Friday, August 25, 2017

Mengawal Nanga Sungai (2)

Pertemuan Dengan Stefanus S.Sos, Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu


pak Stefanus bersama salah satu warga Nanga Sungai
Catatan kali ini mengenai pertemuan masyarakat Nanga Sungai dengan salah satu anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, pak Stefanus S.Sos dalam rangka reses pada tanggal 24 Juni 2017. Salah satu momentum di mana masyarakat Nanga Sungai mengungkapkan kerinduan mereka terhadap pembangunan. Sebuah pertemuan yang berhasil menumpahkan segala kecamuk dalam pikiran masyarakat Nanga Sungai. Tidak bisa dipungkiri pertemuan hari itu adalah sebuah pertemuan yang membawa kesegaran baru, kebahagiaan yang lain karena pak Stefanus memberikan dana aspirasinya untuk pembangunan gereja di Nanga Sungai.

Saya sangat ingat hari itu karena ditanggal yang sama sepupu saya melaksanakan pernikahannya di Lanjak, tapi demi menyaksikan pertemuan antara masyarakat Nanga Sungai dengan pak Setfanus saya tidak  datang pada acara itu.

Pertemuan itu dilaksanakan di gedung serba guna Nanga Sungai. Antusias masyarakat untuk bertemu pak Stefanus sangat tinggi, pertanda banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Pertemuan itu dihadiri juga oleh kepala desa Saujung Giling Manik, pak Thobias dan kepala dusun Nanga Sungai, pak Nandus, tapi sangat disayangkan karena camat Embaloh Hulu tidak hadir. Padahal saat itu adalah saat yang tepat untuk berdialog langsung bersama masyarakat dan wakil rakyat yang telah mereka pilih bersama. Ekspektasi saya sangat besar membayangkan jika elemen ini berkumpul di satu ruang.

Di hadapan pak Stefanus masyarakat menyampaikan keinginan mereka untuk mendapat aliran listrik dan perbaikan jembatan Batang Tamao, jembatan gantung yang sebelumnya saya tuliskan  di sini.Pertemuan hari itu cukup menguras emosi, masyarakat tidak mampu membendung kekecewaan mereka terhadap pemerintah selama ini. Terlebih ketika kepala desa Saujung Giling Manik mengatakan bahwa Nanga Sungai memang tidak dialiri listrik karena pada tahun 1996 Nanga Sungai pernah menolak kehadiran PLN. 

Sebuah jawaban yang melukai perasaan warga Nanga Sungai. PLN adalah Badan Usaha Milik Negara yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia, rasanya sungguh tidak logis jika mereka menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai hanya karena 21 tahun yang lalu Nanga Sungai pernah menolak kehadiran perusahaan listrik milik negara ini.

Perlu diketahui tahun 1996 masyarakat Nanga Sungai masih berada di permukiman lama, para tokoh masyarakat yang menolak PLN masa itu kini sudah  meninggal. Sejak tahun 2009 masyarakat sudah pindah ke permukiman yang baru, puluhan meter meninggalkan tempat yang lama dengan alasan supaya dekat jalan raya, supaya pemerintah mudah membangun kampung ini. Sebuah ilusi.

Pada pertemuan hari itu kepala desa Saujung Giling Manik tahun 1996, pak Burung, hadir dan memberikan penjelasan mengenai penolakan PLN di masa itu. Dari penjelasan yang diberikan saya menarik kesimpulan bahwa terdapat kesalahpahaman dari pihak PLN, selengkapnya akan saya jabarkan di catatan berikutnya.

Sejak tahun 2010 hingga 2017 sudah berkali-kali masyarakat Nanga Sungai diminta untuk mengumpulkan foto copy KTP untuk pengajuan permohonan pemasangan listrik namun hingga tulisan ini dibuat masyarakat Nanga Sungai masih saja menggunakan pelita minyak di malam hari. Sebuah ironi karena Nanga Sungai satu-satunya kampung tanpa listrik di Kecamatan Embaloh Hulu, dan yang lebih mengecewakan adalah alasan yang dilontarkan pihak pemerintah (dalam hal ini kepala desa Sujung Giling Manik) bahwa PLN sengaja menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai karena 21 tahun yang lalu pernah terjadi kesalahpahaman. 

Bagi warga Nanga Sungai, tujuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 adalah omong kosong belaka. Nawacita membangun Indonesia dari pinggiran hanyalah isapan jempol.

Sejak saya masih mandi bertelanjang badan di Sungai Tamambaloh hingga usia saya 21 tahun, Nanga Sungai masih gelap gulita di malam hari. Sejak generasi saya hingga generasi berikutnya lahir, adik-adik di Nanga Sungai masih saja belajar mengeja huruf dengan  cahaya dari pelita minyak. Ketika teman-teman mereka di kampung sebelah mengerjakan PR dengan pencahayaan yang memadai di malam hari, adik-adik saya di Nanga Sungai masih harus berlomba mengerjakan PR dengan serangga pencari cahaya yang terbang mengitari sumbu pelita, sebuah keadaan yang saya alami puluhan tahun lalu dan masih dialami adik-adik saya yang baru lahir.

Ironi adalah ketika saya pulang ke tempat di mana saya selalu disambut hangat dan saya dapati keterbelakangan masih saja sama seperti kali pertama saya meninggalkan tempat itu.
Ironi adalah ketika orang sekampung penuh harap pindah ke permukiman baru di tepi jalan besar dengan ilusi pemerintah akan mudah membangun kampung mereka namun nyatanya  yang diimpikan tak pernah terjadi.
Ironi adalah ketika kita mengajari adik-adik kita yang lahir di tengah ketidakadilan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ironi adalah warga Nanga Sungai yang separuh hidupnya memimpikan cahaya listrik di malam hari dan sebuah jembatan kokoh yang mempermudah mereka menegok saudara di kampung sebelah atau melancarkan perjalanan mereka menuju kantor CU.
Ironi adalah ketika saya mengetahui tanah yang dulunya milik bapak namun kini jadi milik umum, yang menjadi tempat di mana sekolah dasar Nanga Sungai didirikan perlahan-lahan bersatu dengan air sungai, longsor sedikit demi sedikit. Entah, bagaimana nasib adik-adik di sana jika rumah sekolah itu bersatu dengan air. 
Sungguh ironis.

Segala keluhan hari itu ditampung oleh pak Stefanus dengan janji bahwa dia akan memperjuangkannya. Perjuangannya akan tetap berlanjut jika dia masih terpilih di periode berikutnya. Sedikit banyak, pertemuan hari itu melahirkan komitmen yang mesti tidak terucap tapi dipahami oleh semua yang hadir.

Bersama adik-adik di Nanga Sungai seusai pertemuan dengan Pak Stefanus, rumah sekolah di belakang itu adalah tempat mereka belajar, bangunan yang diperkirakan 5 tahun lagi akan menyatu dengan air di sungai Tamambaloh.

This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment