Wednesday, February 28, 2018

[Review] Film The Young Karl Marx


Mengenal sosok Karl Marx melalui film yang berkisah tentang masa mudanya.
Dua hari ini saya banyak menyisihkan waktu untuk menonton, mulai dari film The Motorcycle Diaries hingga film Che part I dan II saya selesaikan dalam satu hari, dan kemarin saya baru menonton film The Young Karl Marx, film yang berkisah tentang masa muda Karl Marx (August Diehl), seorang penulis berusia 26 tahun yang sangat kritis terhadap eksploitasi buruh yang dilakukan oleh para pemilik modal sehingga menimbulkan kesenjangan sosial yang cukup tinggi di antara kedua golongan.

Dia memiliki seorang istri yang bernama Jenny (Vicky Krieps), istrinya merupkan seorang keturunan bangsawan Prusia yang berontak terhadap aristokrat. Jenny adalah orang yang berada di belakang Karl Marx, dia selalu mendukung gagasan yang muncul di kepala Karl,dia percaya suaminya bisa mengubah dunia. Jenny merupakan perempuan cerdas dan pemberani.

Karl Marx muda yang telah beristri dan memiliki bayi perempuan sangat rajin menulis, tapi banyak orang menilainya terlalu keras dan hanya bisa berkata-kata, karena dia berani mengkritisi berbagai teori dari pemikir-pemikir besar.

Film biografi sejarah besutan Raoul Peck ini turut mengisahkan hubungan pertemanan Karl Marx dan Frederich Engles (Stefan Konarske), seorang pemikir Jerman yang juga putra dari pemilik pabrik tekstil yang mempekerjakan buruh dari berbagai usia. Di pabrik tekstil milik ayahnyalah Engles berjumpa dengan seorang pekerja pabrik Irlandia bernama Mary Burns (Hannah Steele) yang dengan berani menuntut hak-hak buruh di hadapan ayah Engles, Mary Burns kemudian menjadi istrinya.

Karl Marx dan Frederich Engles saling mendukung, selain Jenny, Engles menjadi orang lain yang pertama membaca tulisan Karl Marx tiap kali dia menulis. Engles juga membantu finansial Karl Marx ketika Karl Marx bersama istri dan anaknya harus meninggalkan Jerman karena dokumen izin tinggal yang bermasalah. Bahkan anak kedua Karl Marx lahir ketika finansialnya sedang kacau, beruntunglah dia memiliki teman anak orang kaya seperti Engles.

Menurut saya menonton film berjudul asli Der Junge Karl Marx ini merupakan cara asik untuk memahami isi manifesto komunis yang ditulis Karl Marx bersama Frederich Engles serta memahami bagaimana partai komunis lahir.

Partai komunis tercetus di London, dari sebuah kelompok yang memperjuangkan hak-hak pekerja, kelompok ini bernama the League of the Just. Karl dan Engles bergabung di kelompok ini sampai akhirnya Engles berorasi di sebuah pertemuan delgasi dari berbagai negara, dia mengutarakan konsep komunis dan lahirlah Partai Komunis. Engles merupakan perpanjangan lidah Karl Marx, jika Karl Marx berpikir dan menulis, maka Engles memperbaiki konsep serta teori dan menjelaskannya pada orang lain.

Film ini ditutup dengan manifesto komunis dan penjelasan tentang buku Das Kapital yang tidak pernah tuntas ditulis oleh Karl Marx hingga akhir hayatnya. Film sejarah yang dikemas dengan epik, sangat direkomendasikan.

Sosok istri kedua tokoh ini benar-benar melambangkan perempuan cerdas dan bijaksana, memang ya, di balik pria hebat pasti ada perempuan hebat yang mendukungnya. Meski Karl Marx terkenal keras dalam mengkritik, sisi kemanusiannya sangat tinggi, kepeduliannya pada rakyat miskinlah yang menghantarnya pada jejaknya kini.

Dunia selalu mengenangmu, Karl Marx!

Tuesday, February 27, 2018

[Review] Novel 86 Karya Okky Madasari, Melihat Korupsi dari Perspektif Perempuan


Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit : Gramedia
Cetakan Pertama: Jakarta, Maret 2011
Tebal: 256 halaman

86 adalah novel yang lahir dari keprihatinan penulis terhadap praktik-praktik korupsi di Indonesia. Ini adalah cara asik untuk melihat korupsi dari persepektif perempuan sebagai pelaku sekaligus korban 

Mengambil judul dari kode sandi polisi, 86 yang artinya dimengerti, dipahami. Okky Madasari menyajikan kisah mengenai seorang perempuan PNS di kantor pengadilan yang tertangkap tangan oleh KPK saat menghantar uang suap kepada atasannya.

Tokoh utamanya bernama Arimbi, dia berasal dari kampung dan bekerja sebagai seorang PNS di kantor pengadilan di Jakarta. Gajinya yang pas-pasan membuatnya terseret  arus. Dia yang mulanya bekerja sesuai dengan tugas dan ikhlas menerima gaji sesuai porsinya mulai merasa kurang puas. Melihat teman-temannya yang terbiasa mendapat uang tambahan dari kiri kanan, dia pun mengikutinya.

Novel ini mengajak pembaca mengamati proses terjadinya praktik korupsi, bahwa korupsi tidak bisa dilakukan oleh satu orang, selalu ada jaringan, dan praktik ini terus tumbuh karena dianggap wajar oleh banyak orang. Tidak ada rasa malu sama sekali ketika meminta jatah, mengambil hak orang lain, melakukan berbagai manipulasi agar tujuan tercapai.

Okky Madasari yang pernah menjadi wartawan di bidang hukum dan korupsi berhasil menggambarkan bagaimana pola ini terbentuk. Mulai dari pola khusus hingga yang sudah 86 di tengah masyarakat. 

Emosi teraduk seiring dengan mengalirnya kisah tentang Arimbi, gadis desa yang lugu. Merasakan pergulatan batinnya, melihatnya berproses dan menyerah, hingga dia berkeluarga dan jatuh pada kesialan lainnya.

Penggambaran di novel ini sangat detil, membuat pembaca menyadari realitas yang terjadi. Penulis bahkan mengajak pembaca mendalami praktik-praktik korupsi hingga ke dalam sel. Menuliskan bagaimana hidup para koruptor di penjara. Kebudayaan seperti apalagi yang dibangun di tempat pembinaan.

Kisah ini menguras emosi, saya sarankan teman-teman perempuan untuk membaca novel ini. Melihat korupsi dari kacamata perempuan.

Selain itu saya juga mengapresiasi usaha penulis untuk menggambarkan pemahaman masyarakat kampung yang sederhana dan agak cetek mengenai pegawai negeri. Harus diakui Okky Madasari memang piawai meramu permasalahan empiris menjadi sebuah cerita. Melempar isu-isu sosial ke dalam tulisan, tanpa dilebihkan. 

Thursday, February 22, 2018

10 Kutipan Berkesan dari Raditya Dika dalam Buku Ubur-Ubur Lembur

Ubur-Ubur Lembur adalah buku baru Raditya Dika yang terbit tahun 2018, buku ini berisi 14 cerita pendek dengan teman beragam. Dikemas apik, khas seorang Raditya Dika, lucu dan berkesan. Buku setebal 232 halaman ini dilengkapi dengan ilustrasi, masing-masing cerita memiliki ilustrasi berbeda. 

Seperti biasa, saya selalu menandai kalimat-kalimat berkesan yang saya temui di buku yang saya baca. Dan kali ini saya telah merangkum 10 kutipan berkesan Raditya Dika dalam buku Ubur-Ubur Lembur, siapa tau ada yang bisa memotivasimu.

"Ada masanya, dua orang yang berpacaran perlahan tumbuh dengan cara yang berbeda, lalu mereka jadi nggak cocok lagi."

"Cowok dan cewek memang memiliki cara yang berbeda. Nggak hanya ketika menghadapi kawan yang tengah patah hati, tetapi juga ketika mereka sendiri berurusan dengan cinta; sedang jatuh cinta ataupun patah hati. Meskipun cara mereka berbeda, keduanya ternyata punya kesamaan. Sama-sama bisa buta."

"Lalu, sama seperti perpisahan pada umumnya: awalnya susah untuk dilupakan, lama-lama hilang begitu saja."

"Entah berapa kali gue berpikir ingin kembali ke masa kecil dulu. Ketika kecil, tanggung jawab kita terbatas."

"Jangan-jangan inti dari menjadi dewasa: untuk lupa rasanya senang dengan sepenuh tenaga."

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita."

"Sakitilah hati mantan dengan cara-cara cerdas."

"Kita terobsesi pada kesuksesan seseorang tanpa tahu perjuangannya seperti apa. Seolah yang terjadi, kesuksesan orang bisa datang tiba-tiba."

"Menjadi penulis berarti kamu punya kebebasan penuh terhadap hidupmu. Kamu akan merasakan nikmatnya berkarya, menulis sebuah naskah dan melihat naskah itu di toko buku. Kamu akan tersenyum setiap kali ada pembaca yang mengirimkan twit bahwa dia sangat menyukai buku kamu, atau kamu malah menginspirasi dia untuk melakukan sesuatu dalam hidupnya yang dia selalu takut untuk lakukan."

Itu dia beberapa kalimat yang menurut saya berkesan, Raditya Dika memang punya gaya menulis yang khas, pesan yang disampaikannya pun selalu membuat pembaca senyum-senyum sendiri. 

Saturday, February 10, 2018

[Review] Ubur-Ubur Lembur Karya Raditya Dika

Ubur-ubur Lembur, buku terbaru Raditya Dika akhirnya keluar, ada rasa haru biru yang membuncah waktu membacanya. Perubahan sangat terasa, biasanya Raditya Dika menulis tentang kesotoyannya dalam berpacaran, mulai dari Kambing Jantan sampai Koala Kumal itu banyak cerita tentang kegagalan menjalin hubungan. Di buku ini dia banyak membagikan semangat untuk berproses. 

Bab terakhir yang menjadi judul buku ini adalah bagian yang paling saya suka. Saya membaca buku ini tiga hari setelah memasukkan surat resign. 

Cerita yang ditulisnya di Ubur-ubur Lembur membuat saya merasa tidak sendirian. Karena jujur saja, pikiran ini berkali-kali muncul di benak saya. Bagaimana jika saya menyesal meninggalkan pekerjaan saya, bagaimana jika saya tidak memiliki kesempatan yang sama lagi, bagaimana jika pilihan saya justru mengantarkan saya pada kegagalan, dan banyak ketakutan lainnya. 

Buku ini membuat saya–setidaknya– merasa lebih berani. Jaman ini mayoritas buku yang dikonsumsi publik adalah buku-buku motivasi tentang life enthusiast, dan menurut saya ini adalah buku life enthusiast ala Raditya Dika.

Jadi buku ini bukan hanya novel, buku ini memotivasi pembaca untuk menjalani hidup dan pekerjaan dengan bahagia, memilih kehidupan yang memang ingin dijalani. Untuk teman-teman millennials, buku Raditya Dika lebih saya sarankan ketimbang membaca deretan buku Tere Liye, lebih berisi.

Pada suatu bagian di bab Ubur-ubur Lembur, Raditya Dika menulis kalimat ini "Gue pengen jadi pencerita, karena apa yang gue lakukan adalah bercerita dalam berbagai macam format." Kalimat ini yang saya tandai, someday I will. I will. 

Jadi, buku Ubur-ubur Lembur ini berisi 14 cerita dengan tebal 232 halaman, penerbitnya masih Gagas Media, dan buku ini memiliki ilustrasi yang berbeda di tiap cerita. 

Dari semua buku Raditya Dika, menurut saya buku ini yang paling kompleks. Suka dukanya tertuang di sini, patah hati, persahabatan, keluarga bahkan pekerjaan dikemas dalam cerita yang khas seorang Raditya Dika, lucu dan berkesan. 

Di bawah mendung yang sama dan Raja di Sekolah merupakan kisah tentang persahabatan serta keniscayaan bahwa sejauh apapun melangkah, selama apapun tidak bersua, pasti ada satu hal yang tidak berubah dari orang-orang yang pernah kita kenal. 

Kisah tentang patah hati juga tertulis di cerita berjudul Pada Sebuah Kebun Binatang. Inilah mengapa Raditya Dika selalu jadi penulis kesayangan saya, dia bisa menceritakan kisah sedih dengan jenaka. 

Suka duka menjadi seorang artis juga dituangkannya dalam cerita berjudul Percakapan Dengan Seorang Artis, dan kepopulerannya diselipkan dalam kisah Korban Tak Sampai. 

Dalam sebuah kalimat di cerita Percakapan Dengan Seorang Artis, dia menyampaikan rasa sepi yang kerap dialami para public figure, termasuk yang dialaminya. 

Kesotoyannya juga tidak tertinggal, ini bisa dibaca di cerita Mata Ketemu Mata dan Balada Minta Foto. 

Paket komplit ini dilengkapi dengan kisah haru berjudul Rumah yang Terlewat dan cerita tegang yang dialaminya saat shooting. 

Buku ini saya rekomendasikan untuk siapa saja yang sedang ingin resign dari kantor hahaha. 

Agar tak merasa sendiri. Agar selalu berusaha mengejar kehidupan yang memang ingin kita jalani. 

Kalimat penutup ini merupakan kutipan dari buku ini. Raditya Dika, terima kasih untuk karya-karya yang menemani saya dari masa ke masa. 

Dari saya masih mengenakan seragam SMA, hingga saya patah hati dan menangis sesengukan sambil membaca Koala Kumal ketika kuliah, sampai hari ini, saat sedang menjalani hari-hari terakhir sebagai seorang karyawan, saya sangat menikmati karya Raditya Dika. 

"Gue percaya kalau kita hidup dari apa yang kita cintai, maka kita akan mencintai hidup kita." – Raditya Dika.