Friday, August 17, 2018

[Review Film] Menyelami Romantisme Sepasang Anarkis dalam Film Anarchist from Colony


Film yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena sadisme yang ditampilkan. Tapi keberanian sepasang anarkis melawan penindasan dan pemerintahan yang otoriter ketika Jepang menjajah Korea.

Seperti janji saya di postingan sebelumnya untuk mengulas film sejarah dari Korea Selatan, kali ini saya akan menulis film Anarchist from Colony. Sebuah film yang harus ditonton oleh para anarkis, karena film ini merupakan film tentang aktivis gerakan anarkis asal Korea Selatan, Park Yeol dan kekasihnya, anarkis pemberontak asal Jepang, Kaneko Fumiko yang menentang penindasan Jepang terhadap Korea.

Aktor yang memerankan tokoh Park Yeol adalah Lee Je- Hoon. Dia ini memang aktor besar negeri ginseng, aktingnya tidak diragukan lagi. Film yang dirilis tahun 2017 ini menjadi film yang banyak dibicarakan oleh teman-teman penikmat film biografi. Sedangkan Kaneko Fumiko diperankan oleh Choi- Hee- Seo. 

Anarchist from Colony menceritakan perjalanan sepasang anarkis untuk melakukan revolusi. Meski porsinya lebih banyak menceritakan Park Yeol karena film ini memang didedikasikan untuk mengenangnya, tapi Kaneko Fumiko tidak bisa dikesampingkan. Makanya saya lebih senang menyebut Anarchist from Colony sebagai drama biografi.

Park Yeol adalah pemuda penuh semangat yang membenci penindasan dan keotoriteran. Dia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Dia melanjutkan sekolah  menengah di Seoul. Tapi dikeluarkan karena terlibat sebuah gerakan. Dia lalu pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyolah dia bertemu teman-teman yang memiliki tujuan sama dengannya. Mereka lalu membentuk kelompok anarkis yang dinamai Futeisha, Fumiko Kaneko merupakan perempuan Jepang yang tergabung di dalamnya. 

Usia Park Yeol masih 22 tahun saat dia ditangkap dan dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dan teman-temannya ditangkap, tapi akhirnya teman-temannya yang lain bebas. Hingga dia yang tersisa, namun Fumiko tidak mau meninggalkannya dan memaksa untuk ikut dipenjara. Mereka berdua menyusun strategi perlawanan dari balik jeruji, saling berkirim surat dan tetap mempertahankan kewarasan dengan menulis. Meski itu semua dilakukan secara diam-diam.




Film ini berhasil membuat saya envy, saya terkesima dengan cinta Fumiko yang besar pada kekasihnya. Mereka benar-benar memiliki pikiran yang merdeka, rasa kemanusiaan yang tinggi dan perjuangan tanpa takut. 

Bahkan saat sidang dilaksanakan, mereka berdua sama sekali tidak gentar. Park Yeol merupakan pemuda yang cerdas, mungkin teman-teman harus belajar dari sosoknya hehe. Pokoknya tipikal cowok pintar yang membuat meleleh. Dia juga senang menulis, puisinya yang berjudul Anjing Liar adalah puisi yang banyak dibaca pemuda-pemuda Korea. Bahkan Kaneko Fumiko mengenalnya lewat puisi ini. Sidang mereka diliput media asing, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara sosok Park Yeol tetap jadi panutan banyak mahasiswa karena keberaniannya.

Meski akhirnya dia dan kekasihnya harus berpisah karena Kaneko Fumiko meninggal duluan, film ini tetap menggemaskan karena berhasil menampilkan kesetia-kawanan dan cinta yang tulus. Bahkan dalam keadaan sulit. Tidak ada adegan romantis sama sekali sepanjang film, tapi sikap mereka yang saling melindungi membuat iri.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman anarkis atau yang sedang ingin tahu tentang gerakan anarkis. Selain belajar sejarah Korea Selatan kita juga bisa mengambil pesan-pesan kemanusiaan dari film ini. Sebagai orang yang mengutuk paham feodal, emosi saya tercampur aduk. Penuh haru juga karena persaudaraan para aktivis selama Park Yeol dipenjara tetap kuat, perlawanan dilakukan dari balik penjara.

Adegan yang paling saya suka adalah ketika Park Yeol menyanyikan lagu The Internationale. Rasa geram dan haru bercampur, menggebu-gebu. Terkutuklah orang-orang bermental feodal di seluruh dunia, entah apapun bentuknya. Tegaklah kemanusiaan, keadilan dan kebahagian bagi semua orang.


Image: Google

Thursday, August 16, 2018

[Review Film] Lima Alasan Mengapa Harus Menonton Film 1987: When The Day Comes


Selain melalui bacaan, film juga bisa jadi media transformasi sejarah yang menyenangkan. Minggu lalu saya menonton beberapa film sejarah dari Korea. Salah satunya adalah film 1987: When The Day Comes. Sebuah film yang berhasil mengaduk-aduk emosi saya dan sumpah mati saya mengutuk pemimpin yang diktator.

Untuk teman-teman yang sedang mencari referensi film untuk ditonton, film ini sangat saya rekomendasikan. Saya juga telah merangkum lima alasan mengapa film 1987: When The Day Comes layak untuk ditonton.

1. Melihat Sejarah Kelam Korea Selatan

Kalau kalian taunya Korsel identik dengan cowok manis dan cewek cantik, serta hingar bingar k-pop yang membuat mata segar. Film ini menyajikan Korsel yang lain. Korea Selatan yang pernah dikuasai sebuah rezim yang dipimpin seorang diktator. Film garapan sutradara Jang Joon Hwan ini berkisah tentang kematian seorang aktivis mahasiswa pro-demokrasi, Park Jong Chul ketika sedang dalam proses introgasi. Kematiannya membuat rakyat bertanya-tanya, mereka meminta kebenaran tentang penyebab kematiannya. Tapi pemerintah menutupinya, ini menyebabkan rakyat marah. Gejolak mahasiswa pun tak terbendung lagi. Mereka menuntut agar pemerintah transparan, tidak ada kediktatoran lagi.  

2. Mengingatkan Tragedi Mei 1998 di Indonesia

Perjuangan para mahasiswa di Korsel untuk menggulingkan kediktatoran sama seperti perjuangan mahasiswa Indonesia ketika menuntut agar Soeharto. Jika 1987 menampilkan Park Jong Chul sebagai martir, Indonesia mencatat beberapa nama mahasiswa yang jadi korban tragedi Mei 1998. Makanya saya sangat rekomendasikan film ini untuk teman-teman yang masih kuliah. Supaya bisa melihat bahwa peran mahasiswa sangat besar, tidak hanya kuliah untuk mendapatkan IPK tinggi dan bekerja di perusahaan besar atau berlomba-lomba jadi PNS. Pada masanya mahasiswa pernah mencatat sejarah, jadi penggerak perubahan.

3. Menikmati Film Sejarah yang Digarap dengan Totalitas

Penggarap film sejarah Indonesia harus berkaca pada film 1987. Film ini benar-benar digarap dengan totalitas. Menampilkan suasana yang mencekam, menguras emosi. Kita seperti memasuki dimensi lain ketika Korsel sedang kacau. Kerusuhan terjadi di mana-mana. Melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, kejaksaan, kepolisian, wartawan serta media massa, gereja, penjara, dan geliat demonstrasi mahasiswa hingga ketakutan rakyat. Semuanya ditampilkan utuh, mata saya berkaca-kaca sepanjang film ini. Kualitas film 1987 sangat jauh di atas film-film sejarah yang pernah dibuat di Indonesia. Apalagi deretan aktor yang main di film ini adalah aktor-aktor ternama. Dibanding film A Taxi Driver, film ini masih lebih menantang. 

4. Berhenti Mendukung Pemimpin Diktator yang Fasis

Kita bisa berkaca dari film sejarah ini, seorang pemimoin yang diktator dan fasis hanya akan membawa kesengsaraan pada rakyatnya. Kekerasan bisa dilegalkan dengan alasan melindungi negara, bahkan kemanusiaan jadi tidak memiliki nilai apa-apa. Para preman dibayar untuk menghentikan perlawanan rakyat, pembunuhan jadi hal yang biasa. 1987 juga mengambarkan dengan gamblang bagaimana aparat mengintimidasi rakyat, mengancam bahkan merampas hak mereka untuk hidup. Mungkin seperti inilah Indonesia ketika sedang bergejolak menuntut turunnya Soeharto. 

5. Peran Gereja Membela Kemanusiaan

Oke, untuk poin ke-lima ini saya tidak mau berpanjang lebar. Nanti saya dikira relijius. Hehe. Intinya gereja mengambil peran dalam penegakan konstitusi dan penggulingan kediktatoran di Korsel. Tonton film ini untuk mengetahui kisah selengkapnya. Siap-siap emosinya terkuras.