Thursday, August 16, 2018

[Review Film] Lima Alasan Mengapa Harus Menonton Film 1987: When The Day Comes


Selain melalui bacaan, film juga bisa jadi media transformasi sejarah yang menyenangkan. Minggu lalu saya menonton beberapa film sejarah dari Korea. Salah satunya adalah film 1987: When The Day Comes. Sebuah film yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan sumpah mati saya mengutuk pemimpin yang diktator.

Untuk teman-teman yang sedang mencari referensi film untuk ditonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Saya juga telah merangkum lima alasan mengapa film 1987: When The Day Comes layak untuk ditonton.

1. Melihat Sejarah Kelam Korea Selatan

Kalau kalian taunya Korsel identik dengan cowok manis dan cewek cantik, serta hingar bingar k-pop yang membuat mata segar. Film ini menyajikan Korsel yang lain. Korea Selatan yang pernah dikuasai sebuah rezim yang dipimpin seorang diktator. Film garapan sutradara Jang Joon Hwan ini berkisah tentang kematian seorang aktivis mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong Chul ketika sedang dalam proses introgasi. Kematiannya membuat rakyat bertanya-tanya, mereka meminta kebenaran tentang penyebab kematiannya. Tapi pemerintah menutupinya, ini menyebabkan rakyat marah. Gejolak mahasiswa pun tak terbendung lagi. Mereka menuntut agar pemerintah transparan, tidak ada kediktatoran lagi.  

2. Mengingatkan Tragedi Mei 1998 di Indonesia

Perjuangan para mahasiswa di Korsel untuk menggulingkan kediktatoran sama seperti perjuangan mahasiswa Indonesia ketika menuntut agar Soeharto. Jika 1987 menampilkan Park Jong Chul sebagai martir, Indonesia mencatat beberapa nama mahasiswa yang jadi korban tragedi Mei 1998. Makanya saya sangat rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang masih kuliah. Supaya bisa melihat bahwa peran mahasiswa sangat besar, tidak hanya kuliah untuk mendapatkan IPK tinggi dan bekerja di perusahaan besar atau berlomba-lomba jadi PNS. Pada masanya mahasiswa pernah mencatat sejarah, jadi penggerak perubahan.

3. Menikmati Film Sejarah yang Digarap dengan Totalitas

Penggarap film sejarah Indonesia harus berkaca pada film 1987. Film ini benar-benar digarap dengan totalitas. Menampilkan suasana yang mencekam, menguras emosi. Kita seperti memasuki dimensi lain ketika Korsel sedang kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, kejaksaan, kepolisian, wartawan serta media massa, gereja, penjara, dan geliat demonstrasi mahasiswa hingga ketakutan rakyat. Semuanya ditampilkan utuh, mata saya berkaca-kaca sepanjang film ini. Kualitas film 1987 sangat jauh di atas film-film sejarah yang pernah dibuat di Indonesia. Apalagi deretan aktor yang main di film ini adalah aktor-aktor ternama. Dibanding film A Taxi Driver, film ini masih lebih menantang. 

4. Berhenti Mendukung Pemimpin Diktator yang Fasis

Kita bisa berkaca dari film sejarah ini, seorang pemimoin yang diktator dan fasis hanya akan membawa kesengsaraan pada rakyatnya. Kekerasan bisa dilegalkan dengan alasan melindungi negara, bahkan kemanusiaan jadi tidak memiliki nilai apa-apa. Para preman dibayar untuk menghentikan perlawanan rakyat, pembunuhan jadi hal yang biasa. 1987 juga mengambarkan dengan gamblang bagaimana aparat mengintimidasi rakyat, mengancam bahkan merampas hak mereka untuk hidup. Mungkin seperti inilah Indonesia ketika sedang bergejolak menuntut turunnya Soeharto. 

5. Peran Gereja Membela Kemanusiaan

Oke, untuk poin ke-lima ini saya tidak mau berpanjang lebar. Nanti saya dikira relijius. Hehe. Intinya gereja mengambil peran dalam penegakan konstitusi dan penggulingan kediktatoran di Korsel. Tonton film ini untuk mengetahui kisah selengkapnya. Siap-siap emosinya terkuras. 

0 komentar:

Post a Comment