Sunday, January 14, 2018

Keterlibatan Perempuan Dalam Konser Politik Pilgub Kalbar 2018

Karolin saat meresmikan sebuah gereja di Pontianak
(Catatan Akhir Pekan 1)

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis catatan untuk presiden Jokowi yang baru terpilih, saat itu saya masih seorang mahasiswa, menakjubkan saat membacanya kembali ketika saya sudah bekerja.

Kali ini tulisan saya ditujukan untuk seorang petarung di Pilgub Kalbar, Karolin Margret Natasa. Bukan apa-apa, tulisan ini semata-mata saya buat karena saya dan dia sama-sama perempuan.
-----
2018 menjadi tahun yang asik bagi Kalimantan Barat, pasalnya Kalbar turut meramaikan tarung politik yang sedang dihelat di negeri ini. Asik karena Kalbar merupakan satu dari daerah rawan konflik seperti yang disampaikan Karo Ops Polda Kalbar, Kombes Pol Jayadi bahwa Kalbar mendapat atensi dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Namun lebih asik lagi karena pada Pilkada kali ini satu dari petarung adalah seorang perempuan.

Dia adalah Karolin Margret Natasa, tokoh yang dijagokan PDI Perjuangan. Tidak kalah menarik karena dia adalah Bupati Landak saat ini dan juga putri dari Gubernur Kalbar dua periode yang akan diganti, Cornelis.

Kak Olin, sapaan akrabnya, berpasangan dengan Suryadman Gidot, pasangan ini diusung oleh tiga parpol, yakni, PDI Perjuangan, Demokrat dan PKPI. Koalisi tiga partai ini memiliki 27 kursi di DPRD sehingga Karolin-Gidot dapat melaju.

Rabu lalu (10/1) Karolin dan pasangannya melakukan deklarasi di Rumah Radakng, deklarasi ini dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun ke-45 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Merah dan biru mendominasi jalanan Pontianak hari itu.

Ibaratkan sebuah konser, Karolin, memberikan kata sambutannya dengan lantang di hadapan para pendukungnya yang hadir menggunakan tanggui, topi khas para petani di daerah hulu.

"Saya memang perempuan, tapi jangan ragukan kejantanan saya," kira-kira begitu kalimat yang dicetuskannya, disambut sorak sorai para pendukung.

Keterlibatannya dalam pilkada ini memberi warna berbeda, merah, seperti partainya, meski diterpa isu primordial dia tetap yakin untuk melangkah.
Tidak sedikit yang mencibirnya, menganggap dia terlalu muda untuk turun bertarung, tapi tanggapan yang diberikan cukup membuktikan tekadnya. Wanita 35 tahun ini pernah menjadi anggota DPR RI dua periode sebelum menjadi Bupati Kabupaten Landak.

"Kami memang muda, tapi kami memilih untuk turun tangan. Apa yang kurang dan belum lengkap dari diri saya tentu akan dilengkapi oleh calon wakil gubernur saya," ucapnya.

Ini merupakan catatan baru bagi sejarah perpolitikan Kalbar, di mana seorang perempuan muda menjadi satu dari petarung memperebutkan kursi nomor satu di Kalbar.

Ibaratkan konser, Pilkada kali ini sangat berkesan bagi saya. Konser politik kali ini sangat menarik.




This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment