Tuesday, May 09, 2017

Mimpi-Mimpi yang Kita Hidupkan di Elfast (Catatan di Kampung Inggris 1)

"Kamu hanya hidup dua kali, satu untuk dirimu dan satu lagi untuk mimpi-mimpimu." – James Bond
Hari ini tepat satu bulan saya tinggal di Kampung Inggris. Rasanya ini adalah satu bulan paling lama yang pernah saya jalani. Tanggal 9 bulan lalu saya tiba di Bandara Juanda, kali pertama saya menginjakkan kaki di wilayah Jawa Timur dan kali pertama saya berjumpa dengan Diah, seorang aktivis muda yang sudah menjadi teman diskusi saya selama dua tahun belakangan. Dengan sukarela dia mengantar saya ke Kampung Inggris, dia menjadi guide pribadi saya hari itu. Kami pergi ke Kampung Inggris menggunakan bus, dari bandara kami menaiki Bus Damri menuju terminal Bungurasih Surabaya, setelah itu lanjut menggunakan Bus Rukun Jaya menuju Pare. Di Pare kami menggunakan bentor untuk sampai di campku.

Selama bulan April saya belajar di ELFAST dan tinggal di camp yang telah disediakan, namanya Damsel Camp. Untuk orang yang jarang jauh dari keluarga seperti saya, menjalani hidup di Pare bukanlah hal yang biasa saja.


Saya mendapat banyak pengalaman berkesan selama di camp ini. Merasakan bagaimana awkwardnya berbagi kamar dengan orang baru , memaklumi kebiasaan orang lain yang sebenarnya tidak kita sukai, mengenal beragam karakter teman-teman yang datang dari berbagai daerah. Yang paling saya ingat adalah moment makan bersama, kami duduk di lantai membentuk lingkaran dan saling berbagi makanan, tidak hanya makanan tapi juga semangat.


Tutor saya pernah berkata seperti ini, "ketika kamu berada di Kampung Inggris, kamu tidak berada di dunia yang sesungguhnya, karena ketika kamu hidup di Kampung Inggris kamu sedang hidup bersama mimpi-mimpimu." Mungkin dia benar, saya merasa menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan yang biasanya saya jalani.

Saya datang ke sini tanpa membawa buku, waktu saya lebih banyak habis di kelas, saya tidak pernah berdiskusi karena saya jauh dari teman-teman saya. Awalnya sulit untuk menyesuaikan diri, saya merasa hidup saya tidak normal.Tapi mengingat perkataan Miss Riska, tutor saya di Damsel Camp, saya sadar bahwa saya tidak berada di tempat yang salah. Saya datang ke sini untuk belajar bahasa Inggris, mewujudkan salah satu impian besar yang saya tuliskan di dinding kamar saya. Dan semua rasa jenuh ini adalah bagian yang tidak bisa saya pisahkan dari proses panjang yang sedang saya jalani.

Kampung Inggris adalah tempat di mana mimpi-mimpi bisa ditemui di sepanjang jalan, mimpi yang dibawa oleh senyum malu-malu para gadis berkerudung yang mengayuh sepeda pada pagi hari, atau mimpi yang mengepul bersama asap rokok yang dihisap sekelompok pemuda di depan warung. Ini adalah salah satu keajaiban yang saya temui di Kampung Inggris. Di mana anak muda dari berbagai daerah di Indonesia, yang memiliki bermacam-macam rencana dan impian datang untuk tujuan yang sama - belajar bahasa Inggris. 

Jadi ketika godaan membuka aplikasi Traveloka dan mengklik tombol pesan tiket semakin tinggi, saya segera mengingatkan diri saya. Bahwa saya tidak sendirian, bahwa di Kampung Inggris ini ada berjuta-juta kepala yang mencoba bertahan dari kejenuhan dan mati-matian melawan keinginan untuk pulang karena memiliki impian yang harus diperjuangkan.

Waktu berlalu, dan hari ini tiba. Satu bulan yang lambat, satu bulan penuh drama (karena saya berkali-kali alergi akibat sate ayam, dan saya keluar dari program Grammar for Speaking tepat sehari sebelum ujian ehehehe) satu bulan yang penuh warna. Saya sudah menjalani dua ujian, kemarin ujian speaking di kelas Talkmore dan hari ini ujian Basic Program 1. Teman-teman sekelas saya banyak yang kembali ke daerah masing-masing. Sementara saya masih harus bertahan sampai bulan Juni di sini.

Meskipun  hubungan saya dan teman-teman sekelas tidak begitu akrab (soalnya saya sama sekali tidak pernah ikut ngumpul sama anak-anak kelas) tetap ada perasaan syahdu ketika saya ikut berfoto bersama di depan kantor ELFAST tadi pagi selepas ujian. Saya merasa bersyukur pernah berjuang bersama mereka, meskipun tidak akan diingat, saya merasa bahwa mereka menemani saya selama ini.

Mereka yang penuh semangat.
Mereka yang berjalan bersama mimpi-mimpinya. Mereka yang mengingatkan saya pada tujuan saya datang kemari.
Terimakasih untuk satu bulan ini, satu bulan yang kita lalui dengan rasa ngantuk di kelas Mr. Ichsan dan Miss Sylvi. Satu bulan yang ceria di kelas Miss Santi, satu bulan yang tidak biasa saja di kelas Basic Program 1.
Semoga semesta merestui rencana kita.




This entry was posted in

0 komentar:

Post a Comment