Thursday, March 09, 2017

Perempuan Pasti Bisa

source: Google

Sejak adanya perubahan status perempuan di ruang publik dan ruang privat, muncul banyak gerakan yang menyerukan kesetaraan perempuan, hak-hak perempuan dan partisipasi dalam proses sosial, politik maupun ekonomi.

Tuntutan para perempuan untuk memperoleh hak yang sama dalam proses ekonomi inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya International Women's Day yang dirayakan setiap 8 Maret. Di beberapa negara, International Women's Day menjadi hari libur nasional, ada juga beberapa negara yang merayakan hari International Women's Day bersamaan dengan Hari Ibu.

Seiring berubahnya zaman, ruang bagi perempuan semakin terbuka, perempuan diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pendidikan, politik dan ekonomi.

Di Indonesia, kita bisa menemukan tokoh-tokoh perempuan yang menjadi gambaran bagaimana perempuan mendapat tempat di dalam politik. Negara ini pernah dipimpin oleh seorang perempuan, bahkan hingga kini deretan tokoh perempuan menduduki kursi penting pemerintahan. Meskipun jika ditelaah, presentasi perempuan masih tidak sama dengan laki-laki di bidang politik, maupun bisnis.

Melihat kiprah perempuan masa kini mungkin kita merasa bahwa perjuangan untuk menuntut kesetaraan hak perempuan telah selesai. Padahal sisi kelam mengenai pelanggaran hak perempuan hingga saat ini masih nyata kita temui. Tahun 2016 Komnas Perempuan mencatat ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah ini merupakan jumlah yang diperoleh dari berbagai kasus yang tersebar di tiap provinsi, dengan berbagai jenis. baik itu kekerasan fisik maupun seksual yang terjadi dalam ranah KDRT, personal, atau komunitas.

Tidak hanya kekerasan terhadap perempuan, tiap tahun media dihiasi oleh berita pemulangan TKW dengan kondisi memprihatinkan, pulang dengan wajah yang tak lagi sama karena siraman air raksa, atau organ tubuh yang tak lagi utuh. Bahkan tak jarang pulang hanya tinggal jasad.

Berbagai kenyataan ini menunjukkan bahwa perjuangan belum selesai, kita harus lebih peduli, lebih sadar dan tanggap. Menemui kenyataan masih banyak perempuan yang hidup di bawah standar atau menjadi korban penganiyaan dalam rumah tangga menunjukkan bahwa perjuangan masih jauh dari kata selesai. Mendengar cerita seorang teman yang merasa tidak aman di tempat kerjanya karena selalu digoda kolega laki-laki, juga menunjukkan hak-hak perempuan masih sekadar pengetahuan yang tak diikuti dengan pemahaman, apalagi diterapkan.

Kita harus terus bersuara, menyatakan pendapat, sekecil apapun tindakan untuk menyuarakan hak-hak bagi kaum perempuan, itu adalah bentuk perjuangan, sekecil apapun, bahkan hanya sekadar tulisan.

Menjadi perempuan berarti menjadi pejuang untuk tuntutan-tuntutan yang selama ini hanya terdengar sebagai tangisan. Selamat Hari Perempuan Internasional!

This entry was posted in

0 comments:

Post a Comment