Thursday, July 27, 2017

Pesan di Balik Kalimat Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan

foto: Ache Salalona
Ketika menghadiri acara sijaratan, sebuah upacara pernikahan adat suku Dayak Tamambaloh, kita pasti menemukan tulisan "Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan". Tidak hanya di tempat acara berlangsung, kadang tulisan ini dijadikan pembuka untuk undangan pernikahan putra-putri Tamambaloh.
Kalimat ini diambil dari penggalan baranangis yang dilantunkan pada acara sijaratan. Baranangis sendiri adalah sastra lisan suku Dayak Tamambaloh. Baranangis menggunakan bahasa pengandaian yang jarang digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat Tamambaloh, karena itu kalimat Sikondo Takin Bunga, Siayam Tolang Manik, Tio' Satutuan tidak bisa diartikan secara harafiah. 
Berdasarkan penjelasan Pius Onyang ST, Tamanggung suku Dayak Tamambaloh di Kecamatan Embaloh Hulu, kalimat ini berisi pesan untuk menjaga persaudaraan.
Sikondo takin bunga berarti hidup saling menjaga seperti bunga takin yang disusun hingga kuat untuk dijadikan penggalang ikat kepala para wanita Tamambaloh. Perlu diketahui juga bahwa bunga takin adalah salah satu wewangian alami yang sering digunakan masyarakat Tamambaloh di masa dahulu. 
Siayam tolang manik artinya hidup saling menghormati satu sama lain, menuruti aturan hingga bisa hidup berdampingan ibaratkan biji manik yang dianyam hingga membentuk sebuah pola yang indah yang dikenakan pada pakaian adat Tamambaloh.
Tio' satutuan berarti hidup bersama sepanjang masa, ini berarti sesama banuaka' jangan sampai bertengkar lalu ada yang memisahkan diri. Hendaknya sesama banuaka' hidup saling menyayangi.
Begitulah para leluhur suku Dayak Tamambaloh memberi pesan pada anak-cucunya, agar selalu hidup saling menjaga dan menghormati, hidup dalam belas kasih terhadap sesama. Karena itu pesan ini sebenarnya bersifat universal, tidak hanya digunakan untuk orang menikah tetapi juga untuk kehidupan masyarakat Tamambaloh sehari-hari. 

Thursday, July 20, 2017

Nikah Muda Bukan Solusi

(Sumber : Imagefully)

"Ah biar saja menikah, lagi pula orangtuanya tidak menyekolahkannya" kalimat itu berkali-kali saya dengar dari mulut orang yang berbeda ketika ada kabar mengenai seorang gadis baru tamat SMA yang memutuskan menikah di kampung. "Lebih baik menikah daripada tidak sekolah." itu adalah komentar yang lain.

Cara pandang masyarakat seperti ini adalah racun bagi generasi muda yang rentan putus asa dengan realitas.

Ketika orangtua tidak mampu membiayai pendidikn ke jenjang yang lebih tinggi, menikah bukanlah solusinya.
Pernikahan di usia muda justru melahirkan resiko baru yang lebih buruk.

Bayangkan keluarga seperti apa yang akan tumbuh di tengah ketidaksiapan ekonomi ? Bagaimana sepasang suami istri akan membesarkan manusia baru di tengah ketidakmampuan mereka mengatasi konflik rumah tangga ?
Lagipula menikah itu bukan perkara gampang, keputusan menikah akan melahirkan konsekuensi baru dalam kehidupan seseorang.

Hubungan pernikahan bukanlah hubungan yang bisa diakhiri begitu saja ketika banyak masalah dan dilanjutkan lagi ketika ingin bersama. Jadi untuk adik-adik yang berpikiran menikah setamat SMA, yang belum tau harga popok bayi berapa, sebaiknya dipikirkan lebih matang. Menikah tidak sebercanda itu :')
Sebagai masyarakat, membenarkan keputusan menikah yang diambil remaja karena ketidakmampuan orangtua untuk menyekolahkannya adalah kekeliruan besar. Itu sama saja dengan mendukung seseorang untuk terjerumus pada sebuah pilihan yang salah.

Bahkan secara tidak langsung cara berpikir seperti ini akan melahirkan suatu budaya baru di kemudian hari, betapa menakutkannya membayangkan suatu hari nanti keputusan menikah akan diambil oleh para remaja yang baru lulus SMA dengan mudahnya karena mereka tahu orangtuanya tidak mampu membayar biaya pendidikan di perguruan tinggi. Ini sangat serius.

Yang harus dipahami oleh adik-adik kita adalah ketika orangtua tidak mampu membayar biaya pendidikan, itu bukan salah mereka. Ada banyak orangtua yang tetap tidak mampu membayar uang kuliah meski telah bekerja siang malam, meski telah berhemat setengah mati, meski telah mengurangi jatah uang makan keluarga. Bahkan ada orangtua yang tetap tidak mampu menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi meski telah menabung. Bukan salah mereka mengapa biaya pendidikan semakin tinggi meski sudah banyak kebijakan pemerintah yang disinyalir mampu mengatasi masalah ini, bukan salah para ayah dari kelas terendah mengapa anak-anaknya tidak bisa kuliah meski mereka telah merancang kehidupan yang layak untuk putra putrinya dengan sedemikian rupa.

Sementara itu yang harus dipahami masyarakat adalah kita ini bagian dari lingkungan tempat jiwa-jiwa muda ini tumbuh. Jika kita menanamkan pemahaman yang keliru maka pemahaman itu tetap benar bagi mereka, karena di sanalah mereka tumbuh. Ketika pemahaman itu sudah masuk ke dalam sanubari mereka maka perlu waktu lama untuk membuat mereka sadar bahwa itu keliru. Karena itu saya harap tidak ada lagi komentar "ah biar sajalah dia menikah, lagipula orangtuanya tidak menyekolahkannya."

Ketika kita mendapati seorang remaja yang baru mendapat pengumuman lulus ujian seleksi masuk perguruan tinggi duduk merenung dengan wajah sedih karena dia tahu dia tidak akan pergi sebab orangtuanya tidak punya biaya, yang harus kita lakukan adalah menghiburnya, memberinya motivasi bahwa kuliah tidak hanya untuk tahun ini. Katakan padanya  untuk mengumpulkan uang dulu, melakukan hal besar itu bersama kedua orangtuanya dan pergi tahun berikutnya. Itu adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari lingkungannya.

Untuk adik-adik yang tahun ini belum bisa kuliah, menikah bukan solusinya :'D
Lebih baik tahun ini bekerja dan menabung, tahun depan baru melanjutkan pendidikan. Ingat, jiwa yang besar tidak tumbuh di tengah kenyamanan. Semangat!