Tuesday, February 27, 2018

[Review] Novel 86 Karya Okky Madasari, Melihat Korupsi dari Perspektif Perempuan


Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Cetakan Pertama: Jakarta, Maret 2011
Tebal: 256 halaman

86 adalah novel yang lahir dari keprihatinan penulis terhadap praktik-praktik korupsi di Indonesia. Ini adalah cara asik untuk melihat korupsi dari persepektif perempuan sebagai pelaku sekaligus korban 

Mengambil judul dari kode sandi polisi, 86 yang artinya dimengerti, dipahami. Okky Madasari menyajikan kisah mengenai seorang perempuan PNS di kantor pengadilan yang tertangkap tangan oleh KPK saat menghantar uang suap kepada atasannya.

Tokoh utamanya bernama Arimbi, dia berasal dari kampung dan bekerja sebagai seorang PNS di kantor pengadilan di Jakarta. Gajinya yang pas-pasan membuatnya terseret  arus. Dia yang mulanya bekerja sesuai dengan tugas dan ikhlas menerima gaji sesuai porsinya mulai merasa kurang puas. Melihat teman-temannya yang terbiasa mendapat uang tambahan dari kiri kanan, dia pun mengikutinya.

Novel ini mengajak pembaca mengamati proses terjadinya praktik korupsi, bahwa korupsi tidak bisa dilakukan oleh satu orang, selalu ada jaringan, dan praktik ini terus tumbuh karena dianggap wajar oleh banyak orang. Tidak ada rasa malu sama sekali ketika meminta jatah, mengambil hak orang lain, melakukan berbagai manipulasi agar tujuan tercapai.

Okky Madasari yang pernah menjadi wartawan di bidang hukum dan korupsi berhasil menggambarkan bagaimana pola ini terbentuk. Mulai dari pola khusus hingga yang sudah 86 di tengah masyarakat. 

Emosi teraduk seiring dengan mengalirnya kisah tentang Arimbi, gadis desa yang lugu. Merasakan pergulatan batinnya, melihatnya berproses dan menyerah, hingga dia berkeluarga dan jatuh pada kesialan lainnya.

Penggambaran di novel ini sangat detil, membuat pembaca menyadari realitas yang terjadi. Penulis bahkan mengajak pembaca mendalami praktik-praktik korupsi hingga ke dalam sel. Menuliskan bagaimana hidup para koruptor di penjara. Kebudayaan seperti apalagi yang dibangun di tempat pembinaan.

Kisah ini menguras emosi, saya sarankan teman-teman perempuan untuk membaca novel ini. Melihat korupsi dari kacamata perempuan.

Selain itu saya juga mengapresiasi usaha penulis untuk menggambarkan pemahaman masyarakat kampung yang sederhana dan agak cetek mengenai pegawai negeri. Harus diakui Okky Madasari memang piawai meramu permasalahan empiris menjadi sebuah cerita. Melempar isu-isu sosial ke dalam tulisan, tanpa dilebihkan. 

0 komentar:

Post a Comment