Friday, April 27, 2018

Bagaimana Buku Mengubah Saya..

Source: Google

Dulu waktu SMA saya adalah orang yang overdosis drama Korea. Mulai dari potongan rambut ala Suzy Miss A, bando lucu, hingga les bahasa korea saya hajar. Menggelikan memang. Bacaan saya novel-novel teenlit yang irasional, terlalu mengada-ada tapi entah mengapa di usia belasan tahun itu sepertinya menyenangkan.

Memasuki masa kuliah bacaan saya mulai beralih, novel teenlit tampak sangat tidak masuk akal bagi saya, tidak lagi menyenangkan karena ternyata kehidupan nyata jauh lebih berwarna. Saya mulai membaca kumpulan opini tokoh-tokoh terkenal, membaca ide dan gagasan yang dianggap berbahaya, buku-buku yang sesuai dengan jurusan yang saya ambil; hukum, pandangan terhadap dunia mulai berbeda, jauh lebih realistis.

Lalu saya bergabung sebuah komunitas membaca dan di sana referensi bacaan saya semakin bertambah, mulai dari buku kiri hingga filsafat saya jamah, tapi teman diskusi terbatas karena kami hanya dihubungkan oleh dunia virtual.

Kemudian saya berkenalan dengan seorang teman yang menjadi teman diskusi saya,  kami bertukar banyak buku, hingga pandangan saya terhadap kehidupan jadi lebih jelas. Saya tidak ingin jadi manusia yang tujuannya hanya hidup-bersenggama- lalu mati. Saya ingin jadi berarti, jika tidak bisa untuk dunia, setidaknya untuk komunitas saya.

Seiring waktu, saya mulai memasuki dunia kerja, menjadi seorang jurnalis dan bertemu kehidupan yang lebih banyak, sure, jadi jurnalis berarti bertemu banyak kehidupan. Saya tidak bisa bertahan jika tidak membaca buku-buku yang tempo hari jadi bahan diskusi di grup, waktu berlalu dan tujuan saya semakin jelas, semakin dekat, tagline menulis untuk keabadian dari Pram masih saya pegang, meski kini tidak menulis untuk media. 

Jadi apa saya oleh buku-buku yang saya baca? Saya jadi diri saya sendiri. Tidak menyerahkan diri pada standar hidup yang telah diwariskan turun temurun oleh budaya patriarki. 

Sekarang saya bergabung di sebuah lembaga, bekerja bersama orang-orang yang usianya jauh di atas saya, menyusun program, mengkaji permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat adat. Jangan tanya berapa pendapatan saya, buku-buku membuat saya tidak lagi memikirkan uang. Selagi saya masih bisa berbagi meski kecil, itu sudah cukup. Seperti kata seorang teman, saya ingin bekerja untuk kemanusiaan.

Buku telah membebaskan saya dari kemiskinan berpikir dan membebaskan belenggu mental. Saya tidak takut menjalani hidup sesuai dengan standard yang saya tetapkan, saya tidak takut dihakimi oleh hegemoni. Begitulah buku mengubah saya. 

Buku juga menjadi teman baik untuk menjalani hidup yang sangat (sepi) singkat ini. 

Kalau kamu, bagaimana buku mengubahmu?

This entry was posted in

Wednesday, April 25, 2018

[Cerpen] Tidak Ada Pamole' Beo' Tahun ini

Tidak Ada Pamole’ Beo’ Tahun Ini
(Claudia Liberani Randungan)

April adalah aroma beras baru yang menguar dari periuk di atas tungku di sore hari, mengepul dan terbawa angin, menyeruak memenuhi sudut-sudut dapur milik Tabo’, lelaki 56 tahun yang hidup seorang diri di rumah kayu paling sederhana di kampung ini. Sebuah perkampungan di lintas utara, tidak jauh dari perbatasan Sarawak Malaysia. April adalah musim panen, nasi baru pasti tersedia di rumah-rumah penduduk.

