Tuesday, August 22, 2017

[Review] Buku The Seven Good Years karya Etgar Keret

Sesuai dengan judulnya, kisah-kisah pada buku ini dibagi ke dalam tujuh bagian.
Berisi pengalaman pribadi Etgar Keret sebagai seorang penulis berkebangsaan Israel, sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga Yahudi, dan sebagai seorang ayah bagi Lev, putranya yang cerdas.

Dengan tebal 195 halaman, buku ini sangat tepat untuk dijadikan teman penghantar tidur, atau menunggu :D
Cara penulis menceritakan kesehariannya ketika tinggal di daerah yang sedang berkonflik sangat jenaka. Pesan kemanusiaan disampaikan dengan manis dan penuh humor dalam berbagai kisah sederhana yang dialaminya.

Etgar Keret memberikan sudut pandang yang lain dari sebuah peperangan. Buku ini sangat sederhana, mungkin kalian sudah membaca buku tentang perdamaian yang lebih kompleks dari ini, tapi The Seven Good Years adalah buku yang berbeda. Sejak selesai membacanya, saya tidak bisa berhenti memikirkan tempat lain yang jauh dari jangkauan saya saat ini, tempat di mana anak lelaki harus berani menembak, tempat di mana perang tidak pernah berhenti.

Melalui tulisannya sangat jelas di mana Etgar Keret berpihak, dia berpihak pada perdamaian. Bahkan ketika perdamaian itu mustahil terjadi, dia menciptakannya sendiri di pikirannya, di dalam keluarganya. Di Tel Aviv, di semua tempat yang didatanginya, Etgar Keret menciptakan perdamaiannya sendiri.
 
Beberapa judul dalam buku ini sampai saya baca berulang-ulang, karena saya sangat menyukainya. Tulisan berjudul Memuja Idola, Kakak Perempuanku yang Hilang, dan Laki-laki Jangan Menangis adalah tiga tulisan yang sangat saya suka. Ketiganya merupakan kisah pribadi tentang keluarga Etgar Keret. Membaca buku ini membuat pembaca jadi memahami konsep perdamaian yang dibawa Etgar Keret, perdamaian yang melampaui batas agama, bahkan negara.

Buku ini diterjemahkan oleh Ade Kumalasari, terima kasih untuknya, buku ini luar biasa terlebih dengan catatan kaki yang melengkapinya. Pembaca jadi memperoleh banyak kosakata dan pengetahuan tentang budaya Yahudi. Membaca buku ini membuat saya mengerti bahwa cinta kasih harus lebih banyak disebarkan, hidup berdampingan dengan sesama dalam perasaan damai tanpa rasa curiga adalah hal yang harus saya syukuri di kota ini.

Mengakhiri ulasan ini, saya ucapkan selamat mencari atau akan membaca buku The Seven Good Years, sebuah buku manis yang mengharukan. Sebuah buku yang layak dibaca di tengah krisis toleransi yang sedang sarat di negeri ini.

2 comments: