Friday, August 18, 2017

Mengawal Nanga Sungai (1)

Kalimat ini milik Prof. Rocky Gerung, saya ambil dari twitternya. Kalimat yang sangat tepat menggambarkan keadaan di Indonesia ketika kita berbicara tentang kemerdekaan. Hari ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan, 72 tahun yang lalu teks proklamasi dibacaka, sebuah peristiwa besar yang bertahun-tahun kemudian dirayakan dengan panjat pinang, tarik tambang dan lomba makan kerupuk.

Bebas menentukan nasib sendiri lantas tidak menjamin rakyat Indonesia benar-benar merdeka. Di daerah-daerah pedalaman, merdeka tidak pernah jelas maknanya apa. Pembangunan yang timpang menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan itu masih jauh dari kehidupan rakyat. Untuk hal ini Soekarno telah memberi peringatan "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Masyarakat di Nanga Sungai, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat merupakan orang-orang yang cukup lapang dada untuk menyatakan bahwa mereka juga telah merdeka. Dusun ini jaraknya tidak jauh dari pusat kecamatan, letaknya di tepi jalan besar, masyarakatnya juga  berpartisipasi aktif dalam pemilihan umum, tapi sampai hari ini kehidupan mereka masih jauh dari kata merdeka.

Keadaan dusun ini memprihatinkan, dengan 53 kepala keluarga yang didominasi usia produktif Nanga Sungai justru menjadi kampung yang tertinggal secara perekonomian di Kecamatan Embaloh Hulu. Yang menarik dari keadaan ini adalah kenyataan bahwa masyarakat Nanga Sungai merasa bahwa mereka dikondisikan agar menjadi tertinggal. Pernyataan ini dilontarkan dengan keras oleh Pak Acang, salah satu tokoh masyarakat yang berani menyuarakan tuntutan penduduk Nanga Sungai, beliau pernah nekat mengejar presiden Jokowi menggunakan motor ketika pak Jokowi datang ke Badau, sayang dia tidak berhasil karena ban motornya pecah.

Pak Acang mengungkapkan ada dua tuntutan pokok masyarakat Nanga Sungai yang sejak dulu mereka perjuangkan namun tidak kunjung terpenuhi, yaitu jembatan dan listrik. Sejak masa ilegal logging sampai kisruh perkebunan kelapa sawit menggerus masyarakat pedalaman, Nanga Sungai masih dengan keresahan yang sama, yaitu perihal jembatan dan listrik. Menurut pak Acang selama ini pemerintah bersikap seakan-akan tidak serius menyikapi tuntutan mereka, baik tingkat desa maupun daerah tidak pernah memberikan alasan yang jelas mengapa Nanga Sungai tidak dibangun sementara kampung yang lain selalu mendapat perhatian.
Nanga Sungai membutuhkan perbaikan jembatan yang fungsinya tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk kampung ini tapi juga oleh dua desa yang berada di hilir Nanga Sungai yaitu Paat dan Ulak Paok. Jembatan yang ada saat ini adalah jembatan gantung yang sudah rapuh, sejak Soeharto berkuasa sampai saat ini jembatan tersebut belum pernah diperbaiki. Padahal jembatan tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat Nanga Sungai, Paat, dan Ulak Paok karena jembatan itulah yang menghubungan mereka dengan desa-desa tetangga di bagian hulu. Jembatan ini merupakan akses masyarakat Nanga Sungai terhadap wilayah luar, mereka melakukan mobilisasi melalui jembatan ini, mobilitas yang mempengaruhi perekonomian penduduk, tidak hanya itu jembatan gantung ini juga yang harus dilalui anak-anak Nanga Sungai ketika harus pergi ke sekolah di Banua Martinus. Setiap hari mereka harus bertaruh nyali melalui jembatan yang kapan saja bisa ambruk..

Jembatan ini telah berkali-kali diperbaiki secara gotong royong oleh masyarakat Nanga Sungai, tapi tali-tali penggantungnya tetap putus ketika sudah terlalu lama digunakan. Selain tidak aman untuk masyarakat yang melintasi sungai ini, model jembatan gantung memang sudah tidak efektif untuk digunakan sebagai penghubung desa. Karena desa dengan jembatan gantung tidak akan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Jembatan gantung Nanga Sungai
Itulah salah satu penyebab mengapa perkembangan Nanga Sungai sangat lambat dibanding kampung lain. Pembeli getah karet hanya bisa sampai di depan jembatan, penduduk harus membawa sendiri getah karet mereka menggunakan motor atau sepeda bagi yang punya dan dipikul bagi yang tidak punya. Jarak jembatan gantung ini sekitar satu kilo meter dari permukiman penduduk. Jika ada warga yang sakit dan tidak mampu duduk di motor maka ambulance hanya bisa menjemput sampai jembatan gantung, penduduk akan bersama-sama menggendongnya menggunakan tandu. 

Bulan lalu ketika saya pulang ada warga yang sakit, karena mengalami patah tulang dia tidak bisa duduk di motor. Masyarakat lalu beramai-ramai membuat tandu dan memikulnya, berjalan kaki sekitar satu km menuju jembatan gantung.

Warga Nanga Sungai berssama-sama memikul tandu berisi salah satu warga yang sakit
Saya melihat sendiri bagaimana keresahan di wajah mereka ketika menggotong salah satu warga yang sedang sakit. Langkah mereka tergesa-gesa, pilu rasanya ketika melihat mereka mengenakan baju partai yang dibagi-bagi para pejabat ketika masa pemilu. Para pejabat yang bertanggungjawab membangun rakyatnya, para pejabat yang  mungkin secara sengaja tidak mau tahu terhadap nasib golongan kecil yang menjadikannya duduk di atas sana, mereka mungkin lupa bahwa ada 53 kepala keluarga di sebuah kampung bernama Nanga Sungai yang menjadi tanggungjawab mereka, 53 kepala keluarga yang membutuhkan pembangunan jembatan dan aliran listrik agar mereka bisa hidup dengan layak, secara manusiawi.

Merdeka itu memang hanya bagi orang-orang yang berlapang dada. Nanga Sungai yang malang, ketika penduduk di desa kiri kanannya sudah bisa menikmati internet sambil tiduran di kelambu, masyarakat Nanga Sungai masih harus berjibaku dengan jembatan gantung yang rapuh dan pelita minyak di malam hari. Selamat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Jembatan gantung yang berkali-kali diperbaiki secara mandiri oleh warga Nanga Sungai



Tampak dari bagian tengah
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment