Friday, August 25, 2017

Mengawal Nanga Sungai (2)

Pertemuan Dengan Stefanus S.Sos, Anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu


pak Stefanus bersama salah satu warga Nanga Sungai
Catatan kali ini mengenai pertemuan masyarakat Nanga Sungai dengan salah satu anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, pak Stefanus S.Sos dalam rangka reses pada tanggal 24 Juni 2017. Salah satu momentum di mana masyarakat Nanga Sungai mengungkapkan kerinduan mereka terhadap pembangunan. Sebuah pertemuan yang berhasil menumpahkan segala kecamuk dalam pikiran masyarakat Nanga Sungai. Tidak bisa dipungkiri pertemuan hari itu adalah sebuah pertemuan yang membawa kesegaran baru, kebahagiaan yang lain karena pak Stefanus memberikan dana aspirasinya untuk pembangunan gereja di Nanga Sungai.

Saya sangat ingat hari itu karena ditanggal yang sama sepupu saya melaksanakan pernikahannya di Lanjak, tapi demi menyaksikan pertemuan antara masyarakat Nanga Sungai dengan pak Setfanus saya tidak  datang pada acara itu.

Pertemuan itu dilaksanakan di gedung serba guna Nanga Sungai. Antusias masyarakat untuk bertemu pak Stefanus sangat tinggi, pertanda banyak hal yang ingin mereka sampaikan. Pertemuan itu dihadiri juga oleh kepala desa Saujung Giling Manik, pak Thobias dan kepala dusun Nanga Sungai, pak Nandus, tapi sangat disayangkan karena camat Embaloh Hulu tidak hadir. Padahal saat itu adalah saat yang tepat untuk berdialog langsung bersama masyarakat dan wakil rakyat yang telah mereka pilih bersama. Ekspektasi saya sangat besar membayangkan jika elemen ini berkumpul di satu ruang.

Di hadapan pak Stefanus masyarakat menyampaikan keinginan mereka untuk mendapat aliran listrik dan perbaikan jembatan Batang Tamao, jembatan gantung yang sebelumnya saya tuliskan  di sini.Pertemuan hari itu cukup menguras emosi, masyarakat tidak mampu membendung kekecewaan mereka terhadap pemerintah selama ini. Terlebih ketika kepala desa Saujung Giling Manik mengatakan bahwa Nanga Sungai memang tidak dialiri listrik karena pada tahun 1996 Nanga Sungai pernah menolak kehadiran PLN. 

Sebuah jawaban yang melukai perasaan warga Nanga Sungai. PLN adalah Badan Usaha Milik Negara yang diberikan mandat untuk menyediakan kebutuhan listrik di Indonesia, rasanya sungguh tidak logis jika mereka menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai hanya karena 21 tahun yang lalu Nanga Sungai pernah menolak kehadiran perusahaan listrik milik negara ini.

Perlu diketahui tahun 1996 masyarakat Nanga Sungai masih berada di permukiman lama, para tokoh masyarakat yang menolak PLN masa itu kini sudah  meninggal. Sejak tahun 2009 masyarakat sudah pindah ke permukiman yang baru, puluhan meter meninggalkan tempat yang lama dengan alasan supaya dekat jalan raya, supaya pemerintah mudah membangun kampung ini. Sebuah ilusi.

Pada pertemuan hari itu kepala desa Saujung Giling Manik tahun 1996, pak Burung, hadir dan memberikan penjelasan mengenai penolakan PLN di masa itu. Dari penjelasan yang diberikan saya menarik kesimpulan bahwa terdapat kesalahpahaman dari pihak PLN, selengkapnya akan saya jabarkan di catatan berikutnya.

Sejak tahun 2010 hingga 2017 sudah berkali-kali masyarakat Nanga Sungai diminta untuk mengumpulkan foto copy KTP untuk pengajuan permohonan pemasangan listrik namun hingga tulisan ini dibuat masyarakat Nanga Sungai masih saja menggunakan pelita minyak di malam hari. Sebuah ironi karena Nanga Sungai satu-satunya kampung tanpa listrik di Kecamatan Embaloh Hulu, dan yang lebih mengecewakan adalah alasan yang dilontarkan pihak pemerintah (dalam hal ini kepala desa Sujung Giling Manik) bahwa PLN sengaja menolak permohonan masyarakat Nanga Sungai karena 21 tahun yang lalu pernah terjadi kesalahpahaman. 

Bagi warga Nanga Sungai, tujuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 adalah omong kosong belaka. Nawacita membangun Indonesia dari pinggiran hanyalah isapan jempol.

Sejak saya masih mandi bertelanjang badan di Sungai Tamambaloh hingga usia saya 21 tahun, Nanga Sungai masih gelap gulita di malam hari. Sejak generasi saya hingga generasi berikutnya lahir, adik-adik di Nanga Sungai masih saja belajar mengeja huruf dengan  cahaya dari pelita minyak. Ketika teman-teman mereka di kampung sebelah mengerjakan PR dengan pencahayaan yang memadai di malam hari, adik-adik saya di Nanga Sungai masih harus berlomba mengerjakan PR dengan serangga pencari cahaya yang terbang mengitari sumbu pelita, sebuah keadaan yang saya alami puluhan tahun lalu dan masih dialami adik-adik saya yang baru lahir.

Ironi adalah ketika saya pulang ke tempat di mana saya selalu disambut hangat dan saya dapati keterbelakangan masih saja sama seperti kali pertama saya meninggalkan tempat itu.
Ironi adalah ketika orang sekampung penuh harap pindah ke permukiman baru di tepi jalan besar dengan ilusi pemerintah akan mudah membangun kampung mereka namun nyatanya  yang diimpikan tak pernah terjadi.
Ironi adalah ketika kita mengajari adik-adik kita yang lahir di tengah ketidakadilan tentang kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Ironi adalah warga Nanga Sungai yang separuh hidupnya memimpikan cahaya listrik di malam hari dan sebuah jembatan kokoh yang mempermudah mereka menegok saudara di kampung sebelah atau melancarkan perjalanan mereka menuju kantor CU.
Ironi adalah ketika saya mengetahui tanah yang dulunya milik bapak namun kini jadi milik umum, yang menjadi tempat di mana sekolah dasar Nanga Sungai didirikan perlahan-lahan bersatu dengan air sungai, longsor sedikit demi sedikit. Entah, bagaimana nasib adik-adik di sana jika rumah sekolah itu bersatu dengan air. 
Sungguh ironis.

Segala keluhan hari itu ditampung oleh pak Stefanus dengan janji bahwa dia akan memperjuangkannya. Perjuangannya akan tetap berlanjut jika dia masih terpilih di periode berikutnya. Sedikit banyak, pertemuan hari itu melahirkan komitmen yang mesti tidak terucap tapi dipahami oleh semua yang hadir.

Bersama adik-adik di Nanga Sungai seusai pertemuan dengan Pak Stefanus, rumah sekolah di belakang itu adalah tempat mereka belajar, bangunan yang diperkirakan 5 tahun lagi akan menyatu dengan air di sungai Tamambaloh.

This entry was posted in

Tuesday, August 22, 2017

[Review] Buku The Seven Good Years karya Etgar Keret

Sesuai dengan judulnya, kisah-kisah pada buku ini dibagi ke dalam tujuh bagian.
Berisi pengalaman pribadi Etgar Keret sebagai seorang penulis berkebangsaan Israel, sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga Yahudi, dan sebagai seorang ayah bagi Lev, putranya yang cerdas.

Dengan tebal 195 halaman, buku ini sangat tepat untuk dijadikan teman penghantar tidur, atau menunggu :D
Cara penulis menceritakan kesehariannya ketika tinggal di daerah yang sedang berkonflik sangat jenaka. Pesan kemanusiaan disampaikan dengan manis dan penuh humor dalam berbagai kisah sederhana yang dialaminya.

Etgar Keret memberikan sudut pandang yang lain dari sebuah peperangan. Buku ini sangat sederhana, mungkin kalian sudah membaca buku tentang perdamaian yang lebih kompleks dari ini, tapi The Seven Good Years adalah buku yang berbeda. Sejak selesai membacanya, saya tidak bisa berhenti memikirkan tempat lain yang jauh dari jangkauan saya saat ini, tempat di mana anak lelaki harus berani menembak, tempat di mana perang tidak pernah berhenti.

Melalui tulisannya sangat jelas di mana Etgar Keret berpihak, dia berpihak pada perdamaian. Bahkan ketika perdamaian itu mustahil terjadi, dia menciptakannya sendiri di pikirannya, di dalam keluarganya. Di Tel Aviv, di semua tempat yang didatanginya, Etgar Keret menciptakan perdamaiannya sendiri.
 
Beberapa judul dalam buku ini sampai saya baca berulang-ulang, karena saya sangat menyukainya. Tulisan berjudul Memuja Idola, Kakak Perempuanku yang Hilang, dan Laki-laki Jangan Menangis adalah tiga tulisan yang sangat saya suka. Ketiganya merupakan kisah pribadi tentang keluarga Etgar Keret. Membaca buku ini membuat pembaca jadi memahami konsep perdamaian yang dibawa Etgar Keret, perdamaian yang melampaui batas agama, bahkan negara.

Buku ini diterjemahkan oleh Ade Kumalasari, terima kasih untuknya, buku ini luar biasa terlebih dengan catatan kaki yang melengkapinya. Pembaca jadi memperoleh banyak kosakata dan pengetahuan tentang budaya Yahudi. Membaca buku ini membuat saya mengerti bahwa cinta kasih harus lebih banyak disebarkan, hidup berdampingan dengan sesama dalam perasaan damai tanpa rasa curiga adalah hal yang harus saya syukuri di kota ini.

Mengakhiri ulasan ini, saya ucapkan selamat mencari atau akan membaca buku The Seven Good Years, sebuah buku manis yang mengharukan. Sebuah buku yang layak dibaca di tengah krisis toleransi yang sedang sarat di negeri ini.

Friday, August 18, 2017

Mengawal Nanga Sungai (1)

Kalimat ini milik Prof. Rocky Gerung, saya ambil dari twitternya. Kalimat yang sangat tepat menggambarkan keadaan di Indonesia ketika kita berbicara tentang kemerdekaan. Hari ini Indonesia memperingati hari kemerdekaan, 72 tahun yang lalu teks proklamasi dibacaka, sebuah peristiwa besar yang bertahun-tahun kemudian dirayakan dengan panjat pinang, tarik tambang dan lomba makan kerupuk.

Bebas menentukan nasib sendiri lantas tidak menjamin rakyat Indonesia benar-benar merdeka. Di daerah-daerah pedalaman, merdeka tidak pernah jelas maknanya apa. Pembangunan yang timpang menjadi bukti nyata bahwa kemerdekaan itu masih jauh dari kehidupan rakyat. Untuk hal ini Soekarno telah memberi peringatan "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."

Masyarakat di Nanga Sungai, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat merupakan orang-orang yang cukup lapang dada untuk menyatakan bahwa mereka juga telah merdeka. Dusun ini jaraknya tidak jauh dari pusat kecamatan, letaknya di tepi jalan besar, masyarakatnya juga  berpartisipasi aktif dalam pemilihan umum, tapi sampai hari ini kehidupan mereka masih jauh dari kata merdeka.

Keadaan dusun ini memprihatinkan, dengan 53 kepala keluarga yang didominasi usia produktif Nanga Sungai justru menjadi kampung yang tertinggal secara perekonomian di Kecamatan Embaloh Hulu. Yang menarik dari keadaan ini adalah kenyataan bahwa masyarakat Nanga Sungai merasa bahwa mereka dikondisikan agar menjadi tertinggal. Pernyataan ini dilontarkan dengan keras oleh Pak Acang, salah satu tokoh masyarakat yang berani menyuarakan tuntutan penduduk Nanga Sungai, beliau pernah nekat mengejar presiden Jokowi menggunakan motor ketika pak Jokowi datang ke Badau, sayang dia tidak berhasil karena ban motornya pecah.

Pak Acang mengungkapkan ada dua tuntutan pokok masyarakat Nanga Sungai yang sejak dulu mereka perjuangkan namun tidak kunjung terpenuhi, yaitu jembatan dan listrik. Sejak masa ilegal logging sampai kisruh perkebunan kelapa sawit menggerus masyarakat pedalaman, Nanga Sungai masih dengan keresahan yang sama, yaitu perihal jembatan dan listrik. Menurut pak Acang selama ini pemerintah bersikap seakan-akan tidak serius menyikapi tuntutan mereka, baik tingkat desa maupun daerah tidak pernah memberikan alasan yang jelas mengapa Nanga Sungai tidak dibangun sementara kampung yang lain selalu mendapat perhatian.
Nanga Sungai membutuhkan perbaikan jembatan yang fungsinya tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk kampung ini tapi juga oleh dua desa yang berada di hilir Nanga Sungai yaitu Paat dan Ulak Paok. Jembatan yang ada saat ini adalah jembatan gantung yang sudah rapuh, sejak Soeharto berkuasa sampai saat ini jembatan tersebut belum pernah diperbaiki. Padahal jembatan tersebut merupakan kebutuhan vital masyarakat Nanga Sungai, Paat, dan Ulak Paok karena jembatan itulah yang menghubungan mereka dengan desa-desa tetangga di bagian hulu. Jembatan ini merupakan akses masyarakat Nanga Sungai terhadap wilayah luar, mereka melakukan mobilisasi melalui jembatan ini, mobilitas yang mempengaruhi perekonomian penduduk, tidak hanya itu jembatan gantung ini juga yang harus dilalui anak-anak Nanga Sungai ketika harus pergi ke sekolah di Banua Martinus. Setiap hari mereka harus bertaruh nyali melalui jembatan yang kapan saja bisa ambruk..

Jembatan ini telah berkali-kali diperbaiki secara gotong royong oleh masyarakat Nanga Sungai, tapi tali-tali penggantungnya tetap putus ketika sudah terlalu lama digunakan. Selain tidak aman untuk masyarakat yang melintasi sungai ini, model jembatan gantung memang sudah tidak efektif untuk digunakan sebagai penghubung desa. Karena desa dengan jembatan gantung tidak akan bisa dilalui oleh kendaraan roda empat.

Jembatan gantung Nanga Sungai
Itulah salah satu penyebab mengapa perkembangan Nanga Sungai sangat lambat dibanding kampung lain. Pembeli getah karet hanya bisa sampai di depan jembatan, penduduk harus membawa sendiri getah karet mereka menggunakan motor atau sepeda bagi yang punya dan dipikul bagi yang tidak punya. Jarak jembatan gantung ini sekitar satu kilo meter dari permukiman penduduk. Jika ada warga yang sakit dan tidak mampu duduk di motor maka ambulance hanya bisa menjemput sampai jembatan gantung, penduduk akan bersama-sama menggendongnya menggunakan tandu. 

Bulan lalu ketika saya pulang ada warga yang sakit, karena mengalami patah tulang dia tidak bisa duduk di motor. Masyarakat lalu beramai-ramai membuat tandu dan memikulnya, berjalan kaki sekitar satu km menuju jembatan gantung.

Warga Nanga Sungai berssama-sama memikul tandu berisi salah satu warga yang sakit
Saya melihat sendiri bagaimana keresahan di wajah mereka ketika menggotong salah satu warga yang sedang sakit. Langkah mereka tergesa-gesa, pilu rasanya ketika melihat mereka mengenakan baju partai yang dibagi-bagi para pejabat ketika masa pemilu. Para pejabat yang bertanggungjawab membangun rakyatnya, para pejabat yang  mungkin secara sengaja tidak mau tahu terhadap nasib golongan kecil yang menjadikannya duduk di atas sana, mereka mungkin lupa bahwa ada 53 kepala keluarga di sebuah kampung bernama Nanga Sungai yang menjadi tanggungjawab mereka, 53 kepala keluarga yang membutuhkan pembangunan jembatan dan aliran listrik agar mereka bisa hidup dengan layak, secara manusiawi.

Merdeka itu memang hanya bagi orang-orang yang berlapang dada. Nanga Sungai yang malang, ketika penduduk di desa kiri kanannya sudah bisa menikmati internet sambil tiduran di kelambu, masyarakat Nanga Sungai masih harus berjibaku dengan jembatan gantung yang rapuh dan pelita minyak di malam hari. Selamat memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia.
Jembatan gantung yang berkali-kali diperbaiki secara mandiri oleh warga Nanga Sungai



Tampak dari bagian tengah
This entry was posted in

Monday, August 14, 2017

Endless Love

  

Jauh sebelum menyaksikan film Up dan A Man Called Ove saya telah menyaksikan the true endless love dari nenek dan kakek. 
Dari hubungan yang mereka miliki saya belajar banyak hal.
Nenek dan kakek memiliki karakter yang sangat berbeda. Nenek cenderung konservatif terhadap keluarganya, sikap melindunginya sangat kami rasakan. Dia tidak hanya melindungi kami ketika berada di lingkungan rumah, tapi juga di lingkungan luar.  Kadang saya merasa nenek keterlaluan, tapi itulah yang dia lakukan terhadap anak-anaknya dan cucu-cucunya. Sebagai cucu yang tumbuh bersama nenek saya tidak pernah menjadi korban bully, begitu juga mama dan tante-tante saya di masa lalu, mereka nyaris tidak pernah membaca surat cinta yang sampai karena nenek sudah duluan mengembalikannya. HAHAHA.
Dari neneklah saya mendengar kata berdikari untuk yang pertama kalinya. Nenek selalu mengatakan bahwa perempuan itu harus mandiri. Dari delapan anaknya hanya tiga orang yang laki-laki, enamnya perempuan, dan dia membuat anak-anak perempuannya memiliki jiwa yang tangguh. 
Meski sering mengomel kami semua tahu nenek sangat sensitif, perangainya keras tapi hatinya lembut. Dia adalah orang yang memiliki inisiatif di balik tindakan bijak yang dilakukan kakek.
Berbeda dengan nenek, kakek adalah sosok yang tidak banyak bicara. Tapi saya tahu dia adalah sosok yang penyayang, tanpa kata-kata, dia menunjukkannya dengan perbuatannya. Jangankan anak cucu, ayam saja disayang. hehe.
Kakek selamanya menjadi panutan untuk saya. Ketika tamat SMA saya menyaksikan kakek menolak tawaran rumah baru di Pontianak dengan mobil mewah dan sejumlah uang  dari salah satu perusahaan kelapa sawit yang berusaha masuk ke daerah kami. Kakek menolak dengan tegas, dia bahkan bersumpah selama dia hidup tidak sejengkal tanahpun bisa diambil perusahaan itu. Dialah yang membuat saya ingin belajar hukum, karena saya ingin membantunya. Pendidikannya yang rendah membuatnya kesulitan memahami peraturan pemerintah yang baru diberlakukan.
Kakek yang pendiam, kakek yang paling sabar menghadapi omelan nenek. Saya sangat percaya kalimat "di balik pemuda sukses, ada perempuan hebat". Tahun 2009 mereka merayakan pesta emas pernikahan mereka, sampai hari ini saya masih merasakan bagaimana cinta benar-benar tumbuh dalam keluarga kami. 
Kakek adalah orang yang memberi saya hadiah seragam ketika saya berusia 4 tahun, beberapa bulan kemudian saya mulai sekolah, tidak ada TK jadi saya langsung masuk SD. Nenek dan kakek yang membelikan saya buku bacaan ketika mereka ke Putussibau naik motor tambang ( satu hari satu malam baru sampai), sekarang saya senang karena kami bisa menjadi teman membaca. Tahun lalu saya pulang membawa buku Raden Mandasia buku ini lalu menjadi buku kesukaan mereka.  
Tidak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa berartinya mereka dalam hidup saya. Nenek dan kakek yang membesarkan keluarganya dalam kesederhanaan. Tidak penting penilaian orang terhadap penampilan kita karena yang penting adalah apa yang benar-benar kita miliki, kita tidak perlu rumah mewah tapi kita selalu memiliki tempat untuk orang yang datang meminta bantuan, kita punya selimut dan bantal untuk dipinjamkan, kita punya makanan untuk diberikan, itu yang selalu mereka katakan.
Ada banyak hal yang saya rindukan dari mereka. Nenek yang selalu mengenakan topi tiap kali keluar rumah, dia keras kepala bekerja di ladang meskipun sudah tua sementara kakek adalah orang yang sangat senang memelihara ayam. Hadiah kesukaannya adalah ayam -__-
Mereka senang mengobrol pagi-pagi buta di balik kelambu, minum susu bersama pukul 6 pagi,  tertidur kelelahan di depan tv, di hadapan Mak Lampir yang menjadi tontonan favorit mereka pada pukul 10 malam.
Nenek dan kakek yang saling mengingatkan makanan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan diusia mereka yang sudah tua, nenek dan kakek yang sering lupa di mana meletakkan kacamata.
Nenek yang menyiapkan air hangat untuk mandi kakek dan kakek yang selalu merapikan kuku nenek.
Mereka yang berjalan beriringan dengan senyum sumringah ketika saya datang, yang selalu memanggil saya "Tong", yang selalu memberi uang jajan bahkan sampai cucunya sebesar ini. Mereka adalah cinta tanpa akhir yang benar-benar hadir dalam kehidupan saya. Cepat sembuh nek, kek. Terimakasih untuk semua pelajaran tentang hidup yang kalian berikan.

This entry was posted in

Saturday, August 05, 2017

4 Kekeliruan terhadap masyarakat adat ketika bencana asap muncul

Masyarakat adat Tamambaloh di Palin sedang membersihkan lahan setelah proses membakar ladang.
Foto: Ache Salalona
Asap pekat kembali muncul di Kalimantan Barat, berbagai asumsi mulai diarahkan pada masyarakat adat. Berkaitan dengan isu ini, kemarin Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengeluarkan pernyataan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi umumnya disebabkan oleh kebiasaan masyarakat adat yang membakar lahan untuk berladang. Pernyataan ini saya ambil dari berita yang dilansir Kompas.com pada hari Kamis, 3 Agustus 2017.

Saya rasa kekeliruan ini tidak bisa dibiarkan, baik pemerintah maupun masyarakat biasa. Mungkin semua orang harus memperbanyak referensi bacaan ataupun tontonan supaya sudut pandangnya berkembang, supaya pengetahuannya tidak timpang, terlebih bagi pemerintah agar tidak keliru mengambil keputusan. Kali ini saya ingin menulis beberapa kekeliruan pemahaman terhadap cara berladang masyarakat adat.
1. Masyarakat adat tidak membakar hutan
Masyarakat adat tidak membakar hutan, yang mereka bakar adalah lahan lama yang telah mereka tinggalkan dua atau tiga tahun yang lalu, dalam komunitas Dayak Tamambaloh tanah ini dinamakan tana' toa. Sebagai lahan bekas, lahan seperti ini tidak memiliki banyak pohon besar sehingga tidak banyak kayu yang ditebang ketika lahan kembali digunakan. Apalagi jika lahan bekas tersebut telah ditanami pohon karet sebelumnya. Jadi pernyataan masyarakat adat membakar hutan adalah kekeliruan besar.  

2. Masyarakat adat melakukan ladang berpindah tanpa membuka hutan baru

Kekeliruan lainnya adalah pemahaman masyarakat awam mengenai kebiasaan masyarakat adat melakukan ladang berpindah. Ladang berpindah bukan berarti masyarakat adat membabat hutan baru lagi sebagai lahan untuk berladang. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa yang mereka lakukan adalah pindah ke lahan lama yang pernah mereka garap dua atau tiga tahun yang lalu yang disebut tana' toa. Tanah yang telah ditumbuhi kayu-kayu kecil dan ditumbuhi berbagai tumbuhan liar. Mengapa tana' toa dipilih ? karena tanah yang pernah dijadikan lahan berladang sebelumnya dan didiamkan sekian tahun akan menjadi tanah yang baik untuk menyemai benih padi yang baru. Masyarakat adat tidak menggunakan pupuk sama sekali untuk berladang, mereka benar-benar mengandalkan proses alam. Inilah yang disebut kearifan lokal.
 3. Bagaimana cara masyarakat adat membakar ladang

Membakar ladang adalah bagian dari kearifan lokal, apa yang dimaksud kearifan lokal ? kearifan lokal sendiri adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan yang digunakan untuk mengatasi masalah atau memenuhi kebutuhan masyarakat adat untuk bertahan hidup. Kearifan lokal disebut juga dengan pengetahuan lokal, pengetahuan ini diturunkan dari generasi ke generasi.
 Dalam masyarakat adat membakar ladang mempunyai aturan tersendiri. Ada berbagai aturan yang diterapkan, bahkan beberapa komunitas adat memasukkan hal ini ke dalam hukum adat mereka jauh sebelum undang-undang tentang lingkungan hidup dibuat. Membakar ladang tidak dilakukan sembarangan, sama seperti tahap berladang lainnya, membakar ladang juga memiliki ritual khusus. Pembatas akan dibuat dengan jelas agar petani bisa mengawasi apinya, waktu untuk membakar juga ditentukan dengan cermat dan tidak dilakukan sendirian.
 4. Salah paham mengenai pasal 69 ayat 2 Undang-Undang Nomor 32      Tahun 2009

Pasal 69 ayat 2 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup  merupakan pasal yang melegalkan cara membakar ladang bagi masyarakat adat dengan luas maksimal 2 hektare per kepala keluarga dan tanaman yang ditanam adalah varietas lokal. Ini sebagai pertimbangan untuk penduduk Indonesia yang sebagian adalah masyarakat adat yang masih menerapkan kearifan lokal dalam kegiatan sehari-hari.
Namun kesalahpahaman muncul di sini ketika masyarakat awam melihat jumlah maksimal 2 hektare per kepala keluarga. Dari batas yang disebutkan dalam pasal ini muncul banyak asumsi terhadap masyarakat adat yang berladang. "Gila, kalau satu kepala keluarga berladang 2 hektare berarti satu kampung habis berapa lahannya ?pantasan kabut asap tebal banget." kira-kira begitulah asumsi yang muncul dari masyarakat awam. Padahal dalam kenyataannya satu kepala keluarga tidak pernah mampu berladang sampai 2 hektare. Itu hanyalah frase untuk jumlah paling besar, dalam prakteknya keadaan seperti ini tidak pernah ditemukan. 
Masyarakat adat berladang untuk makan, untuk menaman padi dan sayur agar mereka tetap bertahan hidup. Kalau membakar ladang benar-benar dilarang, lantas bagaimana nasib  mereka ? itu sama saja seperti pembunuhan. Mungkin masih lekat di ingatan kita bagaimana usaha pihak korporasi untuk menyudutkan masyarakat adat.
Pada bulan Mei yang lalu Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) mengajukan judical review terhadap pasal ini. Mereka meminta pasal ini dihapuskan sebagai upaya preventif bagi tindakan pembakaran lahan hutan karena menurut mereka penyebab bencana asap selama ini adalah masyarakat adat. Seringkali masyarakat adat dijadikan kambing hitam atas bencana asap yang terjadi di negara kita. Penghapuasan pasal 69 ayat 2 UU No 32 tahun 2009 sama saja dengan pembunuhan bagi masyarakat adat, bukan hanya pembunuhan jiwa tapi juga identitas. Namun akhirnya pada bulan Juni Gapki dan APHI menarik gugatan tentang pasal ini. 

Untuk masyarakat yang hanya terbentur oleh isu-isu sosial yang muncul di media massa, upaya mengkambinghitamkan masyarakat adat bisa saja berhasil mengubah cara pandang mereka terhadap kearifan lokal yang dimiliki masyarakat adat. Meski penelitian, penyelidikan, dan fakta menunjukkan bahwa pelaku kejahatan pembakaran lahan dan hutan adalah korporasi tetap saja ada orang yang setuju bahwa masyarakat adat harus dilarang membakar ladang. Ladang di mana mereka menabur benih untuk bertahan hidup. Ini sangat diskriminatif, dan kita sebagai akar rumput, sebagai masyarakat yang lahir di tengah-tengah mereka, tidak ada kata lain selain lawan. Lawan pemerintah yang hanya bisa melarang tanpa memberi solusi, lawan opini-opini negatif dari masyarakat yang tidak pernah tahu sama sekali tentang cara hidup masyarakat adat, sekecil apapun usahamu melawan, bahkan tulisan juga adalah perlawanan.

ps: Tahun lalu saya pernah menulis keresahan yang sama di sini
 hehehe sorry kalau judulnya kek judul-judul artikel di Len Tudei.