Sunday, October 21, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir Silit; Menanam Benih Padi, Menanam Kehidupan

Masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit sedang gotong royong menugal / Tim Rimba Terakhir

Hari sudah agak sore ketika saya dan teman-teman yang tergabung dalam tim Rimba Terakhir Silit berkunjung ke ladang seorang warga yang sedang mengadakan gotong royong menugal. Ladangnya tidak terlalu jauh dari perkampungan, bisa ditempuh dengan belasan menit berjalan kaki. Kedatangan kami disambut dengan hangat, teman-teman saya dipersilakan mengambil gambar, mengobrol dengan beberapa orang yang kami temui sedang istirahat. 

Sementara saya meminta ijin untuk ikut memasukan benih ke tanah yang telah ditugal. Meski tidak ikut sampai benih habis, saya merasa cukup puas bisa larut dalam suasana kebersamaan ini.  Setelah selesai menugal, semua warga kembali ke rumah masing-masing. Ada juga yang mampir ke rumah warga yang mengadakan gotong-royong, kami juga diminta untuk bergabung.

Di sana suasana kebersamaan terasa lebih erat. Kami duduk bersila membentuk lingkaran. Dengan cekatan mereka menyajikan makanan kecil. Makanan sederhana yang terasa spesial karena saya tahu makanan ini adalah makanan terbaik yang mereka buat untuk merayakan hari ini. Dalam tradisi masyarakat Dayak, jamuan harus selalu ada setelah gotong royong di ladang dilaksanakan. Selain sebagai bentuk terima kasih pada orang-orang yang telah membantu, ini adalah wujud syukur pada pemilik semesta yang telah memberi perlindungan.

Begitulah hari pertama kedatangan kami di Silit berlalu. Silit merupakan sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Kami datang ketika tengkawang sedang berbunga, sementara warga Silit yang merupakan Suku Dayak Seberuang sedang memasuki masa menugal di ladang. 

Kami beruntung karena bisa menyaksikan langsung proses berladang tradisonal ini, setidaknya kami jadi tahu bagaimana kearifan lokal masyarakat ketika mengolah lahan untuk berladang. Sangat arif, bertolak belakang dengan tudingan yang mudah ditemui jejaknya di portal-portal media daring bahwa peladang tradisional menyebabkan kebakaran lahan dan biang di balik bencana asap yang tiap tahun selalu terjadi di ibu kota provinsi.

Memang, belakangan seruan yang meminta masyarakat pedalaman di Kalbar untuk mengubah cara berladang semakin sering terdengar. Bahkan muncul stigma negatif terhadap peladang tradisional, stigma inilah yang selalu dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyerang mereka. Padahal, masyarakat melakukan kegiatan berladang sesuai dengan kearifan lokal yang sudah dijalankan turun temurun.

Begitulah cara berladang yang diterapkan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit. Setiap tahapan memiliki aturan yang selaras dengan kelestarian lingkungan. Ini tidak lain karena masyarakat di Silit masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Seperti yang diungkapkan menteri adat, Paulus Inka bahwa masyarakat Dayak Seberuang tidak pernah sembarangan ketika berladang. Semua proses memiliki adat aturannya sendiri. Mereka yakin, mustahil mampu mendapatkan hasil bumi yang baik jika perlakuan mereka terhadap bumi sendiri buruk.

Menteri Adat, Paulus Inka mengenakan baju batik, menjelaskan tentang proses berladang dalam komunitas adat Dayak Seberuang / Tim Rimba Terakhir

“Semua di bumi ini ada pemiliknya, ada yang punya. Termasuk tanah tempat berladang, makanya harus pamit dulu kalau mau menggunakan tanah, harus hati-hati saat mengolahnya dan tidak lupa berterima kasih setelah mendapatkan hasilnya,” tuturnya ketika kami mengobrol keesokan harinya.

Proses berladang diawali dengan ritual meminta tanah pada Puyang Gana. Ada beberapa persyaratan yang harus disediakan, seperti membawa sebatang tebu, sepotong kunyit, sebuah keladi dan sepotong besi kecil. Katanya semua persyaratan ini akan jadi hantaran untuk Puyang Gana. Keladi akan jadi tempayan dan kunyit menjadi emas. Sedangkan tebu akan jadi senapan yang menghantarkan permintaan padanya.

Mereka percaya jika mereka telah meminta ijin pada Puyang Gana, maka tanah tersebut akan diberkati. Tapi jika hari pelaksanaan ritual mereka mendapati ada ular di tanah tersebut, itu pertanda bahwa tanah tidak diijinkan. Mereka harus mencari tanah lain. Petunjuk alam seperti ini memang masih dipercaya. 

Setelah mendapatkan lahan, mereka mulai membersihkannya. Saat musim menebang tiba, mereka juga harus memberikan sebuah rancak berisi nasi pulut dan hati ayam. Sebagai bentuk ijin pada Puyang Gana agar melancarkan pekerjaan mereka. Kayu-kayu yang telah ditebang akan ditunggu sampai kering barulah dibakar. 

Membakar ladang tidak dilakukan begitu saja, mereka bergotong-royong agar api tidak melebar melebihi patok atau parit kecil yang sudah dibangun. Dengan cara seperti ini kebakaran lahan melebihi lahan ladang tidak pernah terjadi. Cara membakar seperti ini nyaris diterapkan semua suku Dayak yang pernah saya jumpai. Jadi helikopter yang tempo hari [atroli dan menyirami lahan ladang warga, sepertinya salah sasaran.

Setelah ladang selesai dibakar proses berikutnya adalah menugal. Ritual menugal kali ini merupakan ritual memberi makan Puyang Gana dan temannya, Aji Menteri. Makanan yang diberikan berupa sajian nasi biasa, nasi pulut. Dilengkapi hati, perut, kaki, serta kepala ayam, diletakkan di sebuah piring kecil. Persembahan ini merupakan bentuk permohonan agar Puyang Gana memberkati ladang mereka sehingga hasilnya banyak dan yang bekerja tetap sehat.

Tua muda saling membantu dalam gotong royong menugal yang dilaksanakan masyarakat Dayak Seberuang di Dusun Silit /  Tim Rimba Terakhir

Ritual-ritual yang menghubungkan mereka dengan alam masih terus berlanjut. Setelah menugal sekitar bulan November atau Desember dilakukan ritual nepah umah. Ritual yang dilakukan untuk membuang penyakit padi sehingga tidak mengalami gagal panen.

Sekitar bulan Februari atau Maret mereka memasuki masa panen. Saat panen tiba, sebelum pemilik ladang memanen semua padi di ladang, dia terlebih dahulu harus memanen satu pokok padi dan mengulasnya lalu mengikatnya dengan akar tengang. Nah, akar ini juga menarik karena sangat sering digunakan dalam ritual adat suku Dayak Seberuang di Silit. Contohnya untuk pernikahan adat, pasangan laki-laki dan perempuan harus mengenakan akar tengang supaya hubungan mereka kuat, seperti akar tengang.

Menurut penjelasan Paulus Inka, akar tengang adalah akar paling kuat, ini akan jadi kekuatan padi agar tidak mudah habis dan yang bekerja tidak mudah lelah. Setelah panen selesai barulah diadakan ritual nyelapat tahun. Ini adalah perayaan akhir panen yang selalu dilaksanakan meriah.

Setiap komunitas adat Dayak memiliki penamaan yang berbeda untuk pesta syukur sesudah panen. Ada yang menyebutnya naik dango, ada pula yang menyebutnya pamole’ beo’ masing-masing sub suku memiliki penamaan berbeda. Tapi di ibu kota provinsi pada bulan Mei selalu diadakan festival Gawai Dayak yang jadi momentum besar untuk menyatukan pesta syukur sesudah panen ini. Festival ini diadakan sepekan penuh.

Sedangkan di Silit kemeriahan juga memenuhi acara nyelapat tahun. Masyarakat akan membuat tuak, disimpan di temoayan lalu dihisap menggunakan suling dari bamboo beramai-ramai. Ternak-ternak akan dipotong, sebagai bentuk sukacita atas panen tahun ini. Tapi sebelumnya mereka telah mempersembahkan makanan dan minuman untuk Puyang Gana sebagai bentuk terima kasih atas berkat yang diberikan. 

Pesta seperti ini, menurut Paulus Inka tidak akan ada jika mereka tidak memiliki hutan “Kalau hutan habis, tidak ada tanah untuk berladang, tidak ada gawai,” katanya. Karena itulah dia dan masyarakat di Dusun Silit bertekad untuk mempertahankan hutan dan sungai yang mereka miliki. Ketika daerah lain di sekitar mereka sudah luluh oleh iming-iming lapangan pekerjaan dan kehidupan sejahtera dari perusahaan perkebunan kelapa sawit maupun perusahaan tambang, mereka memilih menolak kehadiran perusahaan-perusahaan itu.

“Kebutuhan kami sudah terpenuhi oleh hutan dan sungai di sini, kalau pihak luar mau menambahkan silakan tambah yang baik, bukan yang membuat buruk. Apalagi kalau sampai membuat hutan dan sungai jadi rusak,” ujarnya. 

Di akhir pembicaraan dia menyampaikan pesan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Seperti pesan-pesan yang sering disampaikan para aktivis lingkungan, Paulus Inka juga mengamini hal yang sama, bahwa bumi ini hanyalah pinjaman dari anak cucu.

“Kalau kita tidak bisa menjaga bumi, nanti anak cucu kita bagaimana hidupnya? Masa mau minum air keruh beracun kalau sudah tercemar tambang, tanah habis dipakai perusahaan sawit, tidak bisa ditanami lagi karena tanahnya jadi keras. Bagaimana?” 

Saya yakin kita semua tau apa jawabnya. Berbagai berita dan data tentang bencana ekologis akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang jadi jawaban untuk pertanyaan ini.

Friday, October 19, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir; Menyepi Sejenak ke Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Tim Rimba Terakhir

Bicara tentang pariwisata di daerah Sintang pasti dua destinasi ini langsung terlintas, Bukit Kelam dan Air Terjun Nokan Nayan. Siapa yang tidak tahu keduanya, Bukit Kelam merupakan batu alam terbesar kedua di dunia setelah Giant Rock Anyer di Australia. Sementara Air Terjun Nokan Nayan merupakan air terjun yang dikenal dengan ketinggiannya dan disebut-sebut menyerupai bentuk air terjun Niagara.


Tapi Sintang yang luas menyimpan banyak tempat menarik yang sayang untuk dilewatkan. Seperti tiga air terjun yang sempat saya dan teman-teman tim Rimba Terakhir Silit kunjungi, Air Terjun Supit, Air Terjun Kiara, dan Air Terjun Sentarum yang terletak di Dusun Silit, Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang. Ketiganya terletak di lokasi yang tidak berjauhan.

Perjalanan ke Dusun Silit sendiri merupakan perjalanan panjang. Menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraan. Siap-siap melewati jalur yang menantang dengan tanjakan dan turunan khas jalan perkampungan, serta mengorbankan komunikasi dengan dunia luar sementara waktu karena daerah ini tidak terkoneksi dengan jaringan internet. Keseruan perjalanan menuju Silit saya tuliskan di postingan sebelumnya.

Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum berjarak sekitar 5 Km dari Dusun Silit. Bersama Dang, Koordintaor Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) kami menjajal keindahan ketiga air terjun ini. Dia juga mengajak beberapa temannya untuk mengantar rombongan kami. Perjalanan ditempuh menggunakan motor, jalurnya agak berbahaya untuk orang yang tidak terbiasa melewati tanjakan dan turunan di jalan tanah dengan tikungan dan tebing yang curam.


Dang, Koordinator Pelestarian Sumber Daya Alam di Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sepanjang perjalanan kami melalui ladang-ladang penduduk, sebagian ladang ada yang sudah ditugal, yang lain masih menyisakan tanah-tanah hitam tanda baru saja melalui proses pembakaran, rumah-rumah warga yang terpencar berjauhan juga jadi pemandangan yang kami lalui. Kami tidak segan menyapa ketika melihat ada yang duduk di teras rumah. Sesekali motor harus dipacu kencang saat menempuh tanjakan, dan turun dengan hati-hati karena kendaraan kami beriringan. Harus bisa menjaga jarak dengan kendaraan di depan atau di belakang. 

Meski berada di daerah yang sama, ketiga air terjun ini memiliki panorama berbeda. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Supit dengan sungai panjang di bawahnya memiliki kisah sendiri. Sungai ini dipercaya menghubungkan Silit dengan sungai di Ketapang. Untuk kamu yang senang dengan tantangan, pasti sangat menyukai karakteristik Air Terjun Supit. 

Dang berkali-kali mengingatkan agar kami berhati-hati karena batu di Supit licin. Di Supit kami hanya duduk menikmati udara segar yang menyejukkan, sinar matahari yang tidak menyengat, deru suara air terjun, dan aroma khas hutan tropis yang berhasil menghilangkan ketegangan setelah menempuh perjalanan.

Berfoto di depan Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir

Puas beristirahat di Air Terjun Supit, kami melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Kiara. Kami berjalan sebentar, menyebrangi sungai kecil dengan air yang dingin. Tidak jauh dari sungai kecil itulah Air Terjun Kiara berada. Kiara menawarkan panorama air terjun yang langsung jatuh ke sungai yang tidak begitu dalam. Dang menjelaskan nama Kiara diambil dari pohon Kiara yang tumbuh di sekitar air terjun. Pohon kiara merupakan pohon beringin.

Sungai kecil yang dilalui di perjalanan menuju Air Terjun Kiara / Dok. pribadi

Karena di Air Terjun Supit kami tidak bermain air, begitu sampai di Air Terjun Kiara dan melihat aliran sungai kecilnya, kami tidak bisa kalem lagi. Saya dan seorang teman langsung turun dan menghampiri batu-batu besar yang terpencar. Masing-masing duduk merendam kaki, sebagian mengabadikan momen dengan berfoto, ada juga yang sibuk memasang drone untuk mendokumentasikan perjalanan ini. 


Menikmati sejuknya suasana di Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir

Hari itu deru suara air terjun jadi suara yang paling sering saya dengarkan. Setelah menghabiskan banyak waktu  di Air Terjun Kiara kami pun melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Sentarum. Di sinilah puncak perjalanan kami. Air Terjun Sentarum tampak kokoh dengan bebatuan yang besar dan rapi, layaknya batu yang dipotong. Air terjunnya memiliki dua sisi yang agak berjarak, sementara di bawah airnya agak dalam dan lumayan deras.

Air Terjun Sentarum / Dok. Pribadi

Sentarum mengingatkan saya pada sebuah danau pasang surut di Kapuas Hulu, Danau Sentarum. Saya sempat menanyakan kesamaan nama ini pada Dang, tapi saya tidak mendapatkan jawaban. Sejak pertama melihat air terjun ini, Sentarum seperti menyimpan misteri dengan tebing-tebing batunya.  Dang mengajak kami menaiki tebing, di atas tebing pemandangan jauh lebih indah. Airnya mengalir deras, jatuh ke bawah, ke sungai di mana beberapa teman sedang asik berenang. Air yang mengalir sangat jernih, bahkan seorang teman tidak ragu-ragu meminumnya ketika haus.

Kekayaan seperti inilah yang dirindukan masyarakat Labuan Bajo. Jauh dari Silit ada sebuah tempat yang mashyur dengan pariwisatanya, setiap tahun ribuan turis menyambanginya. Labuan Bajo pasti masuk dalam daftar tempat yang ingin dikunjungi para traveler dunia. Tempat ini menawarkan banyak tempat wisata lengkap dengan hotel nyaman, tapi masyarakatnya sendiri selalu kekurangan air bersih. Labuan Bajo pun dijuluki Kota Seribu Jeriken.

Silit beruntung, karena mereka memiliki air yang berlimpah, termasuk wisata air terjun ini. Saya dan teman-teman yang naik ke tebing istirahat menikmati pemandangan sambil menghayal seandainya kami bisa memiliki rumah di tepi tebing air terjun Sentarum, lengkap dengan wifi dan helikopter yang bisa mengangkut kami ke kota jika persediaan makanan habis. Khayalan ini tentu saja absurd.

“Tidak jauh dari Sentarum inilah hutan Silit berada, biasa orang mencari rotan atau meramu ke sana. Ada juga yang berburu,” Dang mulai menjelaskan kondisi hutan di sekitar Air Terjun Sentarum. Pohon-pohon di sekitar Air Terjun Sentarum memiliki daun rimbun, membuat sinar matahari terhalangi. Di bebatuan tumbuh lumut, sementara di tepiannya banyak anggrek hutan. Jadi jangan heran jika menjumpa banyak kupu-kupu aneka warna berterbangan.


Bersantai di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Kalau saja air terjun ini mudah dijangkau, mungkin pemandangannya tidak seindah ini. Ketika kami berkunjung saja kami mendapati tumpukan bekas makanan ringan dari pengujung, botol minuman plastik termasuk pembungkus rokok. Selalu sedih ketika mendapati kenyataan bahwa masih banyak orang yang tidak bertanggung jawab. Memang, seringkali orang-orang sibuk memikirkan negara tapi tidak memikirkan pembungkus makanannya sendiri. Seorang teman kemudian memungut sampah-sampah ini dan membawanya turun. 

Menurut Dang pengujung yang menyambangi Air Terjun Sentarum memang beragam, sebagian dari mereka mungkin masih memiliki pemahaman yang buruk tentang lingkungan. Apalagi jumlah pengujung semakin bertambah, tidak hanya masyarakat Silit tapi pengujung dari daerah Sintang dan Sekadau. Bahkan baru-baru ini ada turis mancanegara yang berkunjung.

“Selain untuk memperkenalkan adat istiadat, budaya, maupun potensi pariwisata di Silit, alasan kami mendirikan Komunitas Pecinta Alam dan Lingkungan Dusun Silit (Komplids) ya untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari,” tuturnya. Karena itulah mereka selalu mengimbau agar pengunjung tidak melakukan tindakan tidak bertanggung-jawab seperti ini. Komplids jadi wadah pemuda-pemudi Silit untuk memperkenalkan potensi pariwisata sambil menyuarakan pesan pelestarian lingkungan.

Pemandangan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir
Seperti yang Dang ceritakan, mereka tidak hanya memperkenalkan pariwisata, budaya serta adat istiadat di Silit, sekarang mereka juga mulai mempelajari isu-isu lingkungan. Terutama yang berhubungan dengan hutan mereka. 

“Tapi yang jadi tantangan adalah keterbatasan informasi. Karena akses menuju Silit tidak mudah, selain itu tidak ada jaringan internet. Kami sering ketinggalan berita, termasuk keterbatasan pemahaman terhadap isu yang mengancam keberadaan hutan kami,” ungkap Dang.

Apa yang Dang ungkapkan sedikit menyentil saya, pekerjaan membuat saya harus terhubung dengan dunia luar setiap hari. Jaringan internet dan informasi baru adalah napas untuk pekerjaan saya. Jadi selama ada internet saya tidak punya alasan untuk tidak bekerja, bisa menyepi ke tempat yang tidak terhubung dengan jaringan internet  seperti ini adalah sebuah nikmat yang saya syukuri. Sementara itu di hadapan saya, seorang teman yang usianya tidak terpaut jauh menginginkan kemudahan akses informasi seperti yang sedang saya hindari. 

Saya dan teman-teman mengobrolkan banyak hal bersama Dang, pemuda 20 tahun yang banyak membantu kami selama berada di Silit. Dia menyampaikan harapannya agar pemerintah setempat bisa memperhatikan infrastuktur jalan menuju Silit, terutama menuju air terjun.

“Kita di sini selalu siap menerima orang-orang yang berkunjung, karena itu kami sangat berharap pemerintah mau memperbaiki jalan menuju Silit dan air terjun. Karena kalau musim hujan jalannya agak susah dilewati,” katanya. 

Setelah puas mengobrol kami turun ke bawah, saatnya mandi. Kami menyelam sepuasnya. Teman yang tidak bisa berenang harus puas mandi di tepi sungai, mengapungkan badan sementara yang lain berenang ke bagian tengah. Lelah berenang kami pun menepi, mengeringkan rambut lalu pulang dengan kondisi basah kuyup.

Kalau kalian sedang jenuh dengan rutinitas dan keramaian, melakukan perjalanan ke air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum bisa jadi pilihan. Jika sehari saja tidak cukup, kalian bisa menginap di rumah kepala dusun. Ambil beberapa hari di sana, menyepi sambil menyatu bersama masyarakat yang masih sangat terhubung dengan alam. 

Senang rasanya bisa melihat ketiga air terjun ini. Perjalanan di Silit komplit. Setelah menempuh perjalanan panjang yang melelahkan kami mendapat sambutan hangat dari masyarakat Silit, kami diajak mengenali seni dan budaya mereka, kami juga mendengar kegelisahan mereka tentang korporasi yang mengincar hutan di Silit, dan mereka juga mengajak kami melihat air terjun yang jadi primadona di dusun ini.

Keesokan harinya kami pamit, perjalanan ke Silit sudah berakhir, kami harus pulang. Saya berjanji akan mengirim buku untuk Dang, setidaknya dia bisa mendapat informasi dari sana meski tidak sekaya infromasi dari internet. Perlahan mobil yang membawa kami semakin meninggalkan Silit, sebuah dusun di pedalaman Sintang yang masih memiliki rimba dan kaya akan air. Mereka memiliki air yang jernih, berlimpah, dan menyimpan banyak ikan yang bisa mereka ambil kapan saja. Air ini tidak hanya mengaliri sungai untuk mereka mandi dan minum, tapi juga memberikan penerangan ketika malam tiba. 

Friday, October 12, 2018

Catatan Perjalanan Rimba Terakhir; Silit, Dusun Berdaulat di Pedalaman Sintang


Air Terjun Sentarum di Silit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit


Setelah melakukan pagelaran seni di Sendi, Mojokerto, mengunjungi hutan Dayak Tomunt di Lamandau, Kalimantan Tengah, menyambangi dataran tinggi Tokalekaju di Sulawesi Selatan, dan menyapa Sikerei yang menjaga hutan di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai. Rimba Terakhir dari WALHI akhirnya tiba di Silit, sebuah dusun yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Saya menjadi bagian dari perjalanan ini, empat hari saya dan beberapa teman seniman mengeksplorasi keindahan alam dan budaya Silit. Menyepi sejenak dari rutinitas harian yang mulai membosankan jelang akhir tahun. 


Menggunakan dua mobil, rombongan kami bertolak dari Pontianak menuju Silit. Kami harus menempuh perjalanan panjang, menahan penat karena berjam-jam duduk di mobil dari Pontianak sampai Simpang Kayu Lapis, sebuah simpang yang berada di perbatasan Bumi Senentang dan Bumi Lawang Kuari. Dari simpang ini kami harus melanjutkan perjalanan menuju pusat desa Nanga Pari. Melewati jalan berkerikil dengan tanjakan dan turunan yang lumayan memacu adrenalin. Kadang harus melalui jalanan berlubang, namun karena hari sudah menjelang malam saat kami menuju pusat desa maka pemandangan tidak begitu jelas. Jalan yang rusak tidak begitu nampak.


Dari cahaya mobil yang terbatas saya bisa menyaksikan deretan kebun sawit di kiri kanan jalan yang kami lewati, tanah-tanah gersang, pemukiman warga yang belum begitu padat di tepi jalan. Malam sudah tinggi saat kami tiba di pusat desa Nanga Pari. Rumah kepala desa menjadi tujuan kami, di sanalah kami beristirahat karena perjalanan menuju Silit dilanjutkkan keesokan harinya.


Jalan menuju Silit masih berupa tanah kuning, jaraknya sekitar 3 km dari pusat desa sangat beresiko jika dilewati menggunakan mobil. Berkali-kali mobil saling tarik karena jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Kadang kami juga harus turun dan jalan kaki sampai tiba di jalan yang agak mendingan, atau mobil yang satu berhasil ditarik. Maklum, Oktober adalah musim hujan, jalan susah dilalui ketika basah. Semakin menuju daerah tujuan, jalan semakin tidak memungkinkan untuk dilalui menggunakan mobil. Akhirnya satu mobil ditinggal di depan pondok warga, sebagian dari rombongan memutuskan berjalan kaki. Lumayan melelahkan. 


Tapi semua rasa lelah jadi luruh saat kami tiba di rumah kadus yang jadi tempat tinggal kami selama berada di Silit. Tepat di depan rumah ini terbentang Sungai Silit yang jernih dan sejuk. Sungai yang langsung kami serbu begitu selesai mengobrol dengan kepala dusun yang menyambut kedatangan kami dengan ramah.  Silit merupakan wilayah yang didiami masyarakat Dayak Seberuang, bahasa yang mereka gunakan tidak jauh berbeda dengan bahasa Iban. Bahasa yang tidak begitu asing bagi saya, meski tidak lancar berbicara dengan bahasa ini, saya bisa mengerti artinya.


Silit, dusun kecil yang terletak di Desa Nanga Pari, Kecamatan Sepauk, Sintang / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

6 km dari kampung ini terdapat hutan yang dijaga turun temurun oleh masyarakat Silit. Dari hutan inilah mereka mendapatkan tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk untuk berburu dan meramu. Sejak dulu sudah ada kawasan tertentu yang hanya dapat diambil kayunya, yaitu di kawasan Tinting Ban dan Tinting Jenang.


Selain wilayah tersebut tidak diperbolehkan mengambil kayu. Kayu yang diambil juga tidak untuk diperjual-belikan, tapi lebih pada penggunaan pribadi seperti memenuhi kebutuhan untuk membuat rumah atau peti mati. Searah dengan kawasan rimba Silit, terdapat tiga air terjun yang sering dijadikan objek wisata oleh masyarakat sekitar, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum.


Jelang sore hari kami menyempatkan diri untuk berkunjung ke ladang salah satu warga. Kebetulan hari itu sedang dilaksanakan gotong royong untuk menugal. Saya bahkan berkesempatan untuk ikut memasukkan benih padi bersama warga. Berada di tengah masyarakat seperti ini selalu menyenangkan, kutipan dari Pram “Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.” terasa nyata adanya. Tua dan muda bekerja sama dengan sukacita, gelak tawa mengiringi proses menugal hingga selesai.

Silit Mandiri, Silit Berdaulat

Masyarakat di Silit melakukan gotong royong menugal di ladang salah satu warga. / Dok. Tim Rimba Terakhir

Sebelum pulang, kami diajak singgah ke rumah warga. Di sana kami disuguhi makanan khas yang hampir ditemui di semua komunitas Dayak, pulut atau lemang. Tidak hanya itu kami juga sempat menikmati olahan daging yang dimasak menggunakan penyedap rasa alami. Ternyata di Silit masyarakat jarang menggunakan micin ketika memasak.

Mereka lebih memilih menggunakan penyedap alami dari daun tumbuhan sengkubak. Selain tanpa bahan kimia, daun sengkubak juga bisa didapatkan dengan cuma-cuma tanpa harus membeli. Sebuah kemewahan yang semakin jarang ditemui. Sore itu, di depan rumah warga kami melepas penat. Menyantap makanan kecil yang mereka suguhkan sambil menikmati suara serangga yang riang menyambut malam.

Ketika malam tiba listrik pun menyala. Saya kira perjalanan kali ini akan memberikan pengalaman menghabiskan malam di bawah temaram pelita. Ternyata saya salah, Silit yang terpencil nyatanya bisa mengupayakan penerangan di malam hari. Menarik karena penerangan ini menggunakan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) yang bersumber dari Sungai Silit. Berdasarkan obrolan dengan Kepala Dusun, Pak Inus. Masyarakat membangun PLTMH secara swadaya, tanpa campur tangan pemerintah. PLTMH tersebut menyinari 63 rumah yang ada di Dusun Silit.


Dengan sumber informasi dan dana yang terbatas, masyarakat jelas melalui banyak tantangan. Pembangunan PLTMH melalui proses panjang. Tahun 2010 perencanaan telah dibuat, semangat yang diusung adalah semangat gotong royong dan kemandirian. Tahun 2011 pengerjaan mulai dilaksanakan, teknisi asal Bandung membantu mayarakat Silit untuk menyelesaikan misi ini.


Berbagai kendala sempat dialami, tahun 2012 pengerjaan sempat terhenti, tapi tahun berikutnya lanjut lagi. Bendungan sudah selesai dibuat tapi turbin tetap tidak berfungsi. Tahun 2015 masyarakat Silit membangun kemitraan dengan CU (Credit Union) untuk membeli alat seharga 669 juta. Pak Inus menuturkan masing-masing kepala keluarga mengambil kredit sebesar 14 juta. Dari kredit itu terkumpul dana 553 juta rupiah, sisanya kembali digenapi dengan swadaya.


Masyarakat Silit menunjukkan bahwa mereka mampu mandiri dan berdaulat di atas tanah mereka sendiri. Malam itu, di Silit, di sebuah dusun kecil yang jauh dari ingar bingar kendaraan, tanpa jaringan internet dan jauh dari kesan kemajuan jaman. Saya justru melihat betapa pikiran orang-orang ini lebih maju, menembus keterbatasan yang membelenggu mereka.

Sayup-sayup lagu Power To The People dari John Lennon yang tempo hari saya dengarkan sepulang kerja menari-nari di kepala saya. “Say you want a revolution, we better get on right away. Well you get on your feet, and out on the street. Singing power to the people.. power to the people.”

Mendengar Ruding, Mendengar Pantun dari Silit

Anak-anak menyeberangi Sungai Silit menuju ke sekolah. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Seperti daerah dataran tinggi umumnya, udara pagi di Silit sangat dingin. Kami menyeruput kopi sambil menikmati suasana pagi. Beberapa anak terlihat menyeberang sungai menuju sekolah, yang lainnya melewati depan rumah dengan senyum malu-malu. Sekolah di sini hanya tersedia sampai tingkat SD. Kalau ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya berarti harus ke pusat desa. Jam belajar dimulai pukul 08.00 WIB, sebelum masuk kelas anak-anak boleh bermain di lingkungan sekolah. Termasuk di tepi sungai karena sekolah mereka tidak jauh dari sungai.


Hari itu kami melakukan eksplorasi seni dan budaya melalui alat musik tradisional di Silit. Kami berkesempatan menyaksikan permainan ruding yang dibawakan oleh Nek Mina. Ruding adalah alat musik tradisional di Silit. Terbuat dari bambu dan dimainkan dengan ditiup sambil menarik senar yang terbuat dari tali.


Dulu alat musik ini sering dimainkan ketika orang-orang sedang dalam perjalanan menuju ke ladang, atau dimainkan di malam hari sambil menunggu kantuk datang. Tapi seiring berlalunya waktu, suara ruding semakin jarang terdengar. Bahkan di Silit sudah sedikit orang yang bisa memainkan alat musik ini. Beruntung kami bertemu Nek Mina, dia tidak hanya mengajari kami memainkan ruding, tapi juga menghadiahi alat musik ini untuk beberapa teman saya.

Nek Mina memainkan ruding, alat musik tradisional dari Silit yang sudah jarang dimainkan. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Selain ruding, kami juga berkesempatan mengenal instrument musik daerah di Silit. Tidak jauh berbeda dengan komunitas Dayak pada umumnya, di Silit gong juga digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi tari-tarian. Tapi irama yang dihasilkan ternyata tidak hanya bisa dihasilkan dari gong, dengan menggunakan bambu kita juga bisa menghasilkan suara yang sama. Beberapa perempuan datang dengan bambu yang baru diambil dari hutan.

Tiga orang perempuan menabung bambu yang menghasilkan suara layaknya gong. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit
Lalu dengan cekatan mereka memotong bambu-bambu dengan berbagai ukuran tersebut, membuat lubang pada sisinya. Setelah dirasa pas, tangan mereka dengan cepat memukul gong tersebut secara bergantian, teratur dan tenang hingga terbentuklah sebuah irama. Siang itu sangat syahdu, di bawah pohon tengkawang yang mulai berbunga di samping rumah kadus, melalui bambu yang ditabuh oleh kelompok musik perempuan, kami menikmati irama musik etnik yang unik dari Silit.


Tidak cukup sampai di situ, saat malam tiba kami kembali dihibur dengan sastra lisan yang berkembang di Silit. Yaitu bemain, ini adalah sastra lisan yang berbentuk pantun. Permainannya sederhana saja, seseorang akan bertanya sambil berpantun, pertanyaannya bebas, sesuai dengan apa yang ingin diketahui penanya. pertanyaan ini kemudian harus dijawab kembali menggunakan pantun. Tapi jawaban harus berkaitan dengan bait pertama dan kedua dari pantun pertanyaan. Pantun dilantunkan dengan nada khas dan bahasa daerah.


Suasana sangat ramai, apalagi di penghujung malam menteri adat, Paulus Inka melantunkan pantun 30. Konon pantun ini merupakan senjata pamungkas untuk memikat pujaan hati. Pantun tersebut dilantunkan dengan lantang di antara derai tawa para pendengar. Ditemani bercangkir-cangkir kopi dan minuman khas Silit, suasana terasa hangat. Sesekali teman saya memetik senar gitar untuk membuat suasana semakin hidup. Gelak tawa semakin keras mengiringi malam yang sepi di dusun Silit. Memang, bahagia sesederhana itu. 

Mengunjungi Air Terjun Supit, Kiara, dan Sentarum

Perjalanan menuju air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum / Dok. pribadi.
 Hari ketiga merupakan puncak dari perjalanan kami di Silit, hari itu kami diajak mengunjungi objek wisata air terjun yang berjarak sekitar 5 km dari Silit. Ada tiga air terjun di sini, yaitu air terjun Supit, Kiara, dan Sentarum. Ketiganya merupakan objek wisata yang sudah tidak asing bagi orang-orang di Sintang. Dengan letak yang tidak berjauhan, ketiga air terjun ini bisa dijangkau dengan perjalanan satu arah. Perjalanan bisa ditempuh menggunakan motor. Untuk saya yang jarang melakukan perjalanan seperti ini, kondisi jalan menuju air terjun cukup membuat khawatir. Berkali-kali saya memejamkan mata ketika kami melewati jalan terjal yang berada tepat di tepi tebing. 


Setelah mendekati objek wisata, motor harus diparkir di tempat yang telah tersedia. Kami harus berjalan kaki sebentar untuk sampai di air terjun Supit. Melewati beberapa tanjakan yang lumayan membuat napas saya ngos-ngosan. Silit adalah wilayah dataran tinggi tropis, kondisi jalannya memang banyak tanjakan dan turunan. Di kiri-kanan jalan terdapat banyak tanaman hias liar khas hutan tropis. Saya sering berhenti untuk mengamati tanaman liar yang memiliki daun atau bunga menarik. 

Air Terjun Supit / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit. 

Sampai di air terjun Supit rasa lelah langsung hilang melihat panorama yang ditawarkan. Air terjun Supit memiliki tebing yang curam yang membuat sungai di bawahnya terlihat seperti lorong kecil. Konon jika seseorang terseret arus sungai itu maka akan tembus ke sebuah sungai di daerah Ketapang. Untuk orang yang senang dengan tantangan, menjajaki air terjun Supit dan menapaki bebatuan di sekitarnya pasti sangat menyenangkan. Karena takut ketinggian saya hanya menikmati pemandangan dari tepi tebing. Itu juga dengan kaki yang kadang gemetar karena takut terpeleset.


Setelah puas menikmati air terjun Supit kami melanjutkan perjalanan ke air terjun Kiara. Dalam bahasa Silit Kiara berarti pohon beringin. Nama ini digunakan untuk penamaan air terjun karena di sekitar air terjun terdapat pohon Kiara. Di banding Supit, air terjun Kiara jauh lebih bersahabat bagi saya. Tanpa rasa takut saya langsung mencuci muka di airnya yang jernih dan sejuk, teman-teman melakukan hal yang sama.

Air Terjun Kiara / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit.

Kiara memiliki bebatuan besar yang terpencar-pencar, tapi tidak begitu luas sehingga spot untuk mengambil foto terbatas. Kami beristirahat beberapa saat di sana, menikmati udara segar yang bebas polusi. Suara air terjun yang jatuh membuat suara harus dikeraskan ketika bicara. Saya menghirup napas dalam-dalam, aroma hutan di air terjun Kiara pasti akan selalu saya rindukan.


Perjalanan kami pun dilanjutkan karena sebelum tengah hari kami harus sudah sampai di air terjun Sentarum. Dengan langkah kaki yang tergesa-gesa karena semangat, saya berjalan mengikuti rombongan. Jarak Sentarum tidak begitu jauh dari Kiara. Begitu sampai di air terjun ini kami langsung berhamburan, masing-masing mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Batu di Sentarum seperti sengaja dihamparkan, seakan-akan memang diperuntukkan bagi orang-orang untuk bersantai sambil menikmati pemandangan air terjun.

Bersantai di atas tebing Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Sungai Sentarum juga luas, tapi arusnya deras. Harus waspada kalau tidak bisa berenang. Airnya sangat segar, berendam di sini menjadi sebuah kemewahan tersendiri. Sentarum dengan batu-batunya yang kokoh menyimpan banyak pertanyaan di kepala saya. Bagaimana panorama ini terbentuk, batu-batu kokoh yang menyambut kedatangan kami. Mandi saja tidak cukup, kami juga mencoba untuk naik ke puncak tebing. Ternyata pemandangan di sini jauh lebih indah. Melihat langsung air-air ini meloncat ke bawah. Tapi tetap waspada karena ada bagian batuan yang ditutupi lumut sehingga jadi licin.

Tim Rimba Terakhir Silit berfoto di depan Air Terjun Sentarum / Dok. Tim Rimba Terakhir

Menyelamatkan Sungai dan Hutan Silit, Menyelamatkan Kehidupan di Silit


Silit dan hutannya yang masih terjaga / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Saya dan beberapa teman memilih istirahat berlama-lama di atas tebing. Berbaring di atas batu, di bawah teduhnya pepohonan dari rimba silit. Berdasarkan obrolan dengan kepala dusun dan menteri adat, pak Inus dan Paulus Inka, masyarakat Silit memang sepakat untuk menjaga hutan yang mereka miliki. Di masa orde baru ketika Soeharto berkuasa, hutan di Silit pernah dijajal perusahaan kayu lapis. Tapi sejak illegal logging diberantas, perusahaan itu pun lenyap.


Puluhan tahun setelah itu incaran dari perusahaan lain datang. Menurut penuturan pak Kadus belakangan banyak perusahaan kelapa sawit yang mencoba masuk ke wilayah Silit. Tidak hanya itu, perusahaan tambang juga jadi ancaman bagi Sungai Silit. Sungai ini memiliki kandungan emas yang tinggi, sangat seksi bagi korporasi. Tapi masyarakat tidak mau menyerahkan hutan dan sungai yang mereka miliki karena menurut kepala dusun di sanalah semua kebutuhan terpenuhi.


Ketika mereka membutuhkan air dan ikan, Sungai Silit menyediakan air jernih dan ikan segar. Ikan semah merupakan jenis ikan yang banyak ditemui di perairan Silit. Air Sungai Silit tidak hanya jadi tempat untuk minum dan mandi, tapi mampu memberikan pencahayaan bagi puluhan rumah yang ada di dusun kecil ini. Keanekaragaman hayati di Sungai Silit juga tetap terjaga karena di sini ada larangan untuk mengambil ikan dengan tuba.

Hutan jadi tempat di mana semua kebutuhan pangan maupun papan tersedia, dan semuanya bisa didapatkan secara gratis. Tanpa perlu membayar, tanpa harus dikuasai oleh satu golongan. Hutan juga jadi rumah bagi satwa yang memiliki hubungan dekat dengan masyarakat Silit. Terutama suara burung, dalam hal-hal tertentu masyarakat Silit masih mempertimbangkan tanda dari alam ketika hendak melakukan sesuatu. Suara burung dipercaya sebagai peringatan untuk nasib baik atau sebaliknya.


“Sudah sering kampung kami didatangi orang perusahaan, tapi kami selalu menolak. Selama saya jadi kepala dusun saya akan melawan habis-habisan untuk menolak semua jenis perusahaan yang masuk ke sini. Baik itu perusahaan sawit maupun tambang,” ujar kepala dusun Silit waktu kami mengobrol tentang hal ini. Sebuah pernyataan keras yang cukup jelas. Pernyataan yang tidak jauh berbeda dengan pernyataan menteri adat, Paulus Inka.


“Kalau hutan habis, nasib kami bagaimana. Sementara kami sampai saat ini masih bergantung pada hutan. Keperluan sehari-hari kami masih didapatkan di hutan. Ambil rotan, daging, dari sana. Kalau perusahaan datang, habis sudah,” tuturnya.


Mereka berharap semangat untuk mempertahankan hutan dan kekayaan alam yang ada di Silit bisa didukung oleh semua pihak. Tidak hanya masyarakat Silit tapi juga para pemerintah dan para penggiat konservasi. Menyelamatkan hutan Silit sama dengan menyelamatkan kehidupan masyarakat di Silit. 

Gawai Ngemaik Anak ke Sungai, Perkenalan Pertama Bayi dengan Alam


Gawai ngemaik anak ke sungai, perkenalan pertama bayi dengan alam. / Dok. Tim Rimba Terakhir Silit

Ketika matahari sudah semakin tinggi kami memutuskan untuk kembali ke perkampungan. Saya ingin secepatnya tiba di rumah karena kedinginan. Sepanjang perjalanan pulang saya tidak khawatir panas matahari akan membakar kulit karena suasana tetap sejuk, pohon-pohon tropis membentuk kanopi, menghalau sengatan sinar matahari.


Sesampainya di rumah kami beristirahat sebentar, kepala saya pusing karena telinga saya kemasukan air. Saya memutuskan untuk tidur siang sementara teman-teman yang lain mengikuti gawai ngemaik anak ke sungai, sebuah ritual pemberian nama bayi yang dilaksanakan oleh kepala dusun untuk anak bungsunya yang baru lahir dua bulan lalu.


Masyarakat di Silit yakin alam dan manusia memiliki hubungan yang sangat erat. Karena itu alam harus mengenali bayi-bayi yang baru lahir. Seperti yang dijelaskan menteri adat, Paulus Inka, gawai ngemaik anak ke sungai bertujuan untuk mengenalkan sang anak dengan alam sekitarnya. Sungai merupakan lingkungan yang sering didatangi sang anak kelak karena di sanalah dia mandi. Karena itu gana sungai (penunggu sungai) harus mengenalinya. 


Ritual ini berlaku untuk semua anak yang lahir di Silit. Sebelum anak berusia lebih dari setahun mereka harus sudah dikenalkan pada alam. Ritual ini dimulai dengan mantra yang dibaca oleh pemimpin ritual. Anak kemudian dibawa turun ke sungai beserta sesajian sebagai persembahan pada puyang gana dan gana sungai, serta buah kelapa yang sudah bertunas yang jadi simbol pelampung bagi sang anak.


Layaknya upacara pembaptisan, kepala sang anak akan diusap dengan air dari sungai. Setelah mantra diucapkan anak bisa dibawa pulang ke rumah, sementara kelapa bertunas yang tadinya digunakan sebagai pelampung harus ditanam oleh orang yang telah ditunjuk. Kelapa ini tidak boleh ditebang kecuali oleh anak itu sendiri. 


Kelapa ibaratkan pelampung yang membantu anak mengapung ketika sang anak berada di sungai. Kelapa juga jadi simbol pengharapan agar kehidupan sang anak kelak lurus ibaratkan pohon kelapa, tidak menghadapi banyak persimpangan. Harapan baik ini tidak hanya diberikan pada sang anak, tapi juga pada orang yang menanam kelapa tadi. Begitulah kedekatan masyarakat Silit dengan alam. Mereka sudah menjadi satu kesatuan kosmos.


Ritual pemberian nama itu menjadi acara sakral terakhir yang sempat kami saksikan di Silit. Meski tengkawang sudah mulai berbunga, ritual ngalu antu buah (acara adat untuk menyambut musim buah raya setiap tahunnya) belum juga dilaksanakan. Keesokan harinya rasa haru memenuhi dada kami saat kami pamit pulang setelah menghabiskan tiga hari di dusun ini. Meski berat rasanya untuk berpisah, tapi kami akhirnya saling melepas pelukan. Sebelum matahari meninggi kami sudah beranjak meninggalkan Dusun Silit. 


Bagi saya pribadi perjalanan ini ibaratkan perjalanan spiritual. Perjumpaan saya dengan masyarakat Silit yang sederhana dan mandiri menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Singkat tapi membekas. Ketika negara cenderung mengukur kemajuan peradaban dengan bangunan yang bertingkat, orang-orang ini justru sangat maju pikirannya melampaui orang-orang yang memiliki deretan gelar akademik.


Mereka tidak memiliki gedung pencakar langit, rumah yang mereka tinggali juga cukup sederhana, pendidikan formal juga tidak tinggi. Tapi mereka sangat mandiri. Saat negara tidak bisa memberi mereka penerangan, mereka membuat PLTMH sendiri. Saat korporasi datang melirik hutan dan sungai di dusun ini, mereka dengan keras menolak. Di Silit yang bagi sebagian orang merupakan perkampungan tertinggal, saya justru melihat masyarakatnya memiliki pikiran yang lebih maju.


Ketika orang-orang berpendidikan yang berpihak pada korporasi datang dan berusaha mengambil sumberdaya komunal yang mereka miliki dan sudah lestarikan turun temurun, orang-orang Silit yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan tinggi dengan lantang menyuarakan bahwa mereka menolak berbagai upaya penguasaan hutan maupun sungai oleh satu golongan. Orang-orang Silit, mereka adalah orang-orang yang berdaulat, rakyat yang berdiri kokoh dengan semangat kolektif dan kemandiriannya. 



Tuesday, September 18, 2018

Sabung Patana; Proses Pencarian Kebenaran dengan Cara Tradisional dalam Komunitas Adat Tamambaloh


Sabungpatana, hakim terakhir yang dipercaya suku Tamambaloh ketika menyelesaikan sengketa dengan cara tradisional/ National Geographic Indonesia


Lelah menyaksikan perang tagar jelang pemilihan presiden tahun depan, mari kita berkunjung ke Kapuas Hulu. Melihat kearifan lokal masyarakat adat Tamambaloh yang disebut sabung patana. Sebuah cara tradisional untuk mengetahui kebenaran melalui adu ayam.

Mungkin terdengar aneh karena biasanya adu ayam hanya jadi hiburan atau agenda berjudi, oleh para aktivis pencinta hewan jadi bahan kritikan. Tapi masyarakat Tamambaloh percaya sabungpatana bisa jadi penunjuk kebenaran ketika manusia sudah tidak bisa membuktikan kebenaran tersebut. 

Seperti yang dijelaskan oleh Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang ST bahwa sabung patana merupakan proses penyelesaian konflik dengan cara tradisional karena konflik tersebut tidak bisa diselesaikan secara hukum negara akibat tidak adanya bukti. Misalnya kasus saling tuduh mencuri tanpa ada saksi atau bukti, atau kasus memperebutkan tanah warisan yang tidak ada surat wasiatnya.

Ketika manusia tidak mampu membuktikan kebenaran, orang Tamambaloh percaya roh-roh baik akan membantu. Inilah yang dimaksud kosmologi sebagai etika semesta dalam komunitas adat Tamambaloh, kosmologi yang mengatur cara-cara manusia berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun dengan lingkungan alam. Sabung patana merupakan hasil kerja nyata roh-roh leluhur dan sampulo padari dalam menunjukkan kebenaran melalui menangnya ayam jago yang disabung. 

Sampulo padari sendiri merupakan pencipta dan penguasa semesta dalam kepercayaan tradisional orang-orang Tamambaloh sebelum misionaris dari Belanda masuk ke komunitas ini pada abad ke-19. Komunitas adat Tamambaloh memelihara tradisi-tradisi yang berkaitan erat dengan konsep yang memandang bahwa alam dihuni oleh roh-roh, sehingga melahirkan aturan, nilai-nilai, dan moralitas yang baik. 

Cara ini sudah dipercaya sejak turun temurun, sudah terbukti dan tidak terbantahkan. Karena itulah masih diakui dan dilaksanakan hingga saat ini. Tahun lalu saya berkesempatan menyaksikan langsung proses pencarian kebenaran dengan cara tradisional ini.

Sabung patana diadakan di desa Ukit-Ukit, kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu karena kasus pencurian emas dan uang salah seorang warga, muncul banyak spekulasi siapa yang mencuri hingga ada dua orang yang dicurigai, tapi keduanya ngotot tidak mau mengaku hingga sabung patana dipilih sebagai proses pembuktian.

Setelah lebih dari 40 tahun tidak pernah diadakan sabung patana, tahun 2017 desa Ukit-Ukit kembali melaksanakannya. Saya masih ingat bagaimana suasana yang sangat ramai waktu itu. Saya yang baru saja menyelesaikan pendidikan hukum sangat antusias menyaksikannya. Bahkan saya nekat masuk ke arena adu ayam. Tidak banyak perempuan yang diperbolehkan masuk arena, kecuali keluarga pihak bersengketa. Saya sempat diminta keluar tapi kakek meminta saya tetap masuk (ternyata ada gunanya juga jadi cucu tamanggung, wkwk peace kakek). 

Arena sabungpatana kasus pencurian di desa Ukit-Ukit tahun 2017. Arena dijaga oleh para pengurus adat dan pihak kepolisian yang membantu agar proses sabungpatana berjalan aman/ Dokumen Pribadi.

Dari jarak yang sangat dekat saya menyaksikan proses sabung patana. Meski arena dipadati banyak kepala, tapi ketika pemanggil roh mulai membaca mantranya semua orang hening. Hanya ada suara pemanggil roh membacakan mantra dengan bahasa Tamambaloh kuno dan suara kokok sepasang ayam yang sebentar lagi akan diadu. 

Masing-masing pihak yang akan berlawanan membawa perlengkapan adu ayam. Jika adu ayam biasa hanya perlu membawa ayam beserta tajinya, beda halnya dengan sabung patana. Layaknya ritual adat pada umumnya, ada proses yang dijalani, ada syarat yang harus dilengkapi.

Suasana di luar arena, pihak keliarga tertuduh sedang memanggil roh keluarga agar turut membantu/ Dokumen Pribadi.

Pihak yang berlawanan harus menyediakan dolang berisi sesajian untuk pangalongang (pemanggil roh-roh leluhur). Dolang berisi uang taruhan, ikat tangan (panjarati), pulut delapan potong, satu buah kalame, satu kepal nasi dan harus dibawa oleh orang yang sudah ditunjuk sebelumnya, bisa keluarga atau orang kepercayaan masing-masing pihak.

Sabung patana paling cepat diadakan sekitar pukul 9 atau 10.00 siang, sebelum matahari terbenam harus sudah dilaksanakan. Aturannya cukup sederhana, ayam siapa yang lari dari arena dan melewati garis yang dibuat maka dinyatakan kalah. Meski ayam adu mati jika dia tidak keluar dari arena sementara ayam satunya masih bernyawa tapi dia lari meninggalkan arena maka ayam yang keluar tetap dinyatakan kalah. 

Suasana dalam arena. Pihak bersengketa menunggu di dalam arena, didampingi keluarga./ Dokumen Pribadi.

Tidak ada aturan harus menggunakan ayam adu yang seperti apa, karena orang tamambaloh percaya begitu selesai memanggil roh leluhur maka yang beradu bukan lagi ayam, tapi roh yang telah dipanggil. Orang yang bertugas memanggil roh leluhur juga bukan sembarangan orang, mereka haruslah berasal dari keturunan pemanggil roh yang sudah ditunjuk oleh para pemangku adat untuk menjalankan ritual ini. Begitulah syarat-syarat untuk melaksanakan sabungpatana.

Begitu semua pihak memasuki arena, pemanggil roh akan membacakan mantra, semua roh yang dipercaya orang Tamambaloh sebagai penguasa semesta dipanggil. Dimintai campur tangannya untuk menunjukkan kebenaran. Suasana agak berbeda. Meski di kiri kanan saya dikelilingi ponsel pintar dari masyarakat yang penasaran ingin mengabadikan momen langka ini, suasana tradisional tetap terasa. Ada dimensi lain yang entah mengapa membuat saya tidak nyaman. Saya terlalu gengsi untuk mengakui bahwa saya merinding waktu itu, padahal di sana ramai, cuaca cerah, arena sabung persis di samping rumah korban pencurian. Tempat ini telah disepakati bersama sebelumnya. 

Saat itu adu ayam tidak membutuhkan waktu lama, tidak sampai tujuh menit sudah ada ayam yang meninggalkan arena. Ayam tersebut merupakan ayam dari pihak yang dituduh sebagai pelaku. Saya sempat meragukan proses ini, tapi tidak lama setelah diketahui ayam siapa yang menang, pihak tertuduh mengakui bahwa dia memang mencuri perhiasan dan uang tersebut. Suasana jadi gaduh, tapi tidak ada keributan karena para pemangku adat dengan sigap memberi pengumuman bahwa penentuan hukuman untuk pelaku akan dilakukan sesuai dengan hukum adat Tamambaloh dan dilaksanakan di balai adat.


Untuk orang-orang yang skeptis hal seperti ini pasti tidak memuaskan rasa ingin tahu kalian. Terlepas benar atau tidaknya roh leluhur masih terhubung dengan dunia fana, saya menghormati kearifan lokal masyarakat Tamambaloh. Menurut pak Pius Onyang ST, dulu selain sabungpatana ada juga alternatif lain untuk membuktikan kebenaran. Yaitu dengan cara selam air atau mencelupkan tangan ke air panas.  Tapi kedua cara ini terlalu beresiko karena pernah terjadi insiden yang memakan nyawa para pihak bersengketa.

Ketika orang-orang memelihara hewan untuk hiburan, sumber uang, atau untuk konsumsi, ada orang-orang yang akhirnya menemukan kebenaran melalui ayam piaraannya. Ketika manusia tidak bisa membuktikan kebenaran, harapan digantungkan di kaki ayam. Aneh, tapi begitulah kosmos bekerja. Sebuah pengalaman berkesan yang sangat sayang jika tidak saya bagikan di sini. Karena sebagai seorang Tamambaloh dan sarjana hukum, ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala saya ketika menyaksikan sabung patana. 

Saturday, August 25, 2018

If You Can Dream It, You Can Do It



Tulisan ini untuk teman-teman yang sedang memperjuangkan impiannya, meski orang lain menganggap impian itu remeh, sepele, tidak penting, bahkan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. 

If you can dream it, you can do it.

Kalimat dari Walt Disney ini yang menyelamatkanku dari keputus-asaan. Hahaha. Serius, dulu aku penuhi sampul buku catatan semasa SMA-ku dengan kutipan ini. Karena aku yakin, kalau aku bisa memimpikan sesuatu aku pasti bisa meraihnya. 

Mari kita mulai dengan cita-cita di masa kecil.

Sejak kecil aku ingin jadi wartawan. Dari sekian banyak profesi yang aku kenali saat itu, wartawan adalah yang paling aku inginkan. Walaupun sebenarnya waktu SD aku sempat berpikiran untuk jadi pelukis. Oke, maksa banget. Aku bahkan tidak bisa menggambar sampai sekarang. 

FYI, aku menghabiskan masa kecil di sebuah tempat terpencil. Di sebuah kabupaten yang merupakan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Tempat di mana impian teman-teman seusiaku sangat konvensional. Ingin jadi dokter, pramugari, pilot, guru, bekerja di bank, jadi perawat, bidan. Profesi yang tidak membuatku tertarik sama sekali. 

Aku tumbuh dengan ingatan masa kecil yang menyenangkan. Dengan impian suatu hari aku bisa mengobrol langsung dengan presiden, menanyakan semua yang ingin aku tanyakan padanya. Dulu tidak terpikirkan bahwa di masa depan, sebuah twit di Twitter saja sudah bisa membuat kita berinteraksi dengan presiden hahaha.

Begitulah hari-hari berlalu. Waktu sekolah aku mengurusi Mading. Satu-satunya penyesalan tumbuh di daerah 3T adalah ketika menyadari betapa sedikitnya informasi yang aku terima di banding kawan-kawan di daerah maju. Kalau teman-teman mungkin di masa SMA sudah ikut lomba karya tulis ilmiah atau bahkan magang di media-media lokal. Aku boro-boro. Makanya ketika aku meninggalkan tempatku dan bertemu peradaban, aku harus belajar banyak hal. Mengejar ketertinggalanku. heheu.

Setelah aku menyelesaikan kuliah hukum aku berencana melanjutkan pendidikan. Aku bahkan sampai menghabiskan beberapa bulan untuk belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris, Kediri. Tapi pertengahan tahun aku berubah pikiran. Sekembalinya dari Kampung Inggris aku mengirim lamaran ke sebuah media lokal di tempatku. Aku diterima setelah melewati beberapa tahapan tes. Itu adalah tahapan tes yang membuatku takut.

Benaran, aku takut dengan tes psikologis karena aku seorang diskalkulia. Soal-soal hitungan membuatku merasa benar-benar tidak berguna di hadapan kertas. Jadi waktu menunggu hasil psikotes, aku sangat khawatir. Aku sangat tidak percaya diri kalau bicara tentang ini. Tapi untunglah aku lulus dan akhirnya aku menjadi wartawan.

Media tempatku bekerja merupakan anak perusahaan sebuah media yang memproduksi beberapa majalah favoritku, seperti Bobo dan KaWanku. Bapak adalah orang yang paling senang, karena ketika teman-temannya sibuk melobi kenalan agar anaknya diterima bekerja, dia justru menunggu dan melihat anaknya menentukan masa depannya. Waktu aku selesai sidang skripsi dan pengujiku bertanya aku mau menjadi apa di masa depan, dengan yakin aku jawab bahwa aku ingin jadi wartawan. Meski aku tau, banyak yang meragukannya hahaha karena dulu sebelum ke Kampung Inggris aku sangat pemalu, bahkan pemilih ketika bicara :’)

Hari pertama ke kantor aku benar-benar kacau. Aku bangun kesiangan, aku tidak keramas, aku bahkan tidak memakai lipstick. Aku datang ke kantor pertamaku dengan tidak percaya diri :’)

Masih jelas terbayang bagaimana mulasnya perutku karena grogi. Tidak ada yang aku kenal di sana, karena jujur saja selama kuliah aku tidak  gabung di organisasi manapun, berbeda dengan beberapa teman yang gabung di Lembaga Pers Mahasiswa. Aku justru memulai semua kebiasaan menulisku di blog. Aku menulis otodidak di blog ini. Waktu wawancara tahap pertama, blog ini juga jadi salah satu portofolioku. 

Tapi seperti kata Walt Disney, if you can dream it you can do it. Aku akhirnya bekerja dengan profesi masa kecilku. Jadi wartawan untuk sebuah media lokal. Aku merasakan bagaimana menjadi seorang pewarta berita, bertemu banyak orang baru, mengobrol, melempar pertanyaan meski lidahku kadang kelu dan seolah ada kupu-kupu menari di perutku. Untuk orang sepemalu aku, ini tidak pernah mudah.

Walaupun belum sempat wawancara presiden hahaha karena aku memilih resign setelah menyadari bahwa jadi wartawan tidak cukup hanya bisa menulis. Jadi wartawan harus bisa berkomunikasi dengan sabar. Ya sabar, sebuah sifat yang hanya ada sedikit di diriku. Setelah tidak jadi wartawan aku masih tetap menulis. Sekarang aku jadi content writer di sebuah perusahaan yang membuatku semakin yakin, bahwa aku akan survive dengan menulis. 

Meski jenis pekerjaan ini masih sangat asing di lingkunganku, meski beberapa keluarga masih membanding-bandingkan penghasilanku dengan sepupu-sepupu yang lain karena mereka tidak yakin seseorang bisa hidup dari menulis. 

Tapi syukur, aku punya orangtua yang mendukung semua keputusanku. Waktu aku dinyatakan diterima sebagai wartawan, bapak mengirim pesan yang isinya panjang banget. Mengucapkan selamat karena anak bungsunya yang cengeng ini akhirnya mendapat apa yang diinginkannya. Padahal aku tahu dia kecewa karena aku tidak jadi melanjutkan pendidikan. Waktu aku resign juga bapak dan mama mendukungku.

“Kalau capek, nda apa-apa istirahat dulu,” dari jaman kuliah sampai kerja, kalimat ini yang selalu mama ucapkan tiap kali aku mengeluh, bahkan menyerah.

Aku menulis ini karena aku ingin berbagi semangat untuk siapa saja yang impiannya dianggap tidak penting dan dianggap tidak layak untuk diperjuangkan. Tentu saja pengalamanku ini belum apa-apa, atau tidak ada apa-apanya dibanding pengalaman kalian. Tapi seperti yang aku katakan di awal, mari berbagi semangat.

Waktu aku jadi wartawan, beberapa anggota keluarga menganggap ini pilihan yang keliru. Bahkan ada yang bilang, ngapain kamu capek-capek kuliah hukum, belajar bahasa Inggris, kalau cuma jadi wartawan. Masih sedikit orang-orang yang menganggap wartawan sebagai profesi. Padahal jadi wartawan sangat menyenangkan, kamu bisa bertemu siapa saja. Mulai dari orang-orang menginspirasi sampai pembunuh, mulai dari pemulung sampai pejabat.

Kamu bisa memasuki gedung-gedung yang selama ini tidak tersentuh olehmu, berhadapan langsung dengan pembuat kebijakan, dan mendapatkan jawaban atas semua rasa ingin tahumu. Kamu tidak perlu ke kantor setiap hari, kamu bebas mengenakan pakaian apa saja dan kamu tidak pernah membenci hari Senin karena pekerjaan ini sangat menyenangkan.

Dan yang paling nikmat adalah ketika berita yang kamu tulis ternyata membantu nyawa seseorang. Aku bakal share cerita tentang seorang bapak yang mendatangi kantor karena berita tentang ASI eksklusif yang aku tulis. Sebuah kejadian yang membuatku lebih menghargai kehidupan :’)

Baiklah, teman-temanku. Selamat memperjuangkan kehidupan yang kalian inginkan ya. Meski dianggap remeh, sepele, atau tidak layak, kalau kalian bisa memimpikannya maka kalian bisa melakukannya. Selamat memelihara impian-impian masa kecil, selamat memperjuangkan pilihan hidup. Seperti kata seorang teman, jadilah apa saja yang kalian inginkan, yang penting sehat dan tidak jahat.

Jadi, apa impian masa kecil yang sedang kamu perjuangkan atau jalani saat ini? bagi ceritamu di kolom komentar ya. Mari saling menyemangati :)


Foto: Bonnie Kitle

Friday, August 17, 2018

[Review Film] Menyelami Romantisme Sepasang Anarkis dalam Film Anarchist from Colony


Film yang membuat bulu kuduk merinding, bukan karena sadisme yang ditampilkan. Tapi keberanian sepasang anarkis melawan penindasan dan pemerintahan yang otoriter ketika Jepang menjajah Korea.

Seperti janji saya di postingan sebelumnya untuk mengulas film sejarah dari Korea Selatan, kali ini saya akan menulis film Anarchist from Colony. Sebuah film yang harus ditonton oleh para anarkis, karena film ini merupakan film tentang aktivis gerakan anarkis asal Korea Selatan, Park Yeol dan kekasihnya, anarkis pemberontak asal Jepang, Kaneko Fumiko yang menentang penindasan Jepang terhadap Korea.

Aktor yang memerankan tokoh Park Yeol adalah Lee Je- Hoon. Dia ini memang aktor besar negeri ginseng, aktingnya tidak diragukan lagi. Film yang dirilis tahun 2017 ini menjadi film yang banyak dibicarakan oleh teman-teman penikmat film biografi. Sedangkan Kaneko Fumiko diperankan oleh Choi- Hee- Seo. 

Anarchist from Colony menceritakan perjalanan sepasang anarkis untuk melakukan revolusi. Meski porsinya lebih banyak menceritakan Park Yeol karena film ini memang didedikasikan untuk mengenangnya, tapi Kaneko Fumiko tidak bisa dikesampingkan. Makanya saya lebih senang menyebut Anarchist from Colony sebagai drama biografi.

Park Yeol adalah pemuda penuh semangat yang membenci penindasan dan keotoriteran. Dia lahir di Mungyeong, Provinsi Gyongsang, Korea pada 3 Februari 1902. Dia melanjutkan sekolah  menengah di Seoul. Tapi dikeluarkan karena terlibat sebuah gerakan. Dia lalu pergi ke Tokyo dan melanjutkan sekolah di sana. Di Tokyolah dia bertemu teman-teman yang memiliki tujuan sama dengannya. Mereka lalu membentuk kelompok anarkis yang dinamai Futeisha, Fumiko Kaneko merupakan perempuan Jepang yang tergabung di dalamnya. 

Usia Park Yeol masih 22 tahun saat dia ditangkap dan dipaksa untuk mengakui sebuah kejahatan yang tidak dilakukannya. Dia dan teman-temannya ditangkap, tapi akhirnya teman-temannya yang lain bebas. Hingga dia yang tersisa, namun Fumiko tidak mau meninggalkannya dan memaksa untuk ikut dipenjara. Mereka berdua menyusun strategi perlawanan dari balik jeruji, saling berkirim surat dan tetap mempertahankan kewarasan dengan menulis. Meski itu semua dilakukan secara diam-diam.




Film ini berhasil membuat saya envy, saya terkesima dengan cinta Fumiko yang besar pada kekasihnya. Mereka benar-benar memiliki pikiran yang merdeka, rasa kemanusiaan yang tinggi dan perjuangan tanpa takut. 

Bahkan saat sidang dilaksanakan, mereka berdua sama sekali tidak gentar. Park Yeol merupakan pemuda yang cerdas, mungkin teman-teman harus belajar dari sosoknya hehe. Pokoknya tipikal cowok pintar yang membuat meleleh. Dia juga senang menulis, puisinya yang berjudul Anjing Liar adalah puisi yang banyak dibaca pemuda-pemuda Korea. Bahkan Kaneko Fumiko mengenalnya lewat puisi ini. Sidang mereka diliput media asing, bahkan setelah dijatuhi hukuman penjara sosok Park Yeol tetap jadi panutan banyak mahasiswa karena keberaniannya.

Meski akhirnya dia dan kekasihnya harus berpisah karena Kaneko Fumiko meninggal duluan, film ini tetap menggemaskan karena berhasil menampilkan kesetia-kawanan dan cinta yang tulus. Bahkan dalam keadaan sulit. Tidak ada adegan romantis sama sekali sepanjang film, tapi sikap mereka yang saling melindungi membuat iri.

Film ini sangat saya rekomendasikan untuk teman-teman anarkis atau yang sedang ingin tahu tentang gerakan anarkis. Selain belajar sejarah Korea Selatan kita juga bisa mengambil pesan-pesan kemanusiaan dari film ini. Sebagai orang yang mengutuk paham feodal, emosi saya tercampur aduk. Penuh haru juga karena persaudaraan para aktivis selama Park Yeol dipenjara tetap kuat, perlawanan dilakukan dari balik penjara.

Adegan yang paling saya suka adalah ketika Park Yeol menyanyikan lagu The Internationale. Rasa geram dan haru bercampur, menggebu-gebu. Terkutuklah orang-orang bermental feodal di seluruh dunia, entah apapun bentuknya. Tegaklah kemanusiaan, keadilan dan kebahagian bagi semua orang.


Image: Google