Wednesday, March 14, 2018

[Review] Film Asimetris; Sawit dan Masyarakat yang Sakit


Mulai dari jurnalis, aktivis lingkungan, pegiat sosial, akademisi hingga mahasiswa memadati aula Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Kalbar untuk menyaksikan layar tancap perdana film Asimetris, sebuah film dokumenter produksi Watchdoc tentang dampak perkebunan kelapa sawit yang dirasakan masyarakat di Kalimantan, Sumatera, hingga bagian selatan Papua.

Film garapan Dandhy Laksono dan Indra Jati yang menjadi bagian dari Ekspedisi Indonesia Biru ini berhasil membius penonton, puluhan pasang mata fokus memperhatikan bagaimana dampak industri kelapa sawit terhadap perekonomian, lingkungan, dan tatanan masyarakat mulai dari pemerintah, petugas keamanan, petani, hingga media.

Tidak hanya memperlihatkan bencana ekologis dari industri yang menjadi andalan Indonesia, film berdurasi 68 menit ini pun menjelaskan bagaimana pentingnya kelapa sawit dalam menunjang kehidupan manusia, mulai dari makanan, bio-kimia, hingga bahan bakar bahkan di masa yang akan datang digunakan sebagai campuran avtur.

Asimetris menguak permasalahan yang diakibatkan oleh industri kelapa sawit mulai dari tahun 2015 hingga 2018. Mulai dari bencana asap yang melanda Kalimantan dan Sumatera hingga ekspansi kelapa sawit di Merauke dan Digul, Papua yang mengancam hak hidup masyarakat karena dengan tergantinya pohon sagu dengan pohon sawit maka makanan pokok mereka juga akan berkurang. Bencana ekologis lainnya diakibatkan oleh limbah perusahaan yang dibuang ke sungai sehingga menyebabkan tercemarnya sungai.

Tidak hanya itu, konflik agraria juga mewarnai kehadiran perkebunan kelapa sawit, tahun 2017, Badan Restorasi Gambut yang dibentuk tahun 2016 oleh Jokowi mencatat ada 650 konflik agraria terjadi di Indonesia di mana 1/3 konflik merupakan konflik perkebunan kelapa sawit. Konflik agraria ini pun membuat banyak masyarakat lokal di berbagai daerah menjadi korban kriminalisasi oleh korporasi besar.


Film ini menyampaikan berbagai sudut pandang, merekam kepingan cerita dari masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah dari korporasi hingga bukti-bukti bank apa saja yang memberikan pinjaman untuk mendukung industri ini. Mulai dari petani yang bekerja di lahan perusahaan hingga yang memiliki kebun secara mandiri. Ada juga komunitas-komunitas yang menolak investasi jenis ini dan memilih jalan lain untuk bertahan hidup. Meski tak sedikit pula yang menyerah dan akhirnya menggantungkan hidup di lahan yang ditanami sawit.

Asimetris merekam dengan baik bagaimana industri ini menggiurkan sehingga pemerintah menggenjot habis-habisan industri kelapa sawit, namun yang jadi pertanyaan jika Indonesia menjadi negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia, mengapa petani sawit tetap jauh dari kata sejahtera? sebenarnya siapa yang diuntungkan dalam industri ini? sistem seperti apa yang membelenggu? jawabannya ada di film Asimetris.

Pada akhirnya, pikiran masing-masing penonton akan menentukan nasib film ini. Bagi saya film ini mendidik dan sayang jika tidak saya ceritakan, emosi bercampur aduk saat menyaksikan Asimetris, isu perkebunan kelapa sawit sangat dekat dengan saya. Ketika masih SMA, perjuangan komunitas saya, komunitas adat Dayak Tamambaloh di Kecamatan Embaloh Hulu, Kapuas Hulu untuk menentang industri ini sangat dramatis. Saya pernah tuliskan di sini.

film ini sangat saya sarankan untuk disaksikan bersama masyarakat (terutama masyarakat pedesaan yang masih bingung dengan investasi kelapa sawit) akan lebih baik jika ada pemerintah dan pengusaha, tidak sekadar mengedukasi, film ini juga mengungkapkan apa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, atau terlalu panjang untuk diungkapkan dengan tulisan.

4 comments: