Monday, June 25, 2018

Ketika Pecandu Buku Bertemu Penikmat Musik Underground di Silahturockmi


Malam itu galeri Canopy Centre sesak, musik keras memenuhi ruangan yang letaknya tepat di belakang cafe, menenggelamkan suara penonton yang hadir dalam acara Silahturockmi, ajang silaturahmi band underground di Pontianak. Saya tidak pernah nyaman berada di keramaian seperti itu, saya tidak begitu menyukai gigs, tidak ada kesenangan yang saya temui di tengah lautan manusia dengan suara bising yang memekakkan telinga, dengan wajah-wajah asing yang tidak saya kenali. Seringkali kehadiran saya di acara-acara seperti itu karena kepentingan pekerjaan.

Tapi malam itu saya datang dengan sukarela karena kami (saya dan dua teman lainnya dari Komunitas Pecandu Buku) membuka lapak baca gratis di acara itu. Beberapa buku kami bawa, kami susun di atas meja panjang tidak jauh dari pintu masuk. Mulai dari Tan Malaka, Michael Bakunin, Fidel Castro, Ema Goldman hingga Carl Sagan dan Stephen Hawking berjejeran menunggu pengunjung menyapa mereka, pengunjung yang mungkin saja lelah berteriak atau moshing di dalam. Buku-buku sastra juga disusun rapi, siapa tahu ada yang berkontemplasi sepanjang jalan pulang sesudah singgah di lapakan.

Kami ada untuk mengisi kebosanan atau kelelahan teman-teman setelah atau sebelum menonton. Bisa jadi ada yang sedang menunggu dan tidak tahu mau ngapain, membaca buku jauh lebih baik ketimbang berdiri bengong sendirian atau sok asik memainkan gawai, syukur-syukur kalau baterai atau kuotanya masih ada hehehe.

Awalnya saya pesimis akan ada yang membaca, berdasarkan pengalaman melapak di beberapa acara, yang tertarik membaca bisa dihitung pakai jari selama acara berlangsung. Kebanyakan dari mereka cuma melihat-lihat buku lalu bertanya apakah buku ini dijual atau tidak, padahal di depan sudah ditulis "Lapak Baca Gratis". Kalau sudah begini saya nyengir dan nyinyir di dalam hati, cakep-cakep tapi bego wkwk. 

Tapi malam itu dugaan saya salah, ternyata yang tertarik membaca lebih banyak dari biasanya. Beberapa wajah sudah saya kenal karena pernah saya temui ketika meliput acara Voice of Borneo (makasih om Den, w ga kuper-kuper amat akhirnya hahaha). Saya juga dapat beberapa kenalan baru yang suka membaca dan menulis. 

Sebenarnya menurut saya kegiatan membaca itu adalah kegiatan personal. Saya pribadi tidak bisa membaca buru-buru, jadi mustahil bisa membaca buku dari lapakan orang, ujung-ujungnya saya pasti pinjam buku itu karena buku itu candu, sama seperti drama korea. Sekali kamu buka halaman pertama, bakal sulit berhenti sampai halaman terakhir. Tapi kami rasa membuka lapak baca gratis seperti ini bisa jadi salah satu cara untuk meningkatkan minat baca di lingkungan kami.

Minimal jejaring akan bertambah, mereka yang membaca buku di lapakan biasanya tertarik dengan informasi yang ada di buku. Mereka lalu meminta kontak kami dan buku tersebut dipinjam. Minimal kami sudah berusaha, daripada misuh-misuh karena tingkat literasi yang rendah tapi tidak berbuat apa-apa.

Lapak baca gratis yang dibuka di ruang-ruang publik memungkinkan kita untuk saling menemukan. Saya yakin sebenarnya banyak yang senang membaca buku tapi buku yang ingin dibaca tidak ada. Untuk ukuran Pontianak yang toko bukunya terbatas, menemukan buku yang menarik dan sesuai kebutuhan tidaklah mudah. Lebih banyak buku-buku yang memuaskan emosi ketimbang mencerdaskan pembaca. Malam itu kami berusaha menghadirkan buku-buku alternatif, dan respon yang kami dapat sangat positif. Obrolan-obrolan panjang bersama pengunjung mengenai beberapa buku pun bergulir hangat meski harus setengah teriak supaya tidak tenggelam oleh musik. 

Meski tidak berharap terlalu banyak pada tingkat literasi di Kalbar, setidaknya respon yang kami dapat kemarin memperlihatkan banyak yang ingin membaca buku tapi belum menemukan buku tersebut. Yang harus kita lakukan adalah bersama-sama menyediakan bacaan yang memang bisa memuaskan keingintahuan masyarakat. Negara sebenarnya mengakomodir kebutuhan ini, tapi ada tetek bengek yang harus dilengkapi untuk menikmati buku-buku di sana. Rumit, shay :)

Dari perjumpaan dengan beberapa teman baru malam itu saya berharap semakin banyak orang-orang yang saling menemukan sehingga kita bisa saling bertukar pikiran, saling dukung untuk membuat diri kita berarti bagi sesama. Dengan saling menemukan, informasi yang didapat semakin banyak, landasan berpikir kita semakin kuat dan tujuan kita semakin jelas. Saya berharap suatu hari nanti forum-forum diskusi tentang masa depan tempat ini tidak hanya milik kalangan-kalangan tertentu, milik mereka yang konservatif sementara yang lainnya hanya jadi penurut karena minimnya informasi dan ketidakpahaman masyarakat membaca kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Semoga semakin banyak orang yang saling menemukan dan membuat tempat ini semakin menyenangkan. Semakin menyenangkan dengan cowok-cowok cerdas yang tidak hanya cakep dan tajir tapi juga berwawasan luas. Karena kubosan dengan cowok-cowok yang obrolannya garing. Seharian nanyain "lagi ngapain, udah makan belum, hari ini mau jalan ke mana, nonton yuk, makan ke sini yuk." Kenapa gak ngomongin sesuatu yang informatif dan mencerdaskan. dududu :p

Jadi, sampai ketemu di lapak-lapak buku berikutnya. Kalau tertarik saling pinjam buku bacaan bisa menghubungi akun @bukuselanjutnya yaa. 

This entry was posted in

Friday, June 22, 2018

Membentuk Pustaka, Berbagi Kesenangan dengan Meminjamkan Buku


Selalu ada rasa senang tiap kali seseorang mengembalikan buku karena pembicaraan jadi lebih panjang dari biasanya.

Tahun ini saya mulai memberanikan diri untuk melepas buku-buku saya, saya pinjamkan pada orang lain. Saya dan pacar membuat akun Instagram khusus untuk pinjam meminjam buku di area Pontianak namanya @bukuselanjutnya buku-buku kami diunggah di sini, kalau ada yang ingin meminjam bisa langsung menghubungi kontak yang tercantum.

Tidak ada syarat khusus untuk meminjam buku di sini, kami meminjamkan dengan sukarela. Dengan niat tulus untuk berbagi kesenangan membaca. Tujuannya tentu saja untuk berbagi kebahagiaan dan menambah jejaring pertemanan. Sementara ini yang meminjam kebanyakan adalah teman-teman dekat kami, tapi ada juga beberapa teman baru, dan ada calon-calon peminjam yang terpaksa tidak kami pinjami buku karena yang bersangkutan tidak sopan ketika ingin meminjam.

Berbagi kesenangan dengan cara ini dianggap tindakan bodoh oleh sebagian orang. Apalagi Gus Dur pernah mengucapkan kalimat yang bunyinya "Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam." Dulu saya juga setuju dengan kalimat ini, buku-buku saya jarang saya pinjamkan pada orang lain, kalau saya berani meminjamkan itu karena saya tahu orangnya pasti bisa menjaga buku saya, atau karena saya juga meminjam buku darinya. 

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak saya membaca buku dan bertemu orang, semakin sering diskusi dan kontemplasi akhirnya saya sampai pada titik ini. Buku-buku saya boleh dipinjam siapa saja. Untuk kalian yang memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, kalian pasti mengerti bagaimana sulitnya melepas keterikatan kita dengan buku, rasa memiliki yang teramat dalam sampai kita takut kehilangan. Apalagi buku-buku yang didapat dengan susah payah. 

Tapi sekarang rasa memiliki yang berlebihan seperti itu sudah saya tinggalkan. Saya selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, kalau dengan buku-buku yang saya punya seseorang bisa merasa bahagia maka saya tidak keberatan untuk berbagi bacaan. Lagipula semesta bekerja dengan cara yang adil. Ketika kita berbuat baik maka kebaikan pasti terjadi juga pada kita, selalu ada balasan.

Saya tidak merasa bodoh ketika meminjamkan buku-buku saya pada orang lain karena saya tahu saya baru saja membuat orang lain bahagia tiap kali saya menyerahkan buku tersebut. Saya tidak merasa bodoh karena saya mungkin baru saja membantu seseorang mendapat pengalaman baru dalam hidupnya setelah membaca buku yang dia pinjam dari saya. Mungkin saja buku yang saya pinjamkan mengubah hidup seseorang, atau menyelamatkannya dari keputus-asaan. 

Saya yakin buku-buku yang dibaca lebih berarti ketimbang buku-buku yang disimpan rapi di rak buku. Kalau saya sudah membaca buku kemudian menyimpan buku tersebut dengan rapi, menjadikannya koleksian pribadi, itu sama saja saya menghilangkan nilai buku tersebut padahal di luar sana seseorang sedang kebingungan mencari buku tersebut atau berusaha keras menyisihkan gajinya yang tidak seberapa untuk membeli buku yang saya simpan rapi di rak buku, sesekali dikeluarkan untuk dibersihkan dan difoto lalu dipamerkan di media sosial. Betapa egoisnya saya.

Apalagi saya termasuk orang yang sering misuh-misuh karena rendahnya tingkat membaca dan menulis di lingkungan saya, tanpa sedikit pun saya peduli keadaan mereka yang mungkin tidak punya kemampuan untuk membeli buku yang ingin mereka baca. Kalau kamu memiliki banyak buku lantas marah-marah karena rendahnya tingkat literasi masyarakat tapi tidak berbuat apa-apa, sebenarnya kamu tidak layak marah-marah. Yang harus kita lakukan adalah berbagi buku yang kita punya, biarkan mereka meminjam dan membacanya.

Bukankah berbagi adalah hal yang menyenangkan? meski kecil dan sederhana seperti berbagi bacaan. Dulu saya sering marah-marah pada pacar saya kalau buku saya dipinjamkannya pada orang lain, sekarang sudah enggak dong. Kami berdua senang sekali kalau ada nomor baru menghubungi dan ingin meminjam buku, itu artinya kami akan membuat orang lain senang dan teman kami jadi bertambah. 

Seperti kata Tan Malaka, selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi. Dan bagi kami selama ada orang yang mau saling pinjam-meminjamkan buku, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, tidak hanya bertukar buku tapi juga berdiskusi dan membuat gerakan bersama.

Jadi kawan-kawan yang mau pinjam-pinjaman buku, yuk kita saling tukar pinjam. Jangan biarkan buku-buku yang kita beli memenuhi rak buku tanpa dibaca. Jangan sampai kita kesal pada kondisi literasi di sekitar kita tapi kita tidak berbuat apa-apa. Satu buku yang kita pinjamkan pada seseorang bisa saja mengubah kehidupannya atau menyelamatakannya dari kebingungan, bahkan kesepian. 
This entry was posted in

Saturday, June 02, 2018

[Review Buku] Melihat Kritik Terhadap Lembaga Pendidikan Formal Melalui Buku Sekolah itu Candu Karya Roem Topatimasang


Candu Karya Roem Topatimasang
Judul: Sekolah itu Candu
Penulis: Roem Topatimasang
Tebal: 178 halaman
Penerbit: Insist Press

 “…Sekolah kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan yang –atas nama dan dengan label-label ‘demi pembangunan, industralisasi, modernisasi, globalisasi’—bukan Cuma mengajarkan bagaimana caranya merampok habis sumberdaya kebendaan komunal yang dimiliki dan sudah berabad dilestarikan oleh para wong cilik setempat: hutan dan tanah ulayat, hasil bumi, dan sebagainya; tetapi juga mengajarkan bagaimana caranya menjarah sumberdaya kerohanian priadi maupun kolektif dari orang-orang ugahari itu…”

9/30.

Setelah membaca buku ini bisa dipastikan banyak yang mengutuk diri sendiri karena menyadari bahwa sekolah di negeri ini sudah sangat bertolak belakang dengan makna sekolah itu sendiri.
Buku Sekolah itu Candu bisa dikatakan sebagai buku saku bagi siapa saja yang merasa janggal dengan sekolah namun belum memiliki keberanian untuk memastikan bahwa memang ada yang salah dan harus dikritik.

Buku ini memperlihatkan banyaknya kekeliruan di sebuah lembaga yang dianggap bisa mencerdaskan seseorang. Berisi 14 bagian dan dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.  Meski ditulis puluhan tahun lalu, keadaan saat itu masih sangat relevan dengan keadaan sekarang.

Penulisannya santai namun berisi sehingga enak dibaca meski pemilihan fontnya tidak tepat menurut saya. Begitu pula dengan pengaturan marginnya, untuk buku sebagus ini sayang sekali jika dikemas dengan kesan asal-asalan, beberapa orang memiliki selera membaca yang menyebalkan, misalnya hanya mau membaca buku-buku yang pengemasannya (pemilihan font dan pengaturan margin) baik, untung saya bukan termasuk golongan pembaca seperti itu.

Pada bab 1 penulis memperkenalkan sejarah sekolah, mulai dari arti kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin yaitu shole, scola, scolae atau chola yang artinya waktu luang atau waktu senggang. Orang Yunani kuno menggunakan waktu luang mereka untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-hal yang mereka rasa perlu diketahui.

Lambat laun seiring perkembangan jaman sekolah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyita banyak waktu, tidak ada lagi makna waktu luang untuk belajar, yang ada murid dipaksa belajar seharian di sekolah. Ini menarik untuk didiskusikan, dan membaca buku ini seolah-olah kita berdiskusi langsung dengan penulisnya.

Bab 2 penulis mengajak pembaca untuk membandingkan beragam sekolah, mulai dari sekolah formal hingga sekolah kehidupan yang digelar di bawah-bawah jembatan sekitar daerah kumuh maupun tepian rel kereta api. 

Bab selanjutnya berbicara tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah, aturan yang menurut penulis justru mematikan kehadiran sekolah sebagai rumah belajar dan laboratorum pengetahuan anak-anak manusia.

Ada juga bagian di mana penulis memperlihatkan realitas bahwa sekolah bagi para pemodal adalah sebuah bisnis besar, ibaratkan perusahaan. Pengusaha kini bisa menjadikan sekolah sebagai alternatif bisnis yang sangat menjanjikan. 

Realitas tentang sekolah di daerah pedalaman juga dituliskan di buku ini, bagaimana mereka semangat ke sekolah, menamatkan jenjang Sekolah Dasar hingga SMA namun tidak pernah mendapat ilmu yang bisa mereka implementasikan di kehidupan sehari-hari, mereka akhirnya hanya jadi petani padi meski telah mengantongi ijazah SMA. Apakah lembaga pendidikan bernama sekolah mampu memberi pengetahuan untuk kehidupan kita? 

Berbagai kenyataan pahit tentang sekolah dituturkan dengan manis oleh penulis. Dan seketika ada rasa berontak yang bergejolak di dada saya, apalagi kalau mengingat biaya sekolah yang makin mencekik leher, mengingat para ibu di kampung yang berjalan gontai ke kantor-kantor koperasi simpan pinjam untuk meminjam uang agar anaknya bisa mendaftar kuliah tahun ini, atau para ayah di kota yang harus bekerja belasan jam dalam sehari agar gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup membayar tagihan kredit dan membiayai anak yang sekolah di sekolah favorit.

Sekolah di satu sisi membuat para orang tua gila, ya, gila dalam bekerja. Mereka bahkan melupakan lapar, lelah, dan keinginan pribadi mereka agar anak-anaknya bisa pergi ke sekolah. Sementara itu lembaga pendidikan bernama sekolah ini semakin hari semakin tidak masuk akal, bahkan sering dianggap tidak berhasil mencetak manusia-manusia berskill, ini terbukti dengan tingginya angka pengangguran. Kalau mengingat sejarah sekolah, maka sekolah sekarang semakin tidak layak disebut sekolah. 

Sebagian orang tua yang menyadari ini memilih untuk memberikan pendidikan dengan cara berbeda, sekolah formal tidak lagi jadi pilihan. Mereka membantu anak belajar dengan cara yang menyenangkan, memasukkan mereka ke sekolah informal, contohnya seperti Sekolah Canopy di Pontianak, Kalimantan Barat.

Di sini anak-anak bisa belajar apa saja dari pengajar-pengajar berkompeten, tanpa sekat, mereka bisa bertanya apa saja, metode pengajaran seperti ini dianggap tepat oleh orangtua yang memasukkan anaknya di sini. Tapi sayang tidak semua orang tua memiliki kesadaran seperti mereka, atau bahkan kemampuan untuk memberikan pendidikan yang seperti ini pada anak-anaknya.

Buku ini sangat layak dibaca dan didiskusikan, tidak hanya oleh para pelajar tapi juga oleh para akademisi, pemerintah, orang tua, mahasiswa gondrong yang doyan foto dengan hashtag save gondrong, siapa saja yang peduli pada pendidikan.

Bayangkan kita menghabiskan waktu berbelas-belas tahun untuk belajar dan menghabiskan uang di sekolah, kita pergi ke perguruan tinggi dan dikuras oleh sistem pambayaran yang semakin hari semakin tidak manusiawi, kita wisuda, jadi sarjana dan menganggur, sebagian lainnya jadi budak korporasi dan kerja bagai sapi perah, kita memberikan sebagian hidup kita untuk sekolah dan apa yang sekolah berikan pada kita? Masihkan sekolah jadi satu-satunya tempat untuk mencerdasakan kita?

Mari kita jawab sendiri sambil menyaksikan berita-berita tentang demonstrasi mahasiswa yang menentang tingginya biaya sekolah dari hari ke hari. Mari jawab sendiri sambil membaca narasi berisi argumentasi tentang metode pendidikan apa yang tepat diterapkan di negeri ini sementara para pengusaha, politisi, dan akademisi menjalin kerjasama membuka sekolah-sekolah baru, perguruan tinggi baru, sekolah akhirnya jadi bisnis baru, investasi masa tua yang menjanjikan.

Dan kita masih dipaksa untuk pergi ke sekolah demi sebuah ijazah, agar kelak bisa diterima oleh sistem yang berlaku saat ini, kita bekerja dan mengabdi untuk sebuah lembaga, memelihara sistem ini agar langgeng sembari tetap menjaga harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan. Padahal, menurut saya, sekolah harusnya membuat kita cerdas dan sadar.