Friday, April 27, 2018

Bagaimana Buku Mengubah Saya..

Source: Google

Dulu waktu SMA saya adalah orang yang overdosis drama Korea. Mulai dari potongan rambut ala Suzy Miss A, bando lucu, hingga les bahasa korea saya hajar. Menggelikan memang. Bacaan saya novel-novel teenlit yang irasional, terlalu mengada-ada tapi entah mengapa di usia belasan tahun itu sepertinya menyenangkan.

Memasuki masa kuliah bacaan saya mulai beralih, novel teenlit tampak sangat tidak masuk akal bagi saya, tidak lagi menyenangkan karena ternyata kehidupan nyata jauh lebih berwarna. Saya mulai membaca kumpulan opini tokoh-tokoh terkenal, membaca ide dan gagasan yang dianggap berbahaya, buku-buku yang sesuai dengan jurusan yang saya ambil; hukum, pandangan terhadap dunia mulai berbeda, jauh lebih realistis.

Lalu saya bergabung sebuah komunitas membaca dan di sana referensi bacaan saya semakin bertambah, mulai dari buku kiri hingga filsafat saya jamah, tapi teman diskusi terbatas karena kami hanya dihubungkan oleh dunia virtual.

Kemudian saya berkenalan dengan seorang teman yang menjadi teman diskusi saya,  kami bertukar banyak buku, hingga pandangan saya terhadap kehidupan jadi lebih jelas. Saya tidak ingin jadi manusia yang tujuannya hanya hidup-bersenggama- lalu mati. Saya ingin jadi berarti, jika tidak bisa untuk dunia, setidaknya untuk komunitas saya.

Seiring waktu, saya mulai memasuki dunia kerja, menjadi seorang jurnalis dan bertemu kehidupan yang lebih banyak, sure, jadi jurnalis berarti bertemu banyak kehidupan. Saya tidak bisa bertahan jika tidak membaca buku-buku yang tempo hari jadi bahan diskusi di grup, waktu berlalu dan tujuan saya semakin jelas, semakin dekat, tagline menulis untuk keabadian dari Pram masih saya pegang, meski kini tidak menulis untuk media. 

Jadi apa saya oleh buku-buku yang saya baca? Saya jadi diri saya sendiri. Tidak menyerahkan diri pada standar hidup yang telah diwariskan turun temurun oleh budaya patriarki. 

Sekarang saya bergabung di sebuah lembaga, bekerja bersama orang-orang yang usianya jauh di atas saya, menyusun program, mengkaji permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat adat. Jangan tanya berapa pendapatan saya, buku-buku membuat saya tidak lagi memikirkan uang. Selagi saya masih bisa berbagi meski kecil, itu sudah cukup. Seperti kata seorang teman, saya ingin bekerja untuk kemanusiaan.

Buku telah membebaskan saya dari kemiskinan berpikir dan membebaskan belenggu mental. Saya tidak takut menjalani hidup sesuai dengan standard yang saya tetapkan, saya tidak takut dihakimi oleh hegemoni. Begitulah buku mengubah saya. 

Buku juga menjadi teman baik untuk menjalani hidup yang sangat (sepi) singkat ini. 

Kalau kamu, bagaimana buku mengubahmu?

This entry was posted in

2 comments:

  1. "Buku telah membebaskan saya dari kemiskinan berpikir dan membebaskan belenggu mental" youre very inspiring kakak 😀😀

    ReplyDelete