Friday, January 20, 2017

[Review] Film Istirahatlah Kata-Kata


Source: Google
Sutradara: Yosep Anggi Noen
Produser: Yosep Anggi Noen,Yulia Evina Bhara
Penulis: Yosep Anggi Noen
Pemeran: Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Eduwart Boang Manalu, Dhafi Yuna, Melanie Subono
Genre: Drama
Durasi: 90 Menit


"Aku tidak ingin kau pergi, tapi aku juga takut kau ada di sini. Aku hanya ingin kau tetap ada...."
 - Sipon


Film Istirahatlah Kata-Kata merupakan film mengenai seorang aktivis asal Solo yang menghilang pada tahun 1998. Dia adalah Wiji Thukul, seorang penyair yang ditakuti pemerintah pada masa orde baru. Puisi-puisinya adalah puisi-puisi rakyat, berbicara mengenai kesengsaraan dan ketidakadilan, dia membela hak-hak kaum buruh dan rakyat pinggiran. Apa yang dia tuliskan adalah kebenaran, dan keberanian. Keberaniannya ini yang akhirnya membuat pemerintah merasa dia harus diamankan.

Namanya kemudian masuk dalam daftar orang yang dicari oleh pemerintah, inilah yang membuatnya harus meninggalkan keluarganya. Dia meninggalkan rumah dan bersembunyi. Namun, tepat dua bulan sebelum rezim Soeharto tumbang, dia dinyatakan menghilang. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali.

Film Istirahatlah Kata-Kata menceritakan tentang kehidupan Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) selama melarikan diri di Pontianak. Selama di Pontianak dia tinggal di rumah temannya yang bernama Thomas (Davi Yunan), lalu dia membuat KTP Pontianak dan namanya diubah menjadi Paul, dia kemudian tinggal di rumah Bang Martin (Eduward Manalu) yang merupakan seorang ativis dari Medan tapi menetap di Pontianak karena istrinya merupakan orang Dayak (diperankan oleh Melanie Subono). 

Kita tidak akan melihat Wiji Tukul dalam kubangan demonstran kali ini, film  ini menceritakan sisi lain dari sosok Wiji Tukul yang selalu kita temui di puisi-puisinya. Tidak ada adegan tentang aksi massa dalam film ini. Film ini menceritakan kesepian Wiji Tukul selama pelariannya di Pontianak. Anggi Noen mengangkat sisi humanis dari seorang Wiji Tukul, bukan sisi aktivisnya. Dengan begini kita dapat melihat kehidupannya lebih dekat, lebih akrab. Bagaimana Wiji Thukul melalui kekosongan malam-malamnya dengan minum tuak bersama Thomas, atau dia yang kerap kali tidak bisa tertidur karena ketakutan tertangkap.

Begitu juga dengan kehidupan keluarganya, ini adalah bagian yang paling menggugah emosi. Seorang Wiji Thukul harus meninggalkan keluarganya karena dikejar-kejar pemerintah, rumahnya kerap kali didatangi polisi, bahkan anaknya harus diintrogasi untuk mengetahui keberadaannya. Buku-bukunya dijarah pemerintah, istrinya, Sipon (diperankan oleh Marissa Anita), dipaksa menandatangani surat penyerahan barang. Menjadi istri seorang buronan sangatlah berat, tapi Sipon merupakan sosok yang tegar. Kisah mengenai keluarga Wiji Thukul sangat jarang diangkat ke permukaan, di film ini kita diajak mengenal sosok ibu Sipon, istri dari Wiji Thukul.

Film ini dimulai dengan teks yang menjelaskan kejadian 1998 diiringi dengan suara siulan Sipon, siulan lagu Darah Juang. Para aktivis pasti tahu lagu ini, apalagi  mahasiswa. Lalu penggalan-penggalan puisi Wiji Thukul yang menegaskan bahwa dia adalah seroang penyair. Kisah-kisah berikutnya merupakan kisah kesepiannya selama di Pontianak. Dia yang sesekali pergi keluar bersama Thomas, berjumpa seorang pemuda yang stress karena tidak diizinkan menjadi polisi oleh ayahnya, dia juga menikmati sore hari di Sungai Kapuas, bersepeda menggunakan sepeda istrinya Bang Martin. Tidak banyak dialog di film ini, semua yang dialami Wiji Thukul sudah diceritakan oleh tatapan matanya, jalannya yang terseok-seok, tubuhnya yang ringkih itu, kerinduannya pada anak-anaknya, dan ketakutan yang terus membayanginya. Seberat itu harga yang harus ia bayar karena keberaniannya melawan pemerintah.

Film ini diperankan oleh orang-orang yang tepat, apalagi pemeran Wiji Thukul. Film yang sangat menyentuh, kita bisa melihat sosok Wiji Thukul dari sisi yang berbeda. Sisi yang pilu. Untuk orang yang sudah megetahui rekam jejak Wiji Thukul, film ini sebenarnya penuh emosi. Tidak banyak percakapan, tidak banyak aksi, penonton benar-benar dibawa hanyut dalam peristirahatan kata-kata Wiji Thukul. Lagu untuk penutup film ini merupakan lagu yang ditulis sendiri oleh putra Wiji Thukul, Fajar Merah, mendengar lirik-liriknya yang dituliskan anaknya seperti melihat bahwa sepertinya kata-kata Wiji Thukul sudah bangun dari istirahatnya. Film ini harus diapresiasi, terlebih sutradaranya masih sangat muda. Ini menunjukkan bahwa anak bangsa bisa terus maju mengikuti zaman tanpa harus melupakan sejarah. 

0 comments:

Post a Comment