Sunday, October 21, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir (3) ; Menanam Benih Padi, Menanam Kehidupan

Masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit sedang gotong royong menugal / Tim Rimba Terakhir

Hari sudah agak sore ketika saya dan teman-teman yang tergabung dalam tim Rimba Terakhir Silit berkunjung ke ladang seorang warga yang sedang mengadakan gotong royong menugal. Ladangnya tidak terlalu jauh dari perkampungan, bisa ditempuh dengan belasan menit berjalan kaki. Kedatangan kami disambut dengan hangat, teman-teman saya dipersilakan mengambil gambar, mengobrol dengan beberapa orang yang kami temui sedang istirahat. 

Sementara saya meminta ijin untuk ikut memasukan benih ke tanah yang telah ditugal. Meski tidak ikut sampai benih habis, saya merasa cukup puas bisa larut dalam suasana kebersamaan ini.  Setelah selesai menugal, semua warga kembali ke rumah masing-masing. Ada juga yang mampir ke rumah warga yang mengadakan gotong-royong, kami juga diminta untuk bergabung.

Di sana suasana kebersamaan terasa lebih erat. Kami duduk bersila membentuk lingkaran. Dengan cekatan mereka menyajikan makanan kecil. Makanan sederhana yang terasa spesial karena saya tahu makanan ini adalah makanan terbaik yang mereka buat untuk merayakan hari ini. Dalam tradisi masyarakat Dayak, jamuan harus selalu ada setelah gotong royong di ladang dilaksanakan. Selain sebagai bentuk terima kasih pada orang-orang yang telah membantu, ini adalah wujud syukur pada pemilik semesta yang telah memberi perlindungan.

Begitulah hari pertama kedatangan kami di Silit berlalu. Silit merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Kami datang ketika tengkawang sedang berbunga, sementara warga Silit yang merupakan Suku Dayak Seberuang sedang memasuki masa menugal di ladang. 

Kami beruntung karena bisa menyaksikan langsung proses berladang tradisonal ini, setidaknya kami jadi tahu bagaimana kearifan lokal masyarakat ketika mengolah lahan untuk berladang. Sangat arif, bertolak belakang dengan tudingan yang mudah ditemui jejaknya di portal-portal media daring bahwa peladang tradisional menyebabkan kebakaran lahan dan biang di balik bencana asap yang tiap tahun selalu terjadi di ibu kota provinsi.

Memang, belakangan seruan yang meminta masyarakat pedalaman di Kalbar untuk mengubah cara berladang semakin sering terdengar. Bahkan muncul stigma negatif terhadap peladang tradisional, stigma inilah yang selalu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyerang mereka. Padahal, masyarakat melakukan kegiatan berladang sesuai dengan kearifan lokal yang sudah dijalankan turun temurun.

Begitulah cara berladang yang diterapkan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit. Setiap tahapan memiliki aturan yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Ini tidak lain karena masyarakat di Silit masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Seperti yang diungkapkan menteri adat, Paulus Inka bahwa masyarakat Dayak Seberuang tidak pernah sembarangan ketika berladang. Semua proses memiliki adat aturannya sendiri. Mereka yakin, mustahil mampu mendapatkan hasil bumi yang baik jika perlakuan mereka terhadap bumi sendiri buruk.

Menteri Adat, Paulus Inka mengenakan baju batik, menjelaskan tentang proses berladang dalam komunitas adat Dayak Seberuang / Tim Rimba Terakhir

“Semua di bumi ini ada pemiliknya, ada yang punya. Termasuk tanah tempat berladang, makanya harus pamit dulu kalau mau menggunakan tanah, harus hati-hati saat mengolahnya dan tidak lupa berterima kasih setelah mendapatkan hasilnya,” tuturnya ketika kami mengobrol keesokan harinya.

Proses berladang diawali dengan ritual meminta tanah pada Puyang Gana. Ada beberapa persyaratan yang harus disediakan, seperti membawa sebatang tebu, sepotong kunyit, sebuah keladi dan sepotong besi kecil. Katanya semua persyaratan ini akan jadi hantaran untuk Puyang Gana. Keladi akan jadi tempayan dan kunyit menjadi emas. Sedangkan tebu akan jadi senapan yang menghantarkan permintaan padanya.

Mereka percaya jika mereka telah meminta ijin pada Puyang Gana, maka tanah tersebut akan diberkati. Tapi jika hari pelaksanaan ritual mereka mendapati ada ular di tanah tersebut, itu pertanda bahwa tanah tidak diijinkan. Mereka harus mencari tanah lain. Petunjuk alam seperti ini memang masih dipercaya. 

Setelah mendapatkan lahan, mereka mulai membersihkannya. Saat musim menebang tiba, mereka juga harus memberikan sebuah rancak berisi nasi pulut dan hati ayam. Sebagai bentuk ijin pada Puyang Gana agar melancarkan pekerjaan mereka. Kayu-kayu yang telah ditebang akan ditunggu sampai kering barulah dibakar. 

Membakar ladang tidak dilakukan begitu saja, mereka bergotong-royong agar api tidak melebar melebihi patok atau parit kecil yang sudah dibangun. Dengan cara seperti ini kebakaran lahan melebihi lahan ladang tidak pernah terjadi. Cara membakar seperti ini nyaris diterapkan semua suku Dayak yang pernah saya jumpai. Jadi helikopter yang tempo hari [atroli dan menyirami lahan ladang warga, sepertinya salah sasaran.

Setelah ladang selesai dibakar proses berikutnya adalah menugal. Ritual menugal kali ini merupakan ritual memberi makan Puyang Gana dan temannya, Aji Menteri. Makanan yang diberikan berupa sajian nasi biasa, nasi pulut. Dilengkapi hati, perut, kaki, serta kepala ayam, diletakkan di sebuah piring kecil. Persembahan ini merupakan bentuk permohonan agar Puyang Gana memberkati ladang mereka sehingga hasilnya banyak dan yang bekerja tetap sehat.

Tua muda saling membantu dalam gotong royong menugal yang dilaksanakan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit /  Tim Rimba Terakhir

Ritual-ritual yang menghubungkan mereka dengan alam masih terus berlanjut. Setelah menugal sekitar bulan November atau Desember dilakukan ritual nepah umah. Ritual yang dilakukan untuk membuang penyakit padi sehingga tidak mengalami gagal panen.

Sekitar bulan Februari atau Maret mereka memasuki masa panen. Saat panen tiba, sebelum pemilik ladang memanen semua padi di ladang, dia terlebih dahulu harus memanen satu pokok padi dan mengulasnya lalu mengikatnya dengan akar tengang. Nah, akar ini juga menarik karena sangat sering digunakan dalam ritual adat suku Dayak Seberuang di Silit. Contohnya untuk pernikahan adat, pasangan laki-laki dan perempuan harus mengenakan akar tengang supaya hubungan mereka kuat, seperti akar tengang.

Menurut penjelasan Paulus Inka, akar tengang adalah akar paling kuat, ini akan jadi kekuatan padi agar tidak mudah habis dan yang bekerja tidak mudah lelah. Setelah panen selesai barulah diadakan ritual nyelapat tahun. Ini adalah perayaan akhir panen yang selalu dilaksanakan meriah.

Setiap komunitas adat Dayak memiliki penamaan yang berbeda untuk pesta syukur sesudah panen. Ada yang menyebutnya naik dango, ada pula yang menyebutnya pamole’ beo’ masing-masing sub suku memiliki penamaan berbeda. Tapi di ibu kota provinsi pada bulan Mei selalu diadakan festival Gawai Dayak yang jadi momentum besar untuk menyatukan pesta syukur sesudah panen ini. Festival ini diadakan sepekan penuh.

Sedangkan di Silit kemeriahan juga memenuhi acara nyelapat tahun. Masyarakat akan membuat tuak, disimpan di temoayan lalu dihisap menggunakan suling dari bamboo beramai-ramai. Ternak-ternak akan dipotong, sebagai bentuk sukacita atas panen tahun ini. Tapi sebelumnya mereka telah mempersembahkan makanan dan minuman untuk Puyang Gana sebagai bentuk terima kasih atas berkat yang diberikan. 

Pesta seperti ini, menurut Paulus Inka tidak akan ada jika mereka tidak memiliki hutan “Kalau hutan habis, tidak ada tanah untuk berladang, tidak ada gawai,” katanya. Karena itulah dia dan masyarakat di Dusun Silit bertekad untuk mempertahankan hutan dan sungai yang mereka miliki. Ketika daerah lain di sekitar mereka sudah luluh oleh iming-iming lapangan pekerjaan dan kehidupan sejahtera dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun perusahaan tambang, mereka memilih menolak kehadiran perusahaan-perusahaan itu.

“Kebutuhan kami sudah terpenuhi oleh hutan dan sungai di sini, kalau pihak luar mau menambahkan silakan tambah yang baik, bukan yang membuat buruk. Apalagi kalau sampai membuat hutan dan sungai jadi rusak,” ujarnya. 

Di akhir pembicaraan dia menyampaikan pesan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Seperti pesan-pesan yang sering disampaikan para aktivis lingkungan, Paulus Inka juga mengamini hal yang sama, bahwa bumi ini hanyalah pinjaman dari anak cucu.

“Kalau kita tidak bisa menjaga bumi, nanti anak cucu kita bagaimana hidupnya? Masa mau minum air keruh beracun kalau sudah tercemar tambang, tanah habis dipakai perusahaan sawit, tidak bisa ditanami lagi karena tanahnya jadi keras. Bagaimana?” 

Saya yakin kita semua tau apa jawabnya. Berbagai berita dan data tentang bencana ekologis akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang jadi jawaban untuk pertanyaan ini.

4 comments: