Wednesday, March 28, 2018

Ikan Tapah dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Ikan Tapah, Predator Raksasa di Perairan Kalimantan

Pandoan, anak sungai yang berada di Sungai Tamambaloh, letaknya di antara Nanga Sungai dan Paat, dua kampung yang tergabung dalam Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Ache Salalona

Selain ikan Arwana atau ikan siluk, ikan tapah juga cukup dikenal di daerah Kapuas Hulu. Ikan jenis Wallago ini sering disebut sebagai ikan raksasa karena ukurannya yang cukup besar. Sebagai karnivora, ikan tapah sering menyerang lawannya ketika merasa terancam. Maka jangan kaget jika membaca berita di portal media daring mengenai penyerangan yang dilakukan oleh predator raksasa ini. Meski secara pribadi saya belum pernah menjadi korban atau melihat orang di sekitar saya diserang ikan tapah.

Ikan tapah tersebar di beberapa daerah, seperti Kalimantan dan daerah Sarawak, Malaysia. Namun saat ini keberadaan ikan tapah sudah semakin jarang ditemui, termasuk di Kapuas Hulu.

Kabupaten konservasi yang layak disebut laboratorium alam ini nyatanya tidak juga membuat betah ikan-ikan tapah. Namun ini tidak hanya terjadi di Kapuas Hulu dan pada ikan tapah, keberadaan ikan air tawar memang sudah selayaknya jadi perhatian bersama. Seperti yang tertulis di situs berita lingkungan, Mongabay, populasi ikan air tawar mendesak untuk dilindungi.

Seperti yang tercatat di sana, di Indonesia saat ini sebanyak 8500 spesies ikan air tawar hidup di perairan tanah air atu 26 persen dari spesies ikan dunia. Keberadaan ikan air tawar juga semestinya diperhitungkan, pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya konsentrasi melindungi ikan di laut.

Di tengah ramainya seruan untuk melindungi populasi ikan air tawar, ada komunitas tertentu yang justru telah melakukan upaya pelestarian melalui pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Ikan tapah memiliki bentuk tubuh seperti pisau dengan kumis yang menjadi ciri khasnya. Panjangnya bisa mencapai 2,4 meter. Di daerah Sarawak ikan ini memiliki legenda tersendiri. Dengan ukuran raksasa ini, mendapatkan ikan tapah merupakan sebuah rejeki, selain ukurannya yang besar, dagingnya juga gurih.

Di Kapuas Hulu ikan tapah sudah jarang dikonsumsi karena populasinya yang semakin berkurang. Namun ada satu daerah yang setiap tahun selalu didatangi ikan tapah, sebuah kampung kecil di Kecamatan Embaloh Hulu yang dikenal sebagai Nanga Sungai.

Kampung kecil yang belum teraliri listrik ini memang menyimpan keunikannya sendiri. Dibanding perkampungan lain di Kapuas Hulu, Nanga Sungai menyimpan banyak eksotisme khas pedalaman Kalimantan, hutan belantaranya masih terjaga, begitu juga biota sungainya. Aktivitas sehari-hari tanpa bantuan tenaga listrik membuat Nanga Sungai seperti dimensi lain di tengah hiruk pikuk masa ini.

Sebuah anak sungai di perbatasan Nanga Sungai dan kampung di sebelahnya, Paat bernama Pandoan menjadi tempat di mana ikan tapah datang tiga kali dalam setahun, kedatangan pertama untuk memantau keadaan atau dalam bahasa Tamambaloh disebut mabas kedatangan kedua untuk bertelur kemudian kedatangan ketiga untuk mengeluarkan telur dan melepas anak-anaknya.

Perlakuan masyarakat terhadap alam membuat kondisi air sungai baik untuk biota air tawar. Maka tidak heran, ketika daerah lain di Kapuas Hulu mulai jarang didatangi ikan tapah, Nanga Sungai justru bisa panen ikan berkumis ini setahun sekali. 

Panen ikan tapah menjadi agenda tahunan yang sudah dilakukan turun-temurun, ritual adat juga menyertai kegiatan ini, kegiatan yang hanya dilakukan di Nanga Sungai karena desa-desa lain tidak  lagi didatangi ikan tapah. 

Mamakar Tapah, Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Masyarakat Nanga Sungai bergotong royong membuat perangkap ikan tapah
Seperti yang diterangkan Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST, mamakar tapah  merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat Nanga Sungai. Panen ikan tapah besar-besaran ini dilakukan setahun sekali, hasilnya berlimpah, tidak hanya dikonsumsi bersama keluarga, sebagaian memilih menjualnya keluar kampung.

Mamakar tapah sendiri adalah proses memasang perangkap ketika air sungai agak surut, perangkap yang dipasang harus panjang, sekitar 3 meter. Pemasangan perangkap dilakukan sekitar dua minggu sebelum masyarakat bersama-sama mengail ikan. Penangkapan ikan biasanya dilakukan di bulan September maupun Oktober.

Proses mamakar tapah diawali dengan ritual adat, yaitu pamindara. Tetua adat akan memanggil roh leluhur, mengucapkan permisi agar mereka turut menjaga ikan-ikan tersebut sehingga pintu rezeki mereka tidak tertutup. Pamindara juga dilakukan sebagai tanda bahwa mereka tidak akan mengambil lebih dari yang dibutuhkan.
Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST mengadakan upacara pamindara sebelum kegiatan mamakar tapah dimulai.
Setelah pamindara, masyarakat bergotong royong membuat perangkap. Perangkap dibuat dari bambu, dalam proses ini pihak laki-laki yang banyak bekerja, sedangkan perempuan menyiapkan makanan. Ketika proses mengail ikan maka laki-laki maupun perempuan semuanya turun ke sungai. Karena pekerjaan dilakukan secara gotong royong maka pembagiannya juga dilakukan secara merata.

Penangkan masih menggunakan cara tradisional, dia menegaskan tidak diperbolehkan menangkap ikan menggunakan alat yang membahayakan keberlangsungan ikan-ikan di sungai, hal ini sudah diatur dalam hukum adat masyarakat Tamambaloh. Khusus di Nanga Sungai, aturan ini sangat dijaga ketat karena itulah daerah ini dikenal menghasilkan banyak ikan sejak dulu. Ini tidak terlepas dari konsep mengambil seperlunya dari alam. Pengetahuan nenek moyang yang mereka warisi juga membuat mereka tahu bulan-bulan apa saja ikan tapah mudik, aktivitas apa yang tidak boleh dilakukan mendekati masa-masa itu. Hingga kondisi lingkungan seperti apa yang nyaman untuk ikan tapah. 

"Selama kita masih perlu makan, maka lingkungan harus kita jaga karena kita hidup dari sana, tanah, hutan, air, tiga hal ini ibaratkan nadi kita," ucapnya mengingatkan mengapa tidak boleh menggunakan alat berbahaya saat menangkap ikan, hasil tangkapan saat itu memang banyak, namun semuanya akan mati, tidak ada lagi untuk hari depan. 

Begitu juga prinsip kekeluargaan dan keadilan yang masih dipegang teguh masyarakat di Nanga Sungai, dalam kegiatan mamakar tapah maupun saat menangkapnya, semua warga akan turun, biasanya tiga hari penuh warga Nanga Sungai akan melaksanakan panen ikan tapah hasilnya akan dibagi rata per kepala keluarga.

Dia menuturkan, tahun 1959 dan 1968 merupakan tahun di mana tangkapan mereka sangat besar, kala itu lebih dari 1.000 ekor ikan tapah tertangkap. Saat itu populasi ikan tapah masih jauh lebih banyak dibandingkan sekarang. Meski demikian dia optimis ikan-ikan ini tidak akan hilang dari Nanga Sungai karena mereka selalu menjaga kondisi air, mempertahankan kearifan lokal, sebuah pengetahuan tua yang diwariskan turun temurun, upaya konservasi paling sederhana yang pernah ada.

Tahun 2017, kabar warga Nanga Sungai yang memanen ikan tapah sampai disorot oleh media-media mainstream. Banyak yang heran bagaimana bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bahkan ada yang mengira ikan ini hasil budidaya masyarakat. Padahal warga Nanga Sungai hanya menyediakan tempat alami bagi ikan-ikan yang akan menetaskan telurnya dan melepas anak-anaknya. Tidak ada penangkaran ikan di Nanga Sungai. Ikan-ikan tapah yang masih kecil dibiarkan lewat, tahun depan mereka akan datang kembali, melihat-lihat kondisi di sana, menetaskan telur dan melepaskan anak-anaknya, siklus ini terjadi setiap tahun.

Perangkap dibuat dengan ukuran panjang.
Camat Embaloh Hulu, Hermanus Susanto juga menuturkan pada saya bahwa 7 tahun yang lalu ada beberapa lokasi yang menjadi tempat masuknya ikan tapah, tidak hanya di Nanga Sungai tapi juga di desa lain seperti Ulak Paok dan Nanga Tamao. Namun seiring dengan aktivitas pertanian yang menggunakan pestisida maka populasi ikan tapah di sana jadi berkurang bahkan saat ini sudah tidak pernah dimasuki lagi.

Dia menjelaskan Nanga Sungai bertahan dimasuki Tapah tidak hanya karena memiliki liang yang besar di dasar sungainya, namun kehati-hatian masyarakat dalam melakukan aktivitas perladangan di sekitar wilayah datangnya ikan tapah sangat berpengaruh.

"Masyarakat Nanga Sungai sangat berhati-hati ketika berladang di sekitar perhuluan sungai. Mereka disiplin dalam melidungi kawasan tersebut," ujarnya.

Pengetahuan-pengetahuan nenek moyang juga bertransformasi dengan sangat baik sehingga sampai saat ini masyarakat Nanga Sungai tahu kapan ikan tersebut datang untuk kali pertama, kali kedua, hingga kapan saat yang tepat untuk menangkapnya, bahkan ukuran seperti apa yang boleh ditangkap juga ditaati. Dia berharap kearifan lokal ini tetap terjaga, bahkan dia memiliki rencana agar kearifan lokal ini dibuatkan Perdes sehingga pengelolaannya dapat lebih terorganisir.
 
Setiap tahun masyarakat Nanga Sungai memiliki kegiatan menyenangkan, menangkap ikan bersama-sama, satu kampung. Hasilnya juga sangat berlimpah, tapi mereka tidak menangkap semuanya, anak-anak ikan dibiarkan lepas, kondisi air tetap dijaga karena dengan demikian ikan-ikan akan kembali menuju liang sungai mereka yang dalam dan lapang, itu adalah penangkaran terbaik yang alam sediakan.

Bisa dibayangkan keseruannya, saat semua warga turun ke sungai, bergotong royong memanen apa yang telah mereka usahakan bersama, tidak ada lelah yang sia-sia. Dalam kebersamaan, jerih payah itu terasa sangat nikmat. Bagi mereka, alam telah menyediakan apa yang mereka butuhkan, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menjaganya agar tetap lestari. Mereka yang sederhana dan jauh dari kata modern, mereka yang selalu bersyukur dengan apa yang telah alam sediakan. Mereka yang mengambil secukupnya, tanpa menyakiti, tanpa menghabisi.
This entry was posted in

3 comments:

  1. Kak, untuk misal kata pamindara, mamakar tapah, pola dalam kurung misal a lebih diartikan lagi (dalam bahasa dayak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aok dek, ona itulis di artikel baruen. Makase ai 🌷

      Delete