Wednesday, May 17, 2017

"Apa Jasa Ahok Untuk Kota Ini ?"

Saya  menulis ini bukan karena saya membela Ahok, tapi karena konstruksi berpikir si pembuat pernyataan yang nganu'.
 
Ahok dipenjara dan 33 kota di Indonesia menggelar aksi untuk mendukungnya. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri, ada 19 negara yang menyelenggarakan aksi 1000 lilin untuk Ahok. Ada berbagai alasan mengapa orang-orang ini mau meluangkan waktu untuk berkumpul bersama malam itu. 

Banyak yang menyampaikan protes, lalu apa bedanya aksi bakar lilin ini dengan aksi demo berjilid-jilid itu ? Ya jelas beda. Aksi bakar lilin ini adalah aksi duka, bukan aksi pembelaan. Ahok tidak menista agama. Pernyataanya tidak memenuhi mens rea yang harus dibuktikan dalam pemenuhan unsur-unsur Pasal 156 a KUHP. Tapi hakim menyatakannya bersalah, hakim tidak hanya memutus melebihi tuntutan jaksa tapi memberi putusan yang berbeda dari pasal yang digunakan dalam tuntutan itu sendiri.
 
Saya tidak menuntut Ahok dibebaskan, itu tugas tim pengacara Ahok. Tapi saya termasuk dalam bagian orang-orang yang menuntut penghapusan pasal 156 a. Sebuah pasal yang multitafsir, pasal yang bisa menjerat siapa saja tergantung dengan penafsiran masing-masing orang. Karena benar kata Alldo Fellix bahwa apa yang kita capai hari ini adalah akibat langsung dari standar ganda kita terkait penerapan HAM. Menyoraki pemenjaraan Gafatar, berduka bagi Ahok."

Ya, Gafatar, semoga tidak lupa kasus ini.  Dua bulan yang lalu tiga petinggi eks Gafatar divonis penjara berdasarkan pasal penodaan agama. Dengan pasal ini orang-orang yang senang menyebut orang lain kafir harusnya berhati-hati karena bisa saja dipenjara kalau ada yang tersinggung.

Kembali ke kasus Ahok, tentu saja dia masih bisa melakukan pembelaan dengan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, tapi tetap saja, dipenjarakannya Ahok adalah sebuah duka untuk orang-orang yang selama ini masih percaya bahwa ada keadilan di negeri ini, keadilan bagi kaum minoritas. 

Kemudian ada pernyataan dari seorang pengguna Facebook yang menunjukkan sebuah kecemburuan yang teramat dalam. "Saya gak masalah teman saya ikut aksi 1000 lilin untuk Ahok di Pontianak. Hanya apa jasa Ahok untuk kota ini ?" 

Sungguh sebuah cara berpikir yang keliru. Beberapa tahun lalu ada aksi Koin untuk Prita, dan Pontianak termasuk salah satu kota yang ikut mengumpulkan koin untuk membantu Prita. Sebuah aksi yang dilakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan. Lalu apa jasa Prita untuk kota Pontianak ? Tidak ada. Prita tidak perlu mengabdi dulu di kota Pontianak untuk mendapatkan simpati masyarakat, masyarakat dengan sukarela membantu karena tahu bahwa ada nilai yang harus didukung dibalik kasus yang dialaminya, ada nilai yang sama-sama kita hormati, nilai yang kita bela.

Jadi, paham mengapa ada yang sukarela mengikuti aksi 1000 lilin untuk Ahok ?

Aksi 1000 lilin untuk Ahok bukanlah aksi untuk membebaskannya dari penjara. Itu adalah aksi duka. Duka dari orang-orang yang masih memiliki harapan pada keadilan di negeri ini, itu adalah aksi duka untuk pasal karet yang membunuh kewarasan rakyat, aksi 1000 lilin untuk Ahok adalah aksi duka untuk kaum minoritas, aksi duka untuk orang-orang yang buta politik. 

Untuk orang yang sudah terlanjur hopeless pada proses hukum di negeri ini, kasus Ahok mungkin hanyalah skenario hukum yang bisa ditebak. Tapi tidak bagi orang-orang yang masih punya harapan untuk keadilan di Indonesia. Untuk orang yang tidak pernah menjadi kaum minoritas, kasus Pak Ahok bukanlah kasus yang menguras emosi. Untuk orang yang terlalu benci politik di negeri ini, kasus Ahok bukanlah kasus yang penting. Jadi wajar, ketika ada aksi 1000 lilin untuk Ahok maka muncul berbagai kritik.

Terlepas dari terselenggara atau tidaknya aksi 1000 lilin untuk Ahok di Pontianak, saya cuma menyampaikan opini saya. Ahok tidak perlu menjadi pemimpin di 33 kota di Indonesia dan 19 negara di dunia untuk membuka mata kita mengenai kondisi hukum dan politik di negeri ini. 

Paham, kan ?
This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment