Tuesday, December 05, 2017

Sebuah Pengalaman Pribadi; Batasan Bercanda dan Pelecehan Verbal



Image: smartwomeninspiredlives.com

Bercanda adalah ketika kita sama-sama menikmati candaan itu. Ketika satu di antara kita sudah mengungkapkan ketidaknyamanannya dan kita masih menggunakan hal itu untuk bercanda, maka kita tidak sedang bercanda, kita sedang melecehkan.

Ini berawal ketika saya menangis pada sebuah liputan malam di akhir Oktober, waktu itu saya merasa benar-benar lelah, tidak tahan lagi, saya merasa sendirian dan asing di tengah keramaian, ditambah PMS yang membuat mood saya rusak sejak pagi, benar-benar hari yang buruk.

Saya menangis di pojokan sementara ruangan itu sangat ramai. Ketika itu saya bertemu seorang teman dari media lain (oke setidaknya saat itu saya menganggapnya teman) dan dia melihat saya menangis, kemudian dia mengambil foto padahal saya sudah melarangnya. Tapi ya sudahlah, saya rasa tidak akan ada hal buruk yang terjadi hanya karena orang-orang tahu saya menangis, bagi saya menangis itu normal. Palingan saya dibercandain di grup, pikiran saya seperti itu.

Fyi saya belum genap dua bulan bekerja waktu itu, masih baru-barunya. 

Sejak peristiwa itu terjadi saya jadi sering bahan bercanda bagi teman-teman jurnalis lain ketika bertemu saat liputan maupun mengetik berita di warung kopi. Itu tidak masalah sama sekali, saya menganggap itu biasa dan saya sering tertawa bersama mereka ketika candaan itu dilempar. 

Tapi semakin hari arah dari candaan itu sepertinya membuat saya merasa dipojokkan, awalnya mereka bercanda tapi lama-kelamaan itu seperti sebuah ejekan. lambat-laun saya merasa seperti sedang dibully. Candaan mereka mulai tidak lucu bagi saya, apalagi ketika mereka membawa-bawa nama seorang teman yang memang saya akui sering saya ajak berdiskusi. Di antara teman-teman jurnalis yang saya kenal, dia yang banyak membaca buku, sehingga saya lebih sering mengobrol dengannya. Teman saya ini sudah bertunangan. Of course dia cowok.

Oleh teman-teman lainnya, kami sering diseret pada humor mereka. Walaupun saya sudah diam dan berusaha untuk tidak terlibat obrolan panjang. Sudah berkali-kali saya mengatakan langsung di depan mereka bahwa saya tidak suka gurauan itu, saya merasa tidak nyaman. Tapi tetap saja, hal itu terjadi berulang-ulang bahkan ketika saya sudah menunjukkan ekspresi tidak senang.

Sampai pada suatu malam, mereka bercanda di sebuah grup yang diisi jurnalis dari berbagai media dan didominasi laki-laki. Gurauan mereka melukai harga diri saya. Bukan hanya perasaan.

Seperti ini.

"Bang di mana? aku takut. Takut kedinginan bang, mau gak hangatin aku?"
"Bang temani aku yaaaa,"
"Aku takut, jembut bang ***** lebat, kayak brewok bang ****
"Tapi ***** bang ***** jangan ngaceng ya,"

Saya menangis ketika membacanya. Itu bukan bercanda, itu pelecehan, pelecehan verbal. Seketika saya merasa marah, malu, sedih, merasa rendah, sebuah perasaan yang tidak bisa saya tuangkan di sini. Saya orangnya humoris, saya biasa bercanda, teman-teman saya juga, tapi kami tahu batas bercanda adalah ketika orang tersebut telah mengungkapkan ketidaksukaannya maka candaan itu harus dihentikan, kalau masih dilanjutkan itu bukan lagi bercanda tapi melecehkan.

Saya sudah sering menerima berbagai candaan,  mulai dari yang rasis hingga body shaming, dan saya tidak marah. Berbeda dengan candaan ini, saya sudah berkali-kali mengungkapkan ketidaksukaan saya tapi mereka tetap melakukannya. Saya merasa harga diri saya sebagai perempuan tidak dipertimbangkan sama sekali, dan saya berhak marah.

Saya menangis karena merasa itulah satu-satunya yang bisa saya lakukan. Tangisan saya semakin menjadi waktu pacar saya menelpon. Saya tahu dia juga merasa sedih, saya jadi merasa tidak bisa menjaga diri di hadapan mereka, seakan selama ini saya bersikap sebagai perempuan murahan yang bisa mereka gunakan sebagai alat untuk memuaskan hasrat mereka melalui kalimat-kalimat itu, saya merasa selama ini kekurangan saya digunakan mereka untuk menciptakan humor-humor seksis, dan saya merasa semakin rendah diri karena di grup itu ada beberapa orang yang saya anggap teman tapi mereka membiarkan pelecehan itu berlanjut seakan mereka juga menikmatinya.

Perasaan sedih meliputi saya hingga keesokan harinya.

Saya bangun dengan keadaan yang sangat buruk. Seperti biasa mamak menelpon, saya tidak bicara sama sekali hingga beberapa menit sampai akhirnya dia tahu ada yang tidak beres. Saya menangis lagi, lebih dalam karena kekhawatiran keluarga akhirnya terjadi. Bapak mengambilalih pembicaraan setelah mamak mengungkapkan semua pendapatnya.

"Nak, tidak ada yang tidak bisa dikomunikasikan, kita selesaikan urusan dengan mereka. Kamu jangan bekerja di bidang ini lagi, bapak tidak mau kamu mendapat masalah," kalimat itu keluar dari mulutnya, terdengar berat, saya tahu dia khawatir.

Bapak memintaku berhenti menangis, berhenti bekerja dan pulang, saya tahu dia tidak pernah membiarkan saya menangis lama-lama.

Satu dari pelaku bullying bekerja di sebuah media yang dipimpin oleh teman baik paman, pembicaraan mengenai kejadian yang saya alami langsung merebak di keluarga. Semua menyarankan untuk keluar dari pekerjaan ini, dan paman akan bicara dengan temannya.

Akhirnya surat resign saya diketikkan kakak, keesokan harinya surat itu saya bawa ke kantor.

Sebelum saya serahkan, saya bertemu koordinator liputan, kami mengobrol banyak hingga saya mengungkapkan tujuan saya untuk mengantar surat pengunduran diri. Singkatnya saya mengungkapkan rentetan kejadian yang saya alami, mental saya belum siap.

Dia langsung mengambil tindakan, memanggil salah satu teman di kantor yang juga ada di grup itu. Selang beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk, berisi permintaan maaf, pengirimnya adalah salah satu pelaku bullying.

Saya tidak ingin membalasnya, kalimat yang mereka tulis terlintas lagi. Suara mereka terngiang, seakan mereka mengungkapkannya langsung dan saya dapat melihat bagaimana mereka tertawa, menikmati pelecehan itu. Apalagi pelakunya adalah orang-orang yang rentang usianya jauh di atas saya, bahkan ada yang telah berkeluarga dan memiliki anak. Ya, memang, dewasa itu pilihan.

Korlip menahan saya, dia tidak menganjurkan untuk resign, dia mencoba membangun harga diri saya, membuat saya merasa lebih baik. Surat resign masih aman di map merah.

Setelah sharing itu, kejadian yang saya alami tersebar ke teman-teman kantor lainnya, satu per satu mengirimi saya pesan. Ada yang bertanya, ada yang memberi motivasi, ada juga yang menyarankan untuk bertindak serius. Hari itu kesedihan saya berubah jadi kegalauan, bagaimana mungkin saya meninggalkan tempat bekerja yang diisi orang-orang peduli seperti mereka.

Sore harinya salah satu redaktur di kantor sekaligus ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pontianak, Dian Lestari mengajak saya bertemu untuk membicarakan ini.

Dia membagikan pengalamannya, membagikan keberaniannya pada saya. Darinya saya akhirnya sadar, korban bullying harus melawan.

Mungkin saya akan dianggap seorang pengadu, tapi saya sarankan pada siapa saja yang mengalami bullying, baik itu pelecehan verbal maupun fisik, jangan sembunyikan kejadian yang kalian alami. Speak up, karena itu membantu diri kita untuk pulih dari rasa rendah diri.

Dengan berani menceritakan apa yang kita alami, kita akan mendapat banyak keberanian, dan itulah yang saya dapatkan.

Setelah merasa rendah diri, mengutuk diri sendiri mengapa saya harus jadi perempuan penakut sehingga jadi korban bullying, merasa malu karena mereka menganggap saya ini murahan, saya akhirnya sadar,bullying itu tidak bisa dihindari, bullying harus dihadapi.

Kak Dian mengajak saya untuk berani.

Banyak yang memberi support supaya saya tidak terus-terusan menyalahkan diri sendiri dan merasa malu. Hingga hari ini saya masih bekerja, dan keluarga bisa menerima keputusan saya. Saya juga meminta supaya paman tidak memperpanjang masalah ini. Saya bisa menghadapi mereka.

Saya menulis ini untuk berbagi pengalaman, sebelumnya saya juga diskusikan ini dengan beberapa teman. Saya harus menuliskan ini supaya orang-orang yang mengalami hal serupa tidak memilih bungkam karena merasa malu menceritakan pelecehan yang mereka alami. Meski sampai saat ini saya masih menyalahkan diri saya mengapa saya harus menangis malam itu.

Kalau kalian menganggap ini hal biasa, ya tidak masalah. Tapi kalau ada yang mengatakan saya berlebihan, saya marah. Apa yang saya alami adalah pelecehan verbal, pelecehan melalui gurauan, menggoda secara terus menerus dengan kata-kata yang berkaitan dengan seks dan saya berhak untuk marah karena saya adalah korban. Saya tidak nyaman bahkan ini membebani psikis saya.

Terlebih pelakunya adalah orang-orang yang selama ini saya anggap bisa membimbing saya, membantu saya berproses karena saya masih baru di pekerjaan ini. Ternyata saya keliru.

Apa yang mereka lakukan membuat saya merasa rendah diri, menyalahkan diri sendiri, merasa dianggap perempuan murahan dan ini benar-benar menyiksa saya.

Mengapa ini terjadi? mengapa mereka bisa menikmati kalimat-kalimat seperti itu? karena mereka hanya menganggap perempuan sebagai objek. Perempuan bisa di-apakan saja, tidak perlu dipikirkan bagaimana perasaannya. Laki-laki merasa memegang kendali.

Mengapa pelecehan verbal terus terjadi? karena tidak banyak yang berani marah ketika menjadi korban sehingga pelaku merasa hal ini biasa-biasa saja, hal ini tidak melukai harga diri seseorang. Padahal dampak dari kalimat-kalimat itu sangat menyiksa korban.

Pelecehan verbal melalui candaan bisa jadi awal untuk melakukan pelecehan yang lebih serius. Karena itu perempuan harus berani bicara mengenai apa yang dialaminya. Dengan berani bicara dan membahas pelecehan yang dialami, perempuan lain bisa belajar dan tahu cara mengantisipasinya, ini seperti gerakan Hollaback di Jakarta. Sebuah gerakan melawan pelecehan verbal.

Pelecehan verbal itu selalu dilakukan beramai-ramai, kita tidak bisa menghindarinya, karena itu kita harus berani untuk melawannya.

Jangan diam ketika menjadi korban. Bicaralah supaya perempuan tidak hanya dijadikan objek, supaya lebih banyak yang memahami permasalahan gender dan mengerti perihal consent.

Bicaralah supaya batas antara candaan dan pelecehan jadi jelas, supaya mereka tidak melakukan hal itu lagi, membuat harga diri kita diinjak-injak karena mereka merasa memiliki kuasa untuk mengendalikan keadaan di lingkungan sosial. 

7 comments:

  1. Terlepas dari topik seksisme, aku kagum sama cara berpikirmu.

    Inferioritasmu menandakan kamu sudah tidak lagi berada di level pemikiran "benar-salah", Clau.

    Selalu berpikir, "Ah mungkin aku yang salah. Aku timbang baik-baik terlebih dahulu", "Ah mungkin metodeku kurang tepat", "Sebaiknya aku konsultasi ke beberapa orang yang kuanggap mampu."

    Mungkin feminis2 rewel langsung teriak "LAWAN!". Tapi kamu berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan. Aku membaca tulisanmu, kamu seperti mempertimbangkan banyak aspek dari pelaku-pelaku kejahatan verbal yang menyerangmu. Mungkin pendidikannya, sosial-budayanya, dan semacamnya.

    Aku menikmati tulisan-tulisan tanpa kebencian.

    Dunning-Kruger effect bilang, orang yang merasa dirinya superior, terlalu percaya diri, merasa dirinya selalu benar hanya terjadi pada orang yang memiliki kapasitas penalaran yang rendah.

    Biasanya itu terjadi secara spontan, bahkan "saya sendiri", sang komentator yang memberanikan diri mengungkapkan isi kepala saya, mungkin tidak menyadarinya. Mungkin saja saya salah.

    Tapi saya ingin sekali mengatakan, teruslah menjadi manusia yang menginspirasi, Claudia.

    ReplyDelete
  2. Semoga selalu dikuatkan. TUHAN MEMBERKATI MU :)

    ReplyDelete
  3. Mbak claudia menginspirasi sekali��✨

    ReplyDelete
  4. Aku setuju kak terimakasih sudah menulis artikel ini mungkin beberapa perempuan belum mengerti cara mengungkapkan unek2 di dalam hatinya dan menyebutkan hal tersebut pelecehan verbal tapi melalui tulisan kakak aku baru sadar bahwa aku pernah menjadi korban pelecehan verbal.

    ReplyDelete
  5. Love! Semangat terus kak! Jangan menyerah! Perempuan itu luar biasa! ��

    ReplyDelete