Sunday, March 18, 2018

[Review] Film Lady Bird, Kisah Tentang Masa Muda yang Manis dan Liar


Lady Bird, film remaja berdurasi 93 menit besutan Greta Gerwig ini merupakan satu di antara film bagus yang bisa dinikmati di akhir pekan kali ini. Lady Bird merupakan film terbaik Golden Globe 2018 dan dimasukkan dalam daftar '10 Film Terbaik 2017’ oleh National Board of Review, American Film Institute serta majalah Time.

Film ini berkisah tentang problem remaja ketika menuju fase dewasa, diperankan dengan baik oleh Saoirse Ronan yang menjadi seorang gadis bernama Christine yang mengalami banyak polemik ketika menjalani masa SMA.

Dia selalu menggunakan nama pilihannya sendiri, yaitu Lady Bird dalam semua kesempatan, baik itu ketika berkenalan kali pertama dengan orang baru maupun saat menulis namanya dalam daftar hadir di kelas. Pembawaannya humoris, dan keras kepala. Dia juga sangat cerdas dan ambisius.

Christine mewakili para remaja yang percaya sepenuhnya pada impiannya, bahwa aku bisa jadi apa yang aku mau.

Menonton film ini membuat saya selalu tertawa, film ini manis dan mengiris di satu sisi. Christine tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan, ibunya hanyalah seorang pegawai kesehatan dan ayahnya baru saja diberhentikan karena perusahaan menginginkan SDM yang lebih muda dan inovatif. Dia juga memiliki seorang kakak lelaki yang idealis, di sebuah rumah mungil di tepian kota Sacramento. Hubungan Christine dengan keluarganya tidak harmonis, terutama dengan sang ibu.

Mereka selalu bertengkar, Christine merasa sudah melakukan banyak hal untuk membuat ibunya merasa beruntung memiliki seorang puteri sepertinya tapi ibunya juga merasa sudah berusaha keras memenuhi keinginana Christine namun tidak pernah dihargai. Christine memiliki selera dan lifestyle yang tinggi, dia tumbuh bersama impian untuk mendapatkan pendidikan di perguruan tinggi bergengsi kelak.

Satu-satunya sahabat yang dia punya adalah Julianne Steffans, namun mereka mengalami pertengkaran karena Christine ingin bergabung dengan kelompok gadis popular di sekolahnya. Khas film remaja, semua yang ditampilkan sangat murni seperti kejadian yang kita alami ketika remaja.
Christine juga mengalami patah hati karena kekasihnya ternyata gay. Permasalahan yang dihadapinya pun semakin bertambah. Masa-masa terakhir di SMA ibaratkan kutukan. Jika penasaran seperti apa kisah Lady Bird menghadapi berbagai permasalahan, apakah dia menyerah pada impiannya untuk keluar dari Sacramento? silakan ditonton.


Rekomendasi
Lady Bird saya rekomendasikan untuk para remaja yang membaca ulasan ini, untuk para orang tua dan kakak agar memahami emosi remaja, untuk kita semua yang pernah muda karena film ini sangat manis, mampu menghadirkan kenangan lalu tentang kisah kita saat menjalani masa SMA.

Semua orang memiliki kisahnya sendiri ketika remaja, begitulah Lady Bird dibuat agar semua penonton bisa mengenang masa-masa itu. Melalui Christine kita juga diingatkan bahwa kita pernah berjuang mati-matian untuk sesuatu yang kita anggap penting bagi masa depan kita meski nyatanya itu hanya ambisi. Film ini sangat murni, polos, penuh kesan dan pesan.

0 comments:

Post a Comment