Thursday, May 23, 2019

Ternyata Sawit Tidak Sesuram Itu Di Tangan Para Petani-Petani Mandiri


Sudah lama tidak membagikan sesuatu di sini karena belakangan sedang sibuk keluar masuk blank spot area alias wilayah tak bersinyal. Kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya saat mengunjungi petani sawit mandiri di Kabupaten Sintang, tepatnya di Desa Merarai Satu, Kecamatan Sungai Tebelian.


Sebuah perjalanan berkesan yang membuka lebar mata saya tentang komoditas kelapa sawit. Membuat saya tahu betapa beragamnya kondisi yang dialami petani sawit di lapangan. Baik itu dalam hal sumber daya. modal, hingga kemampuan mereka mengakses dana, jasa, dan pasar.


Sebelumnya saya hanya memiliki pemahaman sederhana bahwa sawit membawa kerugian bagi masyarakat kecil. Tapi setelah berkunjung ke Merarai dan bertemu para petani sawit mandiri, pemahaman saya tak lagi sama.


Teman-teman yang asing dengan komoditas ini mungkin belum tahu, ada dua jenis petani untuk komoditas kelapa sawit. Pertama adalah petani plasma, yaitu petani kelapa sawit yang muncul karena perusahaan melibatkan masyarakat lokal dalam perkebunan yang dibangunnya dan menerapkan pola pembagian hasil di dalamnya. Petani plasma ini muncul berdasarkan UU No 98 tahun 2013 yang mewajibkan perusahaan perkebunan kelapa sawit memfasilitasi pembangunan kebun masyarakat seluas 20% dari izin usaha yang diberikan. Jenis kedua adalah petani kelapa sawit mandiri atau swadaya, yaitu petani sawit yang tidak melibatkan pihak lain selain petani itu sendiri.


Petani-petani yang saya temui adalah jenis petani kedua. Mereka adalah petani kelapa sawit mandiri yang berkebun di tanah sendiri, tanpa komando dari perusahaan. Dengan perlakuan yang juga jauh berbeda dibanding perusahaan. Petani-petani ini membentuk kelompok tani dan bergabung dalam sebuah koperasi produksi Rimba Harapan.


Tak hanya cara berkebun mereka yang membuat saya terenyuh, tapi juga perspektif mereka terhadap lingkungan dan ilmu pengetahuan. WWF Indonesia program Kalimantan Barat memberi saya akses untuk berinteraksi langsung dengan mereka, menggali jawaban atas pertanyaan yang bersarang di kepala saya tentang komoditas ini, saya juga jalan-jalan ke kebun, menyaksikan sendiri bagaimana perlakuan mereka terhadap tanah dan tumbuhan yang mereka biarkan hidup di atasnya.

Di kebun sawit yang sudah tua, ya gak ada tumpang sarinya di sini gaes wkwk

Para petani kelapa sawit mandiri yang bergabung di Kopsi Rimba Harapan menerapkan praktik perkebunan yang baik (good agricultural practice). Biasanya petani senang menggunakan pestisida, di sini penggunaannya justru dibatasi. Menurut pak Suratno Warsito, petani sekaligus ketua koperasi, penggunaan pestisida yang berlebih justru mengurangi kualitas tanah. Mereka melakukan pembersihan lahan tanpa membakar dan menerapkan sistem Tanpa Olah Tanah (TOT). Cara kerja yang dianggap gila oleh kebanyakan orang, karena sekarang orang senang yang praktis dan cepat.


Pupuk yang mereka gunakan juga bukan 100% kimia, melainkan 60%kimia dan 40% organik. Bagaimana membuat pupuk organik? mereka memiliki banyak akal untuk membuatnya, memanfaatkan bahan-bahan dari alam di sekitar mereka. Di Rimba Harapan, seorang petani bisa jadi pelatih bagi petani lainnya. Mereka tidak malas belajar, ketika mendapat ilmu baru langsung dibagikan dan diparktikkan bersama. Makanya saya salut dengan mental mereka, meski tingkat pendidikan mereka rendah tapi mereka memiliki pengetahuan mendalam tentang bidang yang mereka geluti.


Para petani kelapa sawit swadaya ini merupakan petani yang bekerja sendiri, kelapa sawit jadi komoditas utama penopang ekonomi keluarga. Tapi belakangan kita semua tahu betapa rendahnya nilai komoditas ini. Beruntungnya petani sawit mandiri di Koperasi Rimba Harapan menerapkan sistem tumpang sari dalam berkebun sawit. Sebelum berusia 5 tahun, pohon-pohon sawit belum besar jadi di sela-selanya bisa ditanami aneka sayur dan buah-buahan. Ini menjadi keuntungan tambahan bagi mereka. 


"Anggota koperasi kita ada yang jadi pengusaha semangka dengan memanfaatkan sistem tumpang sari ini," ucap pak Suratno dengan wajah gembira saat kami mengobrol sambil melihat-lihat kebun sawit yang ditumpang sari dengan sayur-sayuran. Tata kelola kebun seperti ini menurutnya bisa membantu petani bertahan hingga masa panen tiba.


"Kuncinya adalah gigih berusaha, karena kita ini darahnya darah petani ya sehari-hari bertani. Tani sayur, buah, hasilnya kita jual," paparnya.


Saya juga salut dengan kesadaran pak Suratno untuk menjaga keseimbangan alam. Dia menghibahkan tanah seluas tiga hektar lebih miliknya untuk dijadikan rumah bagi satwa liar di sekitar desanya. Tanah tersebut tidak dikelola sama sekali hingga habitat di sana tidak terganggu. Di kawasan hutan milik pak Suratno ini ditemukan 80 jenis tumbuhan dari 50 famili dan dua jenis belum diketahui identitasnya sementara itu jumlah satwa tercatat 27 jenis dari 18 famili. 


"Saya ingin memastikan bahwa kelapa sawit juga bisa jadi perkebunan yang lestari, berkelanjutan" ujarnya. Kalimat yang saya amini karena saya menyaksikan sendiri lestarinya cara bercocok tanam mereka. Lahan mereka tidak ada yang berada di kawasan NKT (Nilai Konservasi Tinggi). Saat ada petani yang ingin bergabung di koperasi maka harus dicek dulu lokasi kebunnya, apakah berada di kawasan hutan atau tidak, karena yang boleh digarap hanyalah lahan di kawasan APL, cara pembukaan lahan juga dipastikan tidak dengan cara dibakar. 

Tentu saja tidak mudah menemukan petani-petani sawit dengan perspektif lingkungan seperti yang saya temui di Rimba Harapan. Mereka sudah melewati banyak hal. Mereka juga sudah menyerap banyak pengetahuan dan mempraktikkannya di lapangan dengan dampingan lembaga. Tahun ini target mereka adalah mendapatkan sertifikat RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) semangat mereka bisa saya lihat dari wajah-wajah sumringah yang saya temui saat itu.


"Petani sawit juga harus maju, mbak," begitu kalimat pak Suratno saat kami mengobrol tentang sertifikasi RSPO. Saya yang tidak begitu familiar dengan istilah-istilah di industri kelapa sawit jadi banyak belajar dari mereka. Di Kalimantan Barat belum ada petani sawit mandiri yang memperoleh RSPO. Saya juga baru tahu ternyata komoditi pertanian harus memiliki Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB). Kalau tidak punya para petani ini akan kesulitan mengakses permodalan karena pihak bank akan mempersulitnya. 


Seperti yang saya katakan di atas, perjumpaan saya dengan petani sawit mandiri di Rimba Harapan akhirnya membuat pemahaman saya tentang kelapa sawit tak lagi sama. Ternyata saya tidak anti-sawit, saya anti sistem penguasaan lahan yang dilakukan perusahaan. 


Lantas apakah saya mendukung perkebunan kelapa sawit? saya mendukung semua usaha mandiri yang dilakukan oleh petani, entah itu petani sawit, petani karet, kratom, sayur, atau padi. Dan ya, tentu saja saya mendukung para petani sawit mandiri di Rimba Harapan. Mereka menunjukkan pada saya bahwa petani juga memiliki strategi, mereka juga membuktikan pada saya bahwa menjadi petani itu keren cuy! contohnya saja pak Warsito, beliau bicara bagaikan expert pertanian, kuncinya adalah jangan malas belajar, upgrade skill, update pengetahuan, praktik dan praktik.

Berfoto bersama petani-petani sawit mandiri yang selalu gembira saat bekerja.


Semoga semangat pak Warsito dan petani-petani sawit mandiri di Rimba Harapan jadi semangat baik bagi petani-petani sawit lainnya (baik itu mandiri atau plasma). Cara mereka memperlakukan lingkungan dengan arif semoga jadi penyadartahuan bagi petani sawit lain agar memperaktikkan tata kelola kebun sawit yang berkelanjutan. Pemerintah dengan segala retorikanya juga bisa membuka mata lebar-lebar agar kebijakan mereka berpihak pada orang-orang mandiri seperti petani-petani ini.


Dan jadi teguran  juga bagi perusahaan-perusahaan sawit di Indonesia yang masih mempraktikkan perkebunan kelapa sawit dengan asal-asalan tanpa mempertimbangkan aspek ekologis dan budaya, barbar terhadap karyawan, apalagi sampai merampas tanah masyarakat. Petani-petani kecil ini saja bisa adil terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup, masa sekelas perusahaan tidak bisa. 


Ngomong-ngomong di daerah saya sendiri perkebunan kelapa sawit sama sekali tidak memiliki tempat. Tapi tentu saja alasannya cukup jelas, saya pernah menuliskannya di sini. Kamu punya pengalaman sendiri tentang petani sawit? yuk share di kolom komentar.


This entry was posted in

Tuesday, February 05, 2019

Membaca Saga no Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga) Membaca Kenangan Bersama Nenek




Ulasan Buku Saga no Gabai Bachan / Nenek Hebat dari Saga

Buku ini adalah karya Yoshichi Shimada, ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialaminya ketika masih kecil. Di buku penulisnya juga menggunakan nama kecilnyam bukan nama Yoshichi. Kamu yang tertarik dengan cerita-cerita berlatar Perang Dunia II pasti tertarik membaca buku ini. Karena cerita ini dimulai ketika Hiroshima luluh-lantak oleh bom, Yoshici Shimada yang masih kecil kemudian dipindahkan ke kampung neneknya agar aman sementara ibunya harus bekerja di Tokyo.


Jadilah Yoshici kecil hidup berdua dengan neneknya yang sangat sederhana (mau nulis miskin tapi nanti ngggak sopan). Kalau dilihat dari luar, kehidupan neneknya ini amat sangat kekurangan. Tapi di dalam dirinya dia adalah pribadi yang kaya, isi kepalanya juga kaya. Neneknya yang penganut Budha memilih cara hidup sederhana.

Dia melepas semua rasa memiliki terhadap benda, jadi orangnya jarang merasa sedih, dia selalu ceria dan bergembira karena tahu apa yang dia butuhkan. Tapi cara hidup seperti ini tentu harus dibarengi dengan akal yang banyak. Cara hidup tanpa kepastian seperti sang nenek membuatnya harus memiliki banyak strategi untuk mengatasi semua kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Di dalam buku, cara-cara hidup sederhana sang nenek inilah yang diceritakan penulis. Kisah lainnya berupa cerita tentang kenangan berkesan bersama sahabat kecil dan beberapa guru. Cerita-cerita ringan nan sederhana yang disampaikan dengan jenaka tapi mampu membuat mata berkaca-kaca. Buku ini sangat indah menurut saya.

Yoshici kecil yang harus berpisah dengan ibunya dan menjalani hidup miskin, tumbuh dengan keterbatasan tapi selalu bisa tertawa karena sang nenek yang mampu memberikan semangat baik padanya. Tapi ketika musim dingin tiba hidup mereka jauh lebih keras, dan saya sedih membayangkannya.

Tapi karena penulis merupakan seorang komedian, kisah-kisah sedih pun bisa disampaikan dengan ringan. Seperti Etgar Keret ketika menulis The Seven Good Years, meski situasi di Israel membuat pilu dia mampu menuliskannya dengan ringan dan jenaka.

Pesan yang ingin disampaikan buku Nenek Hebat dari Saga jelas adalah menjalani hidup dengan sederhana, membuatnya berarti dan bermanfaat karena kita hanya hidup satu kali. Tapi tentu saja tidak secara gamblang dijelaskan seperti itu, pesan-pesan ini terselip di antara cerita-cerita yang ditulis dengan baik. 

Kalau kamu sedang membutuhkan bacaan ringan tapi memiliki makna yang baik untuk spiritualmu, buku ini sangat direkomendasikan. Bahkan bagus sebagai bacaan untuk anak kecil karena kisahnya menghibur serta mendidik. Font yang digunakan juga sangat tepat untuk dibaca anak-anak.

Pengalaman Membaca Buku Saga Gabai no Bachan

Pengalaman membaca yang saya dapatkan juga beragam, saya sangat tidak suka kekerasan, itu menyakitkan dan merugikan, terutama untuk anak kecil. Ketika membaca kisah ini, saya langsung bisa merasakan penderitaan anak-anak korban perang. Mereka harus berpisah dengan keluarga, hidup dengan keterbatasan, semua ini membentuk kondisi psikologis mereka bahkan membentuk peradaban di sebuah negara.

Gabai no Bachan juga mengajarkan saya untuk hidup jadi lebih sederhana, melepas keterikatan dengan benda-benda duniawi. Mencapai kebahagiaan dengan menyadari satu hal yang berarti; sesungguhnya apa tujuan saya hadir ke dunia. Saya ingin membawa kebahagiaan bagi lingkungan saya. Seperti sang nenek, meski dalam keterbatasan kita tetap bisa saling bantu. 

Cerita-cerita masa kecil penulis di desa Saga bersama sahabat dan para guru juga membuat saya jadi mengingat beberapa pengalaman di masa kecil. Saya pernah masuk asrama, sejak usia 8 tahun berpisah dengan orang tua, ada banyak orang-orang baik yang memberikan perhatian pada saya. Dan yang paling terasa ketika membaca buku ini adalah rasa rindu pada nenek.

Nenek dan saya memiliki banyak kenangan, ketika saya tinggal di asrama nyaris setiap hari minggu nenek menjenguk ke asrama. Membawa berbagai kebutuhan dasar saya, kadang dia berjalan kaki melewati tiga kampung, menempuh jarak yang lumayan jauh. Barang saya selalu lengkap dan kembali ke tempat semula bahkan jika ada senior yang memakainya, mereka tidak akan berani menghilangkan barang-barang saya karena takut diomeli nenek.

Nenek juga membantu saya membuat PR Ilmu Pengetahuan Sosial tentang nama-nama negara berkembang, dia membuatkan sarapan yang tidak begitu enak tapi selalu membuat kenyang. Dia mengantar saya ke gereja ketika saya menerima komuni pertama, dia juga mendongeng untuk saya ketika saya mencabuti ubannya, kami berpergian keluar kota bersama mengenakan motor tambang hingga bus. Banyak peristiwa penting yang saya lalui bersamanya. Jadi membaca buku Nenek Hebat dari Saga seperti membaca kenangan bersama nenek.

Quotes dari buku Nenek Hebat dari Saga

"Kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri." - Nenek Hebat dari Saga

"Kebaikan sejati adalah kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan." - Nenek Hebat dari Saga.

Jadi siapapun kamu yang perlu bacaan ringan tapi menghibur yang sarat akan perenungan dan pesan kebaikan, buku ini bisa kamu jadikan pilihan. Kamu yang sedang belajar hidup sederhana, menyukai ajaran Budha atau sedang merindukan nenek, buku setebal 264 halaman ini bisa kamu baca.

Apalagi kalau kamu sedang terserang demam buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, saya rasa akan semakin bagus jika kamu memperkaya bacaanmu dengan buku yang satu ini. Atau kalau kamu pembaca karya-karya Ajahn Brahm, buku ini juga menarik untuk kamu baca.


Saturday, January 26, 2019

Cheran, Potret Masyarakat Adat yang Berdaulat dan Bahagia Tanpa Negara

source: itsgoingdown.org

Ketika berbicara tentang Cheran, kamu bebas menyusun imajinasimu seliar mungkin, karena perjuangan masyarakat di sana untuk mempertahankan hutan dari penebang bersenjata dan mengusir polisi serta politisi sangat heroik. 

Di tengah kontestasi politik yang memuakkan dan perasaan nyaris putus asa terhadap para negarawan, saya menemukan sebuah film dokumenter menarik. Judulnya Cherán, tierra para soñar (Cheran, Tanah Mimpi). Film dokumenter tentang Cheran, sebuah kota kecil di negara bagian Michoacan, Meksiko yang mandiri dan berdaulat.


Cheran ditinggali oleh masyarakat adat Purepecha. Ketika saya menyebut masyarakat adat jangan membayangkan masyarakat yang primitif ya. Kota kecil ini merupakan kota otonom yang tidak tergantung  pada peraturan negara, masyarakat Purepecha memiliki instrumen hukum sendiri dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka jalankan. Ketika tingkat kejahatan terorganisir di Meksiko sangat masif, Cheran dengan sistem pemerintahannya berhasil membuktikan bahwa kemandirian masyarakat adat dan pilihan untuk menjadi otonom bisa menghapuskan tindak kejahatan terorganisir.

Tapi kedaulatan masyarakat Purepecha di Cheran tidak didapat begitu saja. Mereka harus berjuang keras melawan kartel, para penebang bersenjata hingga mengusir polisi dan politisi dari wilayah mereka. Para penebang berasal dari luar komunitas adat mereka.

Film dokumenter berdurasi kurang dari 60 menit ini berisi obrolan bersama beberapa tokoh pergerakan di Cheran yang menceritakan bagaimana perjuangan mereka melawan penebang liar bersenjata dan mengusir aparat pemerintah serta politisi hingga proses pemerintahan tradisional dijalankan. Film ini diproduksi oleh televisi lokal dengan foto-foto dari Juan Jose Estrada Serafin yang bisa memperlihatkan dengan jelas bagaimana kekacauan terlewati dan kebangkitan terjadi. 

Film dibuka dengan rekaman para Ronda Comunitaria yang sedang bertugas memeriksa mobil. Ronda Coumunitaria merupakan sebuah milisi yang mengganti peran aparat untuk menjaga pos pemeriksaan bersenjata di 3 jalan utama menuju pemukiman. Isinya tidak hanya laki-laki, tapi juga perempuan, semua orang yang terpanggil untuk menjaga kota.

Lalu dimunculkan narasi dari seorang tokoh perempuan yang menjadi narasumber, dia mengungkapkan bahwa kedamaian tidak bisa didapatkan dengan jalan perdamaian. Hanya orang-orang yang tinggal di daerah aman dan tidak sengsara yang percaya bahwa perubahan bisa terjadi dengan jalan damai. Pernyataan yang menunjukkan bahwa kedamaian yang tercipta di Cheran tidak didapat dengan mudah dan manis. Mereka harus berjuang dalam arti yang sebenar-benarnya; mengangkat senjata.

Tahun 2011 mereka melakukan perlawanan terhadap penebang liar yang mengancam kedamaian di kota,. Perlawanan ini dipimpin oleh kelompok perempuan, perlawanan yang menyebabkan suasana kota jadi mencekam. Semua orang turun ke jalan, baik laki-laki maupun perempuan, orang dewasa atau anak-anak. Mereka membawa senjata untuk melawan. Selama tiga bulan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar karena akses informasi diputuskan oleh aparat.


Tapi mereka tetap memilih bersatu, tidak ada yang mau meninggalkan kota. Di tengah kemelut itu mereka mencoba membentuk dewan masyarakat, organisasi ini setiap hari mendapat dukungan dari semua pihak lalu mereka secara bersama-sama sepakat untuk mengusir politisi dari kota dan memilih untuk menerapkan pemerintahan tradisional seperti yang nenek moyang mereka ajarkan.

Cheran tidak memiliki pemimpin, mereka hanya memiliki dewan komunitas yang dipilih dari anggota masyarakat. Mulanya ada enam komunitas, sekarang menjadi delapan. Pemilihan dilakukan bersama, dengan cara yang ditentukan bersama. Dewan komunitas tidak harus memiliki latar belakang pendidikan dan karir yang bagus, karena mereka yang tidak sekolah tapi memahami keadaan di Cheran pun memiliki kesempatan untuk mencalonkan diri. Jauh berbeda saat mereka memiliki partai politik.

Setelah menentukan dewan komunitas mereka pun mulai mengeluarkan aparat pemerintah dari kota karena selama ini pemerintah tidak pernah membantu mereka meski mereka sudah berkali-kali melapor dan meminta bantuan. Mereka memblokade jalan dan mengusir politisi karena partai politik hanya membuat mereka terpecah-pecah bahkan tidak akur dalam keluarga. 

Menonton film ini memberikan banyak energi positif untuk saya, semangat juang dari masyarakat adat di Cheran sangat luar biasa. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh pergerakan secara langsung, baik dari kalangan muda maupun tua, saya dapat menangkap banyak pesan dan tentu saja ilmu dari pengalaman mereka. Bagaimana rakyat tidak bisa dikalahkan ketika bersatu.

