Saturday, January 27, 2018

Terima Kasih


#TulisanAkhirPekan
Catatan ke 2.

Terima kasih, semesta.
Untuk semua makna yang saya dapati, di jalanan, di ruang tunggu, di bangku warung-warung kopi, di semua tempat yang saya singgahi. Terima kasih telah membuat segalanya begitu asik dan menyenangkan. 

Sabtu lalu saya diberi kesempatan menjadi narasumber dalan workshop menulis yang diselenggarakan sebuah organisasi kepemudaan di kota tempat saya bekerja, ini sangat berkesan bagi saya karena saya bersanding dengan seorang pimred media lokal yang pengalaman menulisnya sudah mumpuni.

Dia banyak bercerita mengenai pencapaiannya, magang di beberapa media internasional di luar negeri, mendapatkan banyak teman dan uang dari menulis. Sementara saya tidak banyak berbasa-basi mengenai diri saya, karena kenyataannya saya memang tidak ada apa-apanya.

Saya banyak menjelaskan teori-teori menulis berita dan pengalaman mengolahnya, berbagi semangat agar mereka juga mulai mencoba menulis sesuai dengan kaidah menulis berita karena sesungguhnya banyak humas organisasi maupun instansi yang menulis rilis untuk media dengan asal-asalan. Mereka pun mengungkapkan kesulitannya dan saya yang pernah merasakannya pun tidak perlu waktu lama untuk memahami maksud mereka.

Hari itu saya merasa sangat penuh, energi yang saya punya seperti dua kali lipat dari biasanya. Lalu saya ingat ucapan teman terbaik yang saya punya, Bandi, bahwa semua orang akan tiba pada saat itu, saat di mana dia berkontribusi untuk orang banyak. Dan saya yang jaringan pertemanannya tidak luas ini, hari itu merasa bahagia bisa membagikan pengalaman saya yang belum ada apa-apanya itu.

Sekitar tiga hari sebelumnya saya meliput sebuah aksi unjuk rasa yang dilakukan serikat pekerja, mereka menuntut status kepegawaian di sebuah instansi tempat mereka mengabdi puluhan tahun. Liputan itu juga sangat membekas di ingatan saya, bagaimana ratusan massa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars serikat pekerja di dalam ruangan tempat mereka melakukan audiensi.

Semua yang Karl Marx katakan tentang kelas sosial nyaris sempurna.

Melompati dua peristiwa di atas, saya ingin mengenang peristiwa penangkapan 4 orang yang diduga merupakan bagian dari sindikat narkoba internasional beberapa hari yang lalu oleh BNNP Kabar. Kemarin saya meliput press release-nya dan melihat dengan jarak dekat ke-4 pelaku yang masih muda itu. Usia mereka masih 19 tahun.

Ketika orang-orang menghakimi perbuatan mereka, saya justru gelisah memikirkan alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Keputus-asaan seperti apa yang mereka rasakan pada kehidupan? Bagaimana ayah atau ibunya yang menunggu di rumah, atau masih kucing peliharaan mereka seandainya mereka punya.

Pikiran-pikiran tersebut berputar di kepala saya saat melihat mereka yang berdiri dengan tangan terborgol dan pandangan nanar menatap lantai.

Dari sekian banyak kejadian yang saya tuliskan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih pada semesta yang mengatur semua kejadian yang saya hadapi selama ini. Pekerjaan yang menyenangkan.

Terima kasih, semesta. Ada banyak nilai dan makna yang saya tangkap. Semuanya memperkaya pemahaman saya mengenai kehidupan ini.

This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment