Saturday, February 10, 2018

[Review] Ubur-Ubur Lembur Karya Raditya Dika

Ubur-ubur Lembur, buku terbaru Raditya Dika akhirnya keluar, ada rasa haru biru yang membuncah waktu membacanya. Perubahan sangat terasa, biasanya Raditya Dika menulis tentang kesotoyannya dalam berpacaran, mulai dari Kambing Jantan sampai Koala Kumal itu banyak cerita tentang kegagalan menjalin hubungan. Di buku ini dia banyak membagikan semangat untuk berproses. 

Bab terakhir yang menjadi judul buku ini adalah bagian yang paling saya suka. Saya membaca buku ini tiga hari setelah memasukkan surat resign. 

Cerita yang ditulisnya di Ubur-ubur Lembur membuat saya merasa tidak sendirian. Karena jujur saja, pikiran ini berkali-kali muncul di benak saya. Bagaimana jika saya menyesal meninggalkan pekerjaan saya, bagaimana jika saya tidak memiliki kesempatan yang sama lagi, bagaimana jika pilihan saya justru mengantarkan saya pada kegagalan, dan banyak ketakutan lainnya. 

Buku ini membuat saya–setidaknya– merasa lebih berani. Jaman ini mayoritas buku yang dikonsumsi publik adalah buku-buku motivasi tentang life enthusiast, dan menurut saya ini adalah buku life enthusiast ala Raditya Dika.

Jadi buku ini bukan hanya novel, buku ini memotivasi pembaca untuk menjalani hidup dan pekerjaan dengan bahagia, memilih kehidupan yang memang ingin dijalani. Untuk teman-teman millennials, buku Raditya Dika lebih saya sarankan ketimbang membaca deretan buku Tere Liye, lebih berisi.

Pada suatu bagian di bab Ubur-ubur Lembur, Raditya Dika menulis kalimat ini "Gue pengen jadi pencerita, karena apa yang gue lakukan adalah bercerita dalam berbagai macam format." Kalimat ini yang saya tandai, someday I will. I will. 

Jadi, buku Ubur-ubur Lembur ini berisi 14 cerita dengan tebal 232 halaman, penerbitnya masih Gagas Media, dan buku ini memiliki ilustrasi yang berbeda di tiap cerita. 

Dari semua buku Raditya Dika, menurut saya buku ini yang paling kompleks. Suka dukanya tertuang di sini, patah hati, persahabatan, keluarga bahkan pekerjaan dikemas dalam cerita yang khas seorang Raditya Dika, lucu dan berkesan. 

Di bawah mendung yang sama dan Raja di Sekolah merupakan kisah tentang persahabatan serta keniscayaan bahwa sejauh apapun melangkah, selama apapun tidak bersua, pasti ada satu hal yang tidak berubah dari orang-orang yang pernah kita kenal. 

Kisah tentang patah hati juga tertulis di cerita berjudul Pada Sebuah Kebun Binatang. Inilah mengapa Raditya Dika selalu jadi penulis kesayangan saya, dia bisa menceritakan kisah sedih dengan jenaka. 

Suka duka menjadi seorang artis juga dituangkannya dalam cerita berjudul Percakapan Dengan Seorang Artis, dan kepopulerannya diselipkan dalam kisah Korban Tak Sampai. 

Dalam sebuah kalimat di cerita Percakapan Dengan Seorang Artis, dia menyampaikan rasa sepi yang kerap dialami para public figure, termasuk yang dialaminya. 

Kesotoyannya juga tidak tertinggal, ini bisa dibaca di cerita Mata Ketemu Mata dan Balada Minta Foto. 

Paket komplit ini dilengkapi dengan kisah haru berjudul Rumah yang Terlewat dan cerita tegang yang dialaminya saat shooting. 

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja yang sedang ingin resign dari kantor hahaha. 

Agar tak merasa sendiri. Agar selalu berusaha mengejar kehidupan yang memang ingin kita jalani. 

Kalimat penutup ini merupakan kutipan dari buku ini. Raditya Dika, terima kasih untuk karya-karya yang menemani saya dari masa ke masa. 

Dari saya masih mengenakan seragam SMA, hingga saya patah hati dan menangis sesengukan sambil membaca Koala Kumal ketika kuliah, sampai hari ini, saat sedang menjalani hari-hari terakhir sebagai seorang karyawan, saya sangat menikmati karya Raditya Dika. 

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita." – Raditya Dika. 

4 comments: