Tuesday, May 30, 2017

A Short Autobiography of me




I grow with indigenous people in small village on West Kalimantan hinterland. My grandfather is a chieftain of my tribe, Dayak Tamambaloh. As the child who was born from indigenous family, I was educated to be close with nature, live with keeping principles which were inherited by our ancestor. 

I spent my childhood in a small village, Nanga Sungai, a small village which full of simplycity. I felt the effect of unequal development in this country. When I was in the first grade of elementary school, my classmate was just five. I remember how zestful we were to learn reading in class room with apprehensive tables and chairs.

For the last two years I have met many people who inspired and encourage me. I joined a read-writing club who focused on enhancing the literacy awareness of people around us. I also often write my opinions about the struggle of the indigenous people in my village to protect their land from capitalist and unfair government.

I am a graduate from law college since 4 months ago, I am looking forward to contiune my study, hence, I am in Pare currently to improve my English.

I have many plans for the next two years. The most important of them is to finish my study and then to work for my comunity. I am going to develop the economic system in my hometown especially for the local people, therefore they could maintain their cultures and rights.

Because today is my birthday, I hope my dreams will come true. I hope I will have seen snow when I am 23 (it is two years later).
This entry was posted in

Wednesday, May 17, 2017

"Apa Jasa Ahok Untuk Kota Ini ?"

Saya  menulis ini bukan karena saya membela Ahok, tapi karena konstruksi berpikir si pembuat pernyataan yang nganu'.
 
Ahok dipenjara dan 33 kota di Indonesia menggelar aksi untuk mendukungnya. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri, ada 19 negara yang menyelenggarakan aksi 1000 lilin untuk Ahok. Ada berbagai alasan mengapa orang-orang ini mau meluangkan waktu untuk berkumpul bersama malam itu. 

Banyak yang menyampaikan protes, lalu apa bedanya aksi bakar lilin ini dengan aksi demo berjilid-jilid itu ? Ya jelas beda. Aksi bakar lilin ini adalah aksi duka, bukan aksi pembelaan. Ahok tidak menista agama. Pernyataanya tidak memenuhi mens rea yang harus dibuktikan dalam pemenuhan unsur-unsur Pasal 156 a KUHP. Tapi hakim menyatakannya bersalah, hakim tidak hanya memutus melebihi tuntutan jaksa tapi memberi putusan yang berbeda dari pasal yang digunakan dalam tuntutan itu sendiri.
 
Saya tidak menuntut Ahok dibebaskan, itu tugas tim pengacara Ahok. Tapi saya termasuk dalam bagian orang-orang yang menuntut penghapusan pasal 156 a. Sebuah pasal yang multitafsir, pasal yang bisa menjerat siapa saja tergantung dengan penafsiran masing-masing orang. Karena benar kata Alldo Fellix bahwa apa yang kita capai hari ini adalah akibat langsung dari standar ganda kita terkait penerapan HAM. Menyoraki pemenjaraan Gafatar, berduka bagi Ahok."

Ya, Gafatar, semoga tidak lupa kasus ini.  Dua bulan yang lalu tiga petinggi eks Gafatar divonis penjara berdasarkan pasal penodaan agama. Dengan pasal ini orang-orang yang senang menyebut orang lain kafir harusnya berhati-hati karena bisa saja dipenjara kalau ada yang tersinggung.

Kembali ke kasus Ahok, tentu saja dia masih bisa melakukan pembelaan dengan banding ke Pengadilan Tinggi Jakarta, tapi tetap saja, dipenjarakannya Ahok adalah sebuah duka untuk orang-orang yang selama ini masih percaya bahwa ada keadilan di negeri ini, keadilan bagi kaum minoritas. 

Kemudian ada pernyataan dari seorang pengguna Facebook yang menunjukkan sebuah kecemburuan yang teramat dalam. "Saya gak masalah teman saya ikut aksi 1000 lilin untuk Ahok di Pontianak. Hanya apa jasa Ahok untuk kota ini ?" 

Sungguh sebuah cara berpikir yang keliru. Beberapa tahun lalu ada aksi Koin untuk Prita, dan Pontianak termasuk salah satu kota yang ikut mengumpulkan koin untuk membantu Prita. Sebuah aksi yang dilakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan. Lalu apa jasa Prita untuk kota Pontianak ? Tidak ada. Prita tidak perlu mengabdi dulu di kota Pontianak untuk mendapatkan simpati masyarakat, masyarakat dengan sukarela membantu karena tahu bahwa ada nilai yang harus didukung dibalik kasus yang dialaminya, ada nilai yang sama-sama kita hormati, nilai yang kita bela.

Jadi, paham mengapa ada yang sukarela mengikuti aksi 1000 lilin untuk Ahok ?

Aksi 1000 lilin untuk Ahok bukanlah aksi untuk membebaskannya dari penjara. Itu adalah aksi duka. Duka dari orang-orang yang masih memiliki harapan pada keadilan di negeri ini, itu adalah aksi duka untuk pasal karet yang membunuh kewarasan rakyat, aksi 1000 lilin untuk Ahok adalah aksi duka untuk kaum minoritas, aksi duka untuk orang-orang yang buta politik. 

Untuk orang yang sudah terlanjur hopeless pada proses hukum di negeri ini, kasus Ahok mungkin hanyalah skenario hukum yang bisa ditebak. Tapi tidak bagi orang-orang yang masih punya harapan untuk keadilan di Indonesia. Untuk orang yang tidak pernah menjadi kaum minoritas, kasus Pak Ahok bukanlah kasus yang menguras emosi. Untuk orang yang terlalu benci politik di negeri ini, kasus Ahok bukanlah kasus yang penting. Jadi wajar, ketika ada aksi 1000 lilin untuk Ahok maka muncul berbagai kritik.

Terlepas dari terselenggara atau tidaknya aksi 1000 lilin untuk Ahok di Pontianak, saya cuma menyampaikan opini saya. Ahok tidak perlu menjadi pemimpin di 33 kota di Indonesia dan 19 negara di dunia untuk membuka mata kita mengenai kondisi hukum dan politik di negeri ini. 

Paham, kan ?
This entry was posted in

Tuesday, May 09, 2017

Mimpi-Mimpi yang Kita Hidupkan di Elfast (Catatan di Kampung Inggris 1)

"Kamu hanya hidup dua kali, satu untuk dirimu dan satu lagi untuk mimpi-mimpimu." – James Bond
Hari ini tepat satu bulan saya tinggal di Kampung Inggris. Rasanya ini adalah satu bulan paling lama yang pernah saya jalani. Tanggal 9 bulan lalu saya tiba di Bandara Juanda, kali pertama saya menginjakkan kaki di wilayah Jawa Timur dan kali pertama saya berjumpa dengan Diah, seorang aktivis muda yang sudah menjadi teman diskusi saya selama dua tahun belakangan. Dengan sukarela dia mengantar saya ke Kampung Inggris, dia menjadi guide pribadi saya hari itu. Kami pergi ke Kampung Inggris menggunakan bus, dari bandara kami menaiki Bus Damri menuju terminal Bungurasih Surabaya, setelah itu lanjut menggunakan Bus Rukun Jaya menuju Pare. Di Pare kami menggunakan bentor untuk sampai di campku.

Selama bulan April saya belajar di ELFAST dan tinggal di camp yang telah disediakan, namanya Damsel Camp. Untuk orang yang jarang jauh dari keluarga seperti saya, menjalani hidup di Pare bukanlah hal yang biasa saja.


Saya mendapat banyak pengalaman berkesan selama di camp ini. Merasakan bagaimana awkwardnya berbagi kamar dengan orang baru , memaklumi kebiasaan orang lain yang sebenarnya tidak kita sukai, mengenal beragam karakter teman-teman yang datang dari berbagai daerah. Yang paling saya ingat adalah moment makan bersama, kami duduk di lantai membentuk lingkaran dan saling berbagi makanan, tidak hanya makanan tapi juga semangat.


Tutor saya pernah berkata seperti ini, "ketika kamu berada di Kampung Inggris, kamu tidak berada di dunia yang sesungguhnya, karena ketika kamu hidup di Kampung Inggris kamu sedang hidup bersama mimpi-mimpimu." Mungkin dia benar, saya merasa menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan yang biasanya saya jalani.

Saya datang ke sini tanpa membawa buku, waktu saya lebih banyak habis di kelas, saya tidak pernah berdiskusi karena saya jauh dari teman-teman saya. Awalnya sulit untuk menyesuaikan diri, saya merasa hidup saya tidak normal.Tapi mengingat perkataan Miss Riska, tutor saya di Damsel Camp, saya sadar bahwa saya tidak berada di tempat yang salah. Saya datang ke sini untuk belajar bahasa Inggris, mewujudkan salah satu impian besar yang saya tuliskan di dinding kamar saya. Dan semua rasa jenuh ini adalah bagian yang tidak bisa saya pisahkan dari proses panjang yang sedang saya jalani.

Kampung Inggris adalah tempat di mana mimpi-mimpi bisa ditemui di sepanjang jalan, mimpi yang dibawa oleh senyum malu-malu para gadis berkerudung yang mengayuh sepeda pada pagi hari, atau mimpi yang mengepul bersama asap rokok yang dihisap sekelompok pemuda di depan warung. Ini adalah salah satu keajaiban yang saya temui di Kampung Inggris. Di mana anak muda dari berbagai daerah di Indonesia, yang memiliki bermacam-macam rencana dan impian datang untuk tujuan yang sama - belajar bahasa Inggris. 

Jadi ketika godaan membuka aplikasi Traveloka dan mengklik tombol pesan tiket semakin tinggi, saya segera mengingatkan diri saya. Bahwa saya tidak sendirian, bahwa di Kampung Inggris ini ada berjuta-juta kepala yang mencoba bertahan dari kejenuhan dan mati-matian melawan keinginan untuk pulang karena memiliki impian yang harus diperjuangkan.

Waktu berlalu, dan hari ini tiba. Satu bulan yang lambat, satu bulan penuh drama (karena saya berkali-kali alergi akibat sate ayam, dan saya keluar dari program Grammar for Speaking tepat sehari sebelum ujian ehehehe) satu bulan yang penuh warna. Saya sudah menjalani dua ujian, kemarin ujian speaking di kelas Talkmore dan hari ini ujian Basic Program 1. Teman-teman sekelas saya banyak yang kembali ke daerah masing-masing. Sementara saya masih harus bertahan sampai bulan Juni di sini.

Meskipun  hubungan saya dan teman-teman sekelas tidak begitu akrab (soalnya saya sama sekali tidak pernah ikut ngumpul sama anak-anak kelas) tetap ada perasaan syahdu ketika saya ikut berfoto bersama di depan kantor ELFAST tadi pagi selepas ujian. Saya merasa bersyukur pernah berjuang bersama mereka, meskipun tidak akan diingat, saya merasa bahwa mereka menemani saya selama ini.

Mereka yang penuh semangat.
Mereka yang berjalan bersama mimpi-mimpinya. Mereka yang mengingatkan saya pada tujuan saya datang kemari.
Terimakasih untuk satu bulan ini, satu bulan yang kita lalui dengan rasa ngantuk di kelas Mr. Ichsan dan Miss Sylvi. Satu bulan yang ceria di kelas Miss Santi, satu bulan yang tidak biasa saja di kelas Basic Program 1.
Semoga semesta merestui rencana kita.




This entry was posted in