDelete