Wednesday, May 23, 2018

[Cerpen] Gadis Flannel Merah

Dia adalah gadis flannel merah yang kutemui di sebuah toko buku di suatu hari, ketika hujan sedang deras di luar sana dan aku memilih berlama-lama mencari buku Pengantar Hukum Indonesia sambil menunggunya reda. Jarak kami sangat dekat waktu itu, tidak lebih dari lima langkah. Dia sedang asik membaca sebuah buku tentang hukum pidana di Indonesia, aku yang sibuk mencari buku di sampingnya seolah tak ada.

Dia sangat samar, sampai akhirnya aku melihatnya di koridor kampus berbulan-bulan sejak pertemuan kami di toko buku. Dia mengenakan flannel merah seperti hari itu, menenteng sebuah buku tebal dan tersenyum simpul pada orang-orang yang menyapanya. Jarak kami sangat jauh, aku di ujung koridor dan tak mampu melanjutkan langkahku karena aku merasa menemukan sesuatu dan aku tak ingin melwatkan momen itu, kupandangi sosoknya lekat.

Pada suatu waktu dia adalah mawar, indah dan berduri. Siapa saja bisa memetiknya, tapi durinya akan melukai mereka yang tidak hati-hati.

Tak pernah kubayangkan aku akan jatuh cinta pada teman kampusku. Entah ke mana saja aku selama ini sampai tak pernah menyadari kehadirannya. Dia dan warna merah, dengan senyum manis dan buku yang selalu ditentengnya.

Berkali-kali aku mencuri pandang padanya, dia duduk tenang di pojok kelas, selalu sendirian, dia tak sibuk menunduk; memandang gawai atau mengobrol cekikikan bersama teman-teman hawanya, dia hanya serius memandangi halaman-halaman buku, dia selalu sendiri, dunianya tidak tersentuh oleh siapa pun.

Dia adalah gadis yang hidup dalam khayalanku selama ini. Kuhabiskan waktuku bertahun-tahun untuk menyendiri, tak kupikirkan barang sedikitpun perihal kaum hawa, sampai akhirnya aku melihatnya, gadis Flannel merah itu. Gadis yang hidup di imajinasiku lalu menjelma menjadi nyata, obrolan pertama kami adalah novel Metamorfosis karya Franz Kafka, aku mendapat pinjaman novel itu darinya. Berbincang dengannya tak cukup hanya di depan kelas di waktu istirahat, kami lalu bertukar kontak dan obrolan berlanjut di dunia virtual. Ratusan hari setelah itu barulah aku yakin bahwa dia yang aku cari.

Dia adalah teka-teki yang selalu membuatku penasaran, dia adalah salah satu alasanku untuk terus bergerak. Dia adalah duniaku, lalu menjadi sumber kegelisahanku. Aku lalu dengan sadar menjatuhkan hati kepadanya.

Bagiku kamu adalah sebuah sementara yang abadi. 

Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan. Rumit katamu, padahal lebih rumit menerka-nerka sesuatu yang tak pasti. Karena itulah, bagiku kamu adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab; sebuah buku yang tidak akan selesai kubaca. Kata orang hakim terbaik adalah waktu, karena hanya waktu yang bisa menilai kesungguhan seseorang. Tapi jika selama ini waktu yang telah kuberikan padamu tak pernah cukup, mungkin kau bukan orang yang sanggup untuk dihakimi, tidak seorangpun mampu, bahkan oleh waktu.
Sementara waktu kamu adalah kekasihku, di lain waktu kamu sahabatku. Kita berjalan seperti ini, melewati tahun-tahun tanpa menyandang status yang jelas. Tak masalah, karena bagiku kamu adalah sebuah sementara (kekasih) yang abadi. 

Dia adalah ambigu. Sebuah pertanyaan yang tak akan terjawab olehku, dia adalah ketidakpastian yang selalu kusemogakan. 

Kamu duduk di sampingku, film Theory of Everything baru saja berakhir. Kamu masih berdecak kagum, memuji akting Eddie Redmayne yang terlihat sempurna memerankan tokoh Stephen Hawking, kamu berandai-andai jika di masa depan sesuatu yang buruk terjadi apakah kamu akan memiliki pasangan yang setia mendampingimu seperti yang dilakukan Jane Wilde ketika pasangannya menderita motor neuron disease. Kamu tak tahu, di dalam hatiku aku mengucapkan janji untuk setia di sampingmu, tidak hanya untuk hari ini tapi untuk beratus-ratus hari yang akan kita lalui. 
Bagiku dia adalah candu. 
Disandarkannya kepalanya di bahuku yang tidak tegap. Sesekali dia meringis dan menertawaiku. Katanya bahuku membuat kepalanya sakit. Aku balas mengejeknya, banyak bahu yang bisa kau jadikan sandaran tapi kenapa kau memilih bersandar di bahuku yang kurus ini? dia tentu saja tidak menjawabku, dikerucutkannya bibirnya yang mungil lalu ditutupnya telinganya. Lirik lagu Ordinary yang dilantunkan Copeland membisukan kami dalam hening, dalam diam yang dibalut riuhnya rintik hujan di luar sana. Sebuah kecupan lembut di keningnya, ini untuk cinta yang kadang tak berlogika. Lalu bibir kami bertautan, lembut dan basah; menghangatkan. Ini bukan kali pertamanya. 

...And when I returned, I found you just like I always do, waiting for me like you always are. Since you came along my days are ordinary. We laugh just like yesterday, and I kiss you like the day before, and I hold you just like ordinary... (Ordinary- Copeland) 

Untukmu yang entah harus kusebut apa, kutulis ini saat hujan sedang deras, saat kita tenggelam dalam rasa yang tak mampu lagi kita terjemahkan dengan kata-kata. Hujan dan flannel merah, dua hal yang selalu mengingatkanku padamu, dua hal yang tidak pernah biasa bagiku.


Pontianak, 2016.
This entry was posted in

3 comments:

  1. Kalau kisahmu dan kisah ku.aku tulis boleh ndak clau?wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kisah gagal ditraktir beer itu ya? Boleh dong hahaha

      Delete
    2. Yoii.itu kisah paling dramatis tu wkwkwkwk

      Delete