Wednesday, January 31, 2018

[Review] Buku Brave New World

Buku kedua yang selesai tahun 2018
Brave new world karya Aldous Huxley. Penulis sendiri adalah guru dari George Orwell. Kalau George Orwell dalam 1884 memiliki propaganda"Perang ialah damai. Kebebasan ialah perbudakan. Kebodohan ialah ketakutan, maka buku ini memiliki moto negara dunia, Komunitas, Identitas, Stabilitas.
Menyandingkan dua buku ini sudah dilakukan banyak orang, entah karena apa, padahal keduanya jelas berbeda.

Buku ini menghantarkan pembaca pada kekacauan sosial akibat pesatnya teknologi yang berkembang di bawah kendali segelintir orang yang menjadi penguasa dengan tujuan stabilitas. Konsumerisme adalah sesuatu yang lumrah, justru aneh kalau tidak. Kebahagiaan adalah seks dan obat-obatan.

Bernard Marx dan si Liar akan memandu perjalanan pembaca di Brave New World. Untuk yang menyukai fantasi, buku ini keren sekali. Tapi terjemahan dan gaya penulisan Aldous Huxley membuat saya harus membaca pelan. Ini karya pertamanya yang saya baca.

Setelah membaca pasti ada pesan yang ditangkap, saya merasa buku ini tidak hanya menakjubkan karena fantasinya yang gila, tapi pertentangan yang dihadirkan penulis. Buku ini sangat tajam dan bernyali menurut saya, luar biasa karena penulis mampu menghadirkan kisah kemanusiaan dengan cara yang cool tanpa banyak kalimat sabda di sana sini.

Bernard Marx adalah tokoh pemberontak yang semua sisi dirinya bahkan pikirannya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya sehingga dia dianggap aneh. Aneh dalam arti membahayakan stabilitas.

Sebagian orang menganggap buku ini adalah sebuah ramalan, menakjubkan sekali di masa itu penulis mampu memikirkan sebuah kehidupan utopia seperti yang ditulisnya di buku ini. Novel ini dibuat tahun 1931 dan terbit setahun setelahnya tapi materi di dalamnya sangat jauh melampaui jaman di masa itu. Namun meski latar belakangnya masa depan, sebenarnya isu yang diangkat tidak jauh dari keadaan industri di abad 20.

Buku ini kemudian menjadi satu dari 100 buku terbaik sepanjang masa menurut The Observer dan FYI penulisnya sendiri sampai saat ini disebut-sebut sebagai penulis dan intelektual paling masyhur pada abad ke-20.

Saturday, January 27, 2018

Terima Kasih


#TulisanAkhirPekan
Catatan ke 2.

Terima kasih, semesta.
Untuk semua makna yang saya dapati, di jalanan, di ruang tunggu, di bangku warung-warung kopi, di semua tempat yang saya singgahi. Terima kasih telah membuat segalanya begitu asik dan menyenangkan. 

Sabtu lalu saya diberi kesempatan menjadi narasumber dalan workshop menulis yang diselenggarakan sebuah organisasi kepemudaan di kota tempat saya bekerja, ini sangat berkesan bagi saya karena saya bersanding dengan seorang pimred media lokal yang pengalaman menulisnya sudah mumpuni.

Dia banyak bercerita mengenai pencapaiannya, magang di beberapa media internasional di luar negeri, mendapatkan banyak teman dan uang dari menulis. Sementara saya tidak banyak berbasa-basi mengenai diri saya, karena kenyataannya saya memang tidak ada apa-apanya.

Saya banyak menjelaskan teori-teori menulis berita dan pengalaman mengolahnya, berbagi semangat agar mereka juga mulai mencoba menulis sesuai dengan kaidah menulis berita karena sesungguhnya banyak humas organisasi maupun instansi yang menulis rilis untuk media dengan asal-asalan. Mereka pun mengungkapkan kesulitannya dan saya yang pernah merasakannya pun tidak perlu waktu lama untuk memahami maksud mereka.

Hari itu saya merasa sangat penuh, energi yang saya punya seperti dua kali lipat dari biasanya. Lalu saya ingat ucapan teman terbaik yang saya punya, Bandi, bahwa semua orang akan tiba pada saat itu, saat di mana dia berkontribusi untuk orang banyak. Dan saya yang jaringan pertemanannya tidak luas ini, hari itu merasa bahagia bisa membagikan pengalaman saya yang belum ada apa-apanya itu.

Sekitar tiga hari sebelumnya saya meliput sebuah aksi unjuk rasa yang dilakukan serikat pekerja, mereka menuntut status kepegawaian di sebuah instansi tempat mereka mengabdi puluhan tahun. Liputan itu juga sangat membekas di ingatan saya, bagaimana ratusan massa menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mars serikat pekerja di dalam ruangan tempat mereka melakukan audiensi.

Semua yang Karl Marx katakan tentang kelas sosial nyaris sempurna.

Melompati dua peristiwa di atas, saya ingin mengenang peristiwa penangkapan 4 orang yang diduga merupakan bagian dari sindikat narkoba internasional beberapa hari yang lalu oleh BNNP Kabar. Kemarin saya meliput press release-nya dan melihat dengan jarak dekat ke-4 pelaku yang masih muda itu. Usia mereka masih 19 tahun.

Ketika orang-orang menghakimi perbuatan mereka, saya justru gelisah memikirkan alasan mengapa mereka melakukan hal ini. Keputus-asaan seperti apa yang mereka rasakan pada kehidupan? Bagaimana ayah atau ibunya yang menunggu di rumah, atau masih kucing peliharaan mereka seandainya mereka punya.

Pikiran-pikiran tersebut berputar di kepala saya saat melihat mereka yang berdiri dengan tangan terborgol dan pandangan nanar menatap lantai.

Dari sekian banyak kejadian yang saya tuliskan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih pada semesta yang mengatur semua kejadian yang saya hadapi selama ini. Pekerjaan yang menyenangkan.

Terima kasih, semesta. Ada banyak nilai dan makna yang saya tangkap. Semuanya memperkaya pemahaman saya mengenai kehidupan ini.

This entry was posted in

Sunday, January 14, 2018

Keterlibatan Perempuan Dalam Konser Politik Pilgub Kalbar 2018

Karolin saat meresmikan sebuah gereja di Pontianak
(Catatan Akhir Pekan 1)

Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis catatan untuk presiden Jokowi yang baru terpilih, saat itu saya masih seorang mahasiswa, menakjubkan saat membacanya kembali ketika saya sudah bekerja.

Kali ini tulisan saya ditujukan untuk seorang petarung di Pilgub Kalbar, Karolin Margret Natasa. Bukan apa-apa, tulisan ini semata-mata saya buat karena saya dan dia sama-sama perempuan.
-----
2018 menjadi tahun yang asik bagi Kalimantan Barat, pasalnya Kalbar turut meramaikan tarung politik yang sedang dihelat di negeri ini. Asik karena Kalbar merupakan satu dari daerah rawan konflik seperti yang disampaikan Karo Ops Polda Kalbar, Kombes Pol Jayadi bahwa Kalbar mendapat atensi dari Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Namun lebih asik lagi karena pada Pilkada kali ini satu dari petarung adalah seorang perempuan.

Dia adalah Karolin Margret Natasa, tokoh yang dijagokan PDI Perjuangan. Tidak kalah menarik karena dia adalah Bupati Landak saat ini dan juga putri dari Gubernur Kalbar dua periode yang akan diganti, Cornelis.

Kak Olin, sapaan akrabnya, berpasangan dengan Suryadman Gidot, pasangan ini diusung oleh tiga parpol, yakni, PDI Perjuangan, Demokrat dan PKPI. Koalisi tiga partai ini memiliki 27 kursi di DPRD sehingga Karolin-Gidot dapat melaju.

Rabu lalu (10/1) Karolin dan pasangannya melakukan deklarasi di Rumah Radakng, deklarasi ini dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun ke-45 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Merah dan biru mendominasi jalanan Pontianak hari itu.

Ibaratkan sebuah konser, Karolin, memberikan kata sambutannya dengan lantang di hadapan para pendukungnya yang hadir menggunakan tanggui, topi khas para petani di daerah hulu.

"Saya memang perempuan, tapi jangan ragukan kejantanan saya," kira-kira begitu kalimat yang dicetuskannya, disambut sorak sorai para pendukung.

Keterlibatannya dalam pilkada ini memberi warna berbeda, merah, seperti partainya, meski diterpa isu primordial dia tetap yakin untuk melangkah.
Tidak sedikit yang mencibirnya, menganggap dia terlalu muda untuk turun bertarung, tapi tanggapan yang diberikan cukup membuktikan tekadnya. Wanita 35 tahun ini pernah menjadi anggota DPR RI dua periode sebelum menjadi Bupati Kabupaten Landak.

"Kami memang muda, tapi kami memilih untuk turun tangan. Apa yang kurang dan belum lengkap dari diri saya tentu akan dilengkapi oleh calon wakil gubernur saya," ucapnya.

Ini merupakan catatan baru bagi sejarah perpolitikan Kalbar, di mana seorang perempuan muda menjadi satu dari petarung memperebutkan kursi nomor satu di Kalbar.

Ibaratkan konser, Pilkada kali ini sangat berkesan bagi saya. Konser politik kali ini sangat menarik.




This entry was posted in

Saturday, January 13, 2018

[Review Buku] PUTIH Wama Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional

Buku pertama yang selesai tahun 2018. 
Judul: PUTIH Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional
Penulis: L. Ayu Saraswati
Penerbit: Marjin Kiri

Kaum perempuanlah yang banyak diberitahu untuk berhati-hati agar jangan sampai hitam supaya dapat menarik laki-laki kulit putih yang berkedudukan bagus.” – Bab 2, Putih di Indonesia Kolonial (Halaman 86).

Buku 254 halaman ini sangat menarik bagi saya yang seorang perempuan dan tengah jadi serangan saran teman-teman untuk mengenakan sarung tangan atau krim pemutih jenis apa karena leher dan tangan yang belang akibat membawa motor tanpa sarung tangan dan jaket.

Secara keseluruhan buku ini adalah penelitian dari sang penulis yang merupakan dosen di University of Hawai, penelitian yang mendalam mengenai putih itu sendiri dan bagaimana sebenarnya globalisasi berpengaruh pada pemaknaan putih, termasuk pengaruh kolonial terhadap pemaknaan putih di negara kita. Buku ini diganjar sebagai pemenang penghargaan buku Gloria Anzaldua tahun 2013.

Saya merasa bahwa buku ini ditulis untuk jadi bahan diskusi atau refleksi diri, saya tidak perlu krim pemutih untuk menjadikan diri saya seperti Pevita Pearce karena saya adalah seorang gadis Dayak dan memiliki putih yang sudah seperti ini, ya begitulah akhirnya keputusan saya setelah membaca buku ini (hahaha).

Hampir di semua negara standar kecantikan seseorang adalah kulit putih, di buku ini bahkan disajikan catatan mengenai praktik-praktik pemutihan kulit yang dilakukan sejak dulu hingga masa sekarang. Putih menjadi sebuah standar yang berpengaruh pada eksistensi seseorang di kedudukan sosial, bahkan memiliki tempat khusus.

Buku yang pertama kali diterbitkan dengan judul Seeing Beauty, Sensing Race in Transnational Indonesia ini disajikan dalam enam bab dengan pembahasan yang berbeda, sehingga bisa dibaca acak per bab. Analis historis dan diskrusif mengenai iklan-iklan kecantikan yang terbit di majalah-majalah perempuan sejak tahun 1938 ditampilkan secara khusus di sebuah bab.

Buku ini memberi banyak pengetahuan baru dan pemaknaan mendalam, melalui konsep teoritis emotionscape yang digunakan penulis, ketika saya membaca buku ini saya jadi tahu bagaimana saya harus menyikapi emosi-emosi yang dilekatkan pada objek tertentu seperti ras saya, tempat tinggal saya, dan warna kulit saya. Begitu pula ketika melihat ada seorang teman yang mati-matian ingin jadi putih, saya akhirnya bisa maklum. Tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang gadis Dayak yang datang dari daerah 3T, ada banyak emosi yang dilekatkan pada saya, terlepas dari warna kulit.

Secara umum buku ini merupakan buku yang saya rekomendasikan untuk teman-teman yang sedang mencari bacaan serius untuk memberi asupan berkualitas pada diri sendiri. Buku yang cukup feminis, bagaimana menakjubkannya melihat data dan sejarah dikemas dengan cerdas dalam sebuah narasi. Saya sarankan untuk menyediakan banyak penanda karena  buku ini dipenuhi fakta penting dan data menarik di tiap halamannya.


Semua bagian di buku ini sangat berkesan bagi saya, terima kasih, Ninus D. Andarnuswari karena sudah menterjemahkan buku ini.

Daftar Tiap Bab

Bab 1: Rasa, Ras, dan Ramayana: Mengindra dan Menyensor Sejarah Warna di Jawa Prakolonial

Bab 2: Putih di Indonesia Kolonial: Dari Putih Belanda ke Putih Jepang

Bab 3:Cantik Putih Indonesia: Meruangkan Ras dan Merasialkan Kiasan Ruang

Bab 4: Putih Kosmopolitan: Efek dan Afek Iklan Pemutih Kulit dalam Majalah Perempuan Transnasional

Bab 5: Malu dan Warna Kulit: Membaca Pengakuan Perempuan Tentang Praktik Pemutih Kulit

Bab 6: Simpulan: Emosi dalam Konteks Transnasional

Tuesday, January 02, 2018

Pelajaran Penting dari Kasus Pembunuhan Siswi SMK oleh Mantan Kekasihnya yang Cemburu

Image: Pinterest
Tepat di hari pertama tahun 2018 duka itu kembali datang. Seorang gadis berusia 17 tahun, VL yang merupakan siswi di sebuah SMK di Pontianak harus meregang nyawa di tangan mantan kekasihnya, Bun Jun Tjoi alias Achoi (29) yang terbakar api cemburu karena mendengar kabar dari temannya bahwa VL memiliki kekasih baru. 

Setelah kasus ini diangkat media dan menjadi perbincangan publik, banyak yang menganggap ini akibat pergaulan negatif remaja. Bahkan ada yang merasa pacaran hanya membawa dampak negatif. 

Padahal menurut saya, poin penting yang harus ditilik adalah bagaimana pendampingan kita sebagai orang dewasa terhadap mereka yang masih remaja, yang disebut kids zaman now itu. 

Dalam kasus ini, pelaku merupakan orang yang telah dewasa, yaitu 29 tahun. Tapi benarlah bahwa dewasa bukan soal angka, tapi pikiran. 

Sebagai seorang perempuan dan seorang kakak bagi adik-adik perempuan saya, peristiwa yang dialami VL ini menjadi sebuah renungan mendalam di awal tahun. Bagaimana mengedukasi adik-adik kita agar menjalani hubungan yang sehat. 

Ketika menghubungi seorang psikolog untuk meminta analisis mengenai  kasus ini, saya menghubungi Maria Nafaolla, dia menekankan peran keluarga terutama orang tua untuk menangkal peristiwa seperti ini terulang. 

menurutnya, dalam hubungan pacaran, remaja tidak boleh luput dari perhatian keluarga.  

"Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak, sehingga si anak nyaman untuk bercerita, terbuka dengan orang tuanya terutama ketika dia mendapatkan satu tindakan yang tidak nyaman entah itu kata-kata atau berupa fisik, artinya mungkin dia dilecehkan atau ada kekerasan kata-kata, ancaman, maupun kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan," ungkapnya. 

Lantas bijaksana kah jika melarang adik-adik kita berpacaran karena khawatir kasus seperti ini terjadi pada mereka?

Menurut saya tidak. Kita hanya harus lebih peduli, mengarahkan mereka, membuat mereka memahami mana yang hitam dan putih, apa yang aman dan berbahaya bagi mereka, apa perbuatan yang sehat dan buruk bagi mereka. Mereka hanya perlu bimbingan, arahan.

Bagi saya pribadi, kasus ini menjadi peringatan, sebagai orang dewasa, kebanyakan dari kita memilih menjadi polisi moral yang hanya menangkap mereka ketika mereka berbuat salah. Padahal yang mereka butuhkan adalah bimbingan dan arahan. Ketika mendapati hubungan remaja yang tidak wajar, orang dewasa sering bereaksi negatif, memberi label dan judge pada pelaku yang masih belia. Alih-alih memberi arahan, orang dewasa justru menjatuhkan mental adik-adiknya. 

Itulah sudut pandang saya dalam peristiwa ini, dan awal tahun ini saya telah diliputi resah. Haruskah kasus seperti ini terulang dan kita hanya membacanya, kemudian hanya dikenang selintas saat kasus yang sama kembali terjadi, lalu sama seperti yang sudah-sudah, kejadian ini cukup diingat, lantas mengendap di beranda portal berita online, atau di riwayat pencarian google. 

Kita tidak tau siapa lagi yang akan jadi korban. Bisa saja adik perempuan kita, atau kita sendiri. Saya ingat beberapa tahun lalu sebuah kasus kejahatan dalam berpacaran yang menimpa seorang siswi SMA Santun Untan, PW (16), dia tewas dibunuh kekasihnya yang satu sekolah dengannya karena pelaku jengkel terhadap korban yang cemburu. 

Kali ini kasus yang sama menimpa VL, gadis manis yang harusnya menjalani libur semesternya dengan riang, namun nahas dia kini menyepi dalam liang.

Entah berapa banyak lagi berita pilu yang akan kita baca, lihat, atau bahkan alami. Semoga kasus ini bisa jadi peringatan  di awal tahun. Hentikan kekerasan dalam berpacaran, hentikan tindakan apa pun yang menciderai kemanusiaan.