Thursday, June 08, 2017

Masyarakat Adat dan Judical Review Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009



Ketika berbicara tentang lingkungan hidup, yang ada dalam pikiran saya adalah lingkungan di mana saya menghabiskan masa kecil saya, di Nanga Sungai, di Batu Mataso, dan di Balimbis, mereka adalah desa kecil yang terdapat di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Lingkungan di mana masyarakat Tamambaloh hidup sesuai dengan definisi lingkungan hidup yang diutarakan para ahli atau yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009. Masyarakat hidup sebagai satu kesatuan dengan makhluk hidup lain. Mereka adalah masyarakat adat, sebuah komunitas kecil yang keberadannya kerap kali dipandang sebagai kegagalan sekelompok manusia mengikuti peradaban.

Beberapa tahun belakangan masyarakat adat dianggap sebagai penyebab bencana asap di Indonesia. Dua minggu yang lalu Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) telah mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi terkait beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Salah satu pasal yang diajukan untuk diuji materiil adalah pasal 69 ayat 2 yang mengatur pengecualian bagi Masyarakat Adat untuk membuka lahan dengan cara membakar.

Pasal 69 ayat (2) sendiri sejalan dengan pengakuan hak Masyarakat Adat untuk berladang secara tradisional oleh UUD 1945 Pasal 18B ayat (2). Pengakuan hak berladang secara tradisional ini dipertegas pula oleh UUD 1945 Pasal 28I ayat (3), yang berbunyi "Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman.” Indonesia juga telah meratifikasi Konvensi ILO 111 tentang perlindungan atas diskriminasi atas pekerjaan, termasuk pekerjaan tradisional seperti bertani dan menangkap ikan. (AMAN)

Dalam gugatannya mereka meminta pasal tersebut dihapus karena pembakaran hutan secara tradisional dinilai sebagai biang kebakaran hutan. Padahal Berdasarkan analisis kebakaran hutan dan lahan dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) tahun 2015 menunjukkan kebakaran hutan dan lahan selama 18 tahun disebabkan oleh monopoli kawasan hutan dan lahan untuk pengembangan investasi perusahaan.

Sejak turun temurun masyarakat adat berladang dengan cara tradisional. Berladang bagi mereka bukan hanya proses menanam padi dan upaya mengenyangkan perut. Ada kearifan lokal yang terkandung dalam proses bercocok tanam yang mereka lakukan, menunjukkan bagaimana hubungan mereka dengan alam.

Saya ambil contoh masyarakat adat Dayak. Mereka memiliki ritual adat ketika berladang, mereka memiliki aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar, jika terjadi pelanggaran maka akan dikenai hukum adat. Semua kegiatan berladang diawali dengan ritual, bahkan mulai dari hari pertama membuka lahan sampai hari panen tiba, setelah masa panen selesai masih ada ritual adat yang dilakukan yaitu upacara syukur setelah panen.

Cara masyarakat adat berladang sangat berbeda dengan cara pendatang atau pengusaha. Luas yang digunakan sebagai lahan juga sangat terbatas dan mengikuti aturan turun temurun. Inilah yang disebut kearifan lokal.

Jika izin membakar ladang dihapuskan maka yang menjadi korban adalah masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya sebagai petani. Mereka yang mati-matian mempertahankan tanah mereka dari tangan korporasi karena di sanalah mereka hidup, mereka yang selalu merasa cukup dengan memanfaatkan apa yang alam berikan. 

Menurut saya penghapusan ayat 2 pasal 69 adalah bentuk diskriminasi terhadap peladang tradisional dan upaya membunuh kearifan lokal dalam masyarakat adat.

Seperti yang dikatakan Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Nur Hidayati, kini korporasi mencoba membangun logika hukum bahwa mereka yang dilanggar hak-haknya dengan membiaskan entitas korporasi skala besar sama dengan warga negara, padahal sesungguhnya mereka lah aktor yang paling bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia dalam peristiwa kebakaran hutan dan ekosistem rawa gambut. Praktek investasi yang selama ini dilakukan oleh kekuatan korporasi inilah yang justru banyak melanggar hak-hak dasar warga negara, merampas hak  asasi manusia dan bahkan merampas hak lingkungan hidup itu sendiri.

Jika judical review ini dikabulkan maka yang muncul bukan hanya permasalahan ekonomi tapi juga rusaknya tatanan kebudayaan yang selama ini dijalani masyarakat adat. Sekali lagi,masyarakat adat tidak membakar lahan seperti yang dilakukan pendatang atau pengusaha. Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan masyarakat adat saya bisa melihat sendiri bagaimana cara bercocok tanam mereka. Tidak ada kepala keluarga yang mampu berladang sampai 2 hektar luasnya, ukuran maksimum yang digunakan dalam ayat 2 pasal 69 itu hanyalah frase untuk kemungkinan luas wilayah paling besar yang bisa mereka kelola. Kenyataannya lahan yang mereka kelola sangat terbatas.

Tahun lalu saya harus menyaksikan wajah-wajah awam hukum itu ketakutan menghadapi instruksi pelarangan membakar lahan yang dikeluarkan oleh presiden, mereka khawatir ladang tahun itu gagal. Kali ini ada yang menakutkan dari itu. Jika judical review ini dikabulkan yang diterima masyarakat adat tidak hanya tekanan ekonomi karena harus menambah biaya untuk membeli pupuk tapi juga menambah deretan panjang stigma negatif yang disematkan pada mereka. 

Saturday, June 03, 2017

Review buku Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak


Saya baru saja selesai membaca buku Rebel Notes: Catatan Seniman Pemberontak. Buku yang terbit bulan April  ini ibaratkan kue semprit yang baru dikeluarkan dari oven, masih hangat. Ada 16 catatan yang ditulis oleh seniman yang berbeda. Dibuka dengan catatan milik John Lennon dan ditutup oleh catatan istrinya, Yoko Ono, mengenai revolusi feminin. 

Catatan favorit saya di buku ini adalah catatan dari vokalis Radiohead, Thom Yorke, yang berjudul Globalisasi dan Aktivisme Politik. Dia menuliskan bagaimana politik bekerja dan menguasai ekonomi, bagaimana sudut pandangnya mengenai media yang mengendalikan opini publik. Karena saya adalah pengagum diksi di lagu-lagu Radiohead maka ketika membaca tulisannya kali ini saya merasa bertemu teman satu kubu.

Ada juga catatan berjudul Percakapan Dengan Sejarah oleh Oliver Stone, seorang sutradara yang terkenal karena film-film muatan politiknya. Dia menegaskan bahwa film memiliki pengaruh besar terhadap pandangan sebuah bangsa mengenai kejadian di masa lalu.

Film bisa mengubah pikiran penontonnya, bahkan pikiran generasi-generasi berikutnya. Ini tidak diragukan lagi karena saya sendiri melihat bagaimana rezim orde baru berhasil mendoktrin bangsa Indonesia melalui sebuah film yang sengaja dibuat pemerintah agar masyarakat membenci PKI, film itu wajib ditonton oleh semua pelajar di masa itu, dan dampak dari doktrin itu masih ada sampai sekarang. Terbukti dengan stigma negatif mengenai PKI yang dipercaya oleh masyarakat khususnya generasi yang hidup di masa orde baru. Gagasan Oliver Stone untuk membingkai masa lalu dalam sebuah film adalah upaya yang baik untuk mengingatkan kita agar selalu waspada, agar selalu belajar.

Seniman lainnya memiliki catatan yang berbeda, ada kritik terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Ada banyak suara-suara kemanusiaan yang tertuang dalam buku ini. Tulisan seperti ini jadi terasa spesial karena ditulis oleh para bintang hiburan, ada penyanyi, aktor, aktris, sutradara, bahkan pelukis. 

Catatan Bob Dylan adalah catatan yang wajib dibaca oleh anak-anak muda korban trend. Dalam catatan berjudul Aku Hanya Bernyanyi, Terserah Kalian Mau Apa dia menuliskan kritiknya terhadap orang-orang yang keliru menggunakan opium dan ganja. Opium dan ganja adalah lambang protes, lambang perlawanan, tapi sekarang menjadi lambang gaya-gayaan, katanya.

Saya lalu teringat pada teman-teman kampus yang bangga setengah mati memiliki rambut gondrong, padahal yang lebih penting dari kepala bukanlah rambutnya tapi isi dari kepala itu sendiri. Ehe. Ya Bob Dylan akan kecewa juga melihat ini karena hippies benar-benar telah mati ditelan hashtag #SaveGondrong #Gondrongbukankriminal atau #gondrongindonesia.

Pada catatan yang lain Pablo Picasso dengan gamblang menuliskan alasannya bergabung dalam partai dan menjadi seorang komunis. Setidaknya kaum komunis mendapat dukungan untuk menangkis lelucon yang sering dilemparkan orang-orang sayap kanan mengenai buruknya estetika orang-orang kiri ketika berkarya. 

Ada banyak tulisan di buku ini, mereka semua ditulis dengan ringkas. Tulisan terpanjang adalah milik Oliver Stone, sementara yang paling pendek milik Jean-Michael Basquat. Dengan tebal 160 halaman tidak perlu waktu lama untuk membaca buku ini.

Kata pengatarnya adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan, Adhe Ma'ruf yang juga penerjemah buku ini menyampaikan kata pengantar dengan apik.

Menurut saya tulisan seperti ini harus disebarkan, tulisan dari para seniman yang memiliki banyak pengikut. Lebih banyak seniman yang peduli pada kehidupan sosial, lebih baik, karena pasti banyak yang terpengaruh dan mengikuti gagasan mereka. 

Buku ini adalah bagian dari slogan "Melawan dengan Seni!". Tulisan-tulisan yang berisi perlawanan dari para seniman, meski demikian seni dalam buku ini tidak hilang sama sekali, kecuali pada tiga halaman terakhir.

Seperti kata Adhe Ma'ruf, siapa tahu ujaran dan tindakan para bintang ini bisa memotivasi kita untuk ikut mengubah dunia menuju tatanan yang lebih aman dan adil, buku ini sangat bagus untuk dijadikan teman di akhir pekan. Sambil Menghisap Ganja Bersama Tuhan adalah tulisan yang kritiknya paling keras menurut saya, jadi silakan dibuka halaman 37, selamat berdiskusi bersama Bob Marley dan selinting  ganja sebatang rokok atau secangkir kopi, atau apa saja.

Thursday, June 01, 2017

Pesan Pendek dari Mama


Beberapa hari yang lalu saya membaca postingan seorang teman yang berisi kritik terhadap orangtua yang membuat dan melahirkan anak tanpa mengerti tanggungjawabnya "Untuk kerja saja orang harus punya ijazah dan lulus ujian. Seharusnya untuk punya anak juga harus lulus ujian kelayakan menjadi orangtua." Kira-kira begitu kalimat yang tertulis.

Ya saya mengerti, saya sangat setuju. Mengingat banyaknya anak-anak yang menjadi gelandangan, atau anak-anak yang kurang perhatian lalu lalu terlibat dalam pergaulan bebas layaknya di sinetron. Anak-anak yang kurang beruntung kereka lahir di tengah ketidaksiapan kedua orangtuanya atau lahir karena hasil coba-coba.

Menjadi orangtua itu tidak mudah, memutuskan untuk memunculkan satu manusia baru ke dunia itu tanggungjawabnya besar sekali. Harus siap mental dan materi. Harus siap mental karena manusia yang dilahirkan tidak selamanya berbentuk bayi, dia akan tumbuh dan berkembang, menguras emosi, apalagi ketika beranjak dewasa dan dia menganut ideologi yang berbeda.

Belum lagi beban materi untuk menanggung hidup seorang anak. Berdasarkan riset dari tirto.id biaya yang harus dikeluarkan jika kita memiliki anak pada tahun 2016 sampai anak itu mandiri pada usia 21 tahun adalah Rp 2.945.102,750. Angka itu didapat dari asumsi makanan, berupa makanan pokok tiga kali sehari, biaya pendidikan yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan utama, kebutuhan tempat tinggal, transportasi, dan biaya kesehatan.

Melihat biaya membesarkan anak, saya jadi ciut sendiri, belum lagi membayangkan rutinitas yang akan terganggu ketika memiliki bayi. Tidak bisa membaca buku atau nonton seharian saat weekend.

Lah malah kebablasan ngomongin biaya hidup anak -_-"


Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Sehari yang lalu saya ulang tahun, dan mama mengirim sebuah pesan yang saya jadikan gambar untuk postingan kali ini. Itu adalah ucapan terbaik yang pernah saya terima.

Mama saya bukan orang yang biasa mengatakan "Mama sayang kamu, nak" pada saya. Yang saya ingat kalimat seperti itu pernah saya dengar waktu saya masih kecil, ketika saya 8 tahun, sewaktu duduk di bangku kelas 4 SD. Saat itu saya tidak mau pulang ke rumah karena marah pada bapak. Mereka menjemput saya ke rumah nenek dan kakek...

Kalimat-kalimat lainnya tidak pernah bernada persis seperti itu. Kalimat "Mama sayang kamu, nak" lebih sering diungkapkan dengan kalimat "Kalau capek belajar, istirahat dulu." atau "Jangan sakit, mama nda bisa jagain kamu di sana." atau  "Kalau uangnya habis jangan tunggu ditanya baru mau ngasi tau."

Mama adalah orang yang kaku dalam mengungkapkan perasaan di hadapan orang lain. Saya tahu, karena saya sering mendapatinya menangis sendirian, sembunyi-sembunyi.

Banyak kejadian sedih.
Ada banyak.
Dan saya tumbuh dengan ingatan-ingatan tentang kejadian itu..

Tapi saya tidak membenci mereka sama sekali.

Untuk teman-teman yang mungkin pernah melihat mamanya menangis sembunyi-sembunyi. Atau memiliki nenek yang sering menyudutkan orangtua kalian dan mengatakan betapa gagalnya mereka menjadi ayah dan ibu, saya hanya ingin mengatakan ketika orangtua kita melakukan kesalahan, bukan berarti mereka gagal. Mereka hanya melakukan kesalahan di satu sisi, tidak semuanya. Tidak ada alasan untuk tidak mencintai kedua orangtua kita bahkan jika pada akhirnya kita harus melihat mereka saling menyakiti.

Tidak ada alasan untuk membenci mereka walaupun dulunya mereka adalah orang-orang yang keliru dalam perhitungan ekonomi, atau tanggal...

Tidak ada alasan untuk membenci mereka karena mereka menghadirkan kita ke dunia tanpa kontrak, tanpa bertanya apakah kita ingin dilahirkan atau tidak. 

Tidak ada alasan untuk berhenti menghormati mereka meskipun kita berbeda pendapat, berbeda pandangan atau pilihan hidup. 

Tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka karena kerap kali apa yang kita minta tidak bisa mereka berikan. 

Karena seiring berjalannya waktu, kita yang lahir dari kesalahan-kesalahan itu menjelma menjadi sebuah dunia bagi mereka. Kita menjadi kekuatan untuk mereka. Menjadi sebuah titik di mana mereka selalu berputar.

Seperti yang mama katakan, aku adalah segalanya.

Bagi dunia aku hanyalah seseorang, tapi bagi mama aku adalah dunianya.

Terimakasih mama, maaf karena sampai hari ini aku hanya bisa meminta dan menerima. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkan betapa aku menyayangimu.


This entry was posted in