Wednesday, October 11, 2017

Apakah Saya Generasi Z yang Gagal ?


Waktu masih kuliah saya adalah orang yang tidak peduli dengan teori generasi yang dicetuskan Karl Meinnheim.

Bagi saya, bodo amat mau saya digolongkan generasi X, Y atau Z, toh tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan saya. Diskusi-diskusi di grup virtual tentang teori generasi ini pun luput dari pantauan saya.

Pemahaman saya tentang teori ini pun masih sangat dangkal, sekadar mengetahui bahwa dalam teori generasi Karl Meinnheim, Generasi Milenial atau Generasi Y merupakan mereka yang lahir di atas tahun 1980 sampai 1997. Berdasarkan teori ini saya adalah Generasi Milenial/ Generasi Y.

Sementara itu pada tahun 2014 kosultan dari agen pemasaran Sparks and Honey menggolongkan manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014 sebagai Generasi Z. Berdasarkan teori ini, saya yang lahir tahun 1996 pun termasuk Generasi Z.

Pengetahuan saya seputar Generasi Milenial dan Generasi Z hanya sebatas itu. Sampai akhirnya pada akhir April, ketika sedang jauh dari rumah karena harus belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri, saya membaca sebuah artikel di tirto.id yang berjudul selamat tinggal generasi milenial selamat datang generasi z

Berdasarkan pemaparan yang ditulis oleh Aulia Adam itu, saya merasa bahwa saya bukan golongan generasi mana pun. Meski secara teori yang berlaku di Indonesia saya ini tergolong Generasi Z kenyataannya sebagai anakyang lahir dan tumbuh di daerah 3T saya justru merasa bagian dari milenial.

Jadi sejauh mana pentingnya memahami perbedaan Generasi Milenial dan Generasi Z ? Ternyata penting sekali. Tidak hanya dapat dijadikan pantauan pangsa pasar tetapi bagi manusia itu sendiri untuk menempatkan dirinya.

Sebagai Generasi Z yang justru merasa jadi bagian Generasi Milenial saya kerap kali merasa sulit bergaul. Teman-teman seusia saya kebanyakan masih berjuang menyelesaikan pendidikan tingkat S1, dan saya sudah mulai bekerja di tengah-tengah generasi X dan Y.

Kerap kali saya merasa tidak nyambung ketika berbincang dengan teman-teman generasi milenial terutama soal hobby dan minat, begitu pula dengan teman-teman generasi Z ketika berbicara tentang passion. Saya jadi bingung menempatkan diri saya...

Mungkin ini hanya berlaku untuk saya pribadi, beda orang mungkin beda kasus. Tapi yang saya ketahui, awalnya Karl Meinnheim membuat teori ini untuk mempermudah pekerjaan. Kalau ini tepat, maka saya merasa tidak terbantu sama sekali. Karena saya merasa gagal menjadi Generasi Z maupun Generasi Y -_-

Dulu waktu masih kecil, saya senang membaca karena saya perlu teman. Tidak ada teman di rumah karena kakak sejak usia 10 tahun sudah masuk asrama untuk belajar. Sekarang sudah puluhan tahun berlalu, alasan saya untuk membaca sudah semakin banyak, dan alasan pertama masih berlaku.

Di tengah ketidaksiapan saya menghadapi dunia, buku adalah teman terbaik.

This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment