Wednesday, April 25, 2018

[Review Buku] Membaca Cantik Itu Luka, Melihat Sejarah Kelam dan Perlawanan dari Ranjang

Source: Google
Judul: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal:479 halaman
Cetakan pertama: Mei 2004

"Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain."
8/30.
Jika film Marlina bercerita tentang perempuan yang melawan dari dapur, maka para perempuan di buku Cantik Itu Luka melakukan perlawanan dari ranjang. Novel karya Eka Kurniawan yang telah diterbitkan enam belas kali ini mengangkat tema di akhir masa kolonial. Berkisah tentang seorang perempuan bernama Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur di usia belia, pekerjaan ini kemudian dilakukannya dengan totalitas hingga dia menjadi pelacur tersohor di Halimunda.

Dia memiliki tiga anak perempuan yang tidak kalah cantiknya, kecantikan lalu membawa mereka pada berbagai masalah hingga dia meminta anak ke-empatnya buruk rupa.

Cantik itu Luka adalah buku bagus yang berkisah tentang seksualitas, penjajahan, dan perlawanan, Eka Kurniawan menuliskannya dengan menawan. Cerita yang tidak tertebak dan selalu memberi kejutan di tiap bagiannya.

Meski tokoh utama seorang pelacur, Cantik itu Luka sama sekali bukan kisah cinta yang biasa. Ada banyak perlawanan di buku ini, melawan rezim, mulai dari penjajahan oleh Belanda, Jepang, hingga saat republik telah terbentuk. Penulis menyampaikan sejarah kelam Indonesia dengan cerita menakjubkan.

Pembaca diajak berimajinasi kemudian dilemparkan pada fakta-fakta sejarah yang dibalut kisah cinta. Tentang Partai Komunis Indonesia dan pembantaian besar-besaran yang dialami orang-orang Halimunda yang dituduh komunis. Sejarah kelam ini disampaikan dengan tegas dan terang-terangan.

Perlawanan dari ranjang tidak hanya dilakukan Dewi Ayu, tapi juga anak-anaknya, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi, bahkan si bungsu Cantik yang juga melawan kesepian. Novel ini memang penuh adegan seksual, perilaku seks yang menyimpang diuraikan dengan baik oleh Eka, kisah cinta antarsaudara yang melahirkan ironi.

Seperti buku-buku Eka yang lain, Cantik itu Luka bagus untuk dibaca. Tapi saya sarankan membacanya saat benar-benar memiliki waktu luang karena sekali kamu membaca halaman pertama, kamu tidak bisa berhenti hingga halaman 479. Buku ini seperti candu. Membaca Cantik itu Luka berarti menikmati sejarah kelam negeri ini dan melihat perlawanan perempuan dari ranjang.

2 comments:

  1. Ternyata tidak hanya Pram yang memiliki kemampuan menyampaikan sejarah dengan menarik melalui sebuah buku, Eka Kurniawan sepertinya tak kalah seru..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sa. Eka memang disebut-sebut sebagai the next Pram, tulisan-tulisannya bagussss.

      Delete