Friday, October 19, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (2) ; Menyepi Sejenak ke Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Tim Rimba Terakhir

Bicara tentang pariwisata di daerah Sintang pasti dua destinasi ini langsung terlintas, Bukit Kelam dan Air Terjun Nokan Nayan. Siapa yang tidak tahu keduanya, Bukit Kelam merupakan batu alam terbesar kedua di dunia setelah Giant Rock Anyer di Australia. Sementara Air Terjun Nokan Nayan merupakan air terjun yang dikenal dengan ketinggiannya dan disebut-sebut menyerupai bentuk air terjun Niagara.


Tapi Sintang yang luas menyimpan banyak tempat menarik yang sayang untuk dilewatkan. Seperti tiga air terjun yang sempat saya dan teman-teman tim Rimba Terakhir Silit kunjungi, Air Terjun Supit, Air Terjun Kiara, dan Air Terjun Sentarum yang terletak di Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Ketiganya terletak di lokasi yang tidak berjauhan.

Perjalanan ke Dusun Silit sendiri merupakan perjalanan panjang. Menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan. Siap-siap melewati jalur yang menantang dengan tanjakan dan turunan khas jalan perkampungan, serta mengorbankan komunikasi dengan dunia luar sementara waktu karena daerah ini tidak terkoneksi dengan jaringan internet. Keseruan perjalanan menuju Silit saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum berjarak sekitar 5 Km dari Dusun Silit. Bersama Dang, Koordintaor Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) kami menjajal keindahan ketiga air terjun ini. Dia juga mengajak beberapa temannya untuk mengantar rombongan kami. Perjalanan ditempuh menggunakan motor, jalurnya agak berbahaya untuk orang yang tidak terbiasa melewati tanjakan dan turunan di jalan tanah dengan tikungan dan tebing yang curam.


Dang, Koordinator Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sepanjang perjalanan kami melalui ladang-ladang penduduk, sebagian ladang ada yang sudah ditugal, yang lain masih menyisakan tanah-tanah hitam tanda baru saja melalui proses pembakaran, rumah-rumah warga yang terpencar berjauhan juga jadi pemandangan yang kami lalui. Kami tidak segan menyapa ketika melihat ada yang duduk di teras rumah. Sesekali motor harus dipacu kencang saat menempuh tanjakan, dan turun dengan hati-hati karena kendaraan kami beriringan. Harus bisa menjaga jarak dengan kendaraan di depan atau di belakang. 

Meski berada di daerah yang sama, ketiga air terjun ini memiliki panorama berbeda. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Supit dengan sungai panjang di bawahnya memiliki kisah sendiri. Sungai ini dipercaya menghubungkan Silit dengan sungai di Ketapang. Untuk kamu yang senang dengan tantangan, pasti sangat menyukai karakteristik Air Terjun Supit. 

Dang berkali-kali mengingatkan agar kami berhati-hati karena batu di Supit licin. Di Supit kami hanya duduk menikmati udara segar yang menyejukkan, sinar matahari yang tidak menyengat, deru suara air terjun, dan aroma khas hutan tropis yang berhasil menghilangkan ketegangan setelah menempuh perjalanan.

Berfoto di depan Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir

Puas beristirahat di Air Terjun Supit, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Kiara. Kami berjalan sebentar, menyebrangi sungai kecil dengan air yang dingin. Tidak jauh dari sungai kecil itulah Air Terjun Kiara berada. Kiara menawarkan panorama air terjun yang langsung jatuh ke sungai yang tidak begitu dalam. Dang menjelaskan nama Kiara diambil dari pohon Kiara yang tumbuh di sekitar air terjun. Pohon kiara merupakan pohon beringin.

Sungai kecil yang dilalui di perjalanan menuju Air Terjun Kiara / Dok. pribadi

Karena di Air Terjun Supit kami tidak bermain air, begitu sampai di Air Terjun Kiara dan melihat aliran sungai kecilnya, kami tidak bisa kalem lagi. Saya dan seorang teman langsung turun dan menghampiri batu-batu besar yang terpencar. Masing-masing duduk merendam kaki, sebagian mengabadikan momen dengan berfoto, ada juga yang sibuk memasang drone untuk mendokumentasikan perjalanan ini. 


