Tuesday, March 06, 2018

Selamat Jalan, Kamerad

Misa terakhir mengantar kepergian om Yihanes Janting di Gereja Stella Maris
1 Maret 2018 keluarga kami harus kehilangan lagi. Setelah kehilangan bibi Mundung Son beberapa tahun lalu, kini giliran om yang kami cintai, Yohanes Janting.

Malam tadi sekitar pukul 22.00 WIB om menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU RS St. Antonius Pontianak, sebelumnya sudah sejak petang ramai beredar kabar om sudah meninggal. Orang-orang pun berdatangan membesuk hingga dua satpam ditugaskan menjaga pintu agar orang-orang tidak masuk. Mereka akhirnya hanya melihat dari luar, menyaksikan bibi yang terus memanggil namanya dan adik-adikku yang berdiri dengan linangan air mata berharap om membuka mata dan bernapas normal.

Enam jam menghadapi sakratul maut, sampai akhirnya dia menyerah.

Aku bingung harus menjawab apa ketika orang bertanya om sakit apa. Banyak. Tapi dia tidak menampakkannya ketika berjumpa dengan orang lain, om seakan punya pain zone tersendiri, yaitu kamarnya dengan bibi. Di kamar om bisa mengerang bahkan berteriak menahan sakit, tapi begitu keluar kamar dia akan memasang wajah ceria, ketika mengobrol intonasinya juga tidak menunjukkan nada-nada menahan sakit, padahal ada banyak sakit yang ditanggungnya.

Di perutnya dipasang alat untuk memasukkan cairan Baxter agar dia tidak perlu cuci darah dua kali dalam seminggu. Tiap tiga jam sekali dia harus mengganti cairan di tubuhnya, tujuh jam sekali jika dia menggunakan cairan dengan ukuran lebih besar.

Aku orang yang paling tidak tahan jika melihat om sakit, aku biasanya menangis sementara adik-adikku tampak sangat kuat, di depan om mereka tidak menunjukkan rasa sedih. Karena mereka tahu, om tidak suka ditangisi ketika sakit.

Bertahun-tahun berjuang, akhirnya om lelah juga. Om rutin cuci darah dua kali seminggu karena gagal ginjal sebelum berobat ke Guangzhou. Setelah melakukan stem sell cuci darah dikurangi, harapan om untuk sembuh juga semakin besar. Semangat hidupnya sangat tinggi karena bibi yang selalu mendampinginya. Bibi bahkan tidak pernah tidur lebih dari lima jam sejak merawat om.

Semangat hidup om selalu dibagikannya pada kami, keponakannya, tapi hari ini aku benar-benar merasa lemah.

Kali ini aku menunggu di sebuah studio foto, bingung hendak mencetak foto om ke mana. Banyak tempat yang tutup karena Cap Go Meh. Sedih. Aku kehilangan sosok teladan yang banyak membantuku berproses selama ini. Aku bahkan belum sempat memberi traktiran pada om. Meski aku tahu, hari ini akan tiba juga.

Beberapa bulan sebelum aku bekerja dia memanggilku untuk mengobrol di meja makan. Kami sering mengobrol, mulai dari masalah pribadi hingga obrolan buku,  ketika datang ke Siantan aku lebih banyak mengobrol dengannya ketimbang mengobrol bersama bibi. Tapi hari itu obrolan kami sangat berbeda, dia menepuk pundakku sambil melempar candaan yang selalu aku dengar sejak kecil, "kak rani ni ke mana jak waktu orang bagi tinggi badan,". Candaan yang selalu aku jawab dengan mentowel perutnya yang gendut, dia sudah seperti bapak..

Dia menasehatiku untuk memutuskan apakah melanjutkan pendidikan atau bekerja, katanya manusia harus punya beberapa rencana, tidak bisa hanya satu.

Aku janji padanya akan menuliskan buku tentang Dayak Tamambaloh, meski dia Dayak Iban, kepeduliannya pada sesama tidak dibatasi oleh apapun.  Katanya seorang sarjana harus berdaya, harus mampu juga memberdayakan orang lain, apalagi sarjana dari daerah 3T, usahanya harus lebih keras untuk bisa menyamakan jejak dengan orang lain. Dia memintaku untuk menulis sesuatu yang bermanfaat, jangan menulis tentang cinta-cinta cinta terus candanya mengomentari postingan blogku waktu itu.

Berat om. Melepas om tidak mudah. Apalagi melihat bibi, melihat adik-adik yang masih kecil. Dan aku tidak berdaya, aku hanya bisa memeluk bibi, separuh jiwanya pergi. Patah hati yang dalam dan panjang.


Tapi semua pasti akan pergi. Aku sekarang menunggu foto om jadi, sangat sulit menemukan foto om sendirian mengenakan pakaian formal, om tidak suka difoto. Om tidak suka pakai jas, dia sangat sederhana dan selalu merasa tercukupi, dia senang berbagi, memperlebar beranda rumah lebih baik ketimbang meninggikan pagar, itu pesannya.

Kalau ditanya profesinya apa dia akan menjawab sebagai tukang sapu di KPU, dan pernah ada yang percaya.

Om sangat ceria, jarang mengeluh dan tidak suka menyembunyikan sesuatu. Katanya semua hal bisa dibicarakan. Dia senang menonton Nat Geo, memelihara ayam dan memasak. Dia juga senang menonton stand up comedy, mengunyah es batu dan membaca. Buku biografi Karl Marx yang aku baca merupakan buku pinjaman darinya, kami juga sama-sama membaca karya Tan Malaka, Madilog dan Dari Penjara ke Penjara. Pertengahan tahun lalu aku mengunjungi makam Tan Malaka dan aku selalu mengingat om. Dia menyukai tokoh ini.

Om adalah teman curhat yang menyenangkan, meski tua pikirannya selalu muda. Dia juga sangat memahami perkembangan teknologi, dia teman membaca yang baik, sosok menginspirasi dan pemberi yang selalu ikhlas.

Kepergiannya ditangisi banyak orang, sebagai seorang aktivis dia meninggalkan banyak kesan bagi teman-temannya, bahkan beberapa anggota DPR RI yang berasal dari Kalbar mengirimkan ucapan duka, mereka ada orang-orang yang pernah berjuang bersama. 

Hari ini halaman rumah penuh oleh ucapan duka, banyak yang datang, termasuk beberapa atasan di tempat kerja saya dulu, teman-teman media banyak yang mengenal sosoknya. 

Selamat jalan, om. Selamat berpisah, kamerad. Obrolan kita tentang tanah adat, kelas sosial, teori pembebasan hingga tinggi badanku yang tidak nambah-nambah akan selalu aku ingat. Kiranya jadi pendoa bagi kami yang masih berziarah di dunia ini. 

Pontianak, 2 Maret 2018.



This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment