Tuesday, March 20, 2018

Tentang LAS! Ini Bukan Tentang Musik


2017 adalah perkenalan pertama saya dengan LAS! berawal dari sebuah pesan yang dikirimkan seorang teman dari Bandung, Fiersa Besari, Bung – sapaan akrabnya – mengirimkan penggalan lirik lagu Seperti Peduli yang saya respon dengan biasa saja karena saya belum pernah mendengarkan lagu mereka sebelumnya.

Waktu itu Bung menyampaikan kekagumannya pada LAS! Menurutnya lagu LAS! kritis dan berbahaya. Sayangnya diskusi kami tidak begitu panjang karena ketidaktahuan saya, dia kemudian mengirimkan beberapa link youtube milik LAS! untuk saya tonton.

"Claud kamu harus dengar lagu mereka, coba deh," pesan Bung yang membuat saya jadi ingin tahu pada lagu-lagu mereka. Tepatnya ingin tahu yang berujung ketagihan karena sejak itu lagu Sentarum jadi sering saya dengarkan.

Jujur saja pertama kali mendengar lirik lagu mereka saya merasa LAS! sedang membangun eksistensi dengan cara yang berbeda dibanding band lokal lainnya. Jika musisi lokal Pontianak banyak menyuarakan patah hati dan jatuh cinta, LAS! tampil beda dengan lagu-lagu yang menyuarakan persoalan lingkungan. Mereka menyampaikan kritik sosial serta pesan kemanusiaan dengan asik, lirik mereka berani dan musiknya juga sedap.

Di balik kekaguman pada lirik-lirik mereka saya tetap menyimpan pikiran bahwa band ini paling hanya ingin pencitraan, saya sangat skeptis dan tidak mudah percaya. Saya memang menikmati karya mereka, tapi tidak mau berkontribusi untuk membuat mereka terkenal. Sampai akhirnya dari pengamatan saya, band ini memang sangat merespon isu-isu sosial dibandingkan band lainnya.

Dalam beberapa kesempatan, ketika ada aksi kemanusiaan, LAS! ikut, saya tahu karena teman dekat saya mengidolai mereka. Tapi pikiran saya tetap sama, tidak mau berkontribusi apa-apa untuk mereka, cuma mendengarkan karya mereka dan menangkap pesan yang menurut saya tidak tulus. Apalagi waktu saya iseng membuka akun instagram mereka, melihat anggotanya merajah bagian tubuhnya dengan motif bunga terong, saya semakin yakin mereka ini pencitraan. 

Karena belajar dari pengalaman pribadi, kerap kali saya menjumpai orang-orang yang menggunakan motif ini tanpa tahu filosofi di baliknya. Sementara itu teman saya terus menyampaikan pesan dari mereka.  Ada penggalan lirik Borneo is Calling yang sering dibagikannya.
"Ini rumah kami, hutan hujan luas, panas terik, air melimpah. Ini rumah kami, bukan kayu bakar kalian, bukan ladang uang kalian, sudah saatnya kami sadar, kalian harus keluar."
Tidak banyak musisi di sini yang mau menyampaikan pesan-pesan tentang lingkungan, ungkap teman saya ketika kami mengorol tentang LAS!. Saya setuju bagian ini, saya juga gerah dengan lagu maupun tulisan yang isinya tentang patah hati, senja, jatuh cinta, atau rindu sementara ada isu-isu lain yang lebih penting untuk disuarakan dan disebarkan.
 

Bertemu LAS!


Awal tahun 2018 akhirnya saya memutuskan untuk menuntaskan rasa ingin tahu saya. Tanpa penugasan dari redaktur saya memutuskan meliput konser amal yang mereka adakan untuk membantu korban kebakaran rumah betang di Kapuas Hulu.

Itu adalah kali pertama saya bertemu mereka secara langsung, redaktur saya - Bang Didit (yeaah) - selalu menganjurkan saya untuk bertemu narasumber secara langsung, karena dengan mengobrol secara langsung kita akan tahu apakah lawan bicara kita berkata jujur atau tidak. Gestur tubuh dan mata bisa lebih jujur dari yang keluar dari mulut.

Saya pun mendatangi tempat di mana konser akan diadakan, manager mereka menyambut saya dengan ramah. Kami mengobrol sebentar sambil menunggu mereka selesai latihan. LAS! memiliki penggemar yang lumayan ramai, tapi sore itu masih aman. Band ini juga sangat loyal dengan Wild Bornean, sebutan bagi penggemarnya. Setelah menunggu beberapa saat saya akhirnya mendapat kesempatan itu, di moment itulah saya bisa melihat ketulusan mereka dalam berkarya. Bob, sang vokalis ditemani dua anggota lainnya mengungkapkan alasan mereka mengadakan konser itu. Mereka sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol, tidak perlu menggunakan trik khusus karena mereka sangat terbuka dan ramah.

Obrolan sore itu menghapuskan keraguan saya akan ketulusan LAS! dalam berkarya. Mereka peduli karena mereka sepenuhnya menyadari bahwa mereka adalah bagian dari semesta ini, seperti pesan Pramoedya Ananta Toer, jangan pura-pura tidak tahu, anak muda tahu bagaimana cara untuk berjuang, dan mereka memilih jalan bermusik.

Saya senang karena mendapat teman baru untuk bersuara. Oh iya, tidak usah meragukan tingkat literasi mereka, ya. Setelah mengikuti akun pribadi mereka saya akhirnya tahu lirik-lirik bernas yang mereka tulis itu lahir dari kepala-kepala pemikir yang telah diberi asupan bacaan berkualitas. Bahkan kalian bisa membaca tulisan-tulisan drumer LAS!, Diaz di blog pribadinya www.fromephemera.com 

Beberapa minggu yang lalu mereka kembali terlibat dalam aksi Women's March Pontianak, karena berhalangan hadir saya tidak bisa berjumpa. Tapi dari hati yang tulus saya ingin mengucapkan terima kasih pada LAS! yang mau berjuang bersama, berjuang melalui lagu-lagu perlawanan. Lagu-lagu yang saya harap bisa mengedukasi anak muda di Kalbar. Mengajak lebih banyak orang untuk sadar dan peduli.


Seperti lirik pada lagu Borneo Legenda yang sangat disukai oleh teman saya:
"Tumbuh dewasa akupun mengerti semua, kau dan aku berbeda kita bukan seperti mereka. Berkarya di dalam bumi manusia, memberi mencintai menyisakan untuk hari nanti."
Semoga LAS! terus berkarya, menuliskan manusia dan alam yang sekarat ini. Terima kasih untuk lagu Sentarum yang sangat manis dan membuat saya selalu rindu Kapuas Hulu. Terima kasih juga untuk lagu Anak-Anak Revolusi yang sempat saya kira berhubungan dengan bukunya Budiman Sudjatmiko. Terus bernyanyi, terus menginspirasi.

Seperti judulnya, tulisan ini sama sekali tidak berbicara tentang musik. Ini tentang ketulusan dalam berkarya dan jalan yang kita lalui saat memikul salib masing-masing. 
This entry was posted in

10 comments:

  1. Aku ingin berkenalan dengan temanmu itu Claud, pasti dia punya selera musik yang bagus :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha iya nih, dia juga penulis looh. Bentar lagi bukunya jadi wakakak

      Delete
  2. Terima kasih apresiasinya, Jabat erat!

    ReplyDelete
  3. Bagus. Segan.saya suka isi ini. Berisi dan benar2 tulus. Salam kenal y.

    ReplyDelete
  4. Merinding haru las! Luar biasa saya bagian dari wildbornean

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam. Kita dukung orang-orang yang berani menyuarakan pesan-pesan seperti yang LAS! sampaikan yaa.

      Delete