Menikmati sejuknya suasana di Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir

Hari itu deru suara air terjun jadi suara yang paling sering saya dengarkan. Setelah menghabiskan banyak waktu  di Air Terjun Kiara kami pun melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sentarum. Di sinilah puncak perjalanan kami. Air Terjun Sentarum tampak kokoh dengan bebatuan yang besar dan rapi, layaknya batu yang dipotong. Air terjunnya memiliki dua sisi yang agak berjarak, sementara di bawah airnya agak dalam dan lumayan deras.

Air Terjun Sentarum / Dok. Pribadi

Sentarum mengingatkan saya pada sebuah danau pasang surut di Kapuas Hulu, Danau Sentarum. Saya sempat menanyakan kesamaan nama ini pada Dang, tapi saya tidak mendapatkan jawaban. Sejak pertama melihat air terjun ini, Sentarum seperti menyimpan misteri dengan tebing-tebing batunya.  Dang mengajak kami menaiki tebing, di atas tebing pemandangan jauh lebih indah. Airnya mengalir deras, jatuh ke bawah, ke sungai di mana beberapa teman sedang asik berenang. Air yang mengalir sangat jernih, bahkan seorang teman tidak ragu-ragu meminumnya ketika haus.

Kekayaan seperti inilah yang dirindukan masyarakat Labuan Bajo. Jauh dari Silit ada sebuah tempat yang mashyur dengan pariwisatanya, setiap tahun ribuan turis menyambanginya. Labuan Bajo pasti masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi para traveler dunia. Tempat ini menawarkan banyak tempat wisata lengkap dengan hotel nyaman, tapi masyarakatnya sendiri selalu kekurangan air bersih. Labuan Bajo pun dijuluki Kota Seribu Jeriken.

Silit beruntung, karena mereka memiliki air yang berlimpah, termasuk wisata air terjun ini. Saya dan teman-teman yang naik ke tebing istirahat menikmati pemandangan sambil menghayal seandainya kami bisa memiliki rumah di tepi tebing air terjun Sentarum, lengkap dengan wifi dan helikopter yang bisa mengangkut kami ke kota jika persediaan makanan habis. Khayalan ini tentu saja absurd.

“Tidak jauh dari Sentarum inilah hutan Silit berada, biasa orang mencari rotan atau meramu ke sana. Ada juga yang berburu,” Dang mulai menjelaskan kondisi hutan di sekitar Air Terjun Sentarum. Pohon-pohon di sekitar Air Terjun Sentarum memiliki daun rimbun, membuat sinar matahari terhalangi. Di bebatuan tumbuh lumut, sementara di tepiannya banyak anggrek hutan. Jadi jangan heran jika menjumpa banyak kupu-kupu aneka warna berterbangan.


Bersantai di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Kalau saja air terjun ini mudah dijangkau, mungkin pemandangannya tidak seindah ini. Ketika kami berkunjung saja kami mendapati tumpukan bekas makanan ringan dari pengujung, botol minuman plastik termasuk pembungkus rokok. Selalu sedih ketika mendapati kenyataan bahwa masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab. Memang, seringkali orang-orang sibuk memikirkan negara tapi tidak memikirkan pembungkus makanannya sendiri. Seorang teman kemudian memungut sampah-sampah ini dan membawanya turun. 

Menurut Dang pengujung yang menyambangi Air Terjun Sentarum memang beragam, sebagian dari mereka mungkin masih memiliki pemahaman yang buruk tentang lingkungan. Apalagi jumlah pengujung semakin bertambah, tidak hanya masyarakat Silit tapi pengujung dari daerah Sintang dan Sekadau. Bahkan baru-baru ini ada turis mancanegara yang berkunjung.

“Selain untuk memperkenalkan adat istiadat, budaya, maupun potensi pariwisata di Silit, alasan kami mendirikan Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) ya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari,” tuturnya. Karena itulah mereka selalu mengimbau agar pengunjung tidak melakukan tindakan tidak bertanggung-jawab seperti ini. Komplids jadi wadah pemuda-pemudi Silit untuk memperkenalkan potensi pariwisata sambil menyuarakan pesan pelestarian lingkungan.

Pemandangan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir
Seperti yang Dang ceritakan, mereka tidak hanya memperkenalkan pariwisata, budaya serta adat istiadat di Silit, sekarang mereka juga mulai mempelajari isu-isu lingkungan. Terutama yang berhubungan dengan hutan mereka. 

“Tapi yang jadi tantangan adalah keterbatasan informasi. Karena akses menuju Silit tidak mudah, selain itu tidak ada jaringan internet. Kami sering ketinggalan berita, termasuk keterbatasan pemahaman terhadap isu yang mengancam keberadaan hutan kami,” ungkap Dang.

Apa yang Dang ungkapkan sedikit menyentil saya, pekerjaan membuat saya harus terhubung dengan dunia luar setiap hari. Jaringan internet dan informasi baru adalah napas untuk pekerjaan saya. Jadi selama ada internet saya tidak punya alasan untuk tidak bekerja, bisa menyepi ke tempat yang tidak terhubung dengan jaringan internet  seperti ini adalah sebuah nikmat yang saya syukuri. Sementara itu di hadapan saya, seorang teman yang usianya tidak terpaut jauh menginginkan kemudahan akses informasi seperti yang sedang saya hindari. 

Saya dan teman-teman mengobrolkan banyak hal bersama Dang, pemuda 20 tahun yang banyak membantu kami selama berada di Silit. Dia menyampaikan harapannya agar pemerintah setempat bisa memperhatikan infrastuktur jalan menuju Silit, terutama menuju air terjun.

“Kita di sini selalu siap menerima orang-orang yang berkunjung, karena itu kami sangat berharap pemerintah mau memperbaiki jalan menuju Silit dan air terjun. Karena kalau musim hujan jalannya agak susah dilewati,” katanya. 

Setelah puas mengobrol kami turun ke bawah, saatnya mandi. Kami menyelam sepuasnya. Teman yang tidak bisa berenang harus puas mandi di tepi sungai, mengapungkan badan sementara yang lain berenang ke bagian tengah. Lelah berenang kami pun menepi, mengeringkan rambut lalu pulang dengan kondisi basah kuyup.

Kalau kalian sedang jenuh dengan rutinitas dan keramaian, melakukan perjalanan ke air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum bisa jadi pilihan. Jika sehari saja tidak cukup, kalian bisa menginap di rumah kepala dusun. Ambil beberapa hari di sana, menyepi sambil menyatu bersama masyarakat yang masih sangat terhubung dengan alam. 

Senang rasanya bisa melihat ketiga air terjun ini. Perjalanan di Silit komplit. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan kami mendapat sambutan hangat dari masyarakat Silit, kami diajak mengenali seni dan budaya mereka, kami juga mendengar kegelisahan mereka tentang korporasi yang mengincar hutan di Silit, dan mereka juga mengajak kami melihat air terjun yang jadi primadona di dusun ini.

Keesokan harinya kami pamit, perjalanan ke Silit sudah berakhir, kami harus pulang. Saya berjanji akan mengirim buku untuk Dang, setidaknya dia bisa mendapat informasi dari sana meski tidak sekaya infromasi dari internet. Perlahan mobil yang membawa kami semakin meninggalkan Silit, sebuah dusun di pedalaman Sintang yang masih memiliki rimba dan kaya akan air. Mereka memiliki air yang jernih, berlimpah, dan menyimpan banyak ikan yang bisa mereka ambil kapan saja. Air ini tidak hanya mengaliri sungai untuk mereka mandi dan minum, tapi juga memberikan penerangan ketika malam tiba. 

4 comments:

  1. Hutan hampir langka. Proud of Warga Silit yang masih mempertahankannya. Mereka adalah manusia-manusia luar biasa yang selalu menghargai ibundanya

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. wadu hahaha akunya tidak layak disandingkan sama Duta Baca Indonesia, bang

      Delete