Friday, March 30, 2018

[Review Buku] Menyelami Kisah-Kisah Bunuh Diri di Novel Norwegian Wood

kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Buku ke lima yang saya baca.

Kali ini saya membaca buku Norwegian Wood karya penulis terkenal dari Jepang, Haruki Murakami. Ini adalah karya pertamanya yang saya baca setelah saya anggurkan dua tahun. Buku ini bercerita tentang Watanabe, seorang pemuda dari Kobe yang mencintai gadis bernama Naoko, kekasih dari sahabat baiknya, Kizuki yang bunuh diri selepas bermain bilyard bersamanya ketika mereka masih SMA.

Untuk melupakan kenangan tentang Kizuki, Watanabe melanjutkan pendidikan di Tokyo. Tinggal di asrama dan berjanji memulai hidup yang baru. Namun Tokyo ternyata menjadi tempat di mana dia tidak sengaja bertemu dengan Naoko, gadis yang dulu tidak begitu dikenalnya. Pertemuan tidak sengaja itu akhirnya mendekatkan mereka, mereka sama-sama saling membutuhkan karena dengan kehadiran mereka satu sama lain maka sosok Kizuki akan selalu hidup meski mereka tidak berani membicarakan Kizuki sama sekali ketika mengobrol. Lambat laun Watanabe menyukai gadis ini.

Jauh dari kesan sedih, saya justru merinding membaca buku ini. Mungkin Norwegian Wood layak disebut cerita tentang psikologis. Haruki Murakami berhasil menceritakan proses gangguan jiwa dengan indah. Menghadirkan tokoh-tokoh yang sangat hidup dan berkesan, hingga saya menutup buku ini, sosok-sosok itu seakan nyata. Ada Nagasawa yang tidak pernah putus asa dan kekasihnya Hatsumi yang terlalu menyukai sesuatu hingga lupa bagaimana caranya realistis.

Ada pula tokoh Midori, seorang gadis ceria yang terlalu cepat dewasa yang merupakan teman sekelas Watanabe di matakuliah Sejarah Drama II. Midori menurut saya adalah satu-satunya tokoh waras di sini meskipun hal-hal yang dia lakukan menyimpang.

Tokoh berikutnya adalah Reiko, perempuan usia 40 tahun yang jago bermain piano dan digadang-gadang akan jadi pianis terkenal sampai akhirnya masa depannya kacau karena dia dianggap lesbian.

Secara keseluruhan novel 423 halaman ini sangat bagus. Saya selesaikan hanya sehari, mulai dari diksi, alur, dan tema, semuanya dikemas dengan rapi dan detail. Tidak ada bagian yang kosong, semuanya tersambung dan tertata dengan baik. Saya ingin menyelami pikiran tokoh-tokoh ciptaan Haruki, kadang saya berpikir apakah mereka ini nyata, apakah saya bisa bertemu orang seperti Naoko, Reiko, atau Watanabe.

Saya mungkin terdengar munafik, tapi kita semua berhak memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau tidak ketika kita sudah tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap apapun dan siapapun. Tapi novel ini memberikan pemahaman yang lebih dari pada ini, bahwa kematian sering kali dipilih karena ketidakberdayaan, bukan karena merasa tercukupi. Setelah tokoh Holden Caulfield di buku Catcher in the Rye karya J.D Salinger, kini saya selalu terbayang-bayang tokoh Naoko. Mereka adalah tokoh yang melawan, sebisa mungkin berusaha terlihat waras di depan orang lain, di hadapan masyarakat yang sebenarnya tidak memahami satu hal pun tentang mereka. 

Norwergian Wood adalah novel dewasa, saya lebih dulu menonton filmnya dan bukunya jauh lebih indah. Di film kita tidak bisa menerima dengan baik bagaimana proses menjadi gila terjadi, namun dengan membaca kita bisa memahaminya, meresapi bagaimana jiwa terancam hingga menyerah dan memilih mengurung semuanya sendirian. Semua rasa sepi, bingung, putus asa, takut, jiwa yang terancam.

Alur yang digunakan adalah alur mundur, penulis menggunakan lagu Norwegian Wood dari The Beatles untuk menghantar pembaca mundur ke tahun 1969, ketika Watanabe masih berusia 19 tahun, jelang 20 tahun. 

Haruki berhasil membuat tertawa dan merinding. Caranya menuturkan kisah sangat menawan, saya tertawa di beberapa bagian dan merinding di bagian lainnya. Ini adalah buku yang saya rekomendasikan untuk mengisi akhir pekan, buku ringan namun memiliki pesan-pesan khusus, terlebih jika kalian memiliki orang terdekat yang menderita gangguan jiwa. Saya tidak bisa berhenti membacanya sejak membuka halaman pertama, novel ini saya beli tahun 2016 tapi baru bisa dibaca hari ini. Ada banyak kisah tentang bunuh diri di dalamnya dan bagi saya buku ini sangat berarti.

Seperti yang disampaikan Haruki melalui sosok Nagasawan, kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Semoga kita memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan buku, tentu saja buku-buku bagus.

Wednesday, March 28, 2018

PANJANG UMUR PERJUANGAN

"Saya selalu percaya bahwa bangsa Indonesia punya dua cara untuk menjadikan Indonesia sesuai dengan yang diharapkan. Menuntut perubahan dan menciptakan perubahan. -Pandji Pragiwaksono.
Aku berharap aku bukan satu-satunya anak muda yang terpacu oleh kalimat ini. aku juga setuju bahwa ada dua jenis anak muda di dunia, mereka yang menuntut perubahan dan mereka yang menciptakan perubahan, semoga kita bagian yang kedua.
Hari ini adalah Hari Pahlawan, seperti biasa momentum seperti ini akan menjadi satu hari spesial di mana nasionalisme semua orang ditunjukkan. Walaupun aku tahu mereka hanya akan mengenangnya hari ini. Hanya hari ini, hari berikutnya mereka dilupakan, seolah Indonesia ada dengan sendirinya tanpa ada perjuangan.
Indonesia sudah merdeka, terimakasih para pahlawan, setidaknya aku lahir tanpa iringan meriam dan aroma mesiu.
Tapi lihatlah, kita hanya memiliki kemerdekaan tetapi tidak merasakannya. Merdeka berarti bebas, bebas menentukan masa depan bangsa sendiri. Dan sialnya masa depan bangsa ini memang dipertaruhkan sebebas-bebasnya oleh segelintir orang.
Jadi siapa yang saat ini merdeka ? Rakyat Indonesia atau hanya orang-orang tertentu ?
Aku juga sering merasakan, sebenarnya Indonesia ini yang mana ? Indonesia adalah pulau Jawa. Itu yang aku rasakan selama ini.
Membuatku berpikir bahwa Indonesia adalah di mana kita lahir. Aku lahir di Kalimantan Barat, Indonesia adalah Kalimantan Barat. Padahal pikiran itu salah, tapi terlanjur aku paksakan benar karena kenyataannya semua yang diputuskan di negara ini berpatokan dari kejadian yang terjadi di tanah Jawa.
Ah aku terlalu cemburu.
Keadaan ini pula yang membuatku sadar, bahwa selamanya Indonesiaku (tempatku) akan menjadi seperti ini jika aku hanya menuntut tanpa melakukan apapun.
Perjuangan belum berakhir. Kemerdekaan telah ada, tapi tidak dirasakan semua pihak. Aku selalu teringat sebuah kampung kecil di Kapuas Hulu, namanya Nanga Sungai. Sebuah tempat yang mungkin belum terpetakan di Google map. Desa itu terletak di kecamatan Banua Martinus, sekitar dua jam dari Putussibau, pusat kota Kapuas Hulu.
Nanga sungai merupakan desa yang kecil, tidak lebih dari 50 kepala keluarga tinggal di sana. Sebuah perkampungan Dayak yang tenteram tanpa kemajuan meskipun penduduknya sudah tidak tinggal di rumah betang. Sebuah desa tertinggal yang tiap rumah dikepalai oleh seorang ibu, karena kaum lelaki meninggalkan kampung untuk bekerja di tempat lain.
Tidak ada penerangan di sana, malam hari perkampungan itu sunyi senyap, hanya muncul cahaya-cahaya kecil dari celah rumah papan penduduk, hiburan setiap malam adalah mendengarkan radio. Siaran berita RRI PRO 1 merupakan siaran yang paling sering didengarkan, dalam keheningan malam suara siaran tetangga bahkan dapat terdengar jelas.
Desa ini memiliki rumah sekolah tapi hanya sampai Sekolah Dasar, jenjang berikutnya harus ditempuh di sekolah yang terletak di kecamatan, tidak jauh memang tapi kondisi sekolah di sini sangat memprihatinkan. Muridnya sedikit, dari kelas satu sampai kelas enam jumlahnya tidak lebih dari 20 siswa, dengan guru yang hanya berjumlah tiga orang.
Minat belajar anak-anak di sini tinggi, aku tahu karena aku melihatnya sendiri. Mereka sangat giat belajar tapi sayangnya media belajar mereka sangat terbatas. Sekolah ini kekurangan buku. 
Yang tersedia hanya buku paket, tidak ada buku lain. Mereka rajin ke sekolah, seragam mereka memang tidak rapi tapi mereka sangat berusaha untuk hadir ke sekolah menggunakan seragam yang lengkap. Mereka mengenakan dasi dan topi, sepatu hitam walaupun kaos kaki mereka sudah melorot. Mereka melaksanakan upacara pengibaran bendera tiap hari Senin, dengan jumlah mereka yang sedikit lagu Indoensia Raya benar-benar terdengar seperti lagu yang dinyanyikan sekelompok orang sambil berlari.
Belum genap dua tahun yang lalu aku mengunjungi desa ini. Aku sampai menangis melihat betapa tertinggalnya pembangunan di Nanga Sungai. Mobil tidak bisa masuk ke sini, sepeda motor adalah satu-satunya kendaraan mewah yang bisa kita temui di halaman rumah penduduk. Tapi jangan heran, motor-motor tersebut bernomor kendaraan Malaysia. Karena memang itu adalah motor Malaysia yang dibeli secara ilegal. Produk Malaysia bukan hal yang asing di sini.
Pekerjaan sehari-hari masyarakat di sini adalah bertani, perempuan-perempuan pergi ke ladang setiap hari, pekerjaan mereka adalah menanam padi dan mengurusi anak, sementara suami mereka bekerja di daerah lain dan mereka hanya berkumpul sesekali, biasanya para lelaki akan pulang ketika Natal. Natal adalah satu-satunya hari di mana Nanga Sungai memiliki banyak kaum lelaki.
Nanga sungai adalah wajah lain dari Indonesia, Indonesia yang luas. Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi MEA, bersaing bersama negara-negara tetangga yang sudah siap berlari. Ibaratkan sebuah tim yang mengikuti lomba lari, Indonesia merupakan tim yang memutuskan mengikuti lomba lari karena pelari depan mereka sudah cukup dilatih sementara pelari di belakang masih terluka di sana sini.
Pemerintah daerah tiap tahun menjanjikan akan menyediakan penerangan di kampung ini, tapi sepertinya mereka lupa meletakkan kembali kepala  mereka yang dia fakt terlalu tinggi ketika bicara, sehingga mereka lupa pada hal-hal yang telah keluar dari pikiran kotor mereka.
Tuntutan oleh pihak-pihak yang masih peduli pada nasib kampung ini seolah tidak didengar, mungkin dianggap tidak ada. 
Setelah menghabiskan beberapa hari di nanga sungai dan mendapat kesan bahwa tempat itu memang jauh dari kata maju aku bertanya pada kakek  mengapa mereka tidak menerima industri perkebunan kelapa sawit saja supaya penbangunan di sana dapat dilaksanakan. 
Kita bisa meminta listrik dan perbaikan jalan pada perusahaan yang akan mengubah tanah seluas 12.653 hektar menjadi lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, aku mengungkapkan kalimat itu dihadapan orang yang pernah bersumpah tidak akan menyerahkan barang sejengkal pun tanah Tamambaloh untuk perkebunan kelapa sawit. 
Sore itu tidak akan kulupakan, sebuah sore tenang di rumah betang Balimbis, aku dan kakek menikmati ubi goreng buatan bibi dan kakek menjawab ucapanku dengan kalimat pendek, "kita masih bisa hidup tanpa mengadaikan masa depan anak cucu kita, tong".
Kalimat kakek sangat membekas di hatiku sampai saat ini. Kalimat yang menyadarkanku bahwa perubahan memang perlu tapi tidak perlu jika harus mengorbankan masa depan generasi berikutnya.
Kalau begitu kapan Nanga Sungai akan berubah, kapan akan ada listrik di sana, kapan aku melihat anak-anak membaca buku tentang cerita rakyat daerah di perpustakaan sekolah ? Kapan aku melihat sebuah keluarga utuh dengan ayah dan ibu yang lengkap ? Kapan orang-orang ini bisa menyaksikan siaran televisi sepuasnya tanpa takut listrik tiba-tiba padam karena mesinnya kehabisan bensin ? Kapan orang-orang ini bisa merasakan menjadi orang Indonesia yang merdeka ?
Kapan-kapan.
Intinya, Nanga Sungai tidak akan berubah hanya karena satu anak menuliskan betapa tertinggalnya kampung itu. 
Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang melakukannya. Apa yang bisa kulakukan selain mengajar anak-anak semangat itu ketika aku datang ke sana ? Aku sadar perjuangan masih panjang. Aku berharap semesta berpihak padaku dan pada orang-orang baik lainnya yang masih peduli pada Nanga Sungai dan pada hal-hal yang terabaikan dan terlantar.
Kalimat Pandji Pragiwkasono bukan sekedar kalimat biasa bagiku. Saat ini aku hanya seorang mahasiswi hukum yang bahkan merasa salah jurusan, tapi aku dengan sangat sadar ingin menjadi orang kecil yang melakukan perubahan. Anak-anak SD di Nanga Sungai membuatku bersyukur setidaknya aku bisa bersekolah dan mengecap pendidikan yang layak serta bisa belajar tanpa batas.
Wajah mereka sangat polos ketika aku datang ke SDN 10 Nanga Sungai, tanpa malu-malu mereka memintaku mengajari mereka berbahasa Inggris, aku mengajari mereka dengan perasaan campur aduk, kadang lucu, kadang kesal, kadang kasihan, dan mereka terperangah ketika aku mengajak mereka belajar sejarah dan untuk menyemangati mereka aku menceritakan sosok gubernur pertama Kalimantan Barat yang merupakan orang Dayak. Orang yang berasal dari sebuah kampung kecil lainnya di wilayah Mendalam. Aku meminta mereka menyebutkan cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi camat, ada yang ingin menjadi guru, ada yang ingin menjadi petani yang kaya. Hahaha mereka benar-benar polos.
Ketika aku meminta mereka bertanya salah seorang mengacugkan jari dan dengan polosnya bertanya, "Kak Rani, Pontianak itu seperti apa ?" 
Tidak seorangpun di antara mereka pernah pergi ke Pontianak, lalu aku memperlihatkan beberapa foto di hpku. Ketika aku perlihatkan beberapa foto di handphone ku mereka berdecak kagum. "Waaaaw Pontianak terang ya." Ah adik-adikku, Jakarta sepuluh kali lebih terang dari Pontianak.
Aku tidak akan lupa pada mereka, pada senyum ramah ibu-ibu di Nanga Sungai, pada suara jangkrik di sore hari menjelang malam, pada suara radio RRI PRO 1, aku tidak akan lupa pada kalimat Pandji Pragiwaksono itu. Banyak hal yang harus diperjuangkan, banyak hal yang harus diperbaiki. Perubahan hanya akan terjadi jika ada yang berbuat. 

Selamat hari pahlawan. Panjang umur perjuangan.

(Tulisan saya di tahun 2015).


This entry was posted in

Ikan Tapah dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Ikan Tapah, Predator Raksasa di Perairan Kalimantan

Pandoan, anak sungai yang berada di Sungai Tamambaloh, letaknya di antara Nanga Sungai dan Paat, dua kampung yang tergabung dalam Desa Saujung Giling Manik, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Foto: Ache Salalona

Selain ikan Arwana atau ikan siluk, ikan tapah juga cukup dikenal di daerah Kapuas Hulu. Ikan jenis Wallago ini sering disebut sebagai ikan raksasa karena ukurannya yang cukup besar. Sebagai karnivora, ikan tapah sering menyerang lawannya ketika merasa terancam. Maka jangan kaget jika membaca berita di portal media daring mengenai penyerangan yang dilakukan oleh predator raksasa ini. Meski secara pribadi saya belum pernah menjadi korban atau melihat orang di sekitar saya diserang ikan tapah.

Ikan tapah tersebar di beberapa daerah, seperti Kalimantan dan daerah Sarawak, Malaysia. Namun saat ini keberadaan ikan tapah sudah semakin jarang ditemui, termasuk di Kapuas Hulu.

Kabupaten konservasi yang layak disebut laboratorium alam ini nyatanya tidak juga membuat betah ikan-ikan tapah. Namun ini tidak hanya terjadi di Kapuas Hulu dan pada ikan tapah, keberadaan ikan air tawar memang sudah selayaknya jadi perhatian bersama. Seperti yang tertulis di situs berita lingkungan, Mongabay, populasi ikan air tawar mendesak untuk dilindungi.

Seperti yang tercatat di sana, di Indonesia saat ini sebanyak 8500 spesies ikan air tawar hidup di perairan tanah air atu 26 persen dari spesies ikan dunia. Keberadaan ikan air tawar juga semestinya diperhitungkan, pemerintah Indonesia seharusnya tidak hanya konsentrasi melindungi ikan di laut.

Di tengah ramainya seruan untuk melindungi populasi ikan air tawar, ada komunitas tertentu yang justru telah melakukan upaya pelestarian melalui pengetahuan yang diwariskan oleh nenek moyang.

Ikan tapah memiliki bentuk tubuh seperti pisau dengan kumis yang menjadi ciri khasnya. Panjangnya bisa mencapai 2,4 meter. Di daerah Sarawak ikan ini memiliki legenda tersendiri. Dengan ukuran raksasa ini, mendapatkan ikan tapah merupakan sebuah rejeki, selain ukurannya yang besar, dagingnya juga gurih.

Di Kapuas Hulu ikan tapah sudah jarang dikonsumsi karena populasinya yang semakin berkurang. Namun ada satu daerah yang setiap tahun selalu didatangi ikan tapah, sebuah kampung kecil di Kecamatan Embaloh Hulu yang dikenal sebagai Nanga Sungai.

Kampung kecil yang belum teraliri listrik ini memang menyimpan keunikannya sendiri. Dibanding perkampungan lain di Kapuas Hulu, Nanga Sungai menyimpan banyak eksotisme khas pedalaman Kalimantan, hutan belantaranya masih terjaga, begitu juga biota sungainya. Aktivitas sehari-hari tanpa bantuan tenaga listrik membuat Nanga Sungai seperti dimensi lain di tengah hiruk pikuk masa ini.

Sebuah anak sungai di perbatasan Nanga Sungai dan kampung di sebelahnya, Paat bernama Pandoan menjadi tempat di mana ikan tapah datang tiga kali dalam setahun, kedatangan pertama untuk memantau keadaan atau dalam bahasa Tamambaloh disebut mabas kedatangan kedua untuk bertelur kemudian kedatangan ketiga untuk mengeluarkan telur dan melepas anak-anaknya.

Perlakuan masyarakat terhadap alam membuat kondisi air sungai baik untuk biota air tawar. Maka tidak heran, ketika daerah lain di Kapuas Hulu mulai jarang didatangi ikan tapah, Nanga Sungai justru bisa panen ikan berkumis ini setahun sekali. 

Panen ikan tapah menjadi agenda tahunan yang sudah dilakukan turun-temurun, ritual adat juga menyertai kegiatan ini, kegiatan yang hanya dilakukan di Nanga Sungai karena desa-desa lain tidak  lagi didatangi ikan tapah. 

Mamakar Tapah, Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Tamambaloh di Nanga Sungai

Masyarakat Nanga Sungai bergotong royong membuat perangkap ikan tapah
Seperti yang diterangkan Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST, mamakar tapah  merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan masyarakat Nanga Sungai. Panen ikan tapah besar-besaran ini dilakukan setahun sekali, hasilnya berlimpah, tidak hanya dikonsumsi bersama keluarga, sebagaian memilih menjualnya keluar kampung.

Mamakar tapah sendiri adalah proses memasang perangkap ketika air sungai agak surut, perangkap yang dipasang harus panjang, sekitar 3 meter. Pemasangan perangkap dilakukan sekitar dua minggu sebelum masyarakat bersama-sama mengail ikan. Penangkapan ikan biasanya dilakukan di bulan September maupun Oktober.

Proses mamakar tapah diawali dengan ritual adat, yaitu pamindara. Tetua adat akan memanggil roh leluhur, mengucapkan permisi agar mereka turut menjaga ikan-ikan tersebut sehingga pintu rezeki mereka tidak tertutup. Pamindara juga dilakukan sebagai tanda bahwa mereka tidak akan mengambil lebih dari yang dibutuhkan.
Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST mengadakan upacara pamindara sebelum kegiatan mamakar tapah dimulai.
Setelah pamindara, masyarakat bergotong royong membuat perangkap. Perangkap dibuat dari bambu, dalam proses ini pihak laki-laki yang banyak bekerja, sedangkan perempuan menyiapkan makanan. Ketika proses mengail ikan maka laki-laki maupun perempuan semuanya turun ke sungai. Karena pekerjaan dilakukan secara gotong royong maka pembagiannya juga dilakukan secara merata.

Penangkan masih menggunakan cara tradisional, dia menegaskan tidak diperbolehkan menangkap ikan menggunakan alat yang membahayakan keberlangsungan ikan-ikan di sungai, hal ini sudah diatur dalam hukum adat masyarakat Tamambaloh. Khusus di Nanga Sungai, aturan ini sangat dijaga ketat karena itulah daerah ini dikenal menghasilkan banyak ikan sejak dulu. Ini tidak terlepas dari konsep mengambil seperlunya dari alam. Pengetahuan nenek moyang yang mereka warisi juga membuat mereka tahu bulan-bulan apa saja ikan tapah mudik, aktivitas apa yang tidak boleh dilakukan mendekati masa-masa itu. Hingga kondisi lingkungan seperti apa yang nyaman untuk ikan tapah. 

"Selama kita masih perlu makan, maka lingkungan harus kita jaga karena kita hidup dari sana, tanah, hutan, air, tiga hal ini ibaratkan nadi kita," ucapnya mengingatkan mengapa tidak boleh menggunakan alat berbahaya saat menangkap ikan, hasil tangkapan saat itu memang banyak, namun semuanya akan mati, tidak ada lagi untuk hari depan. 

Begitu juga prinsip kekeluargaan dan keadilan yang masih dipegang teguh masyarakat di Nanga Sungai, dalam kegiatan mamakar tapah maupun saat menangkapnya, semua warga akan turun, biasanya tiga hari penuh warga Nanga Sungai akan melaksanakan panen ikan tapah hasilnya akan dibagi rata per kepala keluarga.

Dia menuturkan, tahun 1959 dan 1968 merupakan tahun di mana tangkapan mereka sangat besar, kala itu lebih dari 1.000 ekor ikan tapah tertangkap. Saat itu populasi ikan tapah masih jauh lebih banyak dibandingkan sekarang. Meski demikian dia optimis ikan-ikan ini tidak akan hilang dari Nanga Sungai karena mereka selalu menjaga kondisi air, mempertahankan kearifan lokal, sebuah pengetahuan tua yang diwariskan turun temurun, upaya konservasi paling sederhana yang pernah ada.

Tahun 2017, kabar warga Nanga Sungai yang memanen ikan tapah sampai disorot oleh media-media mainstream. Banyak yang heran bagaimana bisa mendapat ikan sebanyak itu. Bahkan ada yang mengira ikan ini hasil budidaya masyarakat. Padahal warga Nanga Sungai hanya menyediakan tempat alami bagi ikan-ikan yang akan menetaskan telurnya dan melepas anak-anaknya. Tidak ada penangkaran ikan di Nanga Sungai. Ikan-ikan tapah yang masih kecil dibiarkan lewat, tahun depan mereka akan datang kembali, melihat-lihat kondisi di sana, menetaskan telur dan melepaskan anak-anaknya, siklus ini terjadi setiap tahun.

Perangkap dibuat dengan ukuran panjang.
Camat Embaloh Hulu, Hermanus Susanto juga menuturkan pada saya bahwa 7 tahun yang lalu ada beberapa lokasi yang menjadi tempat masuknya ikan tapah, tidak hanya di Nanga Sungai tapi juga di desa lain seperti Ulak Paok dan Nanga Tamao. Namun seiring dengan aktivitas pertanian yang menggunakan pestisida maka populasi ikan tapah di sana jadi berkurang bahkan saat ini sudah tidak pernah dimasuki lagi.

Dia menjelaskan Nanga Sungai bertahan dimasuki Tapah tidak hanya karena memiliki liang yang besar di dasar sungainya, namun kehati-hatian masyarakat dalam melakukan aktivitas perladangan di sekitar wilayah datangnya ikan tapah sangat berpengaruh.

"Masyarakat Nanga Sungai sangat berhati-hati ketika berladang di sekitar perhuluan sungai. Mereka disiplin dalam melidungi kawasan tersebut," ujarnya.

Pengetahuan-pengetahuan nenek moyang juga bertransformasi dengan sangat baik sehingga sampai saat ini masyarakat Nanga Sungai tahu kapan ikan tersebut datang untuk kali pertama, kali kedua, hingga kapan saat yang tepat untuk menangkapnya, bahkan ukuran seperti apa yang boleh ditangkap juga ditaati. Dia berharap kearifan lokal ini tetap terjaga, bahkan dia memiliki rencana agar kearifan lokal ini dibuatkan Perdes sehingga pengelolaannya dapat lebih terorganisir.
 
Setiap tahun masyarakat Nanga Sungai memiliki kegiatan menyenangkan, menangkap ikan bersama-sama, satu kampung. Hasilnya juga sangat berlimpah, tapi mereka tidak menangkap semuanya, anak-anak ikan dibiarkan lepas, kondisi air tetap dijaga karena dengan demikian ikan-ikan akan kembali menuju liang sungai mereka yang dalam dan lapang, itu adalah penangkaran terbaik yang alam sediakan.

Bisa dibayangkan keseruannya, saat semua warga turun ke sungai, bergotong royong memanen apa yang telah mereka usahakan bersama, tidak ada lelah yang sia-sia. Dalam kebersamaan, jerih payah itu terasa sangat nikmat. Bagi mereka, alam telah menyediakan apa yang mereka butuhkan, tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menjaganya agar tetap lestari. Mereka yang sederhana dan jauh dari kata modern, mereka yang selalu bersyukur dengan apa yang telah alam sediakan. Mereka yang mengambil secukupnya, tanpa menyakiti, tanpa menghabisi.

Monday, March 26, 2018

Andai Nenek Jadi Lidah Buaya

Jadi Lidah Buaya Jenis Aloe ferox

Maret saya tahun ini benar-benar penuh dengan kesibukan. Tepat tanggal satu paman saya meninggal, hari-hari berikutnya diisi dengan kegiatan duka, pemakaman tidak menghentikan kesibukan karena masih ada proses adat yang harus dilalui. Setelah proses adat selesai, rumah menjadi sepi karena satu per satu keluarga pulang, tinggal nenek dan kakek yang masih tinggal sampai hari ke-40 nanti.


Pertengahan bulan saya berkunjung ke Aloe Vera Centre untuk melihat secara langsung proses pengolahan lidah buaya menjadi ekstrak. Di sana saya juga berkesempatan melihat-lihat perkebunan lidah buaya yang hijau menghampar.


Di sanalah saya menemukan lidah buaya jenis Aloe ferox. Berbeda denga lidah buaya jenis chinesis dan barbadensis, Aloe ferox tampak mencolok dengan pelepah-pelepah lebar yang dipenuhi duri. Pelepah itu tampak kokoh dan sangat berguna jika dijadikan alat pemukul penjahat. Pasti langsung berdarah-darah pikirku. Karena tertarik saya pun ingin tahu lebih jauh mengenai si ferox, siapa tau bisa saya budidayakan di rumah, lumayan saya  jadikan tanaman pelindung. Pelindung ayam-ayam sabung om.


Dari penjaga AVC saya mengetahui jika ferox merupakan jenis lidah buaya yang susah dibudidayakan, karena sudah lebih dari lima tahun mereka mencoba mengembangkan jenis aloe vera yang banyak tumbuh di bagian selatan Afrika ini, sepertinya perbedaan kondisi geografis menggagalkannya.


Berbeda dengan Aloe chinesis maupun Aloe barbadensisi  yang digunakan sebagai bahan makanan dan kosmetik, Aloe ferox banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan. Mulai dari pelepah hingga bunganya memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan.


Karakteristik yang melekat pada Aloe ferox seketika mengingatkan saya pada sosok nenek. Kalau nenek jadi lidah buaya dia pasti jadi Aloe ferox, duri-durinya membuat takut dan sakit jika tertusuk, sama seperti nenek kalau mengomel. Menakutkan dan membuat sakit kepala.

Nenek lahir tahun 1944, diusianya yang sekarang dia masih terbilang kuat. Dia tidak memiliki keluhan kesehatan, kecuali lututnya yang dirasanya sering ngilu beberapa bulan belakangan.  Untuk meredakan ngilu itu dia biasanya berjalan kaki setiap pagi. Entah reda atau tidak, dia mengaku kakinya tidak sakit kalau sering dibawa melangkah. 

Asupan kalsium dari Anlene pun dikuranginya, jika sebelumnya dia dan kakek rutin minum susu di pagi dan sore hari, sekarang nenek hanya minum susu sore hari. Pagi hari dia ganti dengan secangkir teh, teh yang diminumnya juga bukan teh konvensional. Dia mendapatkannya setelah membaca artikel pendek di sebuah majalah wanita tentang teh herbal, dia dapat dari mana saya pun tidak tahu. Mungkin tante yang membelinya, setelah saya baca teh itu untuk meredakan asam urat. Nenek memang lebih percaya artikel di majalah atau buku yang dibacanya ketimbang saran dokter. 

Saya berpikir nenek memiliki duri karena sering membuat takut orang yang tidak mengenalnya. Bicaranya blak-blakan. Ketika tidak suka terhadap sesuatu dia akan langsung mengungkapkannya, begitu juga ketika tidak paham maka dia akan menanyakannya tanpa malu, semua dilakukan dengan cepat dan spontan, membuat kaget lawan bicaranya.

Naluri melindunginya juga sangat tinggi, hal ini tidak hanya dilakukan pada anak-anaknya, tapi juga cucu-cucunya.  Saya sudah tidak asing mendengar cerita pdkt tante-tante saya yang gagal karena nenek terlalu galak pada gebetan mereka. Lain lagi dengan cucunya, untuk melindungi kami nenek memberlakukan jam malam. Sebelum pukul 22.00 semuanya harus sudah di rumah, tidak ada ampun jika belum berada di rumah dan dia tahu di mana kami berada, dia akan menyusul kami, bagaimana pun caranya.

Pernah nenek berjalan kaki ke kampung sebelah menjemput abang sepupu saya yang sedang ngapel, benar-benar di luar nalar. Bisa ditebak bagaimana hubungan mereka selanjutnya, abang sepupu saya putus dengan pacarnya, bukan karena pacarnya marah tapi karena nenek memarahi pacarnya. Kejadian seperti itu bukan kali pertama, kakak pernah dikejarnya karena dilarang keluar untuk malam mingguan, adik-adik sepupu saya yang masih SMA lebih tertekan, selama ada nenek di Pontianak, aktivitas malam seperti bermain futsal atau kegiatan kreatif lainnya harus dihentikan untuk sementara waktu, atau tahu sendiri akibatnya, dia akan mengomel di meja makan keesokan harinya sampai saya seakan-akan bisa melihat asap mengepul dari pantat mereka saking lamanya nenek bicara. Memang menyebalkan, begitu pun dengan saya. Akhir tahun lalu, tepatnya beberapa hari setelah Natal, pacar saya (Ben) dikiranya pencuri.

Waktu itu Ben datang sekitar pukul 19.00 WIB untuk menghantarkan beberapa buku. Saya memintanya menunggu sebentar di luar karena saya baru selesai mandi. Ben sangat suka anjing, di rumah ada lima anak anjing yang lucu, mereka adalah anak-anak moli, seekor anjing kampung campuran anjing Jepang. Sambil menunggu, dia bermain dengan anak-anak Moli. Tidak lama kemudian saya mendengar nenek berteriak panik, ada pencuri anjing di luar katanya.

Orang rumah langsung keluar rumah, saya langsung menangkap firasat buruk, dan seperti yang saya duga,  saya melihat dengan jelas bagaimana ekspresi kikuk di wajah Ben. Hari di mana Ben dikira pencuri menjadi hari di mana dia berkenalan dengan nenek dan kakek, dua orang yang mengasuh saya sejak kecil.

Nenek memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, keningnya sering berkerut ketika menyimak pembicaraan lawan bicaranya, keriput-keriput di wajah nenek yang berusia 74 tahun membuat ekspresinya sangat lucu (baca: menyebalkan). Ekspresi itu juga dipasangnya saat menonton, atau membaca.

Kebiasaan buruk lainnya adalah senang menguping. Entah ini faktor usia atau memang kebiasaannya, dia sering mencuri dengar pembicaraan kami tanpa kami ketahui sama sekali. Karena itulah nyaris tidak ada hal yang luput dari pengetahuannya, bahkan ketika kami berbohong pun dia tahu.


Kebaikan Aloe ferox

Ini Aloe ferox yang saya ceritakan



Meski memiliki banyak duri, Aloe ferox memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Jenis lidah buaya ini memang digunakan sebagai bahan obat-obatan. Sama seperti nenek, meski menyebalkan dia memiliki peranan penting dalam keluarga kami. Dia adalah obat untuk mempererat kasih sayang di antara kami, lahir di tengah keluarga besar, tantangannya juga besar, tidak jarang muncul perbedaan pendapat, dan nenek menjadi perekat.

Memiliki 8 anak dan 21 cucu serta dua cicit, nenek dan kakek tumbuh tua dengan kasih sayang dari keluarga yang tidak putus. Meski anak-anaknya tinggal terpisah, tidak ada yang satu kota, kasih sayang tidak putus karena nenek selalu menjadi penyambung kabar bagi ibu dan saudara-saudaranya. 

Ketika ada yang tidak nyaman, nenek selalu memiliki cara agar suasanan segera hangat. Di rumah rasanya asing jika tak ada nenek, tidak ada yang mengingatkan jika lalai dan enasehati ketika kami mulai menyimpang.

Seperti Aloe ferox yang berduri namun memiliki manfaat besar bagi nyawa orang lain, begitulah sosok nenek di tengah keluarga. 

Banyak orang menganggap nenek ketus, mudah marah dan cerewet, bahkan ada yang menganggapnya jahat karena caranya mengungkapkan sesuatu secara terang-terangan.

Tidak apa-apa, nenek memang Aloe ferox yang bertransformasi jadi manusia tegas seperti pelepah-pelepah ferox yang penuh duri. Jauh di dalam hatinya, nenek memiliki ruang kasih sayang yang lebih luas di banding kami semua. Kasih sayang yang mempertahankan kehangatan keluarga, kasih sayang yang tidak terbatas. Kalau sedang datang bulan dan kesakitan, nenek selalu ada. Bahkan waktu saya menangis tidak karuan gara-gara di bully di grup WA, dia menghibur meskipun tidak tahu apa-apa, dan sedikit menyebalkan karena dia mengira saya bersedih akibat tidak bisa ikut teman-teman liburan. hahaha pen ngamuk waktu itu, tapi menyadari niat baik nenek ku malah makin sedih.

Semua orang memang menilai sesuatu dari apa yang dilihat, sama seperti saya ketika pertama kali melihat Aloe ferox, lidah buaya yang saya kira hanya memiliki fungsi mengusir pencuri. Ternyata di balik duri-durinya itu, pelepahnya yang besar memiliki khasiat bagi kesehatan. Di mata orang yang tidak mengenal dekat sosok nenek, mereka mungkin mengira dia adalah seorang nenek tua yang sinis, cerewet dan suka mengomel.

Kalau teman-teman apa yang khas dari nenek? yuk bagi ceritanya di kolom komentar. Mari mengingat nenek, orang yang mengasuh kita sewaktu ibu pergi bekerja, orang yang mengomeli kita ketika kita demam akibat bermain hujan, yang membuatkan sarapan dan mengolesi bercak-bercak gatal bekas gigitan nyamuk dengan kunyit. 
This entry was posted in