Saturday, August 25, 2018

If You Can Dream It, You Can Do It



Tulisan ini untuk teman-teman yang sedang memperjuangkan impiannya, meski orang lain menganggap impian itu remeh, sepele, tidak penting, bahkan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. 

If you can dream it, you can do it.

Kalimat dari Walt Disney ini yang menyelamatkanku dari keputus-asaan. Hahaha. Serius, dulu aku penuhi sampul buku catatan semasa SMA-ku dengan kutipan ini. Karena aku yakin, kalau aku bisa memimpikan sesuatu aku pasti bisa meraihnya. 

Mari kita mulai dengan cita-cita di masa kecil.

Sejak kecil aku ingin jadi wartawan. Dari sekian banyak profesi yang aku kenali saat itu, wartawan adalah yang paling aku inginkan. Walaupun sebenarnya waktu SD aku sempat berpikiran untuk jadi pelukis. Oke, maksa banget. Aku bahkan tidak bisa menggambar sampai sekarang. 

FYI, aku menghabiskan masa kecil di sebuah tempat terpencil. Di sebuah kabupaten yang merupakan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Tempat di mana impian teman-teman seusiaku sangat konvensional. Ingin jadi dokter, pramugari, pilot, guru, bekerja di bank, jadi perawat, bidan. Profesi yang tidak membuatku tertarik sama sekali. 

Aku tumbuh dengan ingatan masa kecil yang menyenangkan. Dengan impian suatu hari aku bisa mengobrol langsung dengan presiden, menanyakan semua yang ingin aku tanyakan padanya. Dulu tidak terpikirkan bahwa di masa depan, sebuah twit di Twitter saja sudah bisa membuat kita berinteraksi dengan presiden hahaha.

Begitulah hari-hari berlalu. Waktu sekolah aku mengurusi Mading. Satu-satunya penyesalan tumbuh di daerah 3T adalah ketika menyadari betapa sedikitnya informasi yang aku terima di banding kawan-kawan di daerah maju. Kalau teman-teman mungkin di masa SMA sudah ikut lomba karya tulis ilmiah atau bahkan magang di media-media lokal. Aku boro-boro. Makanya ketika aku meninggalkan tempatku dan bertemu peradaban, aku harus belajar banyak hal. Mengejar ketertinggalanku. heheu.

Setelah aku menyelesaikan kuliah hukum aku berencana melanjutkan pendidikan. Aku bahkan sampai menghabiskan beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Tapi pertengahan tahun aku berubah pikiran. Sekembalinya dari Kampung Inggris aku mengirim lamaran ke sebuah media lokal di tempatku. Aku diterima setelah melewati beberapa tahapan tes. Itu adalah tahapan tes yang membuatku takut.

Benaran, aku takut dengan tes psikologis karena aku seorang diskalkulia. Soal-soal hitungan membuatku merasa benar-benar tidak berguna di hadapan kertas. Jadi waktu menunggu hasil psikotes, aku sangat khawatir. Aku sangat tidak percaya diri kalau bicara tentang ini. Tapi untunglah aku lulus dan akhirnya aku menjadi wartawan.

Media tempatku bekerja merupakan anak perusahaan sebuah media yang memproduksi beberapa majalah favoritku, seperti Bobo dan KaWanku. Bapak adalah orang yang paling senang, karena ketika teman-temannya sibuk melobi kenalan agar anaknya diterima bekerja, dia justru menunggu dan melihat anaknya menentukan masa depannya. Waktu aku selesai sidang skripsi dan pengujiku bertanya aku mau menjadi apa di masa depan, dengan yakin aku jawab bahwa aku ingin jadi wartawan. Meski aku tau, banyak yang meragukannya hahaha karena dulu sebelum ke Kampung Inggris aku sangat pemalu, bahkan pemilih ketika bicara :’)

Hari pertama ke kantor aku benar-benar kacau. Aku bangun kesiangan, aku tidak keramas, aku bahkan tidak memakai lipstick. Aku datang ke kantor pertamaku dengan tidak percaya diri :’)

Masih jelas terbayang bagaimana mulasnya perutku karena grogi. Tidak ada yang aku kenal di sana, karena jujur saja selama kuliah aku tidak  gabung di organisasi manapun, berbeda dengan beberapa teman yang gabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Aku justru memulai semua kebiasaan menulisku di blog. Aku menulis otodidak di blog ini. Waktu wawancara tahap pertama, blog ini juga jadi salah satu portofolioku. 

Tapi seperti kata Walt Disney, if you can dream it you can do it. Aku akhirnya bekerja dengan profesi masa kecilku. Jadi wartawan untuk sebuah media lokal. Aku merasakan bagaimana menjadi seorang pewarta berita, bertemu banyak orang baru, mengobrol, melempar pertanyaan meski lidahku kadang kelu dan seolah ada kupu-kupu menari di perutku. Untuk orang sepemalu aku, ini tidak pernah mudah.

Walaupun belum sempat wawancara presiden hahaha karena aku memilih resign setelah menyadari bahwa jadi wartawan tidak cukup hanya bisa menulis. Jadi wartawan harus bisa berkomunikasi dengan sabar. Ya sabar, sebuah sifat yang hanya ada sedikit di diriku. Setelah tidak jadi wartawan aku masih tetap menulis. Sekarang aku jadi content writer di sebuah perusahaan yang membuatku semakin yakin, bahwa aku akan survive dengan menulis. 

Meski jenis pekerjaan ini masih sangat asing di lingkunganku, meski beberapa keluarga masih membanding-bandingkan penghasilanku dengan sepupu-sepupu yang lain karena mereka tidak yakin seseorang bisa hidup dari menulis. 

Tapi syukur, aku punya orangtua yang mendukung semua keputusanku. Waktu aku dinyatakan diterima sebagai wartawan, bapak mengirim pesan yang isinya panjang banget. Mengucapkan selamat karena anak bungsunya yang cengeng ini akhirnya mendapat apa yang diinginkannya. Padahal aku tahu dia kecewa karena aku tidak jadi melanjutkan pendidikan. Waktu aku resign juga bapak dan mama mendukungku.

“Kalau capek, nda apa-apa istirahat dulu,” dari jaman kuliah sampai kerja, kalimat ini yang selalu mama ucapkan tiap kali aku mengeluh, bahkan menyerah.

Aku menulis ini karena aku ingin berbagi semangat untuk siapa saja yang impiannya dianggap tidak penting dan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. Tentu saja pengalamanku ini belum apa-apa, atau tidak ada apa-apanya dibanding pengalaman kalian. Tapi seperti yang aku katakan di awal, mari berbagi semangat.

Waktu aku jadi wartawan, beberapa anggota keluarga menganggap ini pilihan yang keliru. Bahkan ada yang bilang, ngapain kamu capek-capek kuliah hukum, belajar bahasa Inggris, kalau cuma jadi wartawan. Masih sedikit orang-orang yang menganggap wartawan sebagai profesi. Padahal jadi wartawan sangat menyenangkan, kamu bisa bertemu siapa saja. Mulai dari orang-orang menginspirasi sampai pembunuh, mulai dari pemulung sampai pejabat.

Kamu bisa memasuki gedung-gedung yang selama ini tidak tersentuh olehmu, berhadapan langsung dengan pembuat kebijakan, dan mendapatkan jawaban atas semua rasa ingin tahumu. Kamu tidak perlu ke kantor setiap hari, kamu bebas mengenakan pakaian apa saja dan kamu tidak pernah membenci hari Senin karena pekerjaan ini sangat menyenangkan.

Dan yang paling nikmat adalah ketika berita yang kamu tulis ternyata membantu nyawa seseorang. Aku bakal share cerita tentang seorang bapak yang mendatangi kantor karena berita tentang ASI eksklusif yang aku tulis. Sebuah kejadian yang membuatku lebih menghargai kehidupan :’)

Baiklah, teman-temanku. Selamat memperjuangkan kehidupan yang kalian inginkan ya. Meski dianggap remeh, sepele, atau tidak layak, kalau kalian bisa memimpikannya maka kalian bisa melakukannya. Selamat memelihara impian-impian masa kecil, selamat memperjuangkan pilihan hidup. Seperti kata seorang teman, jadilah apa saja yang kalian inginkan, yang penting sehat dan tidak jahat.

Jadi, apa impian masa kecil yang sedang kamu perjuangkan atau jalani saat ini? bagi ceritamu di kolom komentar ya. Mari saling menyemangati :)


Foto: Bonnie Kitle

Friday, August 17, 2018

Menyelami Romantisme Sepasang Anarkis dalam Film Anarchist from Colony


Film yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena sadisme yang ditampilkan. Tapi keberanian sepasang anarkis melawan penindasan dan pemerintahan yang otoriter ketika Jepang menjajah Korea.

Seperti janji saya di postingan sebelumnya untuk mengulas film sejarah dari Korea Selatan, kali ini saya akan menulis film Anarchist from Colony. Sebuah film yang harus ditonton oleh para anarkis, karena film ini merupakan film tentang aktivis gerakan anarkis asal Korea Selatan, Park Yeol dan kekasihnya, anarkis pemberontak asal Jepang, Kaneko Fumiko yang menentang penindasan Jepang terhadap Korea.

Aktor yang memerankan tokoh Park Yeol adalah Lee Je- Hoon. Dia ini memang aktor besar negeri ginseng, aktingnya tidak diragukan lagi. Film yang dirilis tahun 2017 ini menjadi film yang banyak dibicarakan oleh teman-teman penikmat film biografi. Sedangkan Kaneko Fumiko diperankan oleh Choi- Hee- Seo. 

Anarchist from Colony menceritakan perjalanan sepasang anarkis untuk melakukan revolusi. Meski porsinya lebih banyak menceritakan Park Yeol karena film ini memang didedikasikan untuk mengenangnya, tapi Kaneko Fumiko tidak bisa dikesampingkan. Makanya saya lebih senang menyebut Anarchist from Colony sebagai drama biografi.

Park Yeol adalah pemuda penuh semangat yang membenci penindasan dan keotoriteran. Dia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Dia melanjutkan sekolah  menengah di Seoul. Tapi dikeluarkan karena terlibat sebuah gerakan. Dia lalu pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyolah dia bertemu teman-teman yang memiliki tujuan sama dengannya. Mereka lalu membentuk kelompok anarkis yang dinamai Futeisha, Fumiko Kaneko merupakan perempuan Jepang yang tergabung di dalamnya. 

Usia Park Yeol masih 22 tahun saat dia ditangkap dan dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dan teman-temannya ditangkap, tapi akhirnya teman-temannya yang lain bebas. Hingga dia yang tersisa, namun Fumiko tidak mau meninggalkannya dan memaksa untuk ikut dipenjara. Mereka berdua menyusun strategi perlawanan dari balik jeruji, saling berkirim surat dan tetap mempertahankan kewarasan dengan menulis. Meski itu semua dilakukan secara diam-diam.




Film ini berhasil membuat saya envy, saya terkesima dengan cinta Fumiko yang besar pada kekasihnya. Mereka benar-benar memiliki pikiran yang merdeka, rasa kemanusiaan yang tinggi dan perjuangan tanpa takut. 

Bahkan saat sidang dilaksanakan, mereka berdua sama sekali tidak gentar. Park Yeol merupakan pemuda yang cerdas, mungkin teman-teman harus belajar dari sosoknya hehe. Pokoknya tipikal cowok pintar yang membuat meleleh. Dia juga senang menulis, puisinya yang berjudul Anjing Liar adalah puisi yang banyak dibaca pemuda-pemuda Korea. Bahkan Kaneko Fumiko mengenalnya lewat puisi ini. Sidang mereka diliput media asing, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara sosok Park Yeol tetap jadi panutan banyak mahasiswa karena keberaniannya.

Meski akhirnya dia dan kekasihnya harus berpisah karena Kaneko Fumiko meninggal duluan, film ini tetap menggemaskan karena berhasil menampilkan kesetia-kawanan dan cinta yang tulus. Bahkan dalam keadaan sulit. Tidak ada adegan romantis sama sekali sepanjang film, tapi sikap mereka yang saling melindungi membuat iri.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman anarkis atau yang sedang ingin tahu tentang gerakan anarkis. Selain belajar sejarah Korea Selatan kita juga bisa mengambil pesan-pesan kemanusiaan dari film ini. Sebagai orang yang mengutuk paham feodal, emosi saya tercampur aduk. Penuh haru juga karena persaudaraan para aktivis selama Park Yeol dipenjara tetap kuat, perlawanan dilakukan dari balik penjara.

Adegan yang paling saya suka adalah ketika Park Yeol menyanyikan lagu The Internationale. Rasa geram dan haru bercampur, menggebu-gebu. Terkutuklah orang-orang bermental feodal di seluruh dunia, entah apapun bentuknya. Tegaklah kemanusiaan, keadilan dan kebahagian bagi semua orang.


Image: Google

Thursday, August 16, 2018

Lima Alasan Mengapa Harus Menonton Film 1987: When The Day Comes



Selain melalui bacaan, film juga bisa jadi media transformasi sejarah yang menyenangkan. Minggu lalu saya menonton beberapa film sejarah dari Korea. Salah satunya adalah film 1987: When The Day Comes. Sebuah film yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan sumpah mati saya mengutuk pemimpin yang diktator.

Untuk teman-teman yang sedang mencari referensi film untuk ditonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Saya juga telah merangkum lima alasan mengapa film 1987: When The Day Comes layak untuk ditonton.


google

1. Melihat Sejarah Kelam Korea Selatan

Kalau kalian taunya Korsel identik dengan cowok manis dan cewek cantik, serta hingar bingar k-pop yang membuat mata segar. Film ini menyajikan Korsel yang lain. Korea Selatan yang pernah dikuasai sebuah rezim yang dipimpin seorang diktator. Film garapan sutradara Jang Joon Hwan ini berkisah tentang kematian seorang aktivis mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong Chul ketika sedang dalam proses introgasi. Kematiannya membuat rakyat bertanya-tanya, mereka meminta kebenaran tentang penyebab kematiannya. Tapi pemerintah menutupinya, ini menyebabkan rakyat marah. Gejolak mahasiswa pun tak terbendung lagi. Mereka menuntut agar pemerintah transparan, tidak ada kediktatoran lagi.  

2. Mengingatkan Tragedi Mei 1998 di Indonesia

Perjuangan para mahasiswa di Korsel untuk menggulingkan kediktatoran sama seperti perjuangan mahasiswa Indonesia ketika menuntut agar Soeharto. Jika 1987 menampilkan Park Jong Chul sebagai martir, Indonesia mencatat beberapa nama mahasiswa yang jadi korban tragedi Mei 1998. Makanya saya sangat rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang masih kuliah. Supaya bisa melihat bahwa peran mahasiswa sangat besar, tidak hanya kuliah untuk mendapatkan IPK tinggi dan bekerja di perusahaan besar atau berlomba-lomba jadi PNS. Pada masanya mahasiswa pernah mencatat sejarah, jadi penggerak perubahan.

3. Menikmati Film Sejarah yang Digarap dengan Totalitas

Penggarap film sejarah Indonesia harus berkaca pada film 1987. Film ini benar-benar digarap dengan totalitas. Menampilkan suasana yang mencekam, menguras emosi. Kita seperti memasuki dimensi lain ketika Korsel sedang kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, kejaksaan, kepolisian, wartawan serta media massa, gereja, penjara, dan geliat demonstrasi mahasiswa hingga ketakutan rakyat. Semuanya ditampilkan utuh, mata saya berkaca-kaca sepanjang film ini. Kualitas film 1987 sangat jauh di atas film-film sejarah yang pernah dibuat di Indonesia. Apalagi deretan aktor yang main di film ini adalah aktor-aktor ternama. Dibanding film A Taxi Driver, film ini masih lebih menantang. 

4. Berhenti Mendukung Pemimpin Diktator yang Fasis

Kita bisa berkaca dari film sejarah ini, seorang pemimoin yang diktator dan fasis hanya akan membawa kesengsaraan pada rakyatnya. Kekerasan bisa dilegalkan dengan alasan melindungi negara, bahkan kemanusiaan jadi tidak memiliki nilai apa-apa. Para preman dibayar untuk menghentikan perlawanan rakyat, pembunuhan jadi hal yang biasa. 1987 juga mengambarkan dengan gamblang bagaimana aparat mengintimidasi rakyat, mengancam bahkan merampas hak mereka untuk hidup. Mungkin seperti inilah Indonesia ketika sedang bergejolak menuntut turunnya Soeharto. 

5. Peran Gereja Membela Kemanusiaan

Oke, untuk poin ke-lima ini saya tidak mau berpanjang lebar. Nanti saya dikira relijius. Hehe. Intinya gereja mengambil peran dalam penegakan konstitusi dan penggulingan kediktatoran di Korsel. Tonton film ini untuk mengetahui kisah selengkapnya. Siap-siap emosinya terkuras.