Friday, June 22, 2018

Membentuk Pustaka, Berbagi Kesenangan dengan Meminjamkan Buku


Selalu ada rasa senang tiap kali seseorang mengembalikan buku karena pembicaraan jadi lebih panjang dari biasanya.

Tahun ini saya mulai memberanikan diri untuk melepas buku-buku saya, saya pinjamkan pada orang lain. Saya dan pacar membuat akun Instagram khusus untuk pinjam meminjam buku di area Pontianak namanya @bukuselanjutnya buku-buku kami diunggah di sini, kalau ada yang ingin meminjam bisa langsung menghubungi kontak yang tercantum.

Tidak ada syarat khusus untuk meminjam buku di sini, kami meminjamkan dengan sukarela. Dengan niat tulus untuk berbagi kesenangan membaca. Tujuannya tentu saja untuk berbagi kebahagiaan dan menambah jejaring pertemanan. Sementara ini yang meminjam kebanyakan adalah teman-teman dekat kami, tapi ada juga beberapa teman baru, dan ada calon-calon peminjam yang terpaksa tidak kami pinjami buku karena yang bersangkutan tidak sopan ketika ingin meminjam.

Berbagi kesenangan dengan cara ini dianggap tindakan bodoh oleh sebagian orang. Apalagi Gus Dur pernah mengucapkan kalimat yang bunyinya "Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya dan hanya orang gila yang mau mengembalikan buku yang sudah dia pinjam." Dulu saya juga setuju dengan kalimat ini, buku-buku saya jarang saya pinjamkan pada orang lain, kalau saya berani meminjamkan itu karena saya tahu orangnya pasti bisa menjaga buku saya, atau karena saya juga meminjam buku darinya. 

Semakin bertambahnya usia, semakin banyak saya membaca buku dan bertemu orang, semakin sering diskusi dan kontemplasi akhirnya saya sampai pada titik ini. Buku-buku saya boleh dipinjam siapa saja. Untuk kalian yang memiliki kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, kalian pasti mengerti bagaimana sulitnya melepas keterikatan kita dengan buku, rasa memiliki yang teramat dalam sampai kita takut kehilangan. Apalagi buku-buku yang didapat dengan susah payah. 

Tapi sekarang rasa memiliki yang berlebihan seperti itu sudah saya tinggalkan. Saya selalu ingin bermanfaat bagi orang lain, kalau dengan buku-buku yang saya punya seseorang bisa merasa bahagia maka saya tidak keberatan untuk berbagi bacaan. Lagipula semesta bekerja dengan cara yang adil. Ketika kita berbuat baik maka kebaikan pasti terjadi juga pada kita, selalu ada balasan.

Saya tidak merasa bodoh ketika meminjamkan buku-buku saya pada orang lain karena saya tahu saya baru saja membuat orang lain bahagia tiap kali saya menyerahkan buku tersebut. Saya tidak merasa bodoh karena saya mungkin baru saja membantu seseorang mendapat pengalaman baru dalam hidupnya setelah membaca buku yang dia pinjam dari saya. Mungkin saja buku yang saya pinjamkan mengubah hidup seseorang, atau menyelamatkannya dari keputus-asaan. 

Saya yakin buku-buku yang dibaca lebih berarti ketimbang buku-buku yang disimpan rapi di rak buku. Kalau saya sudah membaca buku kemudian menyimpan buku tersebut dengan rapi, menjadikannya koleksian pribadi, itu sama saja saya menghilangkan nilai buku tersebut padahal di luar sana seseorang sedang kebingungan mencari buku tersebut atau berusaha keras menyisihkan gajinya yang tidak seberapa untuk membeli buku yang saya simpan rapi di rak buku dan sesekali dikeluarkan untuk dibersihkan dan difoto lalu dipamerkan di media sosial. Betapa egoisnya saya.

Apalagi saya termasuk orang yang sering misuh-misuh karena rendahnya tingat membaca dan menulis di lingkungan saya, tanpa sedikit pun saya peduli keadaan mereka yang mungkin tidak punya kemampuan untuk membeli buku yang ingin mereka baca. Kalau kamu memiliki banyak buku lantas marah-marah karena rendahnya tingkat literasi masyarakat tapi tidak berbuat apa-apa, sebenarnya kamu tidak layak marah-marah. Yang harus kita lakukan adalah berbagi buku yang kita punya, biarkan mereka meminjam dan membacanya.

Bukankah berbagi adalah hal yang menyenangkan? meski kecil dan sederhana seperti berbagi bacaan. Dulu saya sering marah-marah pada pacar saya kalau buku saya dipinjamkannya pada orang lain, sekarang sudah enggak dong. Kami berdua senang sekali kalau ada nomor baru menghubungi dan ingin meminjam buku, itu artinya kami akan membuat orang lain senang dan teman kami jadi bertambah. 

Seperti kata Tan Malaka, selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi. Dan bagi kami selama ada orang yang mau saling pinjam-meminjamkan buku, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, tidak hanya bertukar buku tapi juga berdiskusi dan membuat gerakan bersama.

Jadi kawan-kawan yang mau pinjam-pinjaman buku, yuk kita saling tukar pinjam. Jangan biarkan buku-buku yang kita beli memenuhi rak buku tanpa dibaca. Jangan sampai kita kesal pada kondisi literasi di sekitar kita tapi kita tidak berbuat apa-apa. Satu buku yang kita pinjamkan pada seseorang bisa saja mengubah kehidupannya atau menyelamatakannya dari kebingungan, bahkan kesepian. 
This entry was posted in

Saturday, June 02, 2018

[Review] Melihat Kritik Terhadap Lembaga Pendidikan Formal Melalui Buku Sekolah itu Candu Karya Roem Topatimasang


Candu Karya Roem Topatimasang
Judul: Sekolah itu Candu
Penulis: Roem Topatimasang
Tebal: 178 halaman
Penerbit: Insist Press

 “…Sekolah kini menjadi milik dan alat dari satu kekuatan yang –atas nama dan dengan label-label ‘demi pembangunan, industralisasi, modernisasi, globalisasi’—bukan Cuma mengajarkan bagaimana caranya merampok habis sumberdaya kebendaan komunal yang dimiliki dan sudah berabad dilestarikan oleh para wong cilik setempat: hutan dan tanah ulayat, hasil bumi, dan sebagainya; tetapi juga mengajarkan bagaimana caranya menjarah sumberdaya kerohanian priadi maupun kolektif dari orang-orang ugahari itu…”

9/30.

Setelah membaca buku ini bisa dipastikan banyak yang mengutuk diri sendiri karena menyadari bahwa sekolah di negeri ini sudah sangat bertolak belakang dengan makna sekolah itu sendiri.
Buku Sekolah itu Candu bisa dikatakan sebagai buku saku bagi siapa saja yang merasa janggal dengan sekolah namun belum memiliki keberanian untuk memastikan bahwa memang ada yang salah dan harus dikritik.

Buku ini memperlihatkan banyaknya kekeliruan di sebuah lembaga yang dianggap bisa mencerdaskan seseorang. Berisi 14 bagian dan dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami.  Meski ditulis puluhan tahun lalu, keadaan saat itu masih sangat relevan dengan keadaan sekarang.

Penulisannya santai namun berisi sehingga enak dibaca meski pemilihan fontnya tidak tepat menurut saya. Begitu pula dengan pengaturan marginnya, untuk buku sebagus ini sayang sekali jika dikemas dengan kesan asal-asalan, beberapa orang memiliki selera membaca yang menyebalkan, misalnya hanya mau membaca buku-buku yang pengemasannya (pemilihan font dan pengaturan margin) baik, untung saya bukan termasuk golongan pembaca seperti itu.

Pada bab 1 penulis memperkenalkan sejarah sekolah, mulai dari arti kata sekolah yang berasal dari bahasa Latin yaitu shole, scola, scolae atau chola yang artinya waktu luang atau waktu senggang. Orang Yunani kuno menggunakan waktu luang mereka untuk mengunjungi suatu tempat atau seseorang yang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-hal yang mereka rasa perlu diketahui. Lambat laun seiring perkembangan jaman sekolah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyita banyak waktu, tidak ada lagi makna waktu luang untuk belajar, yang ada murid dipaksa belajar seharian di sekolah. Ini menarik untuk didiskusikan, dan membaca buku ini seolah-olah kita berdiskusi langsung dengan penulisnya.

Bab 2 penulis mengajak pembaca untuk membandingkan beragam sekolah, mulai dari sekolah formal hingga sekolah kehidupan yang digelar di bawah-bawah jembatan sekitar daerah kumuh maupun tepian rel kereta api. 

Bab selanjutnya berbicara tentang aturan-aturan yang diterapkan di sekolah, aturan yang menurut penulis justru mematikan kehadiran sekolah sebagai rumah belajar dan laboratorum pengetahuan anak-anak manusia.

Ada juga bagian di mana penulis memperlihatkan realitas bahwa sekolah bagi para pemodal adalah sebuah bisnis besar, ibaratkan perusahaan. Pengusaha kini bisa menjadikan sekolah sebagai alternatif bisnis yang sangat menjanjikan. 

Realitas tentang sekolah di daerah pedalaman juga dituliskan di buku ini, bagaimana mereka semangat ke sekolah, menamatkan jenjang Sekolah Dasar hingga SMA namun tidak pernah mendapat ilmu yang bisa mereka implementasikan di kehidupan sehari-hari, mereka akhirnya hanya jadi petani padi meski telah mengantongi ijazah SMA. Apakah lembaga pendidikan bernama sekolah mampu memberi pengetahuan untuk kehidupan kita? 

Berbagai kenyataan pahit tentang sekolah dituturkan dengan manis oleh penulis. Dan seketika ada rasa berontak yang bergejolak di dada saya, apalagi kalau mengingat biaya sekolah yang makin mencekik leher, mengingat para ibu di kampung yang berjalan gontai ke kantor-kantor koperasi simpan pinjam untuk meminjam uang agar anaknya bisa mendaftar kuliah tahun ini, atau para ayah di kota yang harus bekerja belasan jam dalam sehari agar gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup membayar tagihan kredit dan membiayai anak yang sekolah di sekolah favorit.

Sekolah di satu sisi membuat para orang tua gila, ya, gila dalam bekerja. Mereka bahkan melupakan lapar, lelah, dan keinginan pribadi mereka agar anak-anaknya bisa pergi ke sekolah. Sementara itu lembaga pendidikan bernama sekolah ini semakin hari semakin tidak masuk akal, bahkan sering dianggap tidak berhasil mencetak manusia-manusia berskill, ini terbukti dengan tingginya angka pengangguran. Kalau mengingat sejarah sekolah, maka sekolah sekarang semakin tidak layak disebut sekolah. 

Sebagian orang tua yang menyadari ini memilih untuk memberikan pendidikan dengan cara berbeda, sekolah formal tidak lagi jadi pilihan. Mereka membantu anak belajar dengan cara yang menyenangkan, memasukkan mereka ke sekolah informal, contohnya seperti Sekolah Canopy di Pontianak, Kalimantan Barat. Di sini anak-anak bisa belajar apa saja dari pengajar-pengajar berkompeten, tanpa sekat, mereka bisa bertanya apa saja, metode pengajaran seperti ini dianggap tepat oleh orangtua yang memasukkan anaknya di sini. Tapi sayang tidak semua orang tua memiliki kesadaran seperti mereka, atau bahkan kemampuan untuk memberikan pendidikan yang seperti ini pada anak-anaknya.

Buku ini sangat layak dibaca dan didiskusikan, tidak hanya oleh para pelajar tapi juga oleh para akademisi, pemerintah, orang tua, mahasiswa gondrong yang doyan foto dengan hashtag save gondrong, siapa saja yang peduli pada pendidikan.

Bayangkan kita menghabiskan waktu berbelas-belas tahun untuk belajar dan menghabiskan uang di sekolah, kita pergi ke perguruan tinggi dan dikuras oleh sistem pambayaran yang semakin hari semakin tidak manusiawi, kita wisuda, jadi sarjana dan menganggur, sebagian lainnya jadi budak korporasi dan kerja bagai sapi perah, kita memberikan sebagian hidup kita untuk sekolah dan apa yang sekolah berikan pada kita? Masihkan sekolah jadi satu-satunya tempat untuk mencerdasakan kita?

Mari kita jawab sendiri sambil menyaksikan berita-berita tentang demonstrasi mahasiswa yang menentang tingginya biaya sekolah dari hari ke hari. Mari jawab sendiri sambil membaca narasi berisi argumentasi tentang metode pendidikan apa yang tepat diterapkan di negeri ini sementara para pengusaha, politisi, dan akademisi menjalin kerjasama membuka sekolah-sekolah baru, perguruan tinggi baru, sekolah akhirnya jadi bisnis baru, investasi masa tua yang menjanjikan. Dan kita masih dipaksa untuk pergi ke sekolah demi sebuah ijazah, agar kelak bisa diterima oleh sistem yang berlaku saat ini, kita bekerja dan mengabdi untuk sebuah lembaga, memelihara sistem ini agar langgeng sembari tetap menjaga harapan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Padahal, menurut saya, sekolah harusnya membuat kita cerdas dan sadar. 

Wednesday, May 30, 2018

22

image:pixabay

.....We're happy free confused and lonely at the same time. It's miserable and magical. Tonight's the night when we forget about deadlines, its time... 
Hari ini lagu 22 milik Taylor Swift berkali-kali saya dengarkan. I turned 22 today, finally I can sing this song! hahaha. Setelah sekian lama menanti saat ini tiba, akhirnya saya bisa teriak-teriak nyanyiin lagu ini.
Ya ampun 22 tahun, oh my god. Rasanya excited, dengan pola hidup yang tidak sehat dan cara berkendara yang ugal-ugalan sebenarnya saya bisa saja meninggal di usia 21, tapi ternyata masih hidup hahaha. Ini artinya delapan tahun menuju kematian. Saya benar-benar senang hari ini, tidak banyak bicara di kantor karena ingin memaknai semua hal, meresapi semua moment. Mencoba mengahayati pertambahan usia ini, hal apa yang telah saya lakukan selama 22 tahun. Bersyukur untuk semua kesempatan yang bisa saya dapat, untuk semua kebaikan yang kadang saya rasa tidak seharusnya saya terima.
Seperti yang saya tulis setahun yang lalu, usia 21 menjadi tahun di mana saya mulai melangkahkan kaki. Iya, usia 21 saya mulai terjun ke dunia kerja, menjamah industri yang selama ini saya impikan. Saya ingin hidup dari menulis, dan hari ini, saat saya mengetik ini di usia 22 saya sedang menjalani hidup tepat seperti yang saya inginkan setahun lalu.
Semesta maha adil. Saya yakin kalau kita mendekatkan diri dengan sesuatu yang kita inginkan, semesta akan merestuinya. Selama ini saya berusaha mewujudkan keinginan saya untuk hidup dari menulis, walau gajinya masih ala kadarnya setidaknya saya sudah mandiri, tidak merepotkan orangtua lagi (dan saya membayar pajak pada negara).
Kalau diingat-ingat ada banyak hal yang berkesan di usia 21 tahun. Itu kali pertama saya bisa mentraktir keluarga dari uang hasil keringat sendiri, bekerja sebagai penulis, dan saya akhirnya terjun ke lembaga. Semua itu sebenarnya saya rencanakan untuk terjadi di usia 23 tahun. Tapi nyatanya saya bukan Tuhan, serapi apapun rencana yang saya susun dan persiapan yang saya lakukan, keadaan bisa berubah kapan saja. Saya gagal berangkat ke Taipei tahun lalu :')

Belum lagi segala drama dalam hubungan percintaan dan pertemanan, segala kesalahan yang dilakukan. 
Dan di usia 22 tahun ini saya ingin melangkah lebih jauh, menyentuh hal-hal yang cukup lama saya perhatikan dari jauh. Sebagai orang yang memulai semuanya dengan buru-buru, saya harus lebih berhati-hati sekarang. Usia 22 tahun saya berharap bisa semakin bermanfaat bagi komunitas saya dan memiliki kontribusi nyata di tengah masyarakat.
22 tahun saya harus lebih berani, seperti seorang Liberani yang seharusnya (ini kata bapak), dan belajar lebih banyak serta memberi lebih ikhlas. Rasanya saya sangat tua, apalagi melihat foto-foto perayaan ulang tahun dari tahun ke tahun tanpa mamak dan bapak, rasanya saya sudah sangat jauh dari rumah. Tapi menjadi dewasa bukannya memang harus begitu ya? harus berdiri dengan kaki sendiri dan meninggalkan segala zona nyaman.
Well, happy birthday to me.
Selamat hari lahir juga untuk Mikhail Bakunin.

This entry was posted in

Wednesday, May 23, 2018

[Cerpen] Gadis Flannel Merah

Dia adalah gadis flannel merah yang kutemui di sebuah toko buku di suatu hari, ketika hujan sedang deras di luar sana dan aku memilih berlama-lama mencari buku Pengantar Hukum Indonesia sambil menunggunya reda. Jarak kami sangat dekat waktu itu, tidak lebih dari lima langkah. Dia sedang asik membaca sebuah buku tentang hukum pidana di Indonesia, aku yang sibuk mencari buku di sampingnya seolah tak ada.

Dia sangat samar, sampai akhirnya aku melihatnya di koridor kampus berbulan-bulan sejak pertemuan kami di toko buku. Dia mengenakan flannel merah seperti hari itu, menenteng sebuah buku tebal dan tersenyum simpul pada orang-orang yang menyapanya. Jarak kami sangat jauh, aku di ujung koridor dan tak mampu melanjutkan langkahku karena aku merasa menemukan sesuatu dan aku tak ingin melwatkan momen itu, kupandangi sosoknya lekat.

Pada suatu waktu dia adalah mawar, indah dan berduri. Siapa saja bisa memetiknya, tapi durinya akan melukai mereka yang tidak hati-hati.

Tak pernah kubayangkan aku akan jatuh cinta pada teman kampusku. Entah ke mana saja aku selama ini sampai tak pernah menyadari kehadirannya. Dia dan warna merah, dengan senyum manis dan buku yang selalu ditentengnya.

Berkali-kali aku mencuri pandang padanya, dia duduk tenang di pojok kelas, selalu sendirian, dia tak sibuk menunduk; memandang gawai atau mengobrol cekikikan bersama teman-teman hawanya, dia hanya serius memandangi halaman-halaman buku, dia selalu sendiri, dunianya tidak tersentuh oleh siapa pun.

Dia adalah gadis yang hidup dalam khayalanku selama ini. Kuhabiskan waktuku bertahun-tahun untuk menyendiri, tak kupikirkan barang sedikitpun perihal kaum hawa, sampai akhirnya aku melihatnya, gadis Flannel merah itu. Gadis yang hidup di imajinasiku lalu menjelma menjadi nyata, obrolan pertama kami adalah novel Metamorfosis karya Franz Kafka, aku mendapat pinjaman novel itu darinya. Berbincang dengannya tak cukup hanya di depan kelas di waktu istirahat, kami lalu bertukar kontak dan obrolan berlanjut di dunia virtual. Ratusan hari setelah itu barulah aku yakin bahwa dia yang aku cari.

Dia adalah teka-teki yang selalu membuatku penasaran, dia adalah salah satu alasanku untuk terus bergerak. Dia adalah duniaku, lalu menjadi sumber kegelisahanku. Aku lalu dengan sadar menjatuhkan hati kepadanya.

Bagiku kamu adalah sebuah sementara yang abadi. 

Kamu tidak pernah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan perasaan. Rumit katamu, padahal lebih rumit menerka-nerka sesuatu yang tak pasti. Karena itulah, bagiku kamu adalah sebuah pertanyaan yang tidak akan terjawab; sebuah buku yang tidak akan selesai kubaca. Kata orang hakim terbaik adalah waktu, karena hanya waktu yang bisa menilai kesungguhan seseorang. Tapi jika selama ini waktu yang telah kuberikan padamu tak pernah cukup, mungkin kau bukan orang yang sanggup untuk dihakimi, tidak seorangpun mampu, bahkan oleh waktu.
Sementara waktu kamu adalah kekasihku, di lain waktu kamu sahabatku. Kita berjalan seperti ini, melewati tahun-tahun tanpa menyandang status yang jelas. Tak masalah, karena bagiku kamu adalah sebuah sementara (kekasih) yang abadi. 

Dia adalah ambigu. Sebuah pertanyaan yang tak akan terjawab olehku, dia adalah ketidakpastian yang selalu kusemogakan. 

Kamu duduk di sampingku, film Theory of Everything baru saja berakhir. Kamu masih berdecak kagum, memuji akting Eddie Redmayne yang terlihat sempurna memerankan tokoh Stephen Hawking, kamu berandai-andai jika di masa depan sesuatu yang buruk terjadi apakah kamu akan memiliki pasangan yang setia mendampingimu seperti yang dilakukan Jane Wilde ketika pasangannya menderita motor neuron disease. Kamu tak tahu, di dalam hatiku aku mengucapkan janji untuk setia di sampingmu, tidak hanya untuk hari ini tapi untuk beratus-ratus hari yang akan kita lalui. 
Bagiku dia adalah candu. 
Disandarkannya kepalanya di bahuku yang tidak tegap. Sesekali dia meringis dan menertawaiku. Katanya bahuku membuat kepalanya sakit. Aku balas mengejeknya, banyak bahu yang bisa kau jadikan sandaran tapi kenapa kau memilih bersandar di bahuku yang kurus ini? dia tentu saja tidak menjawabku, dikerucutkannya bibirnya yang mungil lalu ditutupnya telinganya. Lirik lagu Ordinary yang dilantunkan Copeland membisukan kami dalam hening, dalam diam yang dibalut riuhnya rintik hujan di luar sana. Sebuah kecupan lembut di keningnya, ini untuk cinta yang kadang tak berlogika. Lalu bibir kami bertautan, lembut dan basah; menghangatkan. Ini bukan kali pertamanya. 

...And when I returned, I found you just like I always do, waiting for me like you always are. Since you came along my days are ordinary. We laugh just like yesterday, and I kiss you like the day before, and I hold you just like ordinary... (Ordinary- Copeland) 

Untukmu yang entah harus kusebut apa, kutulis ini saat hujan sedang deras, saat kita tenggelam dalam rasa yang tak mampu lagi kita terjemahkan dengan kata-kata. Hujan dan flannel merah, dua hal yang selalu mengingatkanku padamu, dua hal yang tidak pernah biasa bagiku.


Pontianak, 2016.
This entry was posted in

Thursday, May 03, 2018

[Review] Serial The End of The F*****g World

Source: Google
The End of The F*****g World merupakan serial bergenre dark comedy asal Inggris yang saya rekomendasikan untuk ditonton, apalagi kalau kamu penyuka coming of age movie. Serial ini tayang di Netflix, disutradarai oleh Jonathan Entwistl dan Lucy Tcherniak, sementara penulis cerita adalah Charlie Covell adaptasi dari buku Charles Forsman dengan judul yang sama.

Series ini berkisah tentang James (Alex Lawther), seorang pemuda 17 tahun yang yakin dirinya seorang psikopat dan teman sekolahnya Alyssa (Jessica Barden) yang nyaris bermasalah dengan semua orang karena sikap serampangannya, dia sering bicara seenaknya dan berbuat semaunya.

Mereka berdua melakukan perjalanan, meninggalkan rumah masing-masing atas ide Alyssa yang tidak tahan lagi dengan suasana rumahnya. Dia tinggal bersama ibunya yang memiliki suami baru dan sepasang anak kembar, hubungan Alyssa dan ayah tirinya tidak baik karena ayah tirinya yang sering berbuat tidak senonoh. Begitu pula ibunya yang terlalu takut membantah suaminya sehingga membuat Alyssa merasa tidak disayangi lagi.

James mengikuti ajakan itu karena dia sangat bosan dengan kehidupannya, dia tinggal berdua dengan ayahnya, James memiliki hobby membunuh binatang, dia mengingat dengan detail berapa jumlah hewan yang telah dihabisinya bahkan bagaimana sensasi membunuh itu dirasakannya. Lambat laun dia ingin melakukan hal baru, membunuh manusia. Kesempatan itu datang saat Alyssa mengajaknya kabur.

James kemudian mencuri mobil ayahnya setelah menonjok mukanya, mereka meninggalkan kota dan melakukan perjalanan. Dalam perjalanan itu, Alyssa mengajak bercinta ketika James sedang menyetir, sayangnya mereka terlalu amatir, James menabrak pohon di tepi jalan ketika bajunya baru saja berhasil dilepaskan Alysaa, mobil itu pun terbakar, persis seperti adegan di film action yang mereka bayangkan. Alyssa ini memiliki imajinasi seks yang sangat tinggi, sementara James sangat pasif, khas sosok introvert.

Karena terlanjur melakukan hal bodoh maka keduanya bertekad untuk tidak kembali sementara waktu, Alyssa kemudian mengajak James menemui ayah kandungnya. Perjalanan mereka pun dimulai.

Konflik Remaja yang Tidak Biasa

Source: Google
Masalah demi masalah muncul saat mereka melakukan perjalanan ke rumah ayah Alyssa, masalah yang mereka ciptakan sendiri. Jika konflik remaja biasanya seputar pertemanan atau percintaan, James dan Alyssa memiliki kisah berbeda, mereka terlibat konflik serius, mulai dari perampokan hingga pembunuhan, dan mereka menikmatinya. The End of The F*****g World menampilkan pesan-pesan untuk para remaja tanpa memberikan penghakiman.

Serial yang terdiri dari 8 episode ini menampilkan permasalahan yang timbul karena tertekannya psikologis para tokoh. Kejahatan yang mereka lakukan bersumber dari lingkungan keluarga mereka sendiri. James memiliki kisah yang rumit hingga dia menjadi orang yang ambisius untuk membunuh, begitu pula dengan Alyssa yang memiliki latar belakang yang pelik hingga dia tumbuh menjadi gadis yang berpikir spontan dan egois, semua yang mereka bawa adalah bentukan dari ingatan masa kecil mereka.

Serial yang bagus untuk ditonton para remaja, bahkan orang tua. Kita bisa melihat sisi lain dari anak-anak pembuat masalah, mungkin saja orang-orang seperti James dan Alyssa ada di sekitar kita, mereka sebenarnya sangat kesepian dan ketakutan, merasa tidak memiliki orang yang memahami mereka.

Soundtrack serial ini juga asik-asik. Saya suka sekali tokoh Alyssa, mulai dari sifatnya hingga penampilannya, apalagi jika dia bercanda, dia selalu melemparkan dark humor. Sedangkan sosok James memang totalitas memerankan remaja psikopat. Dia pendiam, selalu terlihat gugup ketika diajak mengobrol, dia tidak berani memandang lawan bicaranya. Tangan kanannya seperti tangan monster karena waktu kecil dia memasukannya ke dalam penggorengan ayahnya yang berisi minyak panas.

Sosok seperti mereka selalu berhasil menyentuh hati saya, karena saya memang menyukai tokoh-tokoh yang menantang dunia, tokoh-tokoh pembuat masalah tapi sebenarnya mereka sangat rapuh dan ketakutan, seperti sosok Holden Caulfield ciptaan J.D Salinger di The Catcher in The Rye, sosok fiksi yang sangat hidup di pikiran saya.

Pokoknya serial ini menyenangkan untuk ditonton. Dengan durasi masing-masing episode sekitar  20 menit, lucu, ngeri, dan terharu bisa dirasakan saat menonton. Bayangkan dua anak berusia 17 tahun tanpa sadar telah menciptakan kekacauan besar yang menyeret mereka pada masalah hukum. James dan Alyssa ini sepasang remaja yang menggemaskan, mereka liar, memandang dunia dengan cara berbeda, dan kesepian. Mereka menyedihkan.

Untuk menutup ulasan ini, saya mengambil sebuah kutipan dari Alyssa saat bertemu ayah kandungnya.

"Jangan membuat anak jika kau menelantarkannya karena itu akan membuatnya bersalah seumur hidup."

Jadi, bisa dibayangkan The End of The Fucking World seasik apa kan?

This entry was posted in

Friday, April 27, 2018

Bagaimana Buku Mengubah Saya..

Source: Google

Dulu waktu SMA saya adalah orang yang overdosis drama Korea. Mulai dari potongan rambut ala Suzy Miss A, bando lucu, hingga les bahasa korea saya hajar. Menggelikan memang. Bacaan saya novel-novel teenlit yang irasional, terlalu mengada-ada tapi entah mengapa di usia belasan tahun itu sepertinya menyenangkan.

Memasuki masa kuliah bacaan saya mulai beralih, novel teenlit tampak sangat tidak masuk akal bagi saya, tidak lagi menyenangkan karena ternyata kehidupan nyata jauh lebih berwarna. Saya mulai membaca kumpulan opini tokoh-tokoh terkenal, membaca ide dan gagasan yang dianggap berbahaya, buku-buku yang sesuai dengan jurusan yang saya ambil; hukum, pandangan terhadap dunia mulai berbeda, jauh lebih realistis.

Lalu saya bergabung sebuah komunitas membaca dan di sana referensi bacaan saya semakin bertambah, mulai dari buku kiri hingga filsafat saya jamah, tapi teman diskusi terbatas karena kami hanya dihubungkan oleh dunia virtual.

Kemudian saya berkenalan dengan seorang teman yang menjadi teman diskusi saya,  kami bertukar banyak buku, hingga pandangan saya terhadap kehidupan jadi lebih jelas. Saya tidak ingin jadi manusia yang tujuannya hanya hidup-bersenggama- lalu mati. Saya ingin jadi berarti, jika tidak bisa untuk dunia, setidaknya untuk komunitas saya.

Seiring waktu, saya mulai memasuki dunia kerja, menjadi seorang jurnalis dan bertemu kehidupan yang lebih banyak, sure, jadi jurnalis berarti bertemu banyak kehidupan. Saya tidak bisa bertahan jika tidak membaca buku-buku yang tempo hari jadi bahan diskusi di grup, waktu berlalu dan tujuan saya semakin jelas, semakin dekat, tagline menulis untuk keabadian dari Pram masih saya pegang, meski kini tidak menulis untuk media. 

Jadi apa saya oleh buku-buku yang saya baca? Saya jadi diri saya sendiri. Tidak menyerahkan diri pada standar hidup yang telah diwariskan turun temurun oleh budaya patriarki. 

Sekarang saya bergabung di sebuah lembaga, bekerja bersama orang-orang yang usianya jauh di atas saya, menyusun program, mengkaji permasalahan yang berkaitan dengan masyarakat adat. Jangan tanya berapa pendapatan saya, buku-buku membuat saya tidak lagi memikirkan uang. Selagi saya masih bisa berbagi meski kecil, itu sudah cukup. Seperti kata seorang teman, saya ingin bekerja untuk kemanusiaan.

Buku telah membebaskan saya dari kemiskinan berpikir dan membebaskan belenggu mental. Saya tidak takut menjalani hidup sesuai dengan standard yang saya tetapkan, saya tidak takut dihakimi oleh hegemoni. Begitulah buku mengubah saya. 

Buku juga menjadi teman baik untuk menjalani hidup yang sangat (sepi) singkat ini. 

Kalau kamu, bagaimana buku mengubahmu?

This entry was posted in

Wednesday, April 25, 2018

[Cerpen] Tidak Ada Pamole' Beo' Tahun ini

Tidak Ada Pamole’ Beo’ Tahun Ini
(Claudia Liberani Randungan)

April adalah aroma beras baru yang menguar dari periuk di atas tungku di sore hari, mengepul dan terbawa angin, menyeruak memenuhi sudut-sudut dapur milik Tabo’, lelaki 56 tahun yang hidup seorang diri di rumah kayu paling sederhana di kampung ini. Sebuah perkampungan di lintas utara, tidak jauh dari perbatasan Sarawak Malaysia. April adalah musim panen, nasi baru pasti tersedia di rumah-rumah penduduk.

Tubuh lelahnya bersandar di kursi plastik berwarna merah yang sudah mulai rapuh. Sejak pukul 16.00 WIB ritualnya dimulai, duduk menunggu nasinya matang sambil menyeruput kopi. Setelah nasinya matang dan bara mulai padam dia akan turun ke sungai, membersihkan diri di Sungai Tamambaloh yang jernih. Melepas penat sehabis memangkas daun kratom, mencukupkan diri untuk hari ini. Ketika listrik menyala pukul 17.00 nanti, dia akan duduk di depan tv menyaksikan siaran berita. Musim panen ladang tak menuntut banyak perhatian. Setelah mengumpulkan bulir-bulir padi hingga tengah hari, tak masalah jika ia ditinggalkan, diselingkuhi dengan memasang bubu ikan, memangkas daun kratom, atau menjemput anak ke sekolah jika punya. 

Tabo’ tentu saja punya, namun dia hanya menjemput anaknya setahun sekali di ibukota kecamatan. Putra semata wayangnya, Lunsa, sedang menempuh kuliah semester akhir di ibu kota provinsi, anak yang meninggalkannya sendirian setelah tamat SMA dan hanya pulang sekali dalam setahun untuk merayakan pamole’ beo’, upacara syukur selepas panen di pertengahan tahun, bertepatan dengan libur panjang yang nyatanya tidak pernah panjang bagi mereka berdua karena Lunsa hanya pulang tiga hari. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Karena dari sanalah dia mendapatkan uang untuk biaya hidupnya di kota, membayar sewa kontrakan, uang kuliah, menyantuni anak yatim sesekali, atau meniduri perempuan ketika sedang ingin. 

Dia tidak pernah memintanya bekerja keras di usia muda, namun bagi Lunsa dia tidak pantas menerima uang dari ayahnya ketika usianya sudah 21 tahun, sekitar tiga tahun yang lalu. 

"Saya sudah dewasa, pak. Biarlah kerja keras kita menjadi milik kita masing-masing,” ucapnya saat kali pertama menolak uang dari Tabo’ yang dikirim lewat CU. Setelah itu uang tidak lagi jadi pembicaraan mereka. Tidak pernah muncul dalam obrolan, sama seperti sosok ibunya yang tidak pernah dibicarakan sejak kepergiannya tujuh tahun silam. Bagi mereka berdua mengunjungi makam orang yang telah tiada adalah cara mengenang yang terbaik, mereka tidak pernah mengungkapkan sesaknya menahan rindu bertahun-tahun, saat perjumpaan ayah dan anak itu tiba mereka tidak pernah absen untuk menjenguk makam ibunya.

Bola mata Tabo’ yang cokelat berbinar, dia membayangkan keriuhan Pamole’ Beo nanti, menanti kepulangan Lunsa. Tiap kali melihat anaknya dia merasa sedang melihat dirinya sendiri, dirinya yang terperangkap di tubuh pemuda 24 tahun. Belakangan rindu padanya semakin kuat, memang rindu semakin terasa saat usia semakin menua. Meski itu tak pernah terucap dari mulutnya. Baginya menjadi lelaki berarti harus mampu melawan, termasuk melawan diri sendiri, melawan rindu. Rasa rindu dan sayang tidak pernah diungkapkan melalui kalimat, ada rasa enggan untuk mengatakan itu tapi mereka tahu masing-masing merasakannya.

Lunsa tumbuh dengan sayang dan rindu yang tidak pernah terucap, ini juga yang akhirnya membentuk dia menjadi pemuda yang misterius. Dia tidak dingin, pemuda itu sangat tahu cara bersikap, mulai dari penjual nasi kuning di sekitar kontrakan hingga pejabat tinggi di kepolisian bisa menjadi teman mengobrolnya, namun dia tidak pernah membuka diri pada oang lain. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa Lunsa sebenarnrya, teman-temannya hanya mengetahui Lunsa seorang pemuda desa yang datang dari perbatasan, kuliah sambil bekerja sebagai kurir di sebuah perusahaan jasa pengiriman barang.

Tidak ada yang tahu kesepian seperti apa yang dirasakannya, seluas apa ruang yang kosong di hatinya. Pemuda itu sepanjang tahun hanya memikirkan bagaimana cara meninggalkan pulaunya, merantau ke tempat yang jauh dari jangkauan ayahnya maupun kerabat yang sebenarnya tidak begitu peduli pada hidup mereka, dia ingin meninggalkan identitas yang dirasanya tidak memiliki arti apa-apa selain membatasi hubungannya dengan orang lain, dia ingin bebas menjadi siapa saja yang datang dari mana saja, tidak ada label suku yang dapat dibaca orang lain bahkan hanya dari nama yang diberikan padanya, tidak ada label pemuda desa karena dia ingin diterima semua orang, bergaul dengan siapa saja tanpa ada pembatas.

Sampai akhirnya dia yakin untuk pergi dengan meninggalkan jumlah saldo berlipat sebagai bentuk penebusan pada sang ayah, karena itu dia bekerja dan mulai mengumpulkan uang, sudah dicatatnya berapa digit saldo yang harus dicapainya sebelum usianya 27 tahun. 

Dia berencana meninggalkan semua kerja kerasnya untuk sang ayah. Ayahnya yang seorang sarjana muda, mempelajari listrik bertahun-tahun namun seumur hidup bercita-cita menjadi petani. Ayah yang dianggap keras kepala oleh keluarga, terlebih saat memilih menikahi seorang perawan tua yang mengajar anak-anak di kampung. Begitu kepergiannya tiba, dia yakin ayahnya bangga pernah memiliki anak sepertinya. Dan semua rencana ini disimpannya rapat-rapat, diletakkan pada ruang-ruang kosong yang tercipta dari kerinduan pada sosok utuh yang disebut keluarga, ruang kosong yang begitu luas dan tak terukur. 

Dia tidak pernah mengeluh, termasuk pada teman seperkopiannya di warkop karena dia tidak percaya siapapun selain dirinya sendiri, tidak pula ayahnya yang kini sedang menunggunya. Menanti kepulangannya untuk merayakan syukur atas kebaikan yang diberi sampulo’ sepanjang tahun ini. Pulang yang juga diinginkannya, karena hanya saat pulang dia bisa menjadi seorang anak, seorang anak lelaki yang tertidur pulas di samping ayahnya. Menghalau bisingnya suara gendang dan gong dari balai adat, mencoba terlelap di tengah kemeriahan pesta pamole’ beo’, di tengah hingar bingar dunia yang luas di kepalanya.

Sementara aroma nasi matang semakin kuat dan kopi sudah sampai pada seruput terakhir, Tabo’ masih enggan beranjak. Lelah kali ini benar-benar dinikmatinya, dia menimbang-nimbang kegiatan apa yang akan dilakukannya bersama Lunsa kali ini, tapi seperti yang sudah-sudah, perayaan Pamole’ Beo’ bagi mereka berdua adalah perayaan syukur atas rezeki yang masih ada sehingga harus dirayakan dengan makan yang cukup. Hari pertama kedatangan Lunsa biasanya mereka hanya mengobrol di rumah, makan bersama, menerima kunjungan beberapa tetangga yang datang untuk basa basi atau sekadar ingin tahu apakah Lunsa sudah menyelesaikan kuliahnya atau belum, sore hari mereka akan turun ke sungai, mengayuh sampan dan mulai menjala ikan ketika matahari mulai redup.

Hari kedua kepulangannya sering dilalui dengan tiduran sepanjang hari dan seperti hari pertama, menerima beberapa tamu yang itu-itu saja dari tahun ke tahun. Hari ketiga dia akan kembali ke kota. Seperti itulah Lunsa, tidak ada yang membuatnya betah berlama-lama di kampung, dia hanya ingin berjumpa ayah dan mengenang ibunya. Tidak ada teman apalagi sahabat tersisa, semua teman seumurannya sudah tidak memiliki kenangan pertemanan masa kecil bersamanya, sejak ayahnya mati-matian menolak industri perkebunan kelapa sawit di desa itu, dia nyaris kehilangan perhatian semua temannya, bahkan warga. Kalau masih ada yang bertandang, mereka hanya berbasa-basi.

Ayahnya akan mengantarnya ke ibu kota kecamatan menggunakan Proton, di kecamatan itulah mereka akan berpisah, Lunsa naik bus menuju bandara di ibu kota kabupaten, sementara ayahnya akan plesir ke negeri tetangga yang hanya memakan waktu dua jam, nikmat lain dari pembangunan jalan perbatasan sepanjang 1.920 KM oleh pemerintah baru-baru ini.

Dulu melintasi perbatasan antarnegara bisa menggunakan motor, langkah Tabo’ bisa lebih ringan, dia bisa memacu RX King yang dulu ditunggangi bertiga sewaktu mereka masih utuh. Namun setelah beberapa kali petugas menangkap pengendara yang membawa sabu, akses untuk kendaraan roda dua ditutup. Plesir pun harus menggunakan mobil, meski hanya seorang diri.

Kepulangan Lunsa kali ini lebih ditunggunya. Anak lelakinya berjanji membawakan bubuk mitragyna speciosa yang telah diolah, tidak seperti daun yang baru dipetiknya hari ini. Bubuk itu didengarnya memiliki khasiat untuk menghilangkan gangguan tidur dan pereda nyeri pada tulang.

Belakangan rasa nyeri pada lututnya semakin terasa, dia selonjorkan kakinya, diregangkannya sendi-sendinya hingga ruangnya membuka, menurukan tekanannya dan menarik gas-gas yang kemudian terlarut dalam cairan sinovial hingga menghasilkan suara krek. Suara yang langsung disusul dengan nada dering panggilan masuk dari kerabat di ibu kota.

“Bang, saya sedang di kantor polisi, Niko ditangkap....”

Hanya kalimat itu yang bisa didengarnya dengan baik. Nikolaus Lunsa, putra semata wayang yang baru saja dijumpainya dalam ingatan itu tertangakap oleh BNN karena kepemilikan obat-obatan terlarang. Obat-obatan yang membuatnya tidak bisa mengendarai kendaraan roda dua lagi jika ingin melintasi negara tetangga. 

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Bulir bening dari matanya jatuh, terakhir kali dia menangis di hari pemakaman istrinya, hari ini dia menangisi putranya yang bekerja untuk mafia, tidak hanya mengantarkan barang-barang biasa, tapi juga barang-barang haram. Putra yang menjadi satu-satunya harapan dan alasan mengapa ia selalu merasa cukup ternyata terlibat dalam sindikat narkoba internasional.

Dia akhirnya mengerti, di balik mudahnya mobilisasi antarnegara ada akibat fatal yang harus ditanggung, bahkan ditanggung oleh pemuda desa seperti Lunsa. Mendadak tubuhnya berkeringat dingin dan perutnya tidak nyaman, mungkin dia akan muntah atau menggigil karena entah, tapi satu-satunya yang meronta di kepalanya adalah pertanyaan mengenai hukuman seperti apa yang akan diterima anak lelakinya itu. Dia menangis dalam ketakutan dan kesedihan, tahun ini, Pamole’ Beo’ tidak mampir ke rumah kayu miliknya.

Cerpen ini telah dimuat di koran Pontianak Post edisi 18 April 2018.
This entry was posted in

[Review]Membaca Cantik Itu Luka, Melihat Sejarah Kelam dan Perlawanan dari Ranjang

Source: Google
Judul: Cantik Itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal:479 halaman
Cetakan pertama: Mei 2004

"Bukan urusan manusia memikirkan Tuhan itu ada atau tidak, terutama jika kau tahu di depanmu manusia satu menginjak manusia yang lain."
8/30.
Jika film Marlina bercerita tentang perempuan yang melawan dari dapur, maka para perempuan di buku Cantik Itu Luka melakukan perlawanan dari ranjang. Novel karya Eka Kurniawan yang telah diterbitkan enam belas kali ini mengangkat tema di akhir masa kolonial. Berkisah tentang seorang perempuan bernama Dewi Ayu yang dipaksa menjadi pelacur di usia belia, pekerjaan ini kemudian dilakukannya dengan totalitas hingga dia menjadi pelacur tersohor di Halimunda.

Dia memiliki tiga anak perempuan yang tidak kalah cantiknya, kecantikan lalu membawa mereka pada berbagai masalah hingga dia meminta anak ke-empatnya buruk rupa.

Cantik itu Luka adalah buku bagus yang berkisah tentang seksualitas, penjajahan, dan perlawanan, Eka Kurniawan menuliskannya dengan menawan. Cerita yang tidak tertebak dan selalu memberi kejutan di tiap bagiannya.

Meski tokoh utama seorang pelacur, Cantik itu Luka sama sekali bukan kisah cinta yang biasa. Ada banyak perlawanan di buku ini, melawan rezim, mulai dari penjajahan oleh Belanda, Jepang, hingga saat republik telah terbentuk. Penulis menyampaikan sejarah kelam Indonesia dengan cerita menakjubkan.

Pembaca diajak berimajinasi kemudian dilemparkan pada fakta-fakta sejarah yang dibalut kisah cinta. Tentang Partai Komunis Indonesia dan pembantaian besar-besaran yang dialami orang-orang Halimunda yang dituduh komunis. Sejarah kelam ini disampaikan dengan tegas dan terang-terangan.

Perlawanan dari ranjang tidak hanya dilakukan Dewi Ayu, tapi juga anak-anaknya, Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi, bahkan si bungsu Cantik yang juga melawan kesepian. Novel ini memang penuh adegan seksual, perilaku seks yang menyimpang diuraikan dengan baik oleh Eka, kisah cinta antarsaudara yang melahirkan ironi.

Seperti buku-buku Eka yang lain, Cantik itu Luka bagus untuk dibaca. Tapi saya sarankan membacanya saat benar-benar memiliki waktu luang karena sekali kamu membaca halaman pertama, kamu tidak bisa berhenti hingga halaman 479. Buku ini seperti candu. Membaca Cantik itu Luka berarti menikmati sejarah kelam negeri ini dan melihat perlawanan perempuan dari ranjang.

 

Friday, April 20, 2018

Yang Menyebalkan dari Putus Cinta

Putus cinta tidak pernah jadi soal biasa untuk orang-orang yang selektif dalam memilih pasangan. Apalagi untuk orang yang tidak mudah bergaul di lingkungan sehari-hari, menemukan orang yang nyambung diajak mengobrol saja susah. Memang manusiawi, tapi ini sangat menyiksa..

Yang menyebalkan dari putus cinta tentu saja patah hati. Perlu waktu lama untuk menerima kenyataan, membiasakan diri tanpa dia. Rasanya sangat menyebalkan. Membuka hati pada orang baru juga tidak gampang, ada rasa takut, rasanya tidak mudah. Kita harus berkenalan, memulai semuanya dari awal, mengenali kebiasannya, menyesuaikan diri lagi. Mencoba percaya lagi, kalau dipikir-pikir rasanya malas untuk kembali meletakkan hati pada orang lain. 

Malas untuk mempercayai orang baru, membiarkan orang lain mengetahui sisi buruk kita, kelemahan dan kekurangan kita. Menebak-nebak orang lain seperti apa, hal apa yang disenanginya, apa yang bisa membuat kita dekat, dan tebakan-tebakan lainnya. 

Setelah putus cinta ada banyak kebiasaan yang mesti diubah, ada banyak hal yang hilang, misalnya perhatian-perhatian khusus yang sering diberikannya, rasanya menyesakkan ketika berada di keramaian tapi yang dirasakan adalah kesepian. Putus cinta membuat keadaan jadi buruk, kehilangan nafsu makan dan mengganggu jam tidur, apalagi ketika sedang rindu.

Biasanya yang dirindukan bukan orangnya, tapi kebiasaan yang sering dilakukan dengannya, misalnya berdiskusi sebelum tidur. Membicarakan apa saja, mulai dari twitwar di Twitter, berita apa yang sedang ramai hari ini, sudah membaca buku sampai halaman berapa, bagaimana pekerjaan hari ini, hingga berdiskusi hendak menghabiskan esok dengan kegiatan apa. 

Masih banyak hal menyebalkan lainnya, misalnya harus menerima pertanyaan dari teman kampus atau kerja "lho kok sendirian, si itu ke mana?" Pertanyaan yang hanya dijawab dengan senyuman, pertanyaan yang membuat kita sedih. 

Belum lagi saat harus mendatangi tempat-tempat yang sering didatangi berdua, perasaan sedih bisa langsung datang dan rasa kehilangan semakin bertambah. Saat tak sengaja mendengar lagu yang sering didengar berdua di mobil, sedihnya semakin dalam. Ingatan-ingatan tentang dia seakan berterbangan, dan inilah yang paling menyiksa. Ingatan. 

Mengingat momen-momen berkesan yang pernah dilalui bersama, lebih menyakitkan kalau hubungan sudah dijalin lama, sudah melewati masa remaja hingga berproses jadi dewasa bersama, ada banyak hal berharga yang dilalui berdua. 

Bertahun-tahun bersama, mulai dari masa kuliah hingga bekerja, mulai dari gombalannya hanya gombalan khas mahasiswa baru hingga gombalan pasangan dewasa tentang masa depan berdua. Mengingat semua itu rasanya.... tidak bisa digambarkan. 

Setelah bertahun-tahun bertahan, akhirnya saat ini tiba juga. Putus cinta. Putus dari orang yang tidak hanya jadi pacar, tapi juga teman, bahkan saudara. Tempat di mana semua keluh kesah ditumpahkan, tempat di mana rencana-rencana disusun, tempat di mana keberanian menghadapi kenyataan hidup bertumbuh, tempat yang tidak bisa tergantikan.

Rasanya rindu..

Rindu sekali.

Menurutmu, apa yang menyebalkan dari putus cinta?

Sunday, April 08, 2018

Ulasan Buku Saya Terbakar Amarah Sendirian



"Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri." (49)


Judul: Saya Terbakar Amarah Sendirian!
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun Terbit: Cetakan pertama, Januari 2006
Cetakan kedua, Desember 2006
Tebal: 131 halaman.

7/30

Buku ke tujuh yang saya baca. Ini adalah buku yang berisi perbincangan Pramoedya Ananta Toer dengan jurnalis asal Amerika, AndrĂ© Vltchek dan Rossie Indira tentang pandangan Pram terhadap beberapa hal terkait negeri bernama Indonesia. 

Mulanya penulis menjumpai Pram karena sebuah project film, tapi keadaan Pram sudah sangat lemah, tidak bisa banyak bergerak, hanya bisa bicara dan menghisap rokok. 

Buku ini merangkum pikiran-pikiran Pram tentang banyak hal yang terjadi di negeri ini. Mulai dari pengalaman pribadinya yang menjadi korban kejahatan sebuah rezim, hingga harapannya pada golongan muda. 

Dibuka dengan kata pengantar dari Chris GoGwilt yang epic, lalu sekapur sirih dari penulis yang membuat kadar penasaran semakin bertambah. 

Ada 12 bagian yang merangkum perbincangan hangat yang dilakukan dalam waktu empat bulan ini, fyi wawancara mulai dari Desember 2003-Maret 2004 saat itu kondisi kesehatannya sudah jauh menurun. 

Pram membahas tentang sejarah, kolonialisme dan Soekarno, dia juga menceritakan kideta 1965 dan masa penahanan yang dialaminya, emosi pasti tercampur aduk di bagian ini. 

Dia juga menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang budaya dan Jawanisme, Pram adalah tokoh yang sangat menentang Jawanisme. Menurutnya Jawanisme hanya melahirkan generasi-generasi yang penakut terhadap junjungan (pemerintah), bermental pecundang karena tidak berani melawan atasan walaupun tahu perbuatannya salah. Dia menjelaskan Jawaniame dan kolonialisme Jawa sudah bertindak brutal pada penduduk Indonesia yang tinggal di negara kepulauan yang luas ini, jauh lebih keji dari ysng dilakukan oleh para penjajah asing. 

Karya sastranya juga dibahas, begitupun presiden kesayangan Amerika, Soeharto, turut dibahas olehnya, dalam bagian ini dia terang-terangan menyebut Soeharto sebagai presiden yang merusak Indonesia. Merusak moral bangsa hingga ke akar-akarnya, dan membentuk Indonesia yang sekarang, Indonesia yang menurutnya sedang berjalan menuju gerbang kehancuran. 

Timor Leste dan Aceh juga dibahas dalam satu sesi, dia menyebut jika mental masyarakat Aceh patut ditiru, mental pejuang.

Keterlibatan Amerika Serikat juga dibicarakan. Hingga rekonsiliasi yang menurutnya tidak bisa menggantikan haknya yang telah dirampas pemerintah, dirampas negara. 

Bagian akhir ditutup dengan harapannya pada masa depan Indonesia. Dia menyebut bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan masa depan Indonesia, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh golongan muda. 

Sebagai orang yang menyukai prinsip dan belajar kemanusiaan melalui karya-karya Pram, buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Usai dibuat penasaran oleh kata pengantar di bagian depan, pembaca selanjutnya bisa bergumul dalam pikiran penulis Asia Tenggara yang berkali-kali mendapatkan nominasi Nobel  Sastra ini. Ada banyak keresahan yang disampaikan Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis yang ditahan Orba selama 34 tahun di penjara dan kamp konsentrasi tanpa proses pengadilan sama sekali. Seorang penulis yang karya-karyanya dirampas dan dimusnahkan, bahkan yang berhasil diselamatkan dilarang beredar, tidak cukup itu, pemerintah juga membakar perpustakaannya, mengacaukan kehidupan keluarganya. 

Membaca buku ini tidak hanya menyulut empati terhadap kemanusiaan, tapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa golongan muda di negeri ini harus berbenah, betapa rendahnya kemampuan memproduksi sehingga memiliki mental lembek, hanya mau jadi pesuruh. 

Saya Terbakar Amarah Sendirian seperti buku yang sangat pribadi mengenai sosok Pram, dan di balik lembarnya saya seolah mendengar  Pram sedang menasehati saya. Hahaha. 

Golongan muda, saya rasa buku ini memang ditulis untuk kita.  

Membaca Manifesto Komunis




“Seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas, sejarah perjuangan antara kelas yang dihisap dengan yang menghisap, antara kelas yang dikuasai dengan yang menguasai dalam berbagai tingkat perkembangan masyarakat.”
 6/30.

Saya menyelesaikan Manifesto Komunis di malam Paskah, saat suasana hening karena orang rumah ke gereja. Karya Karl Marx dan Frederick Engels yang pertama kali terbit tahun 1848 ini tidak terlalu tebal, tapi saya membacanya dengan lambat, tidak mau berlanjut sebelum paham.

Buku yang diterbitkan di Inggris beberapa minggu sebelum Revolusi Perancis meletus ini telah menginjak usia 170 tahun saat saya membacanya. 170 tahun yang panjang. Mereka menerbitkan tulisan ini karena ditugaskan untuk menyiapkan program partai yang lengkap secara teori dan praktek. Saat itu mereka berdua bernaung di bawah Liga Komunis, perhimpunan kaum buruh dari Jerman yang berhasil menarik massa dari berbagai negara. 

Secara keseluruhan buku ini menjelaskan tentang apa itu komunis, seperti apa sistemnya, apa tujuannya dan bagaimana cara mencapainya.

Ada empat bagian dalam buku ini. Bagian pertama dimulai dengan apa yang dimaksud kaum komunis dan apa yang menjadi tujuannya. Dijelaskan pula tentang kelas secara umum, bagaimana perubahan masyarakat feodal hingga kelahiran kelas-kelas borjuis dan proletar.

Bagian kedua berisi tentang hubungan antarkelas, di bagian ini penulis menjelaskan bahwa hubungan antarkelas selalu melahirkan eksploitasi. Karena untuk menjadi kapitalis, seseorang tidak saja harus mempunyai kedudukan perseorangan semata, tetapi kedudukan sosial dalam produksi. Karena kapital adalah suatu hasil kolektif, dan hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari banyak anggota, malah lebih dari itu, pada tingkatan terakhir, kapitalis hanya dapat digerakkan oleh tindakan bersama dari semua anggota masyarakat.

Sementara itu bagian ketiga berisi tentang berbagai literatur sosialis dan komunis. Penulis menjelaskan jenis-jenis sosialis dan saya rasa ini seperti kritik. Bagian ini tidak kalah menarik untuk dipahami mendalam.

Sedangkan bagian terakhir diisi dengan partai dari negara dan kelompok apa saja yang pernah bekerjasama dengan komunis. Ada beberapa negara yang disebutkan di dalam buku. Misalnya di Inggris, Swiss, Polandia, Jerman, bahkan bersama-sama mewujudkan reforma agraria di Amerika. Pada bagian ini penulis berharap agar pergerakan bisa mencontoh revolusi yang sudah ada, mempelajari apa yang membuatnya berhasil maupun gagal. Tulisan dua sahabat ini sangat fenomenal.

Bagian akhir ditutup dengan kalimat khas " Kaum buruh di seluruh dunia, bersatulah!"

Buku ini worth reading. Bagi siapa saja. Supaya ungkapan Bekerja bukan untuk menderita maupun membuat menderita orang lain menjadi nyata.

Bisa dikatakan saya terlambat membaca buku ini, di usia
21 tahun. Harusnya sejak SMA saya sudah memahami konsep kapitalisme dan komunisme :’)

Well, seperti kata Marx dan Engels, working men of all countries, unite!

Selamat hari Minggu dan jangan lupa sadar :p


Friday, March 30, 2018

[Review] Menyelami Kisah-Kisah Bunuh Diri di Novel Norwegian Wood

kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Buku ke lima yang saya baca.

Kali ini saya membaca buku Norwegian Wood karya penulis terkenal dari Jepang, Haruki Murakami. Ini adalah karya pertamanya yang saya baca setelah saya anggurkan dua tahun. Buku ini bercerita tentang Watanabe, seorang pemuda dari Kobe yang mencintai gadis bernama Naoko, kekasih dari sahabat baiknya, Kizuki yang bunuh diri selepas bermain bilyard bersamanya ketika mereka masih SMA.

Untuk melupakan kenangan tentang Kizuki, Watanabe melanjutkan pendidikan di Tokyo. Tinggal di asrama dan berjanji memulai hidup yang baru. Namun Tokyo ternyata menjadi tempat di mana dia tidak sengaja bertemu dengan Naoko, gadis yang dulu tidak begitu dikenalnya. Pertemuan tidak sengaja itu akhirnya mendekatkan mereka, mereka sama-sama saling membutuhkan karena dengan kehadiran mereka satu sama lain maka sosok Kizuki akan selalu hidup meski mereka tidak berani membicarakan Kizuki sama sekali ketika mengobrol. Lambat laun Watanabe menyukai gadis ini.

Jauh dari kesan sedih, saya justru merinding membaca buku ini. Mungkin Norwegian Wood layak disebut cerita tentang psikologis. Haruki Murakami berhasil menceritakan proses gangguan jiwa dengan indah. Menghadirkan tokoh-tokoh yang sangat hidup dan berkesan, hingga saya menutup buku ini, sosok-sosok itu seakan nyata. Ada Nagasawa yang tidak pernah putus asa dan kekasihnya Hatsumi yang terlalu menyukai sesuatu hingga lupa bagaimana caranya realistis.

Ada pula tokoh Midori, seorang gadis ceria yang terlalu cepat dewasa yang merupakan teman sekelas Watanabe di matakuliah Sejarah Drama II. Midori menurut saya adalah satu-satunya tokoh waras di sini meskipun hal-hal yang dia lakukan menyimpang.

Tokoh berikutnya adalah Reiko, perempuan usia 40 tahun yang jago bermain piano dan digadang-gadang akan jadi pianis terkenal sampai akhirnya masa depannya kacau karena dia dianggap lesbian.

Secara keseluruhan novel 423 halaman ini sangat bagus. Saya selesaikan hanya sehari, mulai dari diksi, alur, dan tema, semuanya dikemas dengan rapi dan detail. Tidak ada bagian yang kosong, semuanya tersambung dan tertata dengan baik. Saya ingin menyelami pikiran tokoh-tokoh ciptaan Haruki, kadang saya berpikir apakah mereka ini nyata, apakah saya bisa bertemu orang seperti Naoko, Reiko, atau Watanabe.

Saya mungkin terdengar munafik, tapi kita semua berhak memutuskan apakah ingin melanjutkan hidup atau tidak ketika kita sudah tidak memiliki tanggung jawab moral terhadap apapun dan siapapun. Tapi novel ini memberikan pemahaman yang lebih dari pada ini, bahwa kematian sering kali dipilih karena ketidakberdayaan, bukan karena merasa tercukupi. Setelah tokoh Holden Caulfield di buku Catcher in the Rye karya J.D Salinger, kini saya selalu terbayang-bayang tokoh Naoko. Mereka adalah tokoh yang melawan, sebisa mungkin berusaha terlihat waras di depan orang lain, di hadapan masyarakat yang sebenarnya tidak memahami satu hal pun tentang mereka. 

Norwergian Wood adalah novel dewasa, saya lebih dulu menonton filmnya dan bukunya jauh lebih indah. Di film kita tidak bisa menerima dengan baik bagaimana proses menjadi gila terjadi, namun dengan membaca kita bisa memahaminya, meresapi bagaimana jiwa terancam hingga menyerah dan memilih mengurung semuanya sendirian. Semua rasa sepi, bingung, putus asa, takut, jiwa yang terancam.

Alur yang digunakan adalah alur mundur, penulis menggunakan lagu Norwegian Wood dari The Beatles untuk menghantar pembaca mundur ke tahun 1969, ketika Watanabe masih berusia 19 tahun, jelang 20 tahun. 

Haruki berhasil membuat tertawa dan merinding. Caranya menuturkan kisah sangat menawan, saya tertawa di beberapa bagian dan merinding di bagian lainnya. Ini adalah buku yang saya rekomendasikan untuk mengisi akhir pekan, buku ringan namun memiliki pesan-pesan khusus, terlebih jika kalian memiliki orang terdekat yang menderita gangguan jiwa. Saya tidak bisa berhenti membacanya sejak membuka halaman pertama, novel ini saya beli tahun 2016 tapi baru bisa dibaca hari ini. Ada banyak kisah tentang bunuh diri di dalamnya dan bagi saya buku ini sangat berarti.

Seperti yang disampaikan Haruki melalui sosok Nagasawan, kalau kita membaca buku yang sama dengan yang dibaca orang lain, kita cuma bisa berpikir seperti orang lain (45).

Semoga kita memiliki waktu untuk bersenang-senang dengan buku, tentu saja buku-buku bagus.