Saturday, June 03, 2017

[Review buku] Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak


Saya baru saja selesai membaca buku Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak. Buku yang terbit bulan April  ini ibaratkan kue semprit yang baru dikeluarkan dari oven, masih hangat. Ada 16 catatan yang ditulis oleh seniman yang berbeda. Dibuka dengan catatan milik John Lennon dan ditutup oleh catatan istrinya, Yoko Ono, mengenai revolusi feminin. 

Catatan favorit saya di buku ini adalah catatan dari vokalis Radiohead, Thom Yorke, yang berjudul Globalisasi dan Aktivisme Politik. Dia menuliskan bagaimana politik bekerja dan menguasai ekonomi, bagaimana sudut pandangnya mengenai media yang mengendalikan opini publik. Karena saya adalah pengagum diksi di lagu-lagu Radiohead maka ketika membaca tulisannya kali ini saya merasa bertemu teman satu kubu.

Ada juga catatan berjudul Percakapan Dengan Sejarah oleh Oliver Stone, seorang sutradara yang terkenal karena film-film muatan politiknya. Dia menegaskan bahwa film memiliki pengaruh besar terhadap pandangan sebuah bangsa mengenai kejadian di masa lalu.

Film bisa mengubah pikiran penontonnya, bahkan pikiran generasi-generasi berikutnya. Ini tidak diragukan lagi karena saya sendiri melihat bagaimana rezim orde baru berhasil mendoktrin bangsa Indonesia melalui sebuah film yang sengaja dibuat pemerintah agar masyarakat membenci PKI, film itu wajib ditonton oleh semua pelajar di masa itu, dan dampak dari doktrin itu masih ada sampai sekarang. Terbukti dengan stigma negatif mengenai PKI yang dipercaya oleh masyarakat khususnya generasi yang hidup di masa orde baru. Gagasan Oliver Stone untuk membingkai masa lalu dalam sebuah film adalah upaya yang baik untuk mengingatkan kita agar selalu waspada, agar selalu belajar.

Seniman lainnya memiliki catatan yang berbeda, ada kritik terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Ada banyak suara-suara kemanusiaan yang tertuang dalam buku ini. Tulisan seperti ini jadi terasa spesial karena ditulis oleh para bintang hiburan, ada penyanyi, aktor, aktris, sutradara, bahkan pelukis. 

Catatan Bob Dylan adalah catatan yang wajib dibaca oleh anak-anak muda korban trend. Dalam catatan berjudul Aku Hanya Bernyanyi, Terserah Kalian Mau Apa dia menuliskan kritiknya terhadap orang-orang yang keliru menggunakan opium dan ganja. Opium dan ganja adalah lambang protes, lambang perlawanan, tapi sekarang menjadi lambang gaya-gayaan, katanya.

Saya lalu teringat pada teman-teman kampus yang bangga setengah mati memiliki rambut gondrong, padahal yang lebih penting dari kepala bukanlah rambutnya tapi isi dari kepala itu sendiri. Ehe. Ya Bob Dylan akan kecewa juga melihat ini karena hippies benar-benar telah mati ditelan hashtag #SaveGondrong #Gondrongbukankriminal atau #gondrongindonesia.

Pada catatan yang lain Pablo Picasso dengan gamblang menuliskan alasannya bergabung dalam partai dan menjadi seorang komunis. Setidaknya kaum komunis mendapat dukungan untuk menangkis lelucon yang sering dilemparkan orang-orang sayap kanan mengenai buruknya estetika orang-orang kiri ketika berkarya. 

Ada banyak tulisan di buku ini, mereka semua ditulis dengan ringkas. Tulisan terpanjang adalah milik Oliver Stone, sementara yang paling pendek milik Jean-Michael Basquat. Dengan tebal 160 halaman tidak perlu waktu lama untuk membaca buku ini.

Kata pengatarnya adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan, Adhe Ma'ruf yang juga penerjemah buku ini menyampaikan kata pengantar dengan apik.

Menurut saya tulisan seperti ini harus disebarkan, tulisan dari para seniman yang memiliki banyak pengikut. Lebih banyak seniman yang peduli pada kehidupan sosial, lebih baik, karena pasti banyak yang terpengaruh dan mengikuti gagasan mereka. 

Buku ini adalah bagian dari slogan "Melawan dengan Seni!". Tulisan-tulisan yang berisi perlawanan dari para seniman, meski demikian seni dalam buku ini tidak hilang sama sekali, kecuali pada tiga halaman terakhir.

Seperti kata Adhe Ma'ruf, siapa tahu ujaran dan tindakan para bintang ini bisa memotivasi kita untuk ikut mengubah dunia menuju tatanan yang lebih aman dan adil, buku ini sangat bagus untuk dijadikan teman di akhir pekan. Sambil Menghisap Ganja Bersama Tuhan adalah tulisan yang kritiknya paling keras menurut saya, jadi silakan dibuka halaman 37, selamat berdiskusi bersama Bob Marley dan selinting  ganja sebatang rokok atau secangkir kopi, atau apa saja.

1 comment: