Saturday, January 13, 2018

[Review Buku] PUTIH Wama Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional

Buku pertama yang selesai tahun 2018. 
Judul: PUTIH Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional
Penulis: L. Ayu Saraswati
Penerbit: Marjin Kiri

Kaum perempuanlah yang banyak diberitahu untuk berhati-hati agar jangan sampai hitam supaya dapat menarik laki-laki kulit putih yang berkedudukan bagus.” – Bab 2, Putih di Indonesia Kolonial (Halaman 86).

Buku 254 halaman ini sangat menarik bagi saya yang seorang perempuan dan tengah jadi serangan saran teman-teman untuk mengenakan sarung tangan atau krim pemutih jenis apa karena leher dan tangan yang belang akibat membawa motor tanpa sarung tangan dan jaket.

Secara keseluruhan buku ini adalah penelitian dari sang penulis yang merupakan dosen di University of Hawai, penelitian yang mendalam mengenai putih itu sendiri dan bagaimana sebenarnya globalisasi berpengaruh pada pemaknaan putih, termasuk pengaruh kolonial terhadap pemaknaan putih di negara kita. Buku ini diganjar sebagai pemenang penghargaan buku Gloria Anzaldua tahun 2013.

Saya merasa bahwa buku ini ditulis untuk jadi bahan diskusi atau refleksi diri, saya tidak perlu krim pemutih untuk menjadikan diri saya seperti Pevita Pearce karena saya adalah seorang gadis Dayak dan memiliki putih yang sudah seperti ini, ya begitulah akhirnya keputusan saya setelah membaca buku ini (hahaha).

Hampir di semua negara standar kecantikan seseorang adalah kulit putih, di buku ini bahkan disajikan catatan mengenai praktik-praktik pemutihan kulit yang dilakukan sejak dulu hingga masa sekarang. Putih menjadi sebuah standar yang berpengaruh pada eksistensi seseorang di kedudukan sosial, bahkan memiliki tempat khusus.

Buku yang pertama kali diterbitkan dengan judul Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia ini disajikan dalam enam bab dengan pembahasan yang berbeda, sehingga bisa dibaca acak per bab. Analis historis dan diskrusif mengenai iklan-iklan kecantikan yang terbit di majalah-majalah perempuan sejak tahun 1938 ditampilkan secara khusus di sebuah bab.

Buku ini memberi banyak pengetahuan baru dan pemaknaan mendalam, melalui konsep teoritis emotionscape yang digunakan penulis, ketika saya membaca buku ini saya jadi tahu bagaimana saya harus menyikapi emosi-emosi yang dilekatkan pada objek tertentu seperti ras saya, tempat tinggal saya, dan warna kulit saya. Begitu pula ketika melihat ada seorang teman yang mati-matian ingin jadi putih, saya akhirnya bisa maklum. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang gadis Dayak yang datang dari daerah 3T, ada banyak emosi yang dilekatkan pada saya, terlepas dari warna kulit.

Secara umum buku ini merupakan buku yang saya rekomendasikan untuk teman-teman yang sedang mencari bacaan serius untuk memberi asupan berkualitas pada diri sendiri. Buku yang cukup feminis, bagaimana menakjubkannya melihat data dan sejarah dikemas dengan cerdas dalam sebuah narasi. Saya sarankan untuk menyediakan banyak penanda karena  buku ini dipenuhi fakta penting dan data menarik di tiap halamannya.


Semua bagian di buku ini sangat berkesan bagi saya, terima kasih, Ninus D. Andarnuswari karena sudah menterjemahkan buku ini.

Daftar Tiap Bab

Bab 1: Rasa, Ras, dan Ramayana: Mengindra dan Menyensor Sejarah Warna di Jawa Prakolonial

Bab 2: Putih di Indonesia Kolonial: Dari Putih Belanda ke Putih Jepang

Bab 3:Cantik Putih Indonesia: Meruangkan Ras dan Merasialkan Kiasan Ruang

Bab 4: Putih Kosmopolitan: Efek dan Afek Iklan Pemutih Kulit dalam Majalah Perempuan Transnasional

Bab 5: Malu dan Warna Kulit: Membaca Pengakuan Perempuan Tentang Praktik Pemutih Kulit

Bab 6: Simpulan: Emosi dalam Konteks Transnasional

0 komentar:

Post a Comment