Tubuh lelahnya bersandar di kursi plastik berwarna merah yang sudah mulai rapuh. Sejak pukul 16.00 WIB ritualnya dimulai, duduk menunggu nasinya matang sambil menyeruput kopi. Setelah nasinya matang dan bara mulai padam dia akan turun ke sungai, membersihkan diri di Sungai Tamambaloh yang jernih. Melepas penat sehabis memangkas daun kratom, mencukupkan diri untuk hari ini. Ketika listrik menyala pukul 17.00 nanti, dia akan duduk di depan tv menyaksikan siaran berita. Musim panen ladang tak menuntut banyak perhatian. Setelah mengumpulkan bulir-bulir padi hingga tengah hari, tak masalah jika ia ditinggalkan, diselingkuhi dengan memasang bubu ikan, memangkas daun kratom, atau menjemput anak ke sekolah jika punya. 

Tabo’ tentu saja punya, namun dia hanya menjemput anaknya setahun sekali di ibukota kecamatan. Putra semata wayangnya, Lunsa, sedang menempuh kuliah semester akhir di ibu kota provinsi, anak yang meninggalkannya sendirian setelah tamat SMA dan hanya pulang sekali dalam setahun untuk merayakan pamole’ beo’, upacara syukur selepas panen di pertengahan tahun, bertepatan dengan libur panjang yang nyatanya tidak pernah panjang bagi mereka berdua karena Lunsa hanya pulang tiga hari. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Karena dari sanalah dia mendapatkan uang untuk biaya hidupnya di kota, membayar sewa kontrakan, uang kuliah, menyantuni anak yatim sesekali, atau meniduri perempuan ketika sedang ingin. 

Dia tidak pernah memintanya bekerja keras di usia muda, namun bagi Lunsa dia tidak pantas menerima uang dari ayahnya ketika usianya sudah 21 tahun, sekitar tiga tahun yang lalu. 

"Saya sudah dewasa, pak. Biarlah kerja keras kita menjadi milik kita masing-masing,” ucapnya saat kali pertama menolak uang dari Tabo’ yang dikirim lewat CU. Setelah itu uang tidak lagi jadi pembicaraan mereka. Tidak pernah muncul dalam obrolan, sama seperti sosok ibunya yang tidak pernah dibicarakan sejak kepergiannya tujuh tahun silam. Bagi mereka berdua mengunjungi makam orang yang telah tiada adalah cara mengenang yang terbaik, mereka tidak pernah mengungkapkan sesaknya menahan rindu bertahun-tahun, saat perjumpaan ayah dan anak itu tiba mereka tidak pernah absen untuk menjenguk makam ibunya.

Bola mata Tabo’ yang cokelat berbinar, dia membayangkan keriuhan Pamole’ Beo nanti, menanti kepulangan Lunsa. Tiap kali melihat anaknya dia merasa sedang melihat dirinya sendiri, dirinya yang terperangkap di tubuh pemuda 24 tahun. Belakangan rindu padanya semakin kuat, memang rindu semakin terasa saat usia semakin menua. Meski itu tak pernah terucap dari mulutnya. Baginya menjadi lelaki berarti harus mampu melawan, termasuk melawan diri sendiri, melawan rindu. Rasa rindu dan sayang tidak pernah diungkapkan melalui kalimat, ada rasa enggan untuk mengatakan itu tapi mereka tahu masing-masing merasakannya.

Lunsa tumbuh dengan sayang dan rindu yang tidak pernah terucap, ini juga yang akhirnya membentuk dia menjadi pemuda yang misterius. Dia tidak dingin, pemuda itu sangat tahu cara bersikap, mulai dari penjual nasi kuning di sekitar kontrakan hingga pejabat tinggi di kepolisian bisa menjadi teman mengobrolnya, namun dia tidak pernah membuka diri pada oang lain. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa Lunsa sebenarnrya, teman-temannya hanya mengetahui Lunsa seorang pemuda desa yang datang dari perbatasan, kuliah sambil bekerja sebagai kurir di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang.

Tidak ada yang tahu kesepian seperti apa yang dirasakannya, seluas apa ruang yang kosong di hatinya. Pemuda itu sepanjang tahun hanya memikirkan bagaimana cara meninggalkan pulaunya, merantau ke tempat yang jauh dari jangkauan ayahnya maupun kerabat yang sebenarnya tidak begitu peduli pada hidup mereka, dia ingin meninggalkan identitas yang dirasanya tidak memiliki arti apa-apa selain membatasi hubungannya dengan orang lain, dia ingin bebas menjadi siapa saja yang datang dari mana saja, tidak ada label suku yang dapat dibaca orang lain bahkan hanya dari nama yang diberikan padanya, tidak ada label pemuda desa karena dia ingin diterima semua orang, bergaul dengan siapa saja tanpa ada pembatas.

Sampai akhirnya dia yakin untuk pergi dengan meninggalkan jumlah saldo berlipat sebagai bentuk penebusan pada sang ayah, karena itu dia bekerja dan mulai mengumpulkan uang, sudah dicatatnya berapa digit saldo yang harus dicapainya sebelum usianya 27 tahun. 

Dia berencana meninggalkan semua kerja kerasnya untuk sang ayah. Ayahnya yang seorang sarjana muda, mempelajari listrik bertahun-tahun namun seumur hidup bercita-cita menjadi petani. Ayah yang dianggap keras kepala oleh keluarga, terlebih saat memilih menikahi seorang perawan tua yang mengajar anak-anak di kampung. Begitu kepergiannya tiba, dia yakin ayahnya bangga pernah memiliki anak sepertinya. Dan semua rencana ini disimpannya rapat-rapat, diletakkan pada ruang-ruang kosong yang tercipta dari kerinduan pada sosok utuh yang disebut keluarga, ruang kosong yang begitu luas dan tak terukur. 

Dia tidak pernah mengeluh, termasuk pada teman seperkopiannya di warkop karena dia tidak percaya siapapun selain dirinya sendiri, tidak pula ayahnya yang kini sedang menunggunya. Menanti kepulangannya untuk merayakan syukur atas kebaikan yang diberi sampulo’ sepanjang tahun ini. Pulang yang juga diinginkannya, karena hanya saat pulang dia bisa menjadi seorang anak, seorang anak lelaki yang tertidur pulas di samping ayahnya. Menghalau bisingnya suara gendang dan gong dari balai adat, mencoba terlelap di tengah kemeriahan pesta pamole’ beo’, di tengah hingar bingar dunia yang luas di kepalanya.

Sementara aroma nasi matang semakin kuat dan kopi sudah sampai pada seruput terakhir, Tabo’ masih enggan beranjak. Lelah kali ini benar-benar dinikmatinya, dia menimbang-nimbang kegiatan apa yang akan dilakukannya bersama Lunsa kali ini, tapi seperti yang sudah-sudah, perayaan Pamole’ Beo’ bagi mereka berdua adalah perayaan syukur atas rezeki yang masih ada sehingga harus dirayakan dengan makan yang cukup. Hari pertama kedatangan Lunsa biasanya mereka hanya mengobrol di rumah, makan bersama, menerima kunjungan beberapa tetangga yang datang untuk basa basi atau sekadar ingin tahu apakah Lunsa sudah menyelesaikan kuliahnya atau belum, sore hari mereka akan turun ke sungai, mengayuh sampan dan mulai menjala ikan ketika matahari mulai redup.

Hari kedua kepulangannya sering dilalui dengan tiduran sepanjang hari dan seperti hari pertama, menerima beberapa tamu yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Hari ketiga dia akan kembali ke kota. Seperti itulah Lunsa, tidak ada yang membuatnya betah berlama-lama di kampung, dia hanya ingin berjumpa ayah dan mengenang ibunya. Tidak ada teman apalagi sahabat tersisa, semua teman seumurannya sudah tidak memiliki kenangan pertemanan masa kecil bersamanya, sejak ayahnya mati-matian menolak industri perkebunan kelapa sawit di desa itu, dia nyaris kehilangan perhatian semua temannya, bahkan warga. Kalau masih ada yang bertandang, mereka hanya berbasa-basi.

Ayahnya akan mengantarnya ke ibu kota kecamatan menggunakan Proton, di kecamatan itulah mereka akan berpisah, Lunsa naik bus menuju bandara di ibu kota kabupaten, sementara ayahnya akan plesir ke negeri tetangga yang hanya memakan waktu dua jam, nikmat lain dari pembangunan jalan perbatasan sepanjang 1.920 KM oleh pemerintah baru-baru ini.

Dulu melintasi perbatasan antarnegara bisa menggunakan motor, langkah Tabo’ bisa lebih ringan, dia bisa memacu RX King yang dulu ditunggangi bertiga sewaktu mereka masih utuh. Namun setelah beberapa kali petugas menangkap pengendara yang membawa sabu, akses untuk kendaraan roda dua ditutup. Plesir pun harus menggunakan mobil, meski hanya seorang diri.

Kepulangan Lunsa kali ini lebih ditunggunya. Anak lelakinya berjanji membawakan bubuk mitragyna speciosa yang telah diolah, tidak seperti daun yang baru dipetiknya hari ini. Bubuk itu didengarnya memiliki khasiat untuk menghilangkan gangguan tidur dan pereda nyeri pada tulang.

Belakangan rasa nyeri pada lututnya semakin terasa, dia selonjorkan kakinya, diregangkannya sendi-sendinya hingga ruangnya membuka, menurukan tekanannya dan menarik gas-gas yang kemudian terlarut dalam cairan sinovial hingga menghasilkan suara krek. Suara yang langsung disusul dengan nada dering panggilan masuk dari kerabat di ibu kota.

“Bang, saya sedang di kantor polisi, Niko ditangkap....”

Hanya kalimat itu yang bisa didengarnya dengan baik. Nikolaus Lunsa, putra semata wayang yang baru saja dijumpainya dalam ingatan itu tertangakap oleh BNN karena kepemilikan obat-obatan terlarang. Obat-obatan yang membuatnya tidak bisa mengendarai kendaraan roda dua lagi jika ingin melintasi negara tetangga. 

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bulir bening dari matanya jatuh, terakhir kali dia menangis di hari pemakaman istrinya, hari ini dia menangisi putranya yang bekerja untuk mafia, tidak hanya mengantarkan barang-barang biasa, tapi juga barang-barang haram. Putra yang menjadi satu-satunya harapan dan alasan mengapa ia selalu merasa cukup ternyata terlibat dalam sindikat narkoba internasional.

Dia akhirnya mengerti, di balik mudahnya mobilisasi antarnegara ada akibat fatal yang harus ditanggung, bahkan ditanggung oleh pemuda desa seperti Lunsa. Mendadak tubuhnya berkeringat dingin dan perutnya tidak nyaman, mungkin dia akan muntah atau menggigil karena entah, tapi satu-satunya yang meronta di kepalanya adalah pertanyaan mengenai hukuman seperti apa yang akan diterima anak lelakinya itu. Dia menangis dalam ketakutan dan kesedihan, tahun ini, Pamole’ Beo’ tidak mampir ke rumah kayu miliknya.

Cerpen ini telah dimuat di koran Pontianak Post edisi 18 April 2018.
This entry was posted in

[Review]Membaca Cantik Itu Luka, Melihat Sejarah Kelam dan Perlawanan dari Ranjang

Source: Google
Judul: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal:479 halaman
Cetakan pertama: Mei 2004

"Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain."
8/30.
Jika film Marlina bercerita tentang perempuan yang melawan dari dapur, maka para perempuan di buku Cantik Itu Luka melakukan perlawanan dari ranjang. Novel karya Eka Kurniawan yang telah diterbitkan enam belas kali ini mengangkat tema di akhir masa kolonial. Berkisah tentang seorang perempuan bernama Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur di usia belia, pekerjaan ini kemudian dilakukannya dengan totalitas hingga dia menjadi pelacur tersohor di Halimunda.

Dia memiliki tiga anak perempuan yang tidak kalah cantiknya, kecantikan lalu membawa mereka pada berbagai masalah hingga dia meminta anak ke-empatnya buruk rupa.

Cantik itu Luka adalah buku bagus yang berkisah tentang seksualitas, penjajahan, dan perlawanan, Eka Kurniawan menuliskannya dengan menawan. Cerita yang tidak tertebak dan selalu memberi kejutan di tiap bagiannya.

Meski tokoh utama seorang pelacur, Cantik itu Luka sama sekali bukan kisah cinta yang biasa. Ada banyak perlawanan di buku ini, melawan rezim, mulai dari penjajahan oleh Belanda, Jepang, hingga saat republik telah terbentuk. Penulis menyampaikan sejarah kelam Indonesia dengan cerita menakjubkan.

Pembaca diajak berimajinasi kemudian dilemparkan pada fakta-fakta sejarah yang dibalut kisah cinta. Tentang Partai Komunis Indonesia dan pembantaian besar-besaran yang dialami orang-orang Halimunda yang dituduh komunis. Sejarah kelam ini disampaikan dengan tegas dan terang-terangan.

Perlawanan dari ranjang tidak hanya dilakukan Dewi Ayu, tapi juga anak-anaknya, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi, bahkan si bungsu Cantik yang juga melawan kesepian. Novel ini memang penuh adegan seksual, perilaku seks yang menyimpang diuraikan dengan baik oleh Eka, kisah cinta antarsaudara yang melahirkan ironi.

Seperti buku-buku Eka yang lain, Cantik itu Luka bagus untuk dibaca. Tapi saya sarankan membacanya saat benar-benar memiliki waktu luang karena sekali kamu membaca halaman pertama, kamu tidak bisa berhenti hingga halaman 479. Buku ini seperti candu. Membaca Cantik itu Luka berarti menikmati sejarah kelam negeri ini dan melihat perlawanan perempuan dari ranjang.

 

Friday, April 20, 2018

Yang Menyebalkan dari Putus Cinta

Putus cinta tidak pernah jadi soal biasa untuk orang-orang yang selektif dalam memilih pasangan. Apalagi untuk orang yang tidak mudah bergaul di lingkungan sehari-hari, menemukan orang yang nyambung diajak mengobrol saja susah. Memang manusiawi, tapi ini sangat menyiksa..

Yang menyebalkan dari putus cinta tentu saja patah hati. Perlu waktu lama untuk menerima kenyataan, membiasakan diri tanpa dia. Rasanya sangat menyebalkan. Membuka hati pada orang baru juga tidak gampang, ada rasa takut, rasanya tidak mudah. Kita harus berkenalan, memulai semuanya dari awal, mengenali kebiasannya, menyesuaikan diri lagi. Mencoba percaya lagi, kalau dipikir-pikir rasanya malas untuk kembali meletakkan hati pada orang lain. 

Malas untuk mempercayai orang baru, membiarkan orang lain mengetahui sisi buruk kita, kelemahan dan kekurangan kita. Menebak-nebak orang lain seperti apa, hal apa yang disenanginya, apa yang bisa membuat kita dekat, dan tebakan-tebakan lainnya. 

Setelah putus cinta ada banyak kebiasaan yang mesti diubah, ada banyak hal yang hilang, misalnya perhatian-perhatian khusus yang sering diberikannya, rasanya menyesakkan ketika berada di keramaian tapi yang dirasakan adalah kesepian. Putus cinta membuat keadaan jadi buruk, kehilangan nafsu makan dan mengganggu jam tidur, apalagi ketika sedang rindu.

Biasanya yang dirindukan bukan orangnya, tapi kebiasaan yang sering dilakukan dengannya, misalnya berdiskusi sebelum tidur. Membicarakan apa saja, mulai dari twitwar di Twitter, berita apa yang sedang ramai hari ini, sudah membaca buku sampai halaman berapa, bagaimana pekerjaan hari ini, hingga berdiskusi hendak menghabiskan esok dengan kegiatan apa. 

Masih banyak hal menyebalkan lainnya, misalnya harus menerima pertanyaan dari teman kampus atau kerja "lho kok sendirian, si itu ke mana?" Pertanyaan yang hanya dijawab dengan senyuman, pertanyaan yang membuat kita sedih. 

Belum lagi saat harus mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi berdua, perasaan sedih bisa langsung datang dan rasa kehilangan semakin bertambah. Saat tak sengaja mendengar lagu yang sering didengar berdua di mobil, sedihnya semakin dalam. Ingatan-ingatan tentang dia seakan berterbangan, dan inilah yang paling menyiksa. Ingatan. 

Mengingat momen-momen berkesan yang pernah dilalui bersama, lebih menyakitkan kalau hubungan sudah dijalin lama, sudah melewati masa remaja hingga berproses jadi dewasa bersama, ada banyak hal berharga yang dilalui berdua. 

Bertahun-tahun bersama, mulai dari masa kuliah hingga bekerja, mulai dari gombalannya hanya gombalan khas mahasiswa baru hingga gombalan pasangan dewasa tentang masa depan berdua. Mengingat semua itu rasanya.... tidak bisa digambarkan. 

Setelah bertahun-tahun bertahan, akhirnya saat ini tiba juga. Putus cinta. Putus dari orang yang tidak hanya jadi pacar, tapi juga teman, bahkan saudara. Tempat di mana semua keluh kesah ditumpahkan, tempat di mana rencana-rencana disusun, tempat di mana keberanian menghadapi kenyataan hidup bertumbuh, tempat yang tidak bisa tergantikan.

Rasanya rindu..

Rindu sekali.

Menurutmu, apa yang menyebalkan dari putus cinta?

Sunday, April 08, 2018

Ulasan Buku Saya Terbakar Amarah Sendirian



"Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri." (49)


Judul: Saya Terbakar Amarah Sendirian!
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Januari 2006
Cetakan kedua, Desember 2006
Tebal: 131 halaman.

7/30

Buku ke tujuh yang saya baca. Ini adalah buku yang berisi perbincangan Pramoedya Ananta Toer dengan jurnalis asal Amerika, AndrĂ© Vltchek dan Rossie Indira tentang pandangan Pram terhadap beberapa hal terkait negeri bernama Indonesia. 

Mulanya penulis menjumpai Pram karena sebuah project film, tapi keadaan Pram sudah sangat lemah, tidak bisa banyak bergerak, hanya bisa bicara dan menghisap rokok. 

Buku ini merangkum pikiran-pikiran Pram tentang banyak hal yang terjadi di negeri ini. Mulai dari pengalaman pribadinya yang menjadi korban kejahatan sebuah rezim, hingga harapannya pada golongan muda. 

Dibuka dengan kata pengantar dari Chris GoGwilt yang epic, lalu sekapur sirih dari penulis yang membuat kadar penasaran semakin bertambah. 

Ada 12 bagian yang merangkum perbincangan hangat yang dilakukan dalam waktu empat bulan ini, fyi wawancara mulai dari Desember 2003-Maret 2004 saat itu kondisi kesehatannya sudah jauh menurun. 

Pram membahas tentang sejarah, kolonialisme dan Soekarno, dia juga menceritakan kideta 1965 dan masa penahanan yang dialaminya, emosi pasti tercampur aduk di bagian ini. 

Dia juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang budaya dan Jawanisme, Pram adalah tokoh yang sangat menentang Jawanisme. Menurutnya Jawanisme hanya melahirkan generasi-generasi yang penakut terhadap junjungan (pemerintah), bermental pecundang karena tidak berani melawan atasan walaupun tahu perbuatannya salah. Dia menjelaskan Jawaniame dan kolonialisme Jawa sudah bertindak brutal pada penduduk Indonesia yang tinggal di negara kepulauan yang luas ini, jauh lebih keji dari ysng dilakukan oleh para penjajah asing. 

Karya sastranya juga dibahas, begitupun presiden kesayangan Amerika, Soeharto, turut dibahas olehnya, dalam bagian ini dia terang-terangan menyebut Soeharto sebagai presiden yang merusak Indonesia. Merusak moral bangsa hingga ke akar-akarnya, dan membentuk Indonesia yang sekarang, Indonesia yang menurutnya sedang berjalan menuju gerbang kehancuran. 

Timor Leste dan Aceh juga dibahas dalam satu sesi, dia menyebut jika mental masyarakat Aceh patut ditiru, mental pejuang.

Keterlibatan Amerika Serikat juga dibicarakan. Hingga rekonsiliasi yang menurutnya tidak bisa menggantikan haknya yang telah dirampas pemerintah, dirampas negara. 

Bagian akhir ditutup dengan harapannya pada masa depan Indonesia. Dia menyebut bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan Indonesia, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh golongan muda. 

Sebagai orang yang menyukai prinsip dan belajar kemanusiaan melalui karya-karya Pram, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Usai dibuat penasaran oleh kata pengantar di bagian depan, pembaca selanjutnya bisa bergumul dalam pikiran penulis Asia Tenggara yang berkali-kali mendapatkan nominasi Nobel  Sastra ini. Ada banyak keresahan yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang ditahan Orba selama 34 tahun di penjara dan kamp konsentrasi tanpa proses pengadilan sama sekali. Seorang penulis yang karya-karyanya dirampas dan dimusnahkan, bahkan yang berhasil diselamatkan dilarang beredar, tidak cukup itu, pemerintah juga membakar perpustakaannya, mengacaukan kehidupan keluarganya. 

Membaca buku ini tidak hanya menyulut empati terhadap kemanusiaan, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa golongan muda di negeri ini harus berbenah, betapa rendahnya kemampuan memproduksi sehingga memiliki mental lembek, hanya mau jadi pesuruh. 

Saya Terbakar Amarah Sendirian seperti buku yang sangat pribadi mengenai sosok Pram, dan di balik lembarnya saya seolah mendengar  Pram sedang menasehati saya. Hahaha. 

Golongan muda, saya rasa buku ini memang ditulis untuk kita.  

Membaca Manifesto Komunis




“Seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas, sejarah perjuangan antara kelas yang dihisap dengan yang menghisap, antara kelas yang dikuasai dengan yang menguasai dalam berbagai tingkat perkembangan masyarakat.”
 6/30.

Saya menyelesaikan Manifesto Komunis di malam Paskah, saat suasana hening karena orang rumah ke gereja. Karya Karl Marx dan Frederick Engels yang pertama kali terbit tahun 1848 ini tidak terlalu tebal, tapi saya membacanya dengan lambat, tidak mau berlanjut sebelum paham.

Buku yang diterbitkan di Inggris beberapa minggu sebelum Revolusi Perancis meletus ini telah menginjak usia 170 tahun saat saya membacanya. 170 tahun yang panjang. Mereka menerbitkan tulisan ini karena ditugaskan untuk menyiapkan program partai yang lengkap secara teori dan praktek. Saat itu mereka berdua bernaung di bawah Liga Komunis, perhimpunan kaum buruh dari Jerman yang berhasil menarik massa dari berbagai negara. 

Secara keseluruhan buku ini menjelaskan tentang apa itu komunis, seperti apa sistemnya, apa tujuannya dan bagaimana cara mencapainya.

Ada empat bagian dalam buku ini. Bagian pertama dimulai dengan apa yang dimaksud kaum komunis dan apa yang menjadi tujuannya. Dijelaskan pula tentang kelas secara umum, bagaimana perubahan masyarakat feodal hingga kelahiran kelas-kelas borjuis dan proletar.

Bagian kedua berisi tentang hubungan antarkelas, di bagian ini penulis menjelaskan bahwa hubungan antarkelas selalu melahirkan eksploitasi. Karena untuk menjadi kapitalis, seseorang tidak saja harus mempunyai kedudukan perseorangan semata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Karena kapital adalah suatu hasil kolektif, dan hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malah lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, kapitalis hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.

Sementara itu bagian ketiga berisi tentang berbagai literatur sosialis dan komunis. Penulis menjelaskan jenis-jenis sosialis dan saya rasa ini seperti kritik. Bagian ini tidak kalah menarik untuk dipahami mendalam.

Sedangkan bagian terakhir diisi dengan partai dari negara dan kelompok apa saja yang pernah bekerjasama dengan komunis. Ada beberapa negara yang disebutkan di dalam buku. Misalnya di Inggris, Swiss, Polandia, Jerman, bahkan bersama-sama mewujudkan reforma agraria di Amerika. Pada bagian ini penulis berharap agar pergerakan bisa mencontoh revolusi yang sudah ada, mempelajari apa yang membuatnya berhasil maupun gagal. Tulisan dua sahabat ini sangat fenomenal.

Bagian akhir ditutup dengan kalimat khas " Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah!"

Buku ini worth reading. Bagi siapa saja. Supaya ungkapan Bekerja bukan untuk menderita maupun membuat menderita orang lain menjadi nyata.

Bisa dikatakan saya terlambat membaca buku ini, di usia
21 tahun. Harusnya sejak SMA saya sudah memahami konsep kapitalisme dan komunisme :’)

Well, seperti kata Marx dan Engels, working men of all countries, unite!

Selamat hari Minggu dan jangan lupa sadar :p