Thursday, November 23, 2017

Ilegal Logging dan Ingatan-Ingatan di Masa Kecil

Ratusan kubik kayu disita tim Mabes Polri di sebuah gudang penyimpanan kayu milik tersangka A di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11/2017).
Empat hari sebelum peringatan hari pohon sedunia, kasus ilegal logging kembali terungkap di Kalbar. Saat itu yang turun langsung menangani kasus ini adalah Tim Mabes Polri, mereka mengamankan ratusan kubik kayu di sebuah gudang penyimpanan kayu di Ambawang, tepatnya di Jalan Trans Kalimantan, Desa Korek, Kecamatan Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (17/11).

Kasubit 3 Direktorat Tindak Pidana Tertentu, Kombes Pol Irsan S.H mengatakan kayu-kayu ini berasal dari Sandai, sebuah kecamatan di Kabupaten Ketapang. Kayu-kayu ini dianggap hasil pembalakan liar karena pelaku usaha atas nama A menggunakan IPK yang tidak sesuai peruntukkan. Kayu-kayu didapat dari berbagai sumber, mulai dari masyarakat lokal, pembalakan di hutan hak, bahkan hutan lindung. 
“Ilegal logging dengan modus dokumen palsu sebenarnya bukan hal baru,” ujarnya saat memberi press release dua hari setelah kejadian, Minggu (19/11).
Kasus pembalakan liar terus terjadi dengan berbagai motif, seperti drama panjang Setya Novanto yang tidak kunjung selesai. Ini memberikan perspektif tersendiri bagi saya. 
Saya menghabiskan masa kecil selama tiga belas tahun di daerah berhutan di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu. Waktu saya SD bapak jarang pulang, saya ingat dia hanya pulang pada bulan-bulan tertentu, Desember ketika Natal, bulan Februari saat kakak ulang tahun, dan akhir Mei untuk merayakan ulangtahun saya. Yang saya tahu bapak menghabiskan banyak waktu di sawmil, jauh, di dekat perbatasan Sarawak, Malaysia. Saya tidak tahu sawmil itu apa, sampai pastor Stef sering bercerita tentang banjir dan tanah longsor, pokoknya dulu dia yang memberitahu sawmil itu apa.Ya biasalah, anak kecil mana tau sawmil apa. hehehe.

Fyi, waktu saya SD transportasi utama di Kapuas Hulu harus ditempuh melalui jalur sungai, jalan darat baru di bangun ketika saya SMP itu juga masih ala kadarnya, jadi mobilisasi sangat sulit dilakukan makanya banyak kepala keluarga yang meninggalkan rumah untuk bekerja. Saat itu saya tidak tahu kalau pekerjaan mereka adalah menjarah hutan.
Saya tumbuh dengan ingatan tentang Hengking dan Apeng yang sering disebut dalam obrolan kakek dan bapak. Bertahun-tahun setelah saya tamat SD dan ilegal logging benar-benar dilarang, saya baru tahu Hengking dan Apeng ini adalah dua cukong yang berperan besar dalam penjarahan kayu di Kapuas Hulu. Mereka dekat dengan pemerintah sehingga berkali-kali lolos dari jerat hukum. 
Menjelang SMP, sebelum saya tamat SD bapak sudah tidak bekerja di sawmil. Tapi saya tidak pernah melupakan itu, sampai sekarang saya masih sering menuntut jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan waktu saya masih kecil. Mengapa nama Hengking dan Apeng sering disebut? Mengapa bapak jarang di rumah? Mengapa selalu wanti-wanti tiap ada polisi datang ke rumah? Dan itu tidak pernah terjawab, tapi saya tahu bapak menyadari kesalahannya pada bumi.
Ketika saya SMA berbagai tawaran untuk bapak dan kakek datang dari perusahaan yang bergerak di industri perkebunan kelapa sawit, mereka meminta belasan ribu hektar tanah untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Embaloh Hulu, kakek yang seorang temenggung dinilai memiliki peran khusus untuk menentukan apakah industri ini boleh masuk atau tidak. Sementara bapak yang merupakan cucu dari Reang - temenggung pertama Tamambaloh - berperan sebagai penentu apakah belasan ribu tanah yang dilirik perusahaan tersebut diserahkan atau tidak karena wilayah yang mereka inginkan berada di wilayah kekuasaan Reang. Syukurlah hingga hari ini tidak sejengkal tanah Tamambaloh dimasuki industri perkebunan kelapa sawit.
Semua kejadian ini menunjukkan bahwa kejahatan terhadap lingkungan terus terjadi dan saya melihatnya secara langsung. Saya tumbuh dengan ingatan-ingatan ini, bahwa orang-orang terdekat saya pernah menjarah hutan, meski kini mereka menyadari bagaimana mereka dimanfaatkan saat itu, pertanyaan saya masih belum terjawab. 
Kini hutan telah bergeser nilainya di mata mereka. Hutan kini identitas, kehilangan hutan berarti kehilangan identitas sebagai orang Dayak Tamambaloh. 
Tahun 2012 perjuangan panjang kakek dan orang-orang Tamambaloh dimulai, mereka mempertahankan tanah dari korporasi yang telah mendapat izin dari Bupati Kapuas Hulu. Perjuangan yang tidak mudah karena masih banyak masyarakat yang tergiur dengan iming-iming perusahaan, dan tiap saya pulang kemudian menikmati sejuknya udara dan segarnya air Tamambaloh, saya mengingat perjuangan itu, terima kasih.
Ketika mendapat kesempatan langsung untuk melihat gudang kayu milik A di Ambawang beberapa hari lalu, kejadian-kejadian yang terekam di ingatan saya kembali muncul. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa manusia memang egois dan tidak pernah merasa cukup. Saya cukup baper, tapi itulah kenyataanya. 
Seperti korupsi dan isu SARA, kejahatan lingkungan juga tidak pernah tuntas. Untuk kejahatan ilegal logging, jumlah kayu kini terbatas, dan inilah yang menyebabkan ilegal logging tidak lagi jadi fokus yang utama di Kalbar.
“Ilegal logging tidak lagi menjadi yang utama di kita bukan karena kemampuan melakukan penegakan hukum, bukan karena kemampuan melakukan pengawasan dan penjagaan tapi karena memang faktanya kayu-kayu itu sudah habis,” kata Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Barat, Anton P Widjaya.
Hutan di Kalbar kini hanya tersisa di wilayah konservasi, itu juga penuh polemik di dalamnya, ada hak-hak masyarakat lokal yang harus dibatasi atas nama pelestarian lingkungan, penyelamatan bumi, atau apalah istilahnya yang memang tujuannya baik, saya pun mendukung walau tetap menyertakan tapi. 
Ilegal logging yang saya saksikan sejak kecil sampai sekarang setelah saya bekerja telah mengajarkan saya untuk memahami siapa saya di tengah semesta yang luas ini. Ya elah nulis panjang-panjang Cuma buat bilang ini. Hahaha.
Kita ini adalah bagian dari alam, bukan penguasa alam. Kita adalah satu kesatuan yang tinggal di satu planet bernama bumi. Kalau bumi rusak lantas anak cucu kita tinggal di mana? Bumi inilah satu-satunya tempat kita hidup, seperti kata Apai Janggut, "kalau ada yang jual bibit bumi, saya mau beli," sayangnya tidak ada yang menjual bibit bumi. Inilah satu-satunya tempat kita tinggal.

Ah membicarakan kejahatan lingkungan seperti ilegal logging mungkin tidak asique dan menarique, ya? ya sudah sih hehe.

Intinya kejahatan lingkungan ini harus dihentikan, kejahatan lingkungan yang bagaimanapun bentuknya, kita harus mencegahnya.

Mencegah dengan hal sederhana seperti mencegah adik kecil kalian untuk buang sampah sembarangan misalnya, atau mencegah diri kalian didekati cowok yang tiap hari memikirkan cara memajukan Provinsi tapi puntung rokoknya tidak diurus. ehehehe -__-

Memahami siapa diri kita di tengah semesta ini, kita yang hanya satu titik kecil di planet bernama bumi. Alam dan manusia adalah satu kesatuan, kita satu bagian, kita bukan penguasa.
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment