Wednesday, March 29, 2017

"Tanah adalah Daging, Udara adalah napas, air adalah darah"

 Tanah adalah daging, udara adalah napas, air adalah darah.
Setiap tanggal 22 Maret, dunia selalu memperingati hari air. Tujuannya untuk mengingatkan manusia akan pentingnya keberadaan air, terutama air bersih. Kali ini saya ingin berbagi cerita mengenai sebuah sungai di pedalaman Kapuas Hulu yang selalu menyediakan air bersih untuk suku Dayak Tamambaloh, tempat di mana kehidupan masyarakat adat berlangsung dengan sederhana dan bersahaja. Sungai ini adalah Sungai Tamambaloh, sebuah sungai yang terletak di Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupten Kapuas Hulu, di Kalimantan Barat. Orang luar selalu menyebutnya Sungai Embaloh, padahal pengucapan yang benar adalah Tamambaloh. 

Kapuas Hulu merupakan kabupaten terbesar kedua di Kalimantan Barat dengan luas 29.842 km2. Dengan wilayah seluas ini tidak heran jika menemukan banyak sungai di Kapuas Hulu. Sungai Tamambaloh hanyalah satu dari sekian banyak sungai yang ada di sana. Sungai ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Tamambaloh. Di sungai ini mereka mandi, menggunakan airnya untuk makan dan minum, dan mendapat ikan darinya.

Masyarakat Tamambaloh sangat menghargai hubungannya dengan alam, mereka menganggap manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mereka sadar apa yang mereka ambil dari bumi ini tidak akan bisa mereka kembalikan. Karena itu, mereka sangat tahu, yang bisa mereka lakukan hanyalah menjaga agar bumi tetap lestari. Tahun 2011 sampai tahun 2012 merupakan tahun-tahun penuh perjuangan bagi masyarakat Tamambaloh di Kecamatan Embaloh Hulu, isu ekspansi perkebunan kelapa sawit mulai menjamah beberapa desa di wilayah itu.

Tahun 2011 tepatnya pada tanggal 10 Januari, Bupati Kapuas Hulu menerbitkan izin No: 525/032/DKH/BPT-A tentang "Persetujuan IUP perubahan jenis tanaman dari karet kepada kelapa sawit atas nama PT. Rimba Utara." yang berarti 9.000 hektar tanah adat di wilayah Kecamatan Embaloh Hulu akan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit. 

9.000 hektar tanah adat yang menghidupi mereka selama ini. Menjadi penyedia kebutuhan pangan, bahkan menjadi identitas bagi mereka. Apa yang mereka butuhkan telah disediakan oleh alam. Masyarakat segera menyikapi keputusan Bupati Kapuas Hulu, saat itu tidak semua masyarakat menolak, ada juga yang menerima. Tapi kewarasan memang harus diperjuangkan, Tamanggung Tamambaloh, Pius Onyang mengeluarkan pernyataan keras bahwa sampai titik darah penghabisannya dia tidak akan menyerahkan tanah adat yang sudah diwariskan turun temurun oleh nenek moyang mereka kepada perusahaan kelapa sawit. 

Tidak mudah menyadarkan masyarakat yang terlanjur termakan iming-iming sejumlah uang agar menyetujui kehadiran perkebunan kelapa sawit di daerah mereka. Ada yang mulai bergerak dari kampung ke kampung untuk menerima kehadiran industri ini. Sampai akhir tahun 2011 masyarakat masih terbagi ke dalam dua kubu, kubu yang menerima perkebunan kelapa sawit dan kubu yang menolaknya. Untuk menyadarkan masyarakat mengenai akibat apa yang akan mereka dapat jika tanah mereka dialihkan menjadi perkebunan kelapa sawit, dilakukanlah sosialisasi oleh berbagai pihak, baik itu LSM maupun pihak gereja.

Hingga akhir 2011 masyarakat mulai kompak menyatakan sikap bahwa mereka menolak ekspansi perkebunan kelapa sawit memasuki tanah adat mereka. Namun Bupati Kapuas Hulu tidak kunjung mencabut surat izin PT. Rimba Utara. Bupati memberikan surat izin operasional pada perusahaan tersebut, meskipun pihak perusahaan tidak pernah memberikan sosialisasi sama sekali pada masyarakat. Mereka bahkan telah membuat AMDAL padahal tidak pernah melakukan penelitian lapangan terkait kondisi ekologi di Kecamatan Embaloh Hulu. Mereka tidak memikirkan bahwa 9000 hektar hutan yang akan mereka jadikan lahan perkebunan penghasil uang, adalah sumber kehidupan masyarakat Tamambaloh. 

Pada bulan Maret 2012, dilaksanakan musyawarah adat yang dihadiri oleh semua Tamanggung Tamambaloh dan Tamanggung Iban beserta masyarakat adat yang menghasilkan keputusan bahwa mereka menolak sepenuhnya kehadiran perkebunan kelapa sawit di wilayah Kecamatan Embaloh Hulu. Hasil mufakat itu dituangkan dalam sebuah surat pernyataan dan dilayangkan kepada Bupati Kapuas Hulu, A.M. Nasir. Namun Bupati tetap tidak mencabut izin tersebut. Perjuangan tidak selesai.

Masyarakat dengan pengetahuan yang awam di bidang hukum dan politik bersatu melawan pemerintah dan pemodal, mereka melakukan aksi demonstrasi di depan kantor bupati berkali-kali sepanjang bulan Maret. Tahun 2012 adalah tahun yang penuh gejolak bagi orang-orang Tamambaloh. Mereka berkali-kali mengutus perwakilan tiap-tiap desa di Kecamatan Embaloh Hulu untuk bertemu wakil mereka di legislatif. Hasilnya ? memang perlu waktu yang panjang, tapi perjuangan rakyat akhirnya berhasil. Tahun 2013 izin operasional itu dicabut. 

Pemerintah tidak bisa memaksa jika masyarakat kompak menolak. Perusahaan perkebunan kelapa sawit tidak sejengkal pun menyentuh tanah adat di Kecamatan Embaloh Hulu. Tanah adat Tamambaloh tetap menjadi milik orang Tamambaloh, dan akan mereka jaga keberadaannya untuk generasi yang akan datang. Hutan itu tetap ada di sana, hutan rimba yang hijau, rumah bagi banyak binatang dan penyedia kebutuhan masyarakat.

Sekarang, banyak akademisi dari berbagai daerah di Indonesia yang datang ke daerah Kecamatan Embaloh Hulu untuk melakukan pengamatan langsung mengenai kondisi sosial dan budaya masyarakat di sana, karena sampai saat ini Kecamatan Embaloh Hulu adalah satu-satunya kecamatan yang menolak perkebunan kelapa sawit di Kapuas Hulu.

Apa yang diputuskan para pendahulu berdampak sangat besar terhadap kelangsungan hidup generasi yang akan datang di daerah Embaloh Hulu. Tidak hanya untuk masyarakat tetapi untuk alam yang ada di sana. Perjuangan panjang mereka tidak hanya menjadi sejarah bagi para generasi muda, tapi juga panutan untuk mempertahankan apa yang menjadi tanggjungjawab dan hak mereka. Orang Tamambaloh hidup bersatu dengan alam, bahkan setelah kematian mereka percaya bahwa mereka akan kembali pada alam. Jiwa mereka akan tinggal di sebuah bukit, Bukti Tailung. Karena itu, orang Tamambaloh menghormati alam, apa yang mereka lakukan terhadap alam akan menghasilkan konsekuensi yang seimbang. Ketika mereka melakukan perbuatan buruk terhadap alam, maka alam akan berbuat buruk juga pada mereka, dan sebaliknya. 

Bagi orang Dayak Tamambaloh tanah adalah daging, udara adalah napas, dan air adalah darah. Merampas hutan adat sama dengan membunuh mereka. Tiap kali saya pulang, hal yang paling saya syukuri adalah dapat menikmati kebaikan alam yang tidak terbatas ini, udara segar, air yang jernih, semua yang saya peroleh dengan cuma-cuma. Dan tiap kali saya menyelam di sungai Tamambaloh yang bening dan segar itu, saya dapat melihat perjuangan orang-orang Tamambaloh. Terimakasih untuk Tamanggung Tamambaloh, Tamanggung Tamambaloh Labian dan Tamanggung Tamambloh Apalin serta Tamanggung Iban Menua Sadap dan Iban Jalai Lintang serta semua masyarakat Kecamatan Embaloh Hulu yang tetap teguh menjaga hutan adat demi kelestarian alam, demi generasi yang akan datang.

Melihat dampak dari aktivitas ekonomi yang merusak ekologi, saya rasa hal yang harus kita lakukan adalah mencegah hal tersebut terulang kembali. Manusia tidak bisa memberikan apa-apa kepada alam, karena itu berterimakasilah dengan cara menjaga kelestariannya. Zaman ini, ketika kamu melihat sebuah sungai yang jernih atau hutan yang subur, kamu tidak hanya mendapatkan air yang jernih dan udara yang segar, tapi akan mendapatkan kisah segelintir orang yang mempertahankan kelestarian hutannya dari tangan-tangan pemodal dan pemerintah. Kisah seperti ini tidak hanya ada di media massa, mereka benar-benar nyata, mungkin saja terjadi tidak jauh dari tempat kita merayakan kehidupan. Bahkan sampai hari ini, berita perjuangan seperti inilah yang paling sering kita dengar daripada berita mengenai meningkatnya kesejahteraan masyarakat. 


Di bawah ini adalah foto parau tambe yang sedang berlayar di Sungai Tamambaloh pada acara ulang tahun emas Paroki Santo Martinus di Banua Martinus, Kecamatan Embaloh Hulu pada tahun 2013. Sungai Tamambaloh yang jernih, mengalirkan kehidupan Dayak Tamambaloh dari generasi ke generasi.

Foto: Victor Yang Kilat

0 comments:

Post a Comment