Wednesday, May 30, 2018

22

image:pixabay

.....We're happy free confused and lonely at the same time. It's miserable and magical. Tonight's the night when we forget about deadlines, its time... 
Hari ini lagu 22 milik Taylor Swift berkali-kali saya dengarkan. I turned 22 today, finally I can sing this song! hahaha. Setelah sekian lama menanti saat ini tiba, akhirnya saya bisa teriak-teriak nyanyiin lagu ini.
Ya ampun 22 tahun, oh my god. Rasanya excited, dengan pola hidup yang tidak sehat dan cara berkendara yang ugal-ugalan sebenarnya saya bisa saja meninggal di usia 21, tapi ternyata masih hidup hahaha. Ini artinya delapan tahun menuju kematian. Saya benar-benar senang hari ini, tidak banyak bicara di kantor karena ingin memaknai semua hal, meresapi semua moment. Mencoba mengahayati pertambahan usia ini, hal apa yang telah saya lakukan selama 22 tahun. Bersyukur untuk semua kesempatan yang bisa saya dapat, untuk semua kebaikan yang kadang saya rasa tidak seharusnya saya terima.
Seperti yang saya tulis setahun yang lalu, usia 21 menjadi tahun di mana saya mulai melangkahkan kaki. Iya, usia 21 saya mulai terjun ke dunia kerja, menjamah industri yang selama ini saya impikan. Saya ingin hidup dari menulis, dan hari ini, saat saya mengetik ini di usia 22 saya sedang menjalani hidup tepat seperti yang saya inginkan setahun lalu.
Semesta maha adil. Saya yakin kalau kita mendekatkan diri dengan sesuatu yang kita inginkan, semesta akan merestuinya. Selama ini saya berusaha mewujudkan keinginan saya untuk hidup dari menulis, walau gajinya masih ala kadarnya setidaknya saya sudah mandiri, tidak merepotkan orangtua lagi (dan saya membayar pajak pada negara).
Kalau diingat-ingat ada banyak hal yang berkesan di usia 21 tahun. Itu kali pertama saya bisa mentraktir keluarga dari uang hasil keringat sendiri, bekerja sebagai penulis, dan saya akhirnya terjun ke lembaga. Semua itu sebenarnya saya rencanakan untuk terjadi di usia 23 tahun. Tapi nyatanya saya bukan Tuhan, serapi apapun rencana yang saya susun dan persiapan yang saya lakukan, keadaan bisa berubah kapan saja. Saya gagal berangkat ke Taipei tahun lalu :')

Belum lagi segala drama dalam hubungan percintaan dan pertemanan, segala kesalahan yang dilakukan. 
Dan di usia 22 tahun ini saya ingin melangkah lebih jauh, menyentuh hal-hal yang cukup lama saya perhatikan dari jauh. Sebagai orang yang memulai semuanya dengan buru-buru, saya harus lebih berhati-hati sekarang. Usia 22 tahun saya berharap bisa semakin bermanfaat bagi komunitas saya dan memiliki kontribusi nyata di tengah masyarakat.
22 tahun saya harus lebih berani, seperti seorang Liberani yang seharusnya (ini kata bapak), dan belajar lebih banyak serta memberi lebih ikhlas. Rasanya saya sangat tua, apalagi melihat foto-foto perayaan ulang tahun dari tahun ke tahun tanpa mamak dan bapak, rasanya saya sudah sangat jauh dari rumah. Tapi menjadi dewasa bukannya memang harus begitu ya? harus berdiri dengan kaki sendiri dan meninggalkan segala zona nyaman.
Well, happy birthday to me.
Selamat hari lahir juga untuk Mikhail Bakunin.

This entry was posted in

Wednesday, May 23, 2018

[Cerpen] Gadis Flannel Merah

Dia adalah gadis flannel merah yang kutemui di sebuah toko buku di suatu hari, ketika hujan sedang deras di luar sana dan aku memilih berlama-lama mencari buku Pengantar Hukum Indonesia sambil menunggunya reda. Jarak kami sangat dekat waktu itu, tidak lebih dari lima langkah. Dia sedang asik membaca sebuah buku tentang hukum pidana di Indonesia, aku yang sibuk mencari buku di sampingnya seolah tak ada.

Dia sangat samar, sampai akhirnya aku melihatnya di koridor kampus berbulan-bulan sejak pertemuan kami di toko buku. Dia mengenakan flannel merah seperti hari itu, menenteng sebuah buku tebal dan tersenyum simpul pada orang-orang yang menyapanya. Jarak kami sangat jauh, aku di ujung koridor dan tak mampu melanjutkan langkahku karena aku merasa menemukan sesuatu dan aku tak ingin melwatkan momen itu, kupandangi sosoknya lekat.

Pada suatu waktu dia adalah mawar, indah dan berduri. Siapa saja bisa memetiknya, tapi durinya akan melukai mereka yang tidak hati-hati.

Tak pernah kubayangkan aku akan jatuh cinta pada teman kampusku. Entah ke mana saja aku selama ini sampai tak pernah menyadari kehadirannya. Dia dan warna merah, dengan senyum manis dan buku yang selalu ditentengnya.

Berkali-kali aku mencuri pandang padanya, dia duduk tenang di pojok kelas, selalu sendirian, dia tak sibuk menunduk; memandang gawai atau mengobrol cekikikan bersama teman-teman hawanya, dia hanya serius memandangi halaman-halaman buku, dia selalu sendiri, dunianya tidak tersentuh oleh siapa pun.

Dia adalah gadis yang hidup dalam khayalanku selama ini. Kuhabiskan waktuku bertahun-tahun untuk menyendiri, tak kupikirkan barang sedikitpun perihal kaum hawa, sampai akhirnya aku melihatnya, gadis Flannel merah itu. Gadis yang hidup di imajinasiku lalu menjelma menjadi nyata, obrolan pertama kami adalah novel Metamorfosis karya Franz Kafka, aku mendapat pinjaman novel itu darinya. Berbincang dengannya tak cukup hanya di depan kelas di waktu istirahat, kami lalu bertukar kontak dan obrolan berlanjut di dunia virtual. Ratusan hari setelah itu barulah aku yakin bahwa dia yang aku cari.

Dia adalah teka-teki yang selalu membuatku penasaran, dia adalah salah satu alasanku untuk terus bergerak. Dia adalah duniaku, lalu menjadi sumber kegelisahanku. Aku lalu dengan sadar menjatuhkan hati kepadanya.

Bagiku kamu adalah sebuah sementara yang abadi. 

Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan. Rumit katamu, padahal lebih rumit menerka-nerka sesuatu yang tak pasti. Karena itulah, bagiku kamu adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab; sebuah buku yang tidak akan selesai kubaca. Kata orang hakim terbaik adalah waktu, karena hanya waktu yang bisa menilai kesungguhan seseorang. Tapi jika selama ini waktu yang telah kuberikan padamu tak pernah cukup, mungkin kau bukan orang yang sanggup untuk dihakimi, tidak seorangpun mampu, bahkan oleh waktu.
Sementara waktu kamu adalah kekasihku, di lain waktu kamu sahabatku. Kita berjalan seperti ini, melewati tahun-tahun tanpa menyandang status yang jelas. Tak masalah, karena bagiku kamu adalah sebuah sementara (kekasih) yang abadi. 

Dia adalah ambigu. Sebuah pertanyaan yang tak akan terjawab olehku, dia adalah ketidakpastian yang selalu kusemogakan. 

Kamu duduk di sampingku, film Theory of Everything baru saja berakhir. Kamu masih berdecak kagum, memuji akting Eddie Redmayne yang terlihat sempurna memerankan tokoh Stephen Hawking, kamu berandai-andai jika di masa depan sesuatu yang buruk terjadi apakah kamu akan memiliki pasangan yang setia mendampingimu seperti yang dilakukan Jane Wilde ketika pasangannya menderita motor neuron disease. Kamu tak tahu, di dalam hatiku aku mengucapkan janji untuk setia di sampingmu, tidak hanya untuk hari ini tapi untuk beratus-ratus hari yang akan kita lalui. 
Bagiku dia adalah candu. 
Disandarkannya kepalanya di bahuku yang tidak tegap. Sesekali dia meringis dan menertawaiku. Katanya bahuku membuat kepalanya sakit. Aku balas mengejeknya, banyak bahu yang bisa kau jadikan sandaran tapi kenapa kau memilih bersandar di bahuku yang kurus ini? dia tentu saja tidak menjawabku, dikerucutkannya bibirnya yang mungil lalu ditutupnya telinganya. Lirik lagu Ordinary yang dilantunkan Copeland membisukan kami dalam hening, dalam diam yang dibalut riuhnya rintik hujan di luar sana. Sebuah kecupan lembut di keningnya, ini untuk cinta yang kadang tak berlogika. Lalu bibir kami bertautan, lembut dan basah; menghangatkan. Ini bukan kali pertamanya. 

...And when I returned, I found you just like I always do, waiting for me like you always are. Since you came along my days are ordinary. We laugh just like yesterday, and I kiss you like the day before, and I hold you just like ordinary... (Ordinary- Copeland) 

Untukmu yang entah harus kusebut apa, kutulis ini saat hujan sedang deras, saat kita tenggelam dalam rasa yang tak mampu lagi kita terjemahkan dengan kata-kata. Hujan dan flannel merah, dua hal yang selalu mengingatkanku padamu, dua hal yang tidak pernah biasa bagiku.


Pontianak, 2016.
This entry was posted in

Thursday, May 03, 2018

[Review] Serial The End of The F*****g World

Source: Google
The End of The F*****g World merupakan serial bergenre dark comedy asal Inggris yang saya rekomendasikan untuk ditonton, apalagi kalau kamu penyuka coming of age movie. Serial ini tayang di Netflix, disutradarai oleh Jonathan Entwistl dan Lucy Tcherniak, sementara penulis cerita adalah Charlie Covell adaptasi dari buku Charles Forsman dengan judul yang sama.

Series ini berkisah tentang James (Alex Lawther), seorang pemuda 17 tahun yang yakin dirinya seorang psikopat dan teman sekolahnya Alyssa (Jessica Barden) yang nyaris bermasalah dengan semua orang karena sikap serampangannya, dia sering bicara seenaknya dan berbuat semaunya.

Mereka berdua melakukan perjalanan, meninggalkan rumah masing-masing atas ide Alyssa yang tidak tahan lagi dengan suasana rumahnya. Dia tinggal bersama ibunya yang memiliki suami baru dan sepasang anak kembar, hubungan Alyssa dan ayah tirinya tidak baik karena ayah tirinya yang sering berbuat tidak senonoh. Begitu pula ibunya yang terlalu takut membantah suaminya sehingga membuat Alyssa merasa tidak disayangi lagi.

James mengikuti ajakan itu karena dia sangat bosan dengan kehidupannya, dia tinggal berdua dengan ayahnya, James memiliki hobby membunuh binatang, dia mengingat dengan detail berapa jumlah hewan yang telah dihabisinya bahkan bagaimana sensasi membunuh itu dirasakannya. Lambat laun dia ingin melakukan hal baru, membunuh manusia. Kesempatan itu datang saat Alyssa mengajaknya kabur.

James kemudian mencuri mobil ayahnya setelah menonjok mukanya, mereka meninggalkan kota dan melakukan perjalanan. Dalam perjalanan itu, Alyssa mengajak bercinta ketika James sedang menyetir, sayangnya mereka terlalu amatir, James menabrak pohon di tepi jalan ketika bajunya baru saja berhasil dilepaskan Alysaa, mobil itu pun terbakar, persis seperti adegan di film action yang mereka bayangkan. Alyssa ini memiliki imajinasi seks yang sangat tinggi, sementara James sangat pasif, khas sosok introvert.

Karena terlanjur melakukan hal bodoh maka keduanya bertekad untuk tidak kembali sementara waktu, Alyssa kemudian mengajak James menemui ayah kandungnya. Perjalanan mereka pun dimulai.

Konflik Remaja yang Tidak Biasa

Source: Google
Masalah demi masalah muncul saat mereka melakukan perjalanan ke rumah ayah Alyssa, masalah yang mereka ciptakan sendiri. Jika konflik remaja biasanya seputar pertemanan atau percintaan, James dan Alyssa memiliki kisah berbeda, mereka terlibat konflik serius, mulai dari perampokan hingga pembunuhan, dan mereka menikmatinya. The End of The F*****g World menampilkan pesan-pesan untuk para remaja tanpa memberikan penghakiman.

Serial yang terdiri dari 8 episode ini menampilkan permasalahan yang timbul karena tertekannya psikologis para tokoh. Kejahatan yang mereka lakukan bersumber dari lingkungan keluarga mereka sendiri. James memiliki kisah yang rumit hingga dia menjadi orang yang ambisius untuk membunuh, begitu pula dengan Alyssa yang memiliki latar belakang yang pelik hingga dia tumbuh menjadi gadis yang berpikir spontan dan egois, semua yang mereka bawa adalah bentukan dari ingatan masa kecil mereka.

Serial yang bagus untuk ditonton para remaja, bahkan orang tua. Kita bisa melihat sisi lain dari anak-anak pembuat masalah, mungkin saja orang-orang seperti James dan Alyssa ada di sekitar kita, mereka sebenarnya sangat kesepian dan ketakutan, merasa tidak memiliki orang yang memahami mereka.

Soundtrack serial ini juga asik-asik. Saya suka sekali tokoh Alyssa, mulai dari sifatnya hingga penampilannya, apalagi jika dia bercanda, dia selalu melemparkan dark humor. Sedangkan sosok James memang totalitas memerankan remaja psikopat. Dia pendiam, selalu terlihat gugup ketika diajak mengobrol, dia tidak berani memandang lawan bicaranya. Tangan kanannya seperti tangan monster karena waktu kecil dia memasukannya ke dalam penggorengan ayahnya yang berisi minyak panas.

Sosok seperti mereka selalu berhasil menyentuh hati saya, karena saya memang menyukai tokoh-tokoh yang menantang dunia, tokoh-tokoh pembuat masalah tapi sebenarnya mereka sangat rapuh dan ketakutan, seperti sosok Holden Caulfield ciptaan J.D Salinger di The Catcher in The Rye, sosok fiksi yang sangat hidup di pikiran saya.

Pokoknya serial ini menyenangkan untuk ditonton. Dengan durasi masing-masing episode sekitar  20 menit, lucu, ngeri, dan terharu bisa dirasakan saat menonton. Bayangkan dua anak berusia 17 tahun tanpa sadar telah menciptakan kekacauan besar yang menyeret mereka pada masalah hukum. James dan Alyssa ini sepasang remaja yang menggemaskan, mereka liar, memandang dunia dengan cara berbeda, dan kesepian. Mereka menyedihkan.

Untuk menutup ulasan ini, saya mengambil sebuah kutipan dari Alyssa saat bertemu ayah kandungnya.

"Jangan membuat anak jika kau menelantarkannya karena itu akan membuatnya bersalah seumur hidup."

Jadi, bisa dibayangkan The End of The Fucking World seasik apa kan?

This entry was posted in