Monday, August 14, 2017

Endless Love

  

Jauh sebelum menyaksikan film Up dan A Man Called Ove saya telah menyaksikan the true endless love dari nenek dan kakek. 
Dari hubungan yang mereka miliki saya belajar banyak hal.
Nenek dan kakek memiliki karakter yang sangat berbeda. Nenek cenderung konservatif terhadap keluarganya, sikap melindunginya sangat kami rasakan. Dia tidak hanya melindungi kami ketika berada di lingkungan rumah, tapi juga di lingkungan luar.  Kadang saya merasa nenek keterlaluan, tapi itulah yang dia lakukan terhadap anak-anaknya dan cucu-cucunya. Sebagai cucu yang tumbuh bersama nenek saya tidak pernah menjadi korban bully, begitu juga mama dan tante-tante saya di masa lalu, mereka nyaris tidak pernah membaca surat cinta yang sampai karena nenek sudah duluan mengembalikannya. HAHAHA.
Dari neneklah saya mendengar kata berdikari untuk yang pertama kalinya. Nenek selalu mengatakan bahwa perempuan itu harus mandiri. Dari delapan anaknya hanya tiga orang yang laki-laki, enamnya perempuan, dan dia membuat anak-anak perempuannya memiliki jiwa yang tangguh. 
Meski sering mengomel kami semua tahu nenek sangat sensitif, perangainya keras tapi hatinya lembut. Dia adalah orang yang memiliki inisiatif di balik tindakan bijak yang dilakukan kakek.
Berbeda dengan nenek, kakek adalah sosok yang tidak banyak bicara. Tapi saya tahu dia adalah sosok yang penyayang, tanpa kata-kata, dia menunjukkannya dengan perbuatannya. Jangankan anak cucu, ayam saja disayang. hehe.
Kakek selamanya menjadi panutan untuk saya. Ketika tamat SMA saya menyaksikan kakek menolak tawaran rumah baru di Pontianak dengan mobil mewah dan sejumlah uang  dari salah satu perusahaan kelapa sawit yang berusaha masuk ke daerah kami. Kakek menolak dengan tegas, dia bahkan bersumpah selama dia hidup tidak sejengkal tanahpun bisa diambil perusahaan itu. Dialah yang membuat saya ingin belajar hukum, karena saya ingin membantunya. Pendidikannya yang rendah membuatnya kesulitan memahami peraturan pemerintah yang baru diberlakukan.
Kakek yang pendiam, kakek yang paling sabar menghadapi omelan nenek. Saya sangat percaya kalimat "di balik pemuda sukses, ada perempuan hebat". Tahun 2009 mereka merayakan pesta emas pernikahan mereka, sampai hari ini saya masih merasakan bagaimana cinta benar-benar tumbuh dalam keluarga kami. 
Kakek adalah orang yang memberi saya hadiah seragam ketika saya berusia 4 tahun, beberapa bulan kemudian saya mulai sekolah, tidak ada TK jadi saya langsung masuk SD. Nenek dan kakek yang membelikan saya buku bacaan ketika mereka ke Putussibau naik motor tambang ( satu hari satu malam baru sampai), sekarang saya senang karena kami bisa menjadi teman membaca. Tahun lalu saya pulang membawa buku Raden Mandasia buku ini lalu menjadi buku kesukaan mereka.  
Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa berartinya mereka dalam hidup saya. Nenek dan kakek yang membesarkan keluarganya dalam kesederhanaan. Tidak penting penilaian orang terhadap penampilan kita karena yang penting adalah apa yang benar-benar kita miliki, kita tidak perlu rumah mewah tapi kita selalu memiliki tempat untuk orang yang datang meminta bantuan, kita punya selimut dan bantal untuk dipinjamkan, kita punya makanan untuk diberikan, itu yang selalu mereka katakan.
Ada banyak hal yang saya rindukan dari mereka. Nenek yang selalu mengenakan topi tiap kali keluar rumah, dia keras kepala bekerja di ladang meskipun sudah tua sementara kakek adalah orang yang sangat senang memelihara ayam. Hadiah kesukaannya adalah ayam -__-
Mereka senang mengobrol pagi-pagi buta di balik kelambu, minum susu bersama pukul 6 pagi,  tertidur kelelahan di depan tv, di hadapan Mak Lampir yang menjadi tontonan favorit mereka pada pukul 10 malam.
Nenek dan kakek yang saling mengingatkan makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan diusia mereka yang sudah tua, nenek dan kakek yang sering lupa di mana meletakkan kacamata.
Nenek yang menyiapkan air hangat untuk mandi kakek dan kakek yang selalu merapikan kuku nenek.
Mereka yang berjalan beriringan dengan senyum sumringah ketika saya datang, yang selalu memanggil saya "Tong", yang selalu memberi uang jajan bahkan sampai cucunya sebesar ini. Mereka adalah cinta tanpa akhir yang benar-benar hadir dalam kehidupan saya. Cepat sembuh nek, kek. Terimakasih untuk semua pelajaran tentang hidup yang kalian berikan.

This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment