Monday, March 26, 2018

Andai Nenek Jadi Lidah Buaya

Jadi Lidah Buaya Jenis Aloe ferox

Maret saya tahun ini benar-benar penuh dengan kesibukan. Tepat tanggal satu paman saya meninggal, hari-hari berikutnya diisi dengan kegiatan duka, pemakaman tidak menghentikan kesibukan karena masih ada proses adat yang harus dilalui. Setelah proses adat selesai, rumah menjadi sepi karena satu per satu keluarga pulang, tinggal nenek dan kakek yang masih tinggal sampai hari ke-40 nanti.


Pertengahan bulan saya berkunjung ke Aloe Vera Centre untuk melihat secara langsung proses pengolahan lidah buaya menjadi ekstrak. Di sana saya juga berkesempatan melihat-lihat perkebunan lidah buaya yang hijau menghampar.


Di sanalah saya menemukan lidah buaya jenis Aloe ferox. Berbeda denga lidah buaya jenis chinesis dan barbadensis, Aloe ferox tampak mencolok dengan pelepah-pelepah lebar yang dipenuhi duri. Pelepah itu tampak kokoh dan sangat berguna jika dijadikan alat pemukul penjahat. Pasti langsung berdarah-darah pikirku. Karena tertarik saya pun ingin tahu lebih jauh mengenai si ferox, siapa tau bisa saya budidayakan di rumah, lumayan saya  jadikan tanaman pelindung. Pelindung ayam-ayam sabung om.


Dari penjaga AVC saya mengetahui jika ferox merupakan jenis lidah buaya yang susah dibudidayakan, karena sudah lebih dari lima tahun mereka mencoba mengembangkan jenis aloe vera yang banyak tumbuh di bagian selatan Afrika ini, sepertinya perbedaan kondisi geografis menggagalkannya.


Berbeda dengan Aloe chinesis maupun Aloe barbadensisi  yang digunakan sebagai bahan makanan dan kosmetik, Aloe ferox banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Mulai dari pelepah hingga bunganya memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan.


Karakteristik yang melekat pada Aloe ferox seketika mengingatkan saya pada sosok nenek. Kalau nenek jadi lidah buaya dia pasti jadi Aloe ferox, duri-durinya membuat takut dan sakit jika tertusuk, sama seperti nenek kalau mengomel. Menakutkan dan membuat sakit kepala.

Nenek lahir tahun 1944, diusianya yang sekarang dia masih terbilang kuat. Dia tidak memiliki keluhan kesehatan, kecuali lututnya yang dirasanya sering ngilu beberapa bulan belakangan.  Untuk meredakan ngilu itu dia biasanya berjalan kaki setiap pagi. Entah reda atau tidak, dia mengaku kakinya tidak sakit kalau sering dibawa melangkah. 

Asupan kalsium dari Anlene pun dikuranginya, jika sebelumnya dia dan kakek rutin minum susu di pagi dan sore hari, sekarang nenek hanya minum susu sore hari. Pagi hari dia ganti dengan secangkir teh, teh yang diminumnya juga bukan teh konvensional. Dia mendapatkannya setelah membaca artikel pendek di sebuah majalah wanita tentang teh herbal, dia dapat dari mana saya pun tidak tahu. Mungkin tante yang membelinya, setelah saya baca teh itu untuk meredakan asam urat. Nenek memang lebih percaya artikel di majalah atau buku yang dibacanya ketimbang saran dokter. 

Saya berpikir nenek memiliki duri karena sering membuat takut orang yang tidak mengenalnya. Bicaranya blak-blakan. Ketika tidak suka terhadap sesuatu dia akan langsung mengungkapkannya, begitu juga ketika tidak paham maka dia akan menanyakannya tanpa malu, semua dilakukan dengan cepat dan spontan, membuat kaget lawan bicaranya.

Naluri melindunginya juga sangat tinggi, hal ini tidak hanya dilakukan pada anak-anaknya, tapi juga cucu-cucunya.  Saya sudah tidak asing mendengar cerita pdkt tante-tante saya yang gagal karena nenek terlalu galak pada gebetan mereka. Lain lagi dengan cucunya, untuk melindungi kami nenek memberlakukan jam malam. Sebelum pukul 22.00 semuanya harus sudah di rumah, tidak ada ampun jika belum berada di rumah dan dia tahu di mana kami berada, dia akan menyusul kami, bagaimana pun caranya.

Pernah nenek berjalan kaki ke kampung sebelah menjemput abang sepupu saya yang sedang ngapel, benar-benar di luar nalar. Bisa ditebak bagaimana hubungan mereka selanjutnya, abang sepupu saya putus dengan pacarnya, bukan karena pacarnya marah tapi karena nenek memarahi pacarnya. Kejadian seperti itu bukan kali pertama, kakak pernah dikejarnya karena dilarang keluar untuk malam mingguan, adik-adik sepupu saya yang masih SMA lebih tertekan, selama ada nenek di Pontianak, aktivitas malam seperti bermain futsal atau kegiatan kreatif lainnya harus dihentikan untuk sementara waktu, atau tahu sendiri akibatnya, dia akan mengomel di meja makan keesokan harinya sampai saya seakan-akan bisa melihat asap mengepul dari pantat mereka saking lamanya nenek bicara. Memang menyebalkan, begitu pun dengan saya. Akhir tahun lalu, tepatnya beberapa hari setelah Natal, pacar saya (Ben) dikiranya pencuri.

Waktu itu Ben datang sekitar pukul 19.00 WIB untuk menghantarkan beberapa buku. Saya memintanya menunggu sebentar di luar karena saya baru selesai mandi. Ben sangat suka anjing, di rumah ada lima anak anjing yang lucu, mereka adalah anak-anak moli, seekor anjing kampung campuran anjing Jepang. Sambil menunggu, dia bermain dengan anak-anak Moli. Tidak lama kemudian saya mendengar nenek berteriak panik, ada pencuri anjing di luar katanya.

Orang rumah langsung keluar rumah, saya langsung menangkap firasat buruk, dan seperti yang saya duga,  saya melihat dengan jelas bagaimana ekspresi kikuk di wajah Ben. Hari di mana Ben dikira pencuri menjadi hari di mana dia berkenalan dengan nenek dan kakek, dua orang yang mengasuh saya sejak kecil.

Nenek memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, keningnya sering berkerut ketika menyimak pembicaraan lawan bicaranya, keriput-keriput di wajah nenek yang berusia 74 tahun membuat ekspresinya sangat lucu (baca: menyebalkan). Ekspresi itu juga dipasangnya saat menonton, atau membaca.

Kebiasaan buruk lainnya adalah senang menguping. Entah ini faktor usia atau memang kebiasaannya, dia sering mencuri dengar pembicaraan kami tanpa kami ketahui sama sekali. Karena itulah nyaris tidak ada hal yang luput dari pengetahuannya, bahkan ketika kami berbohong pun dia tahu.


Kebaikan Aloe ferox

Ini Aloe ferox yang saya ceritakan



Meski memiliki banyak duri, Aloe ferox memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Jenis lidah buaya ini memang digunakan sebagai bahan obat-obatan. Sama seperti nenek, meski menyebalkan dia memiliki peranan penting dalam keluarga kami. Dia adalah obat untuk mempererat kasih sayang di antara kami, lahir di tengah keluarga besar, tantangannya juga besar, tidak jarang muncul perbedaan pendapat, dan nenek menjadi perekat.

Memiliki 8 anak dan 21 cucu serta dua cicit, nenek dan kakek tumbuh tua dengan kasih sayang dari keluarga yang tidak putus. Meski anak-anaknya tinggal terpisah, tidak ada yang satu kota, kasih sayang tidak putus karena nenek selalu menjadi penyambung kabar bagi ibu dan saudara-saudaranya. 

Ketika ada yang tidak nyaman, nenek selalu memiliki cara agar suasanan segera hangat. Di rumah rasanya asing jika tak ada nenek, tidak ada yang mengingatkan jika lalai dan enasehati ketika kami mulai menyimpang.

Seperti Aloe ferox yang berduri namun memiliki manfaat besar bagi nyawa orang lain, begitulah sosok nenek di tengah keluarga. 

Banyak orang menganggap nenek ketus, mudah marah dan cerewet, bahkan ada yang menganggapnya jahat karena caranya mengungkapkan sesuatu secara terang-terangan.

Tidak apa-apa, nenek memang Aloe ferox yang bertransformasi jadi manusia tegas seperti pelepah-pelepah ferox yang penuh duri. Jauh di dalam hatinya, nenek memiliki ruang kasih sayang yang lebih luas di banding kami semua. Kasih sayang yang mempertahankan kehangatan keluarga, kasih sayang yang tidak terbatas. Kalau sedang datang bulan dan kesakitan, nenek selalu ada. Bahkan waktu saya menangis tidak karuan gara-gara di bully di grup WA, dia menghibur meskipun tidak tahu apa-apa, dan sedikit menyebalkan karena dia mengira saya bersedih akibat tidak bisa ikut teman-teman liburan. hahaha pen ngamuk waktu itu, tapi menyadari niat baik nenek ku malah makin sedih.

Semua orang memang menilai sesuatu dari apa yang dilihat, sama seperti saya ketika pertama kali melihat Aloe ferox, lidah buaya yang saya kira hanya memiliki fungsi mengusir pencuri. Ternyata di balik duri-durinya itu, pelepahnya yang besar memiliki khasiat bagi kesehatan. Di mata orang yang tidak mengenal dekat sosok nenek, mereka mungkin mengira dia adalah seorang nenek tua yang sinis, cerewet dan suka mengomel.

Kalau teman-teman apa yang khas dari nenek? yuk bagi ceritanya di kolom komentar. Mari mengingat nenek, orang yang mengasuh kita sewaktu ibu pergi bekerja, orang yang mengomeli kita ketika kita demam akibat bermain hujan, yang membuatkan sarapan dan mengolesi bercak-bercak gatal bekas gigitan nyamuk dengan kunyit. 
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment