Sunday, July 15, 2018

Yuk Berbagi Buku dengan Adik-Adik di Nanga Sungai



Kamu pasti punya banyak buku bekas di rumah kan? bagi kita buku bekas mungkin tidak menarik lagi. Tapi bagi orang-orang yang tinggal di daerah pelosok, buku bekas sangat berarti. Sulitnya akses ke luar daerah membuat informasi dan pengetahuan yang mereka miliki jadi terbatas. Ketersediaan buku ibaratkan sebuah oase karena mereka bisa mengetahui berbagai informasi mengenai daerah lain melalui buku.

Seperti sebuah kampung bernama Nanga Sungai di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan  Barat. Di sini belum ada listrik, padahal jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kecamatan. Anak-anak kecil di sana harus melalui masa  kecil dengan banyak ketertinggalan dibanding anak-anak di derah lain.

Mulai dari cara belajar hingga permainan. Waktu anak-anak lainnya belajar di bawah pencahayaan yang cukup, anak-anak di Nanga Sungai belajar di bawah temaram pelita minyak.

Karena belum ada listrik hiburan mereka bukan televisi atau gawai. Sepulang sekolah mereka terbiasa ikut ke ladang, bermain di sana atau di kebun-kebun karet membawa ketapel, kadang menghabiskan waktu meyusuri tepian parit mencari ikan. Memuaskan hasrat memancing di usia belia padahal kadang seharian nggak dapat apa-apa.

Bangunan di belakang itu rumah sekolah mereka, gaes. Cuma ada Sekolah Dasar. Muridnya juga tidak banyak. Kalau sudah tamat SD mereka harus melanjutkan pendidikan ke kecamatan.


Tahun lalu aku menemui anak-anak di sana. Aku datang membawa majalah bekas Bobo dan berbagai buku cerita anak milik adik sepupuku. Menumpang di rumah seorang warga aku mengumpulkan mereka lalu kami membaca bersama. 


Yang baju hitam itu sepupuku ya bukan adek-adek wkwk. Dia yang nemenin aku main bareng adik-adik di sana.


Antusias mereka sangat tinggi. Kalau kalian kecewa dengan riset yang mengatakan minat baca di negara kita rendah, aku juga kecewa, tapi aku tidak putus asa. Wajah-wajah ceria yang aku temui waktu itu membuat aku selalu semangat untuk menyebarkan kecintaan terhadap buku, kecintaan terhadap membaca dan menulis.


Ini aku lagi bacain cerita, aku belum mandi waktu itu tapi tetap saja sepertinya tida bau ehehehe.


Di daerah pelosok ada banyak orang yang senang membaca, tapi akses mereka terhadap buku sangat terbatas. Apalagi harga buku mahal. Contohnya saja adik-adik yang semangat mengerumuniku waktu aku ajak membaca. Mereka ini jauh dari kota, tapi rasa ingin tahu mereka sangat tinggi. Ketika ada satu anak bertanya dan aku menjelaskan, yang lainnya akan mendengarkan lalu menanyakan hal baru yang tidak mereka pahami. 

Satu per satu baca cerita di depan, kalau dia capek nanti minta ganti teman yang lain dan begitu seterusnya. Mereka gada capeknya.


Ada rasa hangat yang memenuhi hatiku waktu memandang wajah mereka satu per satu. Buku cerita menjadi barang mewah bagi mereka karena keterbatasan ekonomi keluarga. Adik-adik ini jarang menyentuh buku cerita anak. Kalau ada buku yang mereka baca itu adalah buku tematik yang cara penulisannya sangat kaku. 


Wajar saja mereka semangat ketika aku datang membawakan buku, meski yang aku bawa buku bekas. Karena buku bacaan jadi hal yang sangat berarti di sana, tidak peduli seusang apa sebuah buku mereka akan tetap membacanya dengan bahagia. Waktu aku pamit pulang mereka bertanya kapan aku datang lagi dan membawakan buku.

Aku lupa nama adik ini. Dia semangat banget bolak-balik halaman Bobo padahal belum bisa baca. Btw kata temannya rambutnya ini ketumpahan pewarna rambut abangnya, jadi lucu gini hahaha.


Karena melalui buku langkah mereka bisa lebih jauh, melewati batas kampung, menembus kota-kota besar di Indonesia bahkan dunia. Karena melalui buku pikiran mereka bisa lebih luas, imajinasi mereka lebih tinggi. Kalau kamu masih berpikir buku bekasmu tidak ada gunanya, kamu keliru. Buku-buku itu berarti bagi mereka yang haus informasi. Kalau kamu punya buku cerita anak yang masih layak baca dan buku itu sudah tidak kamu pakai, mungkin kamu berkenan membagikan kebahagiaan untuk adik-adik di Nanga Sungai. Hubungi aku ya. Mereka perlu bacaan anak supaya imajinasi mereka berkembang. Mereka butuh majalah-majalah seperti Bobo dan sejenisnya supaya pengetahuan mereka bertambah.


Mereka berhak untuk bahagia, dan buku membuat bahagia.

Kamu bisa menyumbangkan buku-buku bekasmu untuk mereka yang membutuhkan. Berbagi kebahagiaan dengan hal sederhana. Ketika kita memberi mereka buku, kita tidak hanya memberi kertas berisi tulisan dan gambar, kita sedang memberi kehiduan baru bagi mereka. Karena melalui buku yang mereka baca mereka bisa menjadi siapa saja, mereka bisa pergi ke mana saja. 
This entry was posted in

Saturday, July 07, 2018

Bagaimana kamu ingin mati?



Mungkin kita bisa memesan takdir kita.
Kamu ingin mati seperti apa?
Aku ingin mati dengan manis. Mengenakan pakaian terbaik yang pernah dikenakan tubuhku. Mati dengan rasa cukup akan kehidupan. Mati dengan memilih kematian itu sendiri, ketika 30.