Friday, February 17, 2017

Mengapa tidak dengan "Orang Kita" ?



Semakin sering saya mendapat pertanyaan ini, semakin malas saya menjelaskannya.
Akhir-akhir ini pertanyaan "Mengapa tidak dengan orang kita ?" sangat sering saya terima. Mulai dari teman sampai tetangga mulai mempertanyakan hubungan saya dengannya. Saya sendiri tidak pernah menjawab pertanyaan mereka, biasanya hanya saya gubris dengan tawa dan secepatnya meninggalkan topik ini. Saya lebih memilih menyimpan sendiri jawaban saya dan memberikannya pada orang yang tepat, orang-orang yang menghargai pikiran orang lain.
Dalam masyarakat "Orang Kita" berarti orang yang satu agama atau satu suku dengan kita, dalam hubungan saya dan teman-teman dekat saya "Orang Kita" merujuk pada orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kami.
Memiliki pacar seorang muslim dan keturunan Bugis-Melayu tidak pernah menjadi rencana saya. Tentu saja kita tidak pernah tahu masa depan, kita tidak pernah bisa menentukan akan menghabiskan waktu dengan siapa. Tapi bersama dengannya merupakan sebuah kesadaran penuh dan juga perjalanan panjang penuh pertimbangan. Ini tentang prinsip, dan idealisme. Menemukan seseorang yang memiliki cara pandang yang sama dengan kita tidaklah mudah, itu yang saya alami. Seringkali saya disudutkan karena pilihan saya. Melawan stigma yang terlanjur berkembang dalam masyarakat memang tidak mudah, apalagi mencoba mengubahnya. 

Ada banyak alasan mengapa saya bersama dengan orang yang saya pilih saat ini, terlepas dari kesukaan yang sama pada buku. Tapi alasan yang utama adalah karena hanya ingin bersama dengan orang yang memiliki visi dan misi yang jelas dalam hidupnya, memiliki semangat postif yang membuat saya merasa tidak pernah berjuang sendirian. Berjuang dalam hal apa saja, baik itu pendidikan maupun karir, saya hanya akan bersama dengan orang yang membuat saya lebih baik, yang bisa saya ajak diskusi dan bekerja sama, yang bisa menjelaskan pada saya bagaimana alam semesta ini terbentuk, bagaimana matematika itu menyenangkan dan tidak layak saya benci, bagaimana kelas-kelas sosial tercipta, bagaimana sejarah mengenai peradaban dunia, agama, apa saja yang ingin saya diskusikan dan tanyakan, dan tentu saja dia adalah orang yang tidak mengenakan sepatu Nike KW atau barang apa saja yang palsu... 

Entah dengan siapa kita di masa depan, siapa yang tahu. Apalagi tentang iman, siapa yang tahu. Lah jadi menyimpang. Yah intinya orang seringkali menyalahkan pilihan orang lain, padahal yang menjalani juga orang lain..
Berjalan melawan arus memang tidak mudah, seakan-akan kita salah karena kita tidak menjalin hubungan yang menurut masyarakat umum tepat untuk kita. Mungkin mereka tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya menemukan orang yang "cocok". Bagaimana sulitnya menemukan orang yang memiliki selera dan minat yang sama dengan kita dan memiliki gagasan-gagasan yang serupa dengan kita. Mampu menerima segala kekurangan kita dan mengajak kita berbenah menjadi lebih baik.
Menjalin hubungan itu tidak sederhana, menemukan rasa "cocok" itu tidak mudah. Kalau pacaran asal jadi dengan orang yang bisa memenuhi kebutuhan materi sih gampang saja, tapi yang harus diingat kebahagiaan itu tidak hanya bersumber dari kebebasan materi tapi juga dari kebebasan berpikir. Saya senang bersama-sama dengan orang yang pikirannya terbebas dari segala jenis kontrol sosial yang negatif. Kepercayaan pasangan saya adalah urusannya dengan Tuhannya, begitu pula saya. Menjalani perbedaan itu sangat menyenangkan kalau kita saling menghormati, sepeti konsep nasionalisme dalam sebuah negara, seperti itulah dalam hubungan beda agama. Yah semoga saja yang baca sudah tau makna kata nasionalisme ya, bukan rasa cinta pada negara loh.. tapi keadaan di mana bangsa mempertahankan identitas mereka yang berbeda-beda dan tetap memutuskan untuk tinggal dalam satu kesatuan meski mereka tidak sama, kesatuan ini disebut negara. Nah seperti itulah kira-kira saya dan pacar saya (yang belum selesai-selesai kuliahnya).


Meskipun kami berbeda kami tetap bersama karena kami saling menghormati perbedaan, kami saling menerima perbedaan identitas kami dan tidak memaksakannya untuk menjadi satu identitas. Seburuk apapun pikiran orang lain terhadap kami, semoga mereka tahu bahwa mereka tidak bisa mengendalikan pikiran kami. 

Jadi bagi pasangan-pasangan beda agama atau suku di luar sana, yang hubungannya saat ini sedang dipertanyakan banyak orang semoga kuat menghadapi kehidupan sosial yang kejam. Eh.

This entry was posted in

Wednesday, February 01, 2017

Melampaui Batas Diri

Pada tahun 2015, ketika saya berusia 19 tahun, saya pernah menulis kalimat seperti ini di tweet saya.
 
Hampir dua tahun berlalu sejak tweet tersebut saya buat, sekarang saya sudah jadi sarjana, tepat sebelum saya meniup lilin ulangtahun yang ke-21. Memang bukan sesuatu yang spektakuler ya, soalnya negeri ini sudah dipenuhi banyak sarjana muda yang lulus diusia belia. Tapi, melalui tulisan ini saya ingin berbagi dengan siapa saja yang mungkin sedang malas memperjuangkan impiannya atau bahkan ingin menyerah. Pertengahan 2016 saya masih berkutat dengan skripsi saya, sampai menjelang akhir tahun 2016 saya mulai kewalahan dan merasa ingin menyerah saja. Saya tidak mungkin lulus awal tahun 2017, tapi keinginan untuk menyelesaikan kuliah sebelum genap 21 tahun tidak bisa saya hilangkan. Meski keluarga telah menyarankan untuk selow saja menggarap skripsi, saya tetap berkeras hati membuat target-target untuk saya selesaikan di bulan November dan Desember. 

Saya sampai harus tinggal sendirian agar konsentrasi saya tetap terjaga, ini juga menjadi keputusan besar yang saya ambil di akhir tahun 2016. Seorang diri saya mencoba menyelesaikan bab 3 dan bab 4, tinggal di rumah sendirian, bertemankan kertas-kertas yang berserakan di lantai kamar dan ruang tamu. Waktu tidur saya sangat kacau, makan tidak teratur karena jadwal bertemu dosen pembimbing yang sangat padat. Jika diingat-ingat lagi beberapa bulan terakhir, rasanya tidak mungkin saya menyelesaikan ini semua.

 
Kalian mungkin bosan mendengar kalimat "lampaui dirimu" yang sering menjadi slogan dalam seminar-seminar motivasi di televisi, seakan kalimat tersebut mampu mengatasi segala tantangan yang sedang menari-nari di depan mata. Tapi sebenarnya kalimat tersebut bukan sekadar slogan. Bagi orang-orang yang yakin, terutama saya pribadi, saya merasa ada kekuatan positif yang terkandung di balik kalimat tersebut tiap kali saya mengucapkannya pada diri saya sendiri.

Hampir setiap pergantian tahun kita selalu membuat daftar resolusi dan revolusi. Menulis plans dan goals. Menulisnya sangatlah gampang, tapi mewujudkannya sama sekali tidak gampang, bahkan kadang hal yang paling sulit untuk dilakukan adalah memulainya, karena itu seringkali daftar-daftar tersebut tidak lebih dari sekadar wacana belaka.

Kita seringkali mengabaikan hal paling penting dan utama, yaitu yakin. Coba ingat bagaimana suasana hati kita ketika menulis daftar hal-hal yang ingin diwujudkan atau diselesaikan dalam kurun waktu tertentu. Pasti suasana hatinya sangat baik, sangat menggebu-gebu, penuh semangat dan keyakinan, sampai waktu berlalu dan keyakinan tersebut mulai pudar. Seringkali seseorang kehilangan keyakinannya ketika dia sedang menjalani proses untuk mewujudkan impiannya, atau yang lebih buruk dari itu adalah kehilangan keyakinannya sebelum memulai satu usaha pun untuk mewujudkan impiannya.

Yakin adalah hal yang paling utama, yakin bahwa kita mampu mewujudkan hal-hal yang telah kita tuliskan. Bahkan ketika keadaan tidak berpihak pada kita dan kita seolah-olah telah gagal, tetaplah yakin, keyakinan ini yang akan membuat kita melampaui batas diri yang kita miliki.
Ketika kita melihat kegagalan di depan kita, tetapi tetap tidak ingin menyerah, ketika itulah kita telah melampaui batas diri kita.

Ketika kita berusaha berjuang dengan cara-cara yang selama ini tidak pernah terpikirkan akan berhasil, saat itulah kita telah melampaui batas diri kita.
Melampaui batas diri menurut saya adalah memaksa diri untuk tetap bergerak walau sebenarnya tidak mampu lagi untuk melangkah. 

Jadi, jika hari ini ada yang ingin menyerah dengan usahanya, cobalah untuk melampaui batas diri, melampaui diri dari rasa malas dan putus asa, tetaplah yakin bahwa apa yang kita pikirkan-tuliskan-impikan- bukan sekadar angan belaka, yakinlah bahwa hal tersebut akan terwujud, segera terwujud.

Ayo lampaui batas diri kita, tuliskan apa yang akan kita wujudkan, yakinlah bahwa kita mampu melakukannya, dan lihatlah nanti, kita akan mengejutkan diri kita sendiri.

Sebelum menyongsong bulan Februari, mari lihat daftar plans dan goals yang telah kita buat. Ayo mulailah bergerak untuk mewujudkannya. Januari ini saya telah menyelesaikan salah satu tantangan yang saya buat untuk diri saya sendiri di tahun 2015, yaitu menjadi sarjana sebelum berusia 21 tahun. Tanggal 26 Januari yang lalu, saya mengenakan toga dan resmi menjadi Sarjana di bidang Hukum. Ayo, kita lampaui batas diri kita dan taklukan tantangan-tantangan yang telah kita buat. Mari memulai langkah bersama Februari. Fighting!


This entry was posted in