Cheran, kota bahagia tanpa negara / Tirto.id


Hehe bagian inilah yang sulit; bersatu. Cheran bisa karena mereka merupakan komunitas adat, ada nilai-nilai warisan leluhur yang masih dipegang teguh. Bahwa manusia dan lingkungn adalah kesatuan, jadi ketika ada orang yang ingin merusak hutan maka mereka sepakat untuk melawan dan menyingkirkannya. Sebenarnya Indonesia juga memiliki komunitas-komunitas adat yang seperti ini, tapi kondisinya jelas berbeda.

Masyarakat di Cheran paham betul dengan masalah yang mereka hadapi, kesadaran harus timbul dari akar rumput. Mereka juga memahami dengan baik bagaimana ekonomi bekerja, sistem pemerintahan saat itu dan sistem pemerintahan tradisional yang mereka pilih. Memang, sebaik-baiknya senjata adalah pengetahuan itu sendiri. Karena dari pengetahuan timbul kesadaran lalu kesadaran itulah yang membuat laki-laki dan perempuan - tua dan muda di Cheran turun ke jalan membawa senjata untuk melawan perusak hutan dan pihak-pihak yang melanggar hak mereka.

Seperti yang narasumber ungkapkan, pemerintah menggunakan berbagai cara untuk menggusur masyarakat adat dari tanah mereka dan budaya mereka sendiri. Di Indonesia kita bisa perhatikan bagaimana negara mengeluarkan istrumen hukum dan kebijakan yang represif. Perlahan-lahan komunitas adat kehilangan tanahnya, sedikit demi sedikit identitas mereka dilucuti dan diberi label hingga dampak buruknya adalah masyarakat adat jadi malu mengakui identitasnya. 

Saya sepakat dengan pernyataan dari salah satu narasumber bahwa perempuan pribumi  rentan menjadi sasaran dari target penghapusan nilai-nilai budaya di lingkungan masyarakat adat. Ketika si ibu tidak lagi peduli pada nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh oleh komunitasnya maka anak-anaknya tidak akan mengenali budaya itu lagi.

Masyarakat di Cheran tahu bahwa perempuan pribumi membangun fondasi budaya masyarakat karena para ibulah yang menunjukkan cara hidup dan berpikir pada anak-anak. Perempuan memiliki peran besar dalam komunitas mereka, termasuk dalam pemberontakan di tahun 2011. Kalau perempuan pribumi tidak ada maka tidak ada lagi yang menyebarkan budaya pada anak, ini penting di komunitas Cheran karena budaya mereka sangat berkaitan dengan alam. Menjaga budaya berarti menjaga alam, ketika budaya hilang maka alam pun hilang, dan sebaliknya.


Kesadaran akan nilai budaya seperti ini yang patut dimiliki oleh anggota masyarakat adat. Tapi kenyataannya di Indonesia masih sedikit orang-orang yang mampu menyadari nilai budaya mana yang bersifat membangun atau tidak. Keadaan inilah yang menyebabkan adanya komunitas-komunitas tertentu yang bangga dengan nilai-nilai budaya yang destruktif. 

Karena itu, memimpikan kedaulatan masyarakat adat layaknya di Cheran bisa terjadi di negara kita masih jadi tantangan berat menurut saya. Masih jauh dan sulit. Tapi mengetahui ada tempat seperti Cheran di belahan dunia yang luas ini, rasanya bahagia. Memberikan berlipat-lipat semangat bagi saya pribadi agar tekun dengan karya-karya dan pelayanan yang saya lakukan karena saya juga berasal dari komunitas adat.

Tapi sejujurnya saya merasa bahwa masalah yang dialami masyarakat Cheran adalah masalah yang sedang dihadapi negara kita. Oleh sebab itu, untuk kamu yang sedang putus asa atau sedang membara melihat situasi politik dan ekonomi kita saat ini, saya sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton. untuk mengunduh film bisa klik di sini ya.

Di bagian akhir film saya sempat termenung beberapa saat ketika membaca tulisan di dinding yang artinya kurang lebih "Kami bukan dari golongan kiri atau kanan". Satu kalimat yang layak direnungkan ketika kita sudah gerah dengan keadaan yang semakin hari semakin menekan kita dan kita menginginkan perubahan. 


Oh iya di bawah ini ada beberapa artikel tambahan untuk memperkaya informasi tentang Cheran, kalau kamu memiliki referensi dan informasi lain jangan sungkan membaginya di kolom komentar ya.


Artikel berbahasa Inggris dari BBC
Artikel berbahasa Inggris dari NBC News
Artikel berbahasa Indonesia dari Tirto
Artikel berbahasa Inggris dari the Guardian