Wednesday, October 11, 2017

"Terima kasih, jasamu abadi."


Senior saya yang pakai kaos putih polos :D


Hal-hal baik memang harus dituliskan, diabadikan.

Beberapa hari lagi genap satu bulan saya bekerja. Saya masih dalam proses adaptasi, nafsu makan masih berantakan dan pikiran belum tenang untuk diajak melahap buku (yang sudah mulai bertumpuk menunggu untuk dibaca)  kupu-kupu di perut saya masih saja menari-nari tiap kali saya ingin bertanya pada narasumber.

Dengan ke-cemen-an yang luar biasa ini, saya merasa sangat terbantu oleh seorang wartawan senior dan seorang temannya yang sering saya ikuti tiap kali liputan. Walaupun dia menolak disebut senior, begitu juga temannya.

Saya mulai jadi ekornya sejak saya ditugaskan untuk ikut bersamanya meliput sebuah event bertema Revolusi Mental (atau apalah itu) di sebuah hotel di Jalan Gajah Mada. Itu juga jadi pertemuan pertama saya dengan temannya, yang ternyata sudah saya kenal sejak lama melalui tulisan.

Sejak hari itu saya sering bertanya pada mereka, mulai dari hal sederhana seperti alamat sebuah tempat yang harus saya datangi sampai hal yang merepotkan seperti meminta menanyakan pertanyaan yang seharusnya saya tanyakan pada narasumber.

Ritual pagi saya tidak lagi sekadar membuka Instagram dan Twitter, tapi juga mengirim pesan "Bang, liputan ke mana hari ini ?"

Berminggu-minggu sejak menjadi ekornya, saya mulai belajar sedikt demi sedikit. Meski kupu-kupu di perut saya masih sering menari, hari minggu yang lalu saya akhirnya berani mewawancarai Wali Kota Pontianak sendirian. Ok, mungkin bagi kalian itu biasa saja.

Tapi untuk saya yang ngomongnya susaaaaaah banget kalau sudah nervous, ini adalah hal yang luar biasa. Bagi saya, nervous itu tidak enak. Sakit. Biasanya tangan saya dingin, pelan-pelan perut mulas lalu seperti ada kupu-kupu menari di perut. Saya jadi tidak bisa berbicara sama sekali, rasanya benar-benar sakit.

Tapi hari itu saya berhasil melawan rasa takut saya. Meski saat itu saya berdiri cukup lama memandanginya dari jarak 2 meter sampai akhirnya saya berani mendekat dan bertanya, bagi saya pengalaman hari itu sangatlah berkesan.

Rasanya tidak bisa saya ungkapkan, itu seperti berhasil mengalahkan roh jahat yang terperangkap dalam tubuhmu sendiri. Saya berhasil mengalahkan kupu-kupu di perut saya. Saya bahkan selfie sama beliau. hehehehe.

Nah senior saya dan temannya tadi, hampir setiap hari selalu mengarahkan saya ketika kami liputan. Mengajari cara untuk menulis berita dari berbagai sudut pandang, mendorong saya untuk berani bertanya, memotivasi kalau saya mulai mengeluh, dan sekarang dia sudah mulai mencoba menumbuhkan rasa ingin tahu saya agar saya mulai mencoba mencari isu sendiri untuk dijadikan berita.

Saya sangat terbantu oleh mereka, benar-benar terbantu. Jadi saya akan mengingat mereka dengan baik karena mereka menemani saya berproses ketika saya sedang krisis harapan, membagi ilmu yang sangat bermanfaat untuk saya. Kadang saya menyadari betapa merepotkannya saya, dan bertemu orang-orang yang tulus membantu meski baru kenal, itu juga termasuk kebaikan yang semesta berikan.

Seperti kata Bung Fiersa Besari, "Terima kasih, jasamu abadi."

Kelak, bertahun-tahun setelah ini, atau puluhan tahun yang akan datang, semoga saya masih sebuah kacang yang tau di mana kulitnya. Hal-hal baik seringkali dianggap terlalu tidak penting untuk diingat, bagi saya, orang-orang yang membagikan ilmunya kepada saya adalah orang yang patut saya ingat.

Di tengah kegalauan karena menyadari betapa lambatnya saya belajar menyesuaikan diri dan memenuhi tanggung jawab, bertemu mereka adalah sebuah semangat.

Tidak ada hal menyenangkan yang bisa saya bawa ketika berangkat untuk liputan, sampai akhirnya bertemu mereka. Setiap hari hal ini terjadi. Kata seorang teman, jadi wartawan itu gak keras, kamunya aja yang lembek.

Mungkin dia benar.
This entry was posted in

Apakah Saya Generasi Z yang Gagal ?


Waktu masih kuliah saya adalah orang yang tidak peduli dengan teori generasi yang dicetuskan Karl Meinnheim.

Bagi saya, bodo amat mau saya digolongkan generasi X, Y atau Z, toh tidak ada pengaruhnya dengan kehidupan saya. Diskusi-diskusi di grup virtual tentang teori generasi ini pun luput dari pantauan saya.

Pemahaman saya tentang teori ini pun masih sangat dangkal, sekadar mengetahui bahwa dalam teori generasi Karl Meinnheim, Generasi Milenial atau Generasi Y merupakan mereka yang lahir di atas tahun 1980 sampai 1997. Berdasarkan teori ini saya adalah Generasi Milenial/ Generasi Y.

Sementara itu pada tahun 2014 kosultan dari agen pemasaran Sparks and Honey menggolongkan manusia yang lahir pada tahun 1995 hingga 2014 sebagai Generasi Z. Berdasarkan teori ini, saya yang lahir tahun 1996 pun termasuk Generasi Z.

Pengetahuan saya seputar Generasi Milenial dan Generasi Z hanya sebatas itu. Sampai akhirnya pada akhir April, ketika sedang jauh dari rumah karena harus belajar bahasa Inggris di Pare, Kediri, saya membaca sebuah artikel di tirto.id yang berjudul selamat tinggal generasi milenial selamat datang generasi z

Berdasarkan pemaparan yang ditulis oleh Aulia Adam itu, saya merasa bahwa saya bukan golongan generasi mana pun. Meski secara teori yang berlaku di Indonesia saya ini tergolong Generasi Z kenyataannya sebagai anakyang lahir dan tumbuh di daerah 3T saya justru merasa bagian dari milenial.

Jadi sejauh mana pentingnya memahami perbedaan Generasi Milenial dan Generasi Z ? Ternyata penting sekali. Tidak hanya dapat dijadikan pantauan pangsa pasar tetapi bagi manusia itu sendiri untuk menempatkan dirinya.

Sebagai Generasi Z yang justru merasa jadi bagian Generasi Milenial saya kerap kali merasa sulit bergaul. Teman-teman seusia saya kebanyakan masih berjuang menyelesaikan pendidikan tingkat S1, dan saya sudah mulai bekerja di tengah-tengah generasi X dan Y.

Kerap kali saya merasa tidak nyambung ketika berbincang dengan teman-teman generasi milenial terutama soal hobby dan minat, begitu pula dengan teman-teman generasi Z ketika berbicara tentang passion. Saya jadi bingung menempatkan diri saya...

Mungkin ini hanya berlaku untuk saya pribadi, beda orang mungkin beda kasus. Tapi yang saya ketahui, awalnya Karl Meinnheim membuat teori ini untuk mempermudah pekerjaan. Kalau ini tepat, maka saya merasa tidak terbantu sama sekali. Karena saya merasa gagal menjadi Generasi Z maupun Generasi Y -_-

Dulu waktu masih kecil, saya senang membaca karena saya perlu teman. Tidak ada teman di rumah karena kakak sejak usia 10 tahun sudah masuk asrama untuk belajar. Sekarang sudah puluhan tahun berlalu, alasan saya untuk membaca sudah semakin banyak, dan alasan pertama masih berlaku.

Di tengah ketidaksiapan saya menghadapi dunia, buku adalah teman terbaik.

This entry was posted in