Monday, September 04, 2017

Simon Pabaras, Tokoh Pemuda Dayak dari Kalimantan Barat


Sore itu Pontianak sedang pucat-pucatnya, kabut asap agak tebal. Saya sedang menunggu seseorang di sebuah rumah makan yang terletak di jalan Arteri Supadio. "Pakai masker, bang. Soalnya kabut agak tebal." saya mengirim sebuah pesan melalui aplikasi chatting WhatsApp, tidak lama kemudian pesan itu dibalas dengan sepotong "Sip". Saya melanjutkan kesibukan membolak-balik daftar menu.
Sekitar 30 menit kemudian sebuah Ertiga memasuki halaman rumah makan yang tidak begitu luas. Dari jauh saya dapat menebak siapa pengemudinya,tebakan saya tidak keliru karena orang yang keluar dari sana langsung berjalan menuju tempat duduk saya.
Kami bersalaman, saya yang antusias ingin mengobrol, langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan kecil untuk membuat suasana nyaman, karena itu adalah kali pertama kami bertemu.

Ngobrol Asik  Bersama Bang Simon Pabaras, Tokoh Pemuda Dayak dari Kal-Bar 

Pemuda dayak kalbar
Di gedung PBB New York, menghadiri WCIP 2014
Obrolan kami dimulai dengan isu sosial yang menggerus masyarakat adat terutama diskriminasi peladang tradisional dan monopoli lahan perkebunan oleh korporasi. Setiap tahun, ketika bencana asap terjadi, peladang tradisional selalu menjadi kambing hitam. Berbagai stigma negatif diarahkan terhadap cara bercocok-tanam mereka.
Sore itu dia membagi pandangan tentang pentingnya menerapkan pembangunan berkelanjutan dan menjaga kearifan lokal, terutama bagi generasi muda. Sejak tahun 2007 dia mulai bekerja untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat bersama AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara). Hingga tahun 2015 dia dilirik NGO internasional dan bergabung bersama LifeMosaic.
Pengalamannya bergerak di daerah-daerah kecil memberikan banyak inspirasi bagi saya secara pribadi. Meskipun latar belakang pendidikannya di bidang teknik tapi kepedulian terhadap lingkungan dan budaya membuatnya terjun ke tengah masyarakat untuk bergerak menentang hegemoni yang menyengsarakan masyarakat adat, baik itu di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Tahun 2014 dia menghadiri World Conference on Indigenous People yang dilaksanakan di gedung PBB, New York. Beberapa pertemuan tingkat internasional juga pernah dihadirinya. Sebagai orang yang pernah menjadi ketua umum BPAN (Barisan Pemuda Adat Nusantara) pada tahun 2012-2015 pergerakannya terbilang cukup gencar.

Generasi Muda dan Budaya

Ditemani ubi goreng yang menjadi menu khas tempat kami mengobrol, saya sengaja meminta pendapatnya mengenai fenomena pemilihan bujang dara gawai yang semakin tahun semakin ramai dilaksanakan di berbagai wilayah di Kalbar. 
Jawabannya sangat sederhana, tapi sungguh membekas di hati saya. Dia mengatakan ada tiga jenis kepedulian masyarakat terhadap adat istiadat dan budaya, yang pertama adalah kepedulian yang disebabkan kesadaran, kedua adalah kepedulian yang disebabkan oleh linkungan sekitar, dan ketiga adalah kepedulian yang mendadak. Menurut Bang Simon, jenis ketiga cukup mewakili fenomena pemilihan putera puteri gawai ini. 
Mengingat betapa sinisnya saya terhadap ajang-ajang seperti ini, saya rasa jawaban yang dia berikan sangatlah tepat. Saya sering jengkel pada teman-teman saya yang berlomba-lomba mendaftarkan diri dalam ajang tahunan ini, sementara setiap hari mereka tidak peduli sama sekali terhadap isu-isu masyarakat adat, atau memiliki sikap kritis sama sekali terhadap kebudayaan yang sudah jauh dari makna budaya. 
Bagi saya mencintai adat istiadat tidak cukup dengan memakai pakaian tradisional (apalagi cuma memajang foto di instagram diikuti caption "aku bangga jadi perempuan Dayak"), mencintai budaya tidak cukup dengan mempelajari tari-tarian dan nyanyian daerah, yang lebih penting adalah memahami kearifan lokal yang masih saya gunakan sampai hari ini, memegang teguh prinsip-prinsip kebijaksanaan yang diwariskan dari leluhur saya secara turun temurun. Misalnya prinsip leluhur masyarakat Dayak Tamambaloh "sikondo takin bunga, siayam tolang manik, tio' satutuan"dan prinsip-prinsip lain yang mengajarkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Obrolan sore saat itu saya anggap sebagai penambah energi, saya tahu masih banyak orang-orang baik di sekitar saya, dan tugas saya adalah menyebarkan kebaikan itu. Bang Simon Pabaras adalah kebaikan yang ingin saya bagikan. Seorang mahasiswa teknik yang jatuh cinta pada alam lalu menjadi seorang aktivis. Kecintaannya pada alam membawanya bertemu banyak kehidupan.

Foto berikut adalah foto bang Simon, saya ambil dari  sebuah majalah terbitan tahun 2012 yang saya temukan ketika sedang merapikan kamar kakek.


